Pencitraan Bagian 04

Saya telah banyak mengetahui. Terlalu banyak bahkan. Bisa dibilang demikian.

Hingga pada akhirnya harus mengambil keputusan. Sesegera mungkin memilih keputusan. Memilih. Berbicara lalu bertindak, atau acuh dan tak ambil pusing. Cari aman. Ah sungguh membinggungkan.

Membuat saya termenung. Berfikir. Sendirian di mobil hitam metalikmu, melewati persimpangan jalan raya. Diantara sepinya malam hari. Diam dalam ceritamu sambil melihat kau mengemudikan mobil ini. Hening. Tanpa suara. Terkecuali suara detak jantungku.

Awalnya di latar belakangin diskusi terbuka di kantor tadi siang. Panjang ceritanya.

Tidak menghasilkan satu keputusan bulat darimu. Tidak terselesaikan. Tidak juga menjawabnya. Bahkan tidak ada premis masalah yang akan kau selesaikan nantinya.

Akhirnya pun topik berganti. Benang merahnya tetap kebencian, penipuan, korban janji manis kawan lamamu. Tema obrolan inilah yang memaksa menempatkanku pada posisi sebagai penengah. Objektif. Memberi motivasi juga arahan praktis yang akan kau lakukan.

Atau saya akan menjadi provokator, yang bisa saja membakar amarahmu jika aku mau. — Menjadi pahlawan kesiangan palsu didepanmu. — Membuat kondisinya menjadi semakin rumit. Menyulut emosimu. Yang akan mengantarkan nyawamu terbang keatas. Lenyap dan tercatat malaikat.

Akhirnya mulutku menjadi seperti pintu mobil baru ini, yang terkunci rapat. Tidak ada satu kata terucap. Tidak juga tertulis seperti status-status facebook-ku.

Tetapi ya. Bagaimana ya. Ampun. Saya benar – benar sulit memutuskan pilihan yang tepat. Memilih diam. Atau coba ikut berpendapat. Untuk menolongmu keluar dari kesulitan.

Diantara keheningan. Saya tertekan.

Berat betul masalahmu kawan. Sungguh berat. Tapi tetap saja. Keputusanmulah yang bisa merubah kondisi ini. Tak ada lagi selain dirimu sendiri. Mobil SUV ini mengantarkan ku ke depan komplek. Tak ada satu kata ku keluarkan, hingga akhirnya ucapan salam menjadi kalimat pembuka pintu yang tertutup rapat tadi. Bibir kelu ini mengucapkan salam. Tubuhku lelah. Sehingga sulit membukan pintu mobilmu.

Aku pulang dan lantas memikirkanmu. Masalah hidup yang harus kau selesaikan. Benar-benar kau selesaikan.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: