Catatan pemikiran

 

Mungkin nilai di masyarakat sekarang tidak butuh seni atau esensi dari estetika. Atau pun sesuatu yang beda. Cukup pop dan menghibur saja sudah cukup. Yang terpenting bisa makan dan mudah menjalani hidup. Mengurangi penat memburuh di pabrik dengan CEO yang menikmati laba terbanyak dari hirarki kerja tapi minim menghargai pekerja bawahannya. Terlihat dari SDM Indonesia yang masih 60% lulusan SD ini. Nilai jual SDM rendah. Rendah juga untuk bersaing dan dihargai jerih payah kerjanya. cukup murah dibandingkan di negara lain. Karena lulusan SD, menyebabkan miskin pemikirkan sesuatu yang butuh pemikiran lebih jauh (seni,dan hal yang menikmati hidup dengan sesuatu yang bernilai kreativitas yang tak ternilai harganya). Cenderung berpikir praktis.

Ngapain juga dihargai toh saya juga bisa membuatnya. menyepelekan dan membandingkan dengan sesuatu yang bukan bandingan. Seperti komentar kebanyakan” dia melukis abstark tak jelas, anak tk atau pun monyet bisa menggunakan koas diatas kanvas dengan asal membuat tarikan garis dan warna asal2an terlihat indah”. Tapi seni tidak semudah itu, seni perlu dimengerti lebih, memaknai lebih dan menikmati lebih. Bukan sekedar tampilan luarnya saja. tapi pesan dan kesan yang utama. Jadi banyak alasan untuk menikmati seni. Tapi emang tidak komersil seni abstrak, terkecuali lukisan bernilai sejarah tinggi.

Kalo dinegara maju. mereka tidak memikirkan makan hari ini apa, tapi bagaimana menikmati kehidupan, ya contohnya menikmati karya seni. menghargai tidak hanya dengan uang saja atau penghormatan tapi melestarikannya. Karena mereka sudah berpikir lebih dari sekedar sekarang makan apa (SDM indonesia). Menurut saya semua akan berubah jika kualitas SDM dan otak Indonesia sudah seperti negara maju, Copyright, ya tapi apa daya… semua hanya harapan… semoga semua seniman tinggal di luar negri menikmati pengghargaan seni dan kita cukup bangga meng-export karya kita.

Mungkin harus banyak media iklan atau komunitas yang memperkenalkan seni itu tak ternilai harganya. atau mugkin harus menciptakan media perkenalan seni. minimal kenal aja dulu. setelahnya menghargai dan melestarikan seni. Artikelnya menarik. Dihargai dan menghargai, nuhun min 😀

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

2 tanggapan untuk “Catatan pemikiran

  1. Ti momen maneh milih baju, milih warna momobilan jeung milih warna kaleci, artina kuduna unggal jelema teh boga selera estetis sorangan. Ngan hanjakal nu kitu teh sok teu dianggep penting di dieu, jadina nya jiga ayeuna, lain pedah didieu jelemana acan bisa nga-apresiasi seni, tapi emang teu dipupuk weh, kabeh ge nu tara dipupuk mah sok jadi layu.

    Suka

    1. 1. Bener oge tah, da hirup sapopoe mah rang2 terbiasa memilih sih nya, si estetis personal tea.

      Unggal jalema pan beda2nya.

      2. Dianggap teu penting? 3. Teu di pupuk?

      Setuju, paling dianggap aneh. Urang sok make baju nu loba sponsoran, loba tulisan kitu, loba logona.

      Ngan baturan sok nganggap aneh, beda estetis tea ning.

      Dan di kampus bareto, weh ngan urang hungkul make baju nu kitu, cuek weh.

      Tapi da kumahanya, da urang mah resep weh, alus ceuk urang mah bajuna.

      Mun soal dipupuk, maksudna kumaha?

      Kurang biasa ditempoan media2 mereunnya, kurang pupuk teh?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: