Ayah

Seringkali ingatan tetang hal baik dari masa lalu datang berkunjung.
Menjembatani bahagia kedalam hari-hari baru setelah mengingat hal yang buruk. Kadang memori itu berkunjung timbal balik. Hitam putih. Kesedihan tidak menjadi soal dari leburnya ingatan diantara senyuman maupun tangis.
Ayah yang meninggalkan Ibu sendirian untuk mengurus kami berdua, Abang dan diriku. Salah alamat bila surganya Ayah ditukar uang duka yang didapatkan kami bertiga. Uang kematian yang didapatkan dari donasi orang yang berkunjung kerumah. Aku tak ingin uang, aku ingin Ayahku tetap hidup.
Selepas dia pergi, hidupku seperti sekarang. Tanpa pekerjaan. Seringkali malas-malasan. Sementara Ibu dan Abang seperti menerima bahwa Ayah sudah pergi. Sementara aku terpuruk menyalahkan kematiannya. Aku merindukan kehadiran Ayah.

Seperti masa lalu. Aku dekat dengan kehangatan perbincangan dengan Ayah. Seorang yang keras, tidak bisa ditawar egonya ketika berbincang-bincang lebih tepatnya saat berpendapat. Tidak bisa tidak. Seorang yang mengajarkanku bahwa hiduplah ke depan bukan kebelakang. Sadarlah yang hilang hanya keberadaanya bukan sesosoknya yang amat kuhormati. Kami sering bertentangan dalam sesuatu hal. Itu yang membuatku tidak nyaman ketika ada dengannya. Tetapi. Aku sayang Ayahku. Aku cinta kedua orangtuaku meskipun sekarang hanya ada ibu seorang.

Hari-hari berlalu. Aku tau kerianganku hilang pada bulan pertamanya. Setahun, dua tahun, tiga tahun telah dilewati suatu masa yang hilang tanpa bisa mengobrol asik dengannya lagi. Berdebat, hingga seringkali beliau marah-marah padaku, gara-gara aku salah.

Maafkanlah bila menyeretmu kedalam berita harian hidupku sampai-sampai menjadikanmu masalah tidak selesainya skripsi. Hingga akhirnya aku berusaha lebih hingga tiba saatnya, beres juga skripsi tersebut, dikarenakan mungkin karena kemalasan itu digantikan menjadi sebuah semangat mendapatkan ijazah.

Kehilangan mu menjadikan kesedihan sebagai sumber masalah revisi skripsiku. Sekarang ini beda, mungkin saat itu aku rasa mungkin cuman aku saja yang malas merampungkannya. Mengorbankan masa kerjaku selama ini menjadi keraguan bukan semangat. Fighting. Selesaikan apa yang sudah dimulai.

*****

Skripsi selesai, huruf sedang dikerjakan. Hanya tinggal berpenghasilan saja yang sedang dituju. Menjadi freelancer yah. Terima kasih yah. Semoga tenang disana. Amien.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: