Bakso

“Ai akang budakna tos saberaha.”

—Abi mah teu acan nikah.
Matanya melihat tajam padaku seperti tidak percaya.
“Ah maenya?”

—Bener.
Kami berbicara basa-basi, dibelakang grobaknya. Bakso ku potong dengan sendok, mengunyahnya secara perlahan.
“Anak abi mah aya ngan hiji, digarut sareng pamajikan.”

—Ai istri didamel?
“Heunte.”
Diam sebentar. Kebetulan ada yang membeli baksonya. Obrolan ditunda sebentar. Keringatnya bercucuran, mukanya terlihat kelelahan, sesekali menseka mukanya dengan anduk kecil di bahunya.
Kita masih berbincang-bincang membicarakan keluarga. Anak, istri ,pekerjaannya berbicara santai sambil menikmati bakso di sore ini.
“Abi mah sok nabung, engke mun lebaran uih. Jang mere thr oge.”

— Alus atuhnya. Bari mudik nya.
Selalu menyenangkan mendengarkan seorang bapak yang menafkahi keluarganya. Seorang yang bertanggung jawab. Memiliki anak dan istri itu ya harus rela kelelahan bekerja berbeda denganku yang sendiri. Tidak bekerja tetap, tidak menikah, dan tentunya tidak punya anak. Sedang malas melamar kerja.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: