Depresi bagian iv

Masuk ruang pertama kali.
Ruang Rajawali. Diruangan ini semua dikurung dalam sel. Diberikan tempat berupa kasur diatas ranjang. Satu bantal satu selimut. Selimutnya berbau asin, bau-bau aneh yang seperti bau selimut yang tidak pernah dicuci-cuci.

Aku masih berhenti makan. Aku masih marah katanya waktu itu. Tangan kiri di infus. Idung diselang. Untuk bertahan hidup harus dilakukan seperti ini.

Aku masih saja dikejar Homicide. “Mana bangsatku!” Berkali kali terdengar. Ucok mencari-cari diriku seperti merusak siapa siapa saja yang ada didepan. Dengan posisi tidur aku masih saja mendengar suara-suara. Aku merasakan google juga telah mendapatkan semua isi otakku. Aku sudah bisa mudah ditebak karena aku memberikan seluruh otakku pada mesin pencarian ini. Otakku telah di program secara online, realtime.

Ketika berfikir C.I.N.T.A mesin pencari akan mengeja cinta dan berhubungan dengan pikiranku tentang cinta. Kala orang gila lain berfikir lebih aneh lagi. Aku berfikir Ucok telah memasuki google juga otaknya telah bersatu padu dengannya. Menjadi satu kebersamaan.

Jadi bisa dibilang satu kemampuan orang di satukan dengan google si mesin pencari. Mencari diriku mencari seorang Asep yang sebenarnya.

Saat ini sudah malam aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih memikirkan Ucok google tadi. Mencariku sampai ruangan Rajawali ini. Mengacak ngacak meja dengan suara yang keras terdengar kursi yang dilempar. Kertas yang berjatuhan satu persatu.
Aku terus merasa was was. “Indonesia bangsa(t)ku.” Terus saja kata-kata tadi diteriakan Ucok google. Aku terdiam dengan takutnya. Karena suara anjing melolong juga. Sepertinya aku ingin mati saja.

Aku masih di ikat di sel ini. Aku sulit bergerak dengan bebas. Aku masih terus saja berfikir dan berfikir bahwa aku dikejar kejar Ucok google. Suaranya yang serak terus saja meneriakiku. “Indonesia bangsatku.” Aku ketakutan lalu otak berpikir, tebak kata. Indonesia Bangsatku. Non Nasional. Kata-katanya berputar-putar.

Setelah diiket. Menyadari diikat. Belajar lagi hidup yang baru. Hidup sebagai buronan.

Halusinasi, mungkin inikah rasanya sebuah ilusi kasat mata. Terdengar terasakan. Sulit untuk dijelaskan secara seksama. Banyak suara-suara terdengar.

*****

Suara telepon terdengar dirumahku. percakapannya dengan diriku. Abang membantuku, tanpa percakapan yang lain mengarahkan. Aku mendengar suara Ucok di telepon Abangku. Jarak kamar kami tempatnya bersebelahan tapi musti berputar dahulu baru suara teleponnya terdengar.

“Sok burukeun tulis lirik.” Ku ambil spidol dan kertas. Kutulis tepat ditengah kertas. Ks. Konsumsi Saya proyek musik yang sudah dikerjakan.
“Ks sok tulis, bisa jadi apa tuh. Tulis. Kopi Susu. Ks kopi susu.” Hip hop warteg. “Gambar kopi, gambar susu.” Ucok google berbicara mengarahkan apa itu ks musik hip hop sebenarnya aku menulis dibimbing dengannya.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: