Depresi bagian IX

Banyak cerita yang ku ingat sekaligus juga ku lupa, akan menjadi amat panjang jika dirunut, bertele-tele pula. Mengulang-ulang cerita-cerita.

Hari ini aku ketakutan sejadi-jadinya Ucok yang aku kenal hanya sebatas lewat lagu mengejarku setelah sesudahnya 3-4 hari didepan menagih omonganku bahwa aku menyebut Indonesia bangsatku, kalimat pendek yang berkonotasi negatif berakibat Ucok harus mengejarku terus menerus karena mungkin saja kalimat tadi telah menghinanya. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi kali ini suaranya terdengar olehku, mengajakku berbicara, berbagi rima, menulis. Padahal kita tak bertemu muka.

Sekarang coba aku pikir dengan kepala dingin tentunya apa mungkin, terjadi dikenyataan beliau bisa naik pitam padaku hanya karena aku menyebut Indonesia Bangsatku. Kalimat plesetan dari Indonesia Bangsaku yang menjadi Indonesia bangsat yang berarti mencuri. Sebenernya apa pula yang kucuri dari Ucok atau apa yang Ucok curi dariku entah yang pasti yang aku ingat, aku terus menerus dikejar olehnya hingga sampai ruangan Rajawali di Rumah Sakit Jiwa di Cisarua Bandung. Aku tak begitu ingat yang ku ingat Ucok selalu ku dengar bahkan berubah-ubah wujud menjadi orang lain terus mengejarku dengan bantuan google. Ya ini terjadi karena Ucok telah bergabung dengan google lalu mendatangiku dengan wujud berubah-ubah semudah mengetik kata kunci digoogle. Bisa menjadi siapa pun. Abangku, Ibuku bahkan menjadi diriku sendiri.

“Tuh kamu mah udah saya diemin malah terus nyosor ngomong ngehina saya.” Ucapnya kala saya bangun dari tidur. Tidur yang saya maksud adalah mata terpejam tapi otak tidak lelah untuk berhenti berfikir mengolah cerita dari berbagai stimulus yang didapat dari cerita-cerita lain atau bisa juga dari satu kata kunci yang diperpanjang menjadi cerita dikejar-kejar Ucok. Aku terus beradu rima dengannya. Ngerap dengan penggayaan yang sama dengannya. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana bisa seorang fans bahkan die hard fans menjadi sama hebatnya cuman karena bisa meniru Ucok lalu beradu mikrofon dengan teknik ngejiplak tok sama persis seperti mendengar lagu-lagu grup Homicide. Menjengkelkannya meniru lalu menjadi beradu bukan menjadi teman satu lagu bernyanyi bersama, bersenang senang bersama menikmati lagu. Tidak. Ini menjadi duel yang mengancam eksistensi atau sang pemilik nama besar dicontek lalu di bakar api amarah hingga gosong untuk memanas bersama beradu rap dengan aduhai. Aku begitu tergila-gila dengan Hip hop sampai pada saat halusinasi seperti ini pun aku masih bisa menghubungkannya dengan hip hop. Ya aku pecinta hip hop setelah hip hop yang telah mati ku lindungi untuk tetap di dengarkan dalam keseharian. Ada juga perkataan seperti ini “Eta Indonesia bangsatku datang?” Terus. “Maneh rek jadi naon mun ngabangsat Indonesia?” dan masih banyak kalimat lain yang intinya mencari tangan panjang yang aku ucapkan. Aku tidak mengerti persoalan jelasnya dari halusinasiku ini. Menghina, adu bacot lalu seperti dikejar-kejar pembunuh yang terus meneror dengan pertanyaan tiada hentinya.

Entah mengapa tiba-tiba hadir seorang wanita, Risa Sarasvati yang bersamaan Ucok datang di depan pintu rumahku. Masih dari suaranya kudengar aku tidak melihat dengan mataku hanya aku sadar betul mereka datang memanggil namaku di ruang depan yang bersebelahan kamarku. Mereka mencoba untuk menghentikan adu rap yang aku mulai dengan Ucok tadi siang di kepalaku. Dalam ruang kamarku ini tanpa terlihat wujud Ucok hanya suaranya terdengar jelas dikamar. Yang jelas aku sedang beradu rap battle melalui suara yang langsung dibalas dengan kalimat canggih yang aku rasa tidak berima hanya panjang, sarkas, tak kenal belas kasihan sesuatu yang bukan battle rap sebenarnya karena biasanya diharuskan berima dan saling beradu kuasa diatas arena siapa yang paling jago dalam berima. Yang aku ingat lagi aku memakai celana pendek, kaos oblong tiba-tiba mereka masuk kedalam tubuhku. Penisku mengeras. Cerita berlanjut menjadi cerita kanjut. Mereka membantuku untuk mengeluarkan setan-setan yang ada didalam tubuhku. Memasuki ruangan didalam betisku hingga di bawah pusar mengeluarkan setan dari mulutku dengan cara aku bersendawa. Setan-setan keluar perlahan-lahan. Cara ini dilakukan dengan cara membacakan nama-nama setan dengan ngerap satu persatu setan itu keluar yang aku rasakan sendawa makin banyak dengan durasi yang lebih lama dari biasanya sambil ada sensasi seperti kuda, kadal, gajah, singa, jerapah keluar dari mulut dan menyebar keseluruh tubuh seperti mereka mengetarkan daratan bumi rasanya di sekitar tubuhku pun bergetar. Aku menyebut nama Ucok berkali-kali, Risa berkali-kali hingga akhirnya aku kalah. Mengeluarkan semua setan-setan dari tubuhku.

*****

Hari ini aku mendengar suaranya lagi Ucok menuntunkun menulis KS, Konsumsi Saya proyekan musik hip hop yang ku buat sendirian di kamar tanpa ada hardware sampling berharga jutaan rupiah, tanpa ada alat yang cukup seperti producer lainnya cuman bermodalkan pc rumahan beserta software bajakan sampling bernama Adobe Audition Cs 5,5. Musik ini bisa dibilang eksperimenku dengan kumpulan suara-suara dari koleksi lagu, film, yang diambil lalu disusun ulang seenak jidat. Sedangkan beat drum diambil dari iklan-iklan sample beat yang dijual online lalu di potong untuk selanjutnya di konstruksi ulang menjadi musik yang eklektik. Mungkin bisa membuat bergoyang bisa juga mengangguk-angguk.

Konsumsi Saya,KS singkatnya disebut demikian ditulis menjadi tema yang sedang aku tulis di kertas kosong hvs yang didapat dari Uwak ku. Inisial KS kutulis dengan spidol hitam. “KS, naon tah KS teh Sep sok tulis?” Ucok mengajaku untuk branding producer hip hop Konsumsi Saya di telingaku terdengar demikian walau sekarang ku tahu itu semua cuman waham, hasil dari halusinasiku saja. Aku mulai menulis KS, aku teringat Kopi Susu kutulislah itu. Hasil brain storming ini manjadi mind map KS, “Oh… Kopi susu, Ko… pi Su… Su. Tah tulis.” Lalu selanjutnya beliau bilang, “Gambarkeun atuh Kopi Susu teh? Manya hip hop tukang ngopi sia mah aya-aya wae Sep.” Seakan-akan benar-benar dia ada di sampingku ya, oh iya aku mendengarnya karena kamar Abangku yang berada berdekatan dengan kamarku di sedang mendengarkan musik dengan bantuan air phone yang di simpan di ubin. Tak digunakan. Ini hasil dari Ucok menelepon Kakakku ini suara yang keluar dari head set yang terdengar sampai ruangan sebelahnya, yaitu kamarku. Sekarang aku bertanya apa benar suara dari handsfree terdengar sekeras itu hingga sampai ke kamar sebelah? Sungguh hil yang mustahal tapi anggap saja hyperrealitas ini nyata. Ku gambarkan 1 bungkus sachet kopi instant berlogo KS, Konsumsi Saya si Kopi Susu. Aku tertawa gembira bisa bersama-sama bekerja membuat visual KS.

Setelahnya aku mendengarkan Siksa Kubur, berjudul Honai duet dengan Morgue Vanguard aku berhasil bersendawa tanpa henti sepanjang lagu untuk mengambil semua setan yang ada disekitar rumah bahkan komplek di Bandung Utara. Entah kekuatan apa yang merasuki ku hingga bisa bersendawa selama hampir 5 menit sepanjang durasi lagu tersebut. Aku merasakan setan yang ada sepanjang malam ketika aku tidur telah menyatu denganku. Hingga aku merasa tenang.

Hari yang lain ibuku membersihkan rumah, menyapu seluruh sudut ruangan hingga kutemukan kristal putih apa mungkin pemberian dari setan karena telah ada dalam diriku atau bagaimana mungkin juga benda itu bisa hadir di dalam kamarku? Aku tak mengerti. Apa ini hasil dari pemberian garam yang ku simpan sesendok teh di setiap ujung-ujung ruangan kamar, tidak ada yang tau tepatnya seperti apa hanya dugaanku saja.

*****

Hari berganti. Pikiranku semakin banyak saja. Kesana kemari.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: