Depresi bagian X

Masih meraba-raba ingatan; ada beberapa hal yang terlupakan tetapi tetap dipaksakan ditulis sedetil mungkin: jadi ada detail-detail kejadian baru yang ditulis menggantikan kejadian yang lama. Kurang tepat mewakili memang, tapi apa daya kemampuan ingatan akan kejadiannya ya baru sampai disini. Semoga saja ini menjadi kejadian yang bisa mewakili kenyataan dengan beberapa kekurangan disana-sini tentunya tak akan menjadi soal bila tetap dibaca untuk mewujudkan kejadian ini seperti yang telah dilalui.

Entah ini malam ke berapa; Ucok Homicide bersama Risa Sarasvati hari ini hadir di dekat rumahku. Memasuki rumah, melintas di samping rumah, sampai-sampai mengusir setan dalam diriku. Entah malam keberapa pula aku tidak tidur seharian yang pasti hampir 2 hari aku tak tidur, yang selama itu hanya dikamar tidak melakukan apa pun selain menutup mata tertidur. Ini yang Ibuku bilang saat aku telah keluar dari Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung.

Aku tidak begitu ingat ya, Ucok seperti kakek-kakek dengan baju kemeja tetapi tidak menggunakan celana melainkan bersarung seperti bapak-bapa hendak ke mesjid untuk shalat ia berjalan berdua bersama Risa, Ucok membawa tongkat untuk melindungi saya dari jin yang menganggu mengelilingi komplek, sementara, Risa berpakaian serba hitam, menggunakan jaket parasut, celana jeans, namun ketika ku ingat lagi Risa bukan seperti itu, dia berpakaian seperti nenek-nenek, memakai kebaya ketat berwarna gelap tidak hitam tapi warnanya aku tak bisa melihat jelasnya. Mereka bersama-sama datang jauh-jauh dari rumah mereka untuk mengusir setan juga mendekatkan diri denganku, aku seperti orang utan si spesies yang dilindungi, bukan asli Kalimantan tapi produk asli Bandung.

Kembali ke makhluk astral, Jin ini ada yang berwujud wanita, dan ada pula yang lelaki. Seperti Kuntil Anak yang terbang membawa orang-orang yang seperti Genderuwo atau apalah itu namanya Setan yang berbadan tegap dan menyeramkan. Ukuran tubuhnya berbeda-beda ada yang besar terbang, yang berjalan berukuran sedang seukuran manusia dewasa, ada juga yang lebih kecil dari itu. Mereka berjalan juga berterbangan mengelilingi komplek mencari aku yang memangil Setan-setan ini. Tak bisa dijelaskan yang pasti mungkin aku sompral atau pikiranku membayangkan para setan, selanjutnya halusinasiku berlanjut berkelanjutan membawa setan-setan tersebut.

“Duk… Duk…” Suara Hansip melakukan siskamling di komplek ini, aku pernah sekali bertemu dengan hansip, membawa tongkat memukul jalan secara vertikal dari ujung tongkatnya kadang memukul tiang listrik, “Ting… Ting… Ting…” Tiga kali pukulan, pernah suatu kali ketika itu aku bertanya, untuk apa sih memukul tiang listrik? Jawabannya ya untuk memberi tahu penghuni sekitar komplek bahwa sedang ada siskamling. Pertanda komplek sedang di lindungi dari maling. Waktu itu aku sudah pulang dari Cisarua —Entah kenapa pula hari itu, sebelum masuk Cisarua, saat hansip lewat, aku malah berhalusinasi bahwa sekumpulan setan sedang melewati rumahku. “Setan kok mengejarku sih”: pikiranku saat ini selepas dari Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung, yang jadi pusat pengobatan ganguan jiwa di Indonesia sekaligus Rumah Sakit jiwa terbesar di Indonesia. Ketakutanku ketika itu apabila mereka akan membawaku ke Alam Ghaib disana, seperti neraka. Kalau aku ingat-ingat sekarang mungkin aku akan dibawa mati dan diculik ke Neraka. Saya begitu ketakutan akan hal ini waktu itu, serasa mimpi tapi nyata atau keduanya bercampur menjadi satu dalam kedaan sedang halusinasi, cemas serta terus menghayal kalau ini kejadian nyata padahal hanya halusinasiku saja yang sedang gila-gila nya.

Dimalam itu Ibuku tertidur dengan nyaman di kamar sebelah kamarku. Lampu kamar Ibu, lampu kamarku sudah dimatikan hanya ada lampu yang hidup di dapur dekat ruang kamarku cahayanya hanya menyinari sedikit ruang tv yang juga dekat dengan kamar ibu. Di malam yang dingin ini, serta rasanya seperti nge-fly ganja aku rasa naik sekali berasa enak terbang. Aku seperti dikejar-kejar sungguhan badan basah kuyup karena keringat, cemas, tidak bisa berfikir jernih malah terus berhalusinasi terus menerus ini yang aku rasakan waktu itu.

*****

Malam datang, hingga subuh ini tidak bisa tidur: benar-benar tidak bisa tidur semalaman penuh. Badan pun tak enak rasanya, mungkin akibat kurang istirahat meski pun mau dibagaimana dipaksakan tetap tidak bisa tidur.

Mungkin saat itu mungkin telah lewat jam 1 malam, oh tidak kalau tidak salah: mungkin ini jam 4 subuh, saat tak lama dari itu adzan subuh datang. Hp terdengar, nenek ke luar kamar ibu menuju kamar mandi. Waktu itu Nenek sedang ada di Bandung, bermalam di rumahku. Hampir setiap dini hari Nenek dipastikan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Aku sudah mandi tak bisa tidur saat itu yang aku ingat sudah memakai baju karyawan toko sticker, mungkin aku siap bekerja untuk bekerja di pagi hari tapi tidak jam sekerang padahal aku telah keluar kerja saat itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka kali ini bukan Nenek melainkan pintu yang terdengar diluar jendela, itu kamar Abangku—Abang adalah panggilan kakak bagi orang Minang seperti ku, bukan memanggil Aa meski aku juga berdarah Sunda. Dia merokok sambil berjalan tak lama terdengar suara dia duduk di samping kamarku, aku tak melihat namun merasakan ya halusinasiku selajutnya berbicara sambil membawa telepon. Terdengar suara Poppy Sovia, juga Ucok. Mereka bercerita tentang acara musik yang akan mereka bintangi. Poppy sebagai host acara tersebut sementara Ucok mengisi acara tersebut sebagai grup hip hopnya, mungkin Homicide atau Bars of Death. Perbincangan begitu singkat, tak ada basa-basi langsung saja mereka menyindirku aku mendengar Eye Feel Six juga ikut berbicara, beberapa orang lain juga seperti yang lain.

Bahkan Ucok pun sempat bercanda supaya cepat bermain mengunjungi toko rekaman serta pernak pernik musiknya Di Jalan Kartini. Locdown. Tempat ini pernah dikunjungi saat ada perilisan ulang 10 tahun album Homicide Illsurekshun, aku membeli 2 vinyl meskipun aku tidak memiliki turn table untuk memainkan piringan hitam itu.

Sebelumnya menonton tv sebelum tidak bisa tidur tadi, tombol tv ditekan TV hidup lalu mulai memilih channel dari acara berita, ah aku tidak suka berita yang sedang booming tentang Novel Baswedan yang di siram air keras di mukanya, channel selanjutnya acara stand up comedy sangat lucu juga menghibur para penonton di studio mereka tertawa tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak tersenyum bahkan tertawa aku tidak menikmati acara ini. Tidak lucu. Channel terus berganti hingga bertemu dengan acara musik indie, DCDC. Ceritanya aku lupa tapi yang pasti besok itu ada acara hip hop di Braga tepatnya aku lupa dimana, aku berencana datang ke sana sendiri amat tertarik hadir menikmati musik hip hop yang penuh rima serta menghibur diri dari kesepian apalagi aki masih belum bekerja lagi.

Di acara ini ada juga Edi Brokoli, Budi Dalton bersama Si Cantik Poppy, liat Poppy yang keliatan nakal dengan pakean yukensi, celana jeans belel, sepatu kulit, mataku menikmati penampilannya malah membuatku ingin menjadi nakal juga. Senakal-nakalnya anak bandel umur dua puluhan, tidak bekerja, mabuk, berkata kotor, sambil menghabisi waktu muda dengan senang-senang, sungguh masa muda yang menyenangkan.

Entah bagaimana waktu berlalu begitu cepat sekitar jam 10 siang aku mendengar suara Poppy ada di acara hip hop di Bandung, aku mendengarkan sambil menulis mind map bersama Ucok.

Bob; saudara sepupuku dari keluarga Ibuku tiba-tiba datang ke rumah membeli gas 3 kg. Selanjutnya pergi, padahal sepersekian detik aku ingin ikut bersama datang ke acara hip hop, menumpang motornya sampai angkot dibandingkan naik ojeg atau jalan kaki kebawah yang ku tempuh selama 15 menit berjalan kaki ini bisa menghemat waktu, tenaga untuk dihabiskan di tempat acara musik hip hop di sana.

Pikiranku cepat untuk berkemas membawa segala macam keperluan ke acara, spidol yang digunakan bersama Ucok saat branding Konsumsi Saya saya di hentikan. Saat disadari banyak juga tulisan, gambar, logo di beberapa kertas putih. Kaki terasa berat menginjakan kaki ‘tuk keluar kamar berangkat langsung ke Braga, ya aku baru ingat nama tempatnya. Bob membeli gas cepat saja, tak sampai 5 menitlah aku ingat suara kenalpot motor metiknya terdengar sampai ruang kamarku. Sangat singkatnya dia belanja aku juga kecewa tidak jadi ikut dengannya mengapa terlalu lama berfikir, malah juga malas menggerakan kaki aku yang sedang asik doodling.

Mau disebut apalagi kegilaanku saat itu kupingku terasa mendengar Eye Feel Six bernyanyi aku mendengar lagu dengan lirik kurang lebih seperti “Coli sejak sd sampai kakek-kakek, pemuda gila geli sendiri tanpa bini ini”, benar-benar menyindirku langsung menonjok mukaku, apa mereka sudah membaca blogku lalu membullyku, aku dirundung masalah karena project hip hop ku juga belum membuat lagu baru lagi. Liriknya aku senang karena aku merasa sangat hidup diceramahi ahli ngocok. Aku tertawa sendiri.

Ada yang mengetuk pintu depan rumah Ibu langsung sigap membuka pintu ternyata ada yang akan membeli gas. Dalam halusinasiku setiap yang membeli gas, berarti menambah tenaga, kecepatan, seperti sepeda motor makin kencang bertenaga begitu juga dengan diriku yang merasakan meningkatnya adrenalin ke sekujur tubuh. “Gas, gaspolkeun tenaga maneh, gas, gas, gas, boa edan beuki tarik euy.” Yang terjadi malah saya peregangan badan, pemanasan, seperti pemain Persib yang siap bermain di Lapangan bola, nyatanya tak ada semua itu hanya ada semangat tempur yang tinggi tanpa wadah untuk bermain.

*****

Melanjutkan doodling Konsumsi Saya, Ucok mengarahkan visualisasi KS menjadi kopi susu.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: