Seorang pemalas yang masih menganggur dan masih terus mencari pekerjaan tetap untuk menghidupi masa depannya. Autobiografi Asep Cash Ball. Bandung. 2015.

Kira-kira waktu itu sekitar tahun 2007-2008 saat saya berhenti sebentar untuk mengejar yang lain. Saya sudah lelah mencoba menjadi mahasiswa. Saat itu pula saya baru lulus dari SMA Islam swasta di Bandung. Karena tidak banyak kumpulan pinjaman dari saudara, saya terpaksa menerima kekalahan. Saya tidak masuk Institusi negri. Uangnya tidak cukup.

Saat itu saya tidak bekerja. Hidup hanya dari uang orang tua, orang lain menyebutnya pengangguran. Saat itu waktu tidak berlalu dihabiskan untuk sekedar menunggu tahun depan. Saya disibukan belajar menggambar secara berkelompok, ya ini usaha untuk bisa menembus Intitusi negri tadi. Tak apalah mencoba untuk kedua kalinya. Penasaran. Percaya diri sajalah sambil mencoba mendapatkan peluang yang ke dua. Saat itu dananya sudah ada, didapat dari hasil bantuan pinjaman beberapa orang yang berbaik hati memberikan sejumlah hutang. Akhirnya saya bisa berhasil mengisi waktu kosong dengan les menggambar dari uang mereka.

Saat itu saya masih ingat dimana teman-teman yang lain memulai hidup barunya di universitas dengan rupiah yang cukup. Kuliah dengan fasilitas serba cukup yang sesuai dengan ekonomi keluarganya. Sementara saya hanya bisa menggambar di tempat les dengan uang yang minim juga dengan fasilitas seadanya pula. Ada uang ada banyak kesempatan, tak ada uang sediki kesempatan begitulah kenyataan saya saat itu.

Banyak waktu luang yang terpakai untuk tidur, makan, menggambar, membaca buku, tak lupa mendengarkan musik, menonton tv sampai onani. Semua tidak teratur. Oh iya, saat ini saya masih menjadi penghisap asap nikotin sambil bermain sepak bola virtual. Tak ada simpanan uang, tak ada sisa uang jajan semua dihabiskan untuk bersenang-senang penghilang sakitnya kemiskinan. Melupakan semua tanpa beban dengan begadang setiap malam menggambar apa pun yang ada di tabung berukuran 21 inchi. Jika saat menoton liputan berita dan terinspirasi maka saya akan langsung mengambarnya, begitu pula dengan sinetron. Semua digambar ulang diatas kertas tanpa terkecuali. Pensil 2b menjadi alat peniru visual yang kulihat. Hampir semua telah saya gambar. Tak Cuma itu saya juga mengambil referensi lain seperti foto, film, sampai barang-barang yang ada di kamar. Semua saya gambar. Saya jadi terbiasa menggambar berbagai objek. Mungkin saja aktivitas keseharian seperti ini bakal berguna saat proses seleksi nanti. Pasti lulus Institusi. Positif.

Seingat saya waktu itu seluruh waktu yang ada digunakan hanya untuk mengambar saja. Sehingga rutinitas ini membuat gambar saya terasa semakin cepat saja menyelesaikannya, pensil 2b semakin tepat menggoreskan anatomi manusia untuk menkomunikasikan apa yang digambar, siapa saja yang ada disana, kenapa bisa terjadi sesuatu disana, dimanakah orang yang digambar itu, waktunya kapan dan bagaimana kejadiannya tadi. Dengan mudahnya saya menggambarkannya semua itu.

Dengan lancarnya menggunakan teknik arsir, gelap-terang, kesederhanaan, membuat ilustrasi dalam setiap kertas. Begitu mudahnya menggambar itu. Menyenangkan. Tanpa perlu menjadi realis, cukup terlihat manusia saja sudah cukup. Tidak perlu menyerupai komik Amerika yang berotot itu atau seperti komik Jepang yang bermata besar. Tidak perlu komikal. Cukup komunikatif sajalah.

Ketika mengambar saya disuruh tidak hanya menggambar subjek pria saja, ada wanitanya jugalah. Biar bervariasi. Agar telihat membaur dengan umur yang berbeda-beda dalam satu ilustrasi. Terkenang tempat les yang ramai, menyenangkan berhasil bertahan les disana selama 2 semester penuh, tak pernah bolos bahkan selalu tepat waktu, hujan, panas, malam siang saya datangi tanpa pernah bosan. Tak pernah mengeluh. Selama itu pula saya jadi mengerti proses pembuatan ilustrasi, dari pemilihan objek, pemaknaan, komunikasi visual sampai teknik dasarnya begitu pula dengan teman-teman les privat yang rajin-rajin. Semuanya hebat. Pandai mengikuti bimbingan kakak mahasiswa. Diantara membimbing kami di tempat ini mereka juga sibuk dibimbing tugas akhirnya oleh Dosennya di Institusi Negri. Para guru ini sudah belajar banyak di Institusi yang akan ku tuju nanti. Tak hanya mahasiswa ada pula dosen yang juga mengajar disini. Sebelumnya tidak pernah kukira dosen membantu kami disini. Bimbingannya santai, ringan tapi penuh kritikan pedas tanpa kekerasan fisik tentunya, hanya ada kalimat kejujuran yang menusuk hati sebagai penggatinya. Memotivasi sekaligus menyinggung, membangkitkan semangat menggambar yang terkadang perlu ditingkatkan lagi dan lagi. Belajar lebih baik lagi.

Bila di siangnya menjadi mahasiswa, sorenya menjadi dosen atau disibukan menjadi guru les meng
ambar sampai malam. Satu hari yang penuh dengan kewajiban dan kesenangan. Saya salut dengan kesibukan ini sungguh mengispirasi saya untuk menjadi seperti mereka. Mahasiswa. Dosen. Pengajar les.

Dari kertas A4 ke kertas A2 terus saja berlanjut. Menggambar semakin mudah jika dilakukan tanpa beban. Sangat menyenangkan rasanya. Seperti bagaimana saya menggambar waktu kecil dahulu. Saya rasa les private seperti ini memudahkan saya menguasainya, selain itu juga jadi terbiasa bersaing dengan teman-teman les yang jago-jago gambar. Saya juga sudah dibiasakan untuk terus menggambar 3 jam tanpa henti sampai selesai. Tanpa istirahat. Bilamana telah tiba waktunya selesai saya akan mengisi waktu saya dengan menepati 5 kali kewajiban ibadah dalam sehari. Saya juga selalu mengerjakan PR, mengumpulkannya paling awal. Saya tak mau didahului orang lain begitu juga teman-teman yang saya kenal. Begitu seterusnya hingga lulus dari tempat les tersebut. Secepat mungkin saya kerjakan segalanya. Dari sanalah mulainya proses menggambar ilustrasi berjalan dengan tepat waktu dan juga terbiasa teratur. Tak ada waktu yang terbuang, tidak ada kewajiban yang tidak dipenuhi.

Tak terasa waktu sudah memasuki waktu ujian. Semakin dekatlah harapan untuk menjadi desainer grafis impianku dari sejak SD saat menggambar pahlawan super di halaman belakang buku tulis. Menulis kata porno, surat cinta, judul lagu dari MTV sampai beberapa gambar yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Absurd. Oke. Kali ini saya harus ikut seleksi lagi. Saya harus diterima di institusi negri. Saya pasti diterima. Pasti. Saya yakin itu. Pasti.

Hari pertama seleksi intitusi itu saya berhasil menyelesaikannya, tak ada masalah, menggambar memang sudah tak perlu takut untuk gagal, gambar saja selesai, hari kedua berbeda lagi, saya terkendala Bahasa Inggris saya yang buruk meskipun pun sudah rajin belajar 16 tenses, seharusnya sih jadi gampang ya, tapi ternyata ada beberapa soal yang sulit ‘tuk di isi. Ya kalau sudah begini sih seperti biasa saja. Asal jawab. Kalo salah juga tak masalah juga kan yang dinilai gambar ilustrasinya. Bukan Bahasa inggrisnya juga, jadi ya santai saja. Paling penilaian dititik beratkan pada ilustrasi jadi tidak perlu pusing. Isi saja sekenanya. Santai.

*****

Waktu istirahat telah tiba. Teman-temanku menikmati makan siang gratis pemberian intitusi, saya juga makan dengan lahap. Kami berbicara tentang tes ini sambil menunggu waktu istirahat berakhir dan mengerjakan ujian selajutnya. Saat itu saya telah berhasil berhenti berlangganan nikotin, membuat saya selalu menjaga jarak jika ada asap nikotin yang tak sengaja melewati hidung. Nasi kotak telah habis. Tak terasa bel berbunyi kami pun masuk kembali untuk menyelesaikan seleksi gambar illustrasi lagi. Setelah selesai mengerjakan test tadi saya langsung pulang, makan, mandi dan tidur sebentar.

Saya berharap lulus seleksi tahun ini. Berharap pula bisa berpenghasilan dari desain grafis.Ya mudah-mudahanlah terwujud. Soalnya saya sudah bosan menganggur. Sayangnya setelah setahun penuh berhasil memahami ilustrasi melebihi tahun sebelumnya. Semua peluang hilang hanya dengan hasil ujian selama 3 hari. Hasilnya di tolak lagi. Sama seperti hasil tahun lalu. Kecewa. Tapi itulah hasil dari mencoba. Kuterima kenyataan. Ya sudahlah. Saya terpaksa pindahkan masa depan dari institusi negeri ke universitas swasta. Dengan konsekuensi tambahan pinjaman yang semakin banyak pula tentunya.Terpaksa meningkatkan budget demi ijazah. Saya rasa selalu saja ada yang membantu saya dan keluarga. Beruntunglah kami sekeluarga. Meskipun sebenarnya bila masuk istitusi negri uangnya lebih murah daripada di universitas swasta tapi mau bagaimana lagi sekarang saya harus menjadi sarjana. Pikirku singkat. Lupakan impian menjadi mahasiswa negri. Dengan kekecewaan akan penolakan saya berjanji akan membuktikan bahwa saya tidak pantas di tolak. Saya marah. Keluar rumah, berjalan menghabiskan uang jajan untuk bermain console game. Tak ada pelarian kekecewaan selain itu. Hanya menghabiskan uang sesaat tanpa menyelesaikan masalah. Setelah uang habis saya kembali ingat sudah saatnya saya buktikan. Saya bisa kok lulus 4 tahun Cum laude. Tak perlu negri swasta pun cukup. Saya tak perlu negri. Semua universitas sama saja tak ada bedanya. Alasan yang dibuat karena penolakan. Bukan karena kemampuanku yang pas-pasan.

Langsung saja terlintas diangan akan kenikmatan bekerja di ruangan kantor yang penuh dengan kerjaan yang menyenangkan. Menggambar, menggunakan komputer. Wah desain grafis. Impianku akan tercapai. Semangat! Saya akan lulus dan bekerja dibidang seni komersil. Kuliah ini harus lekas selesai.

*****

Tahun pertama saya langsung bertahan dengan nilai di bawah Cum Laude, berkembang terus secara bertahap, stabil. Tugas-tugas kuliah terlewati dan tibalah saat tahun ke empat. Saat teman sekelasku lulus Cum Laude dan bekerja. Saya masih tetap harus berjuang, harapan saya turunkan menjadi tidak Cum Laude & lulus kuliah. Ya tidak apa-apalah turun target juga. Lulus 4 tahun juga sudah tidak mungkin. Dan benar saja saya pun telat lulus 1 tahun dari mereka. Saya diwisuda sama seperti teman-teman tapi saya belum menyelesaikan revisi. Banyak hal yang saya kerjakan hingga tidak punya tenaga untuk fokus menyelesaikannya.

1 tahun pun berlalu, skripsi masih juga belum di selesaikan. Walau pun di kerjakan hampir tiap hari. Sambil ditemani penulisan zine, pembuatan musik, freelance desain grafis, jual-beli barang bekas, sampai meminjam banyak uang dan barang sebagai marketer online. Banyak yang kucoba demi melepas kebosan menulis revisi skripsi. Terus saja menulis sambil disibukan banyak pekerjaan tadi. Yang sebenarnya membuat waktu menulis hilang diisi pelepas kebosanan tadi. Gagal fokus. Gagal revisi.

Ah tentu saja tak akan selesai-selesai jika masih seperti ini. Disaat yang sama saya tidak punya pekerjaan tetap untuk menghidupi diri sendiri. Kesibukan pelepas kebosanan tidak memberi jaminan hidup. Hanya menghabiskan waktu menulis skripsi. Kenyataan yang terbalik ini tak melupakan kerja paruh waktu yang sejujurnya tidak menghidupi saya. Awalnya sih meremehkan gelar buat apalah punya ijazah itu. Yang penting kan hidup punya uang dari kerja paruh waktu, itu saja sudah cukup. Harapan saya turun kembali. Bukan lulus menjadi sarjana desain komunikasi visual melainkan seorang pekerja desain grafis serabutan. Harapan yang biasanya menjadi target hidup untuk lebih baik terus saja merosot ke arah lebih rendah. Pencapaian buruk yang didapat dari hasil tidak memberikan harapan untuk mencoba hal yang lain ‘tuk mendapatkan target awal. Kini perpindahan target yang realistis.

Kenyataan bahwa kerja serabutan itu tidaklah menghidupi hari ini. Sedikit kerja sedikit pula uang yang didapat. Meski pun banyak sekali waktu luangnya. Ya kalau keluar rumah saja saya masih tetap meminta uang dari Ibu apa pantas saya bisa disebut bekerja paruh waktu yang bisa menghidupi. Jika masih tetap meminta uang walau pun sudah bekerja apakah bisa disebut pekerja jika masih saja dibayar walau pun tidak bekerja. Saya tidak tau ini bisa disebut bekerja atau bukan. Saya tidak peduli saya tetap idealis untuk tetap bekerja paruh waktu saja. Beberapa bulan terakhir kenyataan bekerja paruh waktu itu penghasilannya sedikit tidak sebaik bekerja di kantoran yang ku impikan dahulu. Kenapa ya selalu saja tidak sesuai harapan antara keinginan dengan hasil yang didapat. Apa mungkin saya masih kurang usaha. 2 semester belajar illustrasi. 5 tahun belajar desain grafis. apa mungkin saya masih kurang usaha. Apa mungkin iya freelancer itu tidak menghidupi. Setelah dijalani aku mendapatkan hasil seperti ini.

Bila di hitung dengan teman yang sudah berpenghasilan bulanan uang ku tidak sampai seperempat gaji kantoran kawanku. Dengan selisih uang yang banyak itu saya kembali berjanji lagi bahwa tahun ini saya akan bekerja dengan semangat yang sama seperti mengganggur saat SMA dulu. 2 semester dihabiskan les privat menggambar. Ah sudah dua kali juga saya mengagur. Kali ini saya berjanji sama seperti janji-janjiku terdahulu yang menyemangati hidup agar menjadi lebih baik lagi. Oke-oke tahun ini saya harus membuktikannya. Saya akan menyelesaikan skripsiku. Saya harus membayar utang-utang keluarga ini secepat. Saya harus segera menyelesaikan revisi hingga bekerja dengan ijazah saya. Saya akan menjadi desainer komunikasi visual yang bekerja di kantor. Membayar semua kebodohan selama 2 tahun terakhir. Saya harus membayar itu semua. Mampu tidak mampu harus mampu.

*****

Bekerja memang melelahkan, terlebih jika selalu menunda pekerjaan. Waktu tidur berkurang, waktu kerja tetap sama. Hanya mengulur-ngulur waktu saja. Hebatnya saya selalu punya alasan pembenaran untuk itu. Saya selalu menunda hingga tiba satu hari sebelum waktu pengumpulan tugas. Rutinitas ini sudah jadi kebiasaan buruk yang berkelanjutan. Saya bukan tidak mau merubahnya, tetapi selalu berubah sementara lalu kembali lagi terlambat mengumpulkan tugas lagi-lagi dengan berbagai alasan pembenaran. Selalu seperti itu. Sebentar-sebentar tepat waktu, sebentar-sebentar tidak tepat waktu. Tidak pasti.

Tahun berganti. Dari bulan ke bulan. Minggu ke minggu. Hari ke hari. Saya mulai sadar sedikit-sedikit. Lagi-lagi saya berfikir. Saya tidak mungkin menganggur seperti ini, juga tidak mungkin menghabiskan waktu untuk membaca buku terus menerus di rumah sebuah hobi yang tidak bisa membayar kuota internet. Ini hanya kenikmatan semu. Saya tak perlu lagi menonton film sampai mendengarkan musik untuk mengusir kenyatan bahwa usia pertengahan dua puluhan memang sudah seharusnya bekerja bukan berdiam diri dikamar. Berada dirumah tidak mendatangkan uang. Bagaimana pula kewajiban untuk membayar uang pinjaman sekolahku dari orang-orang yang baik yang pernah menolongku di awal tadi kuceritakan. Hutang haruslah dibayar tidak bisa tidak. Tidak ada penghasilan tidak ada kehidupan, ah masa iya sih harus meminjam uang terus-menerus sampai mampus. Tidak mungkinlah. Lagi pula tidak mungkin pula untuk selalu meminta uang dari Ibu, kasian. Tak bisa lagi setega itu, tapi saya hanya betah tinggal dalam kamar tidak mau keluar selain mengikuti ibadah jumat. Selain itu saya habiskan hidup didalam kamar. Komputer, buku, onani dan kenikmatan hidup dalam kamar.

*****

Beberapa bulan sebelum wisuda Ayah ku meninggal saat itu saya mengerjakan skripsi. Padahal jarak kamarnya tepat berada didepan kamarku. Aku merasa salah sekarang untuk tidak melihatnya saat itu, karena terlalu fokus mengerjakan revisi. Meskipun terkadang cukup malas juga untuk merampungkannya. Sekarang penyesalan tersebut bukan hanya menyisakan rasa bersalah yang mendalam. Revisi masih saja belum diselesaikan. Ah malas rasanya menyelesaikannya apalagi aku kesulitan untuk tetap menjaga fokus untuk mengerjakan revisi dalam beberapa jam. Susah fokus. Selalu saja malas merampungkan revisi skripsi setiap harinya. Begitu pula dengan bekerja paruh waktu terkadang malas juga dijalani. Hemm, aku memang pemalas akut.

*****

Rasanya sifat pemalas memang ada pada setiap orang. Mungkin tidak, mungkin iya, tetapi seseringnya saya dengar kata itu. Malas. Sebagai alasan pembenaran. Alasan yang sama untuk keluar dari revisi skripsiku. Pelarian dari masalah yang harus dijalani, dinikmati dan diselesaikan hingga tuntas. Saya hidup tanpa tanggung jawab.

Sementara itu kalau pun melihat temanku yang lulus lebih awal dariku juga tetap saja menganggur hingga 1,5 tahun padahal dia Cum Laude. Mungkin saja, temanku ini terlalu banyak menikmati zona nyaman. Seperti omongan sok tau lain yang pernah selintas terdengar. Saat bertemu dengannya aku banyak bertanya banyak hal tentang ‘masa ngaggurnya’ itu dia hanya menjawab sangat singkat seperti tidak mau dibicarakan lebih jauh. Singkatnya dia terlalu sibuk mengisi waktunya untuk menyelesaikan beberapa game dibandingkan bekerja di kantor. Tidak pernah melamar kerja, tidak membuat cv, baginya kerja kepada orang lain itu tidak sebaik bekerja sendiri. Mandiri. Kerja sendiri dengan penghasilan yang sedikit. Terkuras bunga bank dan rekan bisnis. Penghasilan sama saja seperti bekerja paruh waktu. Kerjanya sedikit uangnya juga sedikit.

Sementara sekarang dia dengan mudahnya berkata “Buang waktu katanya bermain game sekarang ini, sebaiknya dari dahulu saja aku bekerja di kantor.” Kalimat ini meyakinkanku bahwa menganggur itu tak berguna, dengan badan yang terlihat semakin membesar maka bisa kuduga hidupnya itu di isi tidur sampai pusing, hingga makan terus menurus sampai badan membesar melebar gemuk. Hal yang sama kurang lebih sama kulakukan sekarang jika melihat badanku sekarang. Obesitas.

Bedanya aku tidak mengisi waktu mengganggurku dengan bermain game, aku tidak peduli permainan seperti itu. Tidak penting. Yang aku peduli adalah membaca musik, politik, sejarah, sampai pengetahuan seputar kerja paruh waktu di internet. Tapi ini tetap sama-sama saja membuang waktuku untuk bekerja di kantor, nampaknya hidup ini bukan sekedar hidup untuk menikmati hidup asal-asalan ada uang, tanpa pendapatan tetap yang mampu menjamin hidup bulan ini. Kerja paruh waktu tidak mendapatkan kepastian uang gajian. Tapi belajar dari hari kemarin itu ya, seperti itu. Bekerja sendiri tidak mudah. Mandiri itu tak perlu banyak pengorbanan, perlu kemampuan, perlu realistis. Walau pun gagal berbisnis, dengan uang yang tidak kembali tadi, investasi menjadi kerugian. Barang yang di investasikan tidak bisa menjadi uang. Bahkan percobaan bekerja di internet itu menjadi bukti kegagalan menjadi pekerja online. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Mungkin masih membutuhkan waktu tambahan lagi untuk dipelajari. Aku akan mencobanya nanti selepas bekerja kantoran. Semoga saja bisa kuwujudkan.

Sekarang ini temanku yang tadi kembali memulai lagi hidupnya dengan bekerja kantoran. Sibuk menabung uang untuk mencari peluang bisnis baru. Berhenti menjadi pebisinis dan memulai hidup sekarang sebagai seorang pekerja kantoran. Sama halnya dengannya saya berpikir demikian sekarang, tetapi tetap saja saya masih mencoba dengan bekerja paruh waktu dulu bukan dengan bekerja penuh di kantor. Jelas berbedalah hasilnya. Saya harus mencari banyak peluang untuk bekerja paruh waktu di dunia maya. Yang pada akhirnya tetap saja membuatku berfikir ulang. Aku harus bekerja kantoran dengan uang bulanan yang pasti kudapatkan baru mencari uang di internet sebagai tambahan uang bulananku. Itulah harapanku sekarang secepatnya saya kumpulkan uang pinjaman untuk dapat menghidupi Ibu dan Kakakku.

Setelah membaca, menganalisa bahwa tidak akan ada uang maka tidak ada pula kelanjutan hidup ini. Yang ku perlukan saat ini hanya bekerja untuk mendapatkan uang. —Jika dulu saya mampu menikmati kesulitan demi kesulitan hingga terlewati dengan caraku sendiri.— Sekarang pun seharusnya sama. Saya hanya harus mulai menikmatinya kembali dengan halangan-halangan yang ada. Memang sudah terlambat untuk mengawali ini lagi, sungguh-sungguh terlambat jika kebiasan burukku tidak ku hilangkan sekarang juga dan masih saja menunda-nunda kewajiban yang ada. Ini akan menjadi malapetaka. Hutangku semakin bertambah banyak begitu juga kesialanku.

*****

6 tahun sebelumnya saya bukanlah seorang mahasiswa desain grafis apalagi pekerja paruh waktu. Saya cuman pengangguran yang masih mengerjakan PR gambar ilustrasi dalam grup les privat. Saya berjalan sendiri seperti biasa. Sedikit memiliki teman.Saya tak peduli dengan cinta wanita. Saya hanya mencintai diri sendiri tanpa perlu ditemani wanita. Hingga saya pun lupa akan janji teman sepermainan di hari ini. “Ya langit sudah gelap lagi ya?” keluhku sore ini yang semakin mendung meninggalkan teduh menuju hujan yang akan turun. Cuaca berubah dengan cepatnya.

“Duh, kok belum datang juga ya”. Kubertanya dalam hati. Padahal kami sudah berjanji akan bermain sepak bola virtual di rental ini. 3 jam terlewati kami pulang ke rumah masing-masing. Rental ini dipenuhi anak berusia belasan, asik menghabiskan uangnya untuk menikmati permainan yang ditawarkan. Ada isi kulkas yang berisi minuman botol yang siap membasahi tenggorokan bila kerongkongan ini haus. Ada pula mie instant yang siap mengobati rasa lapar jika tiba-tiba perut tidak mau kompromi. Ada juga rokok yang siap dihisap mengusir candu sesaat. Semua lengkap asalkan ada uang semua bisa dinikmati. Tempat ini bisa menghabiskan uang untuk ditukar dengan kesenangan. Tempat hiburan yang menyenangkan.

Akhirnya teman ku datang juga kami langsung bermain berdua saja. 2 jam berlalu, permain bola dimainkan di dalam layar tv. Kontrol game ku genggam. Bermain tanpa beban. Bebas emosi ku hilang saat itu juga. Tv padam tanda kami harus pulang membayarnya dengan selembar kertas. Tak ada uang kembalian di kasir. Permainan usai, saya berjalan kaki pulang sendirian tanpa diantar temanku naik motor, karena jalan pulang ini terhitung dekat jaraknnya dengan rumah ku dibandingkan kawanku yang harus pulang naik motor ke rumahnya. Jadi kami pulang masing-masing berpamitan.

Di perjalan saya menyemangati hidup yang harus diraih. Saya bermimpi “Saya akan bermain gitar hingga melebihi Jimi Hendrix, saya menggambar hingga menjadi ilustrator terbaik seperti cover komik Amerika” di dalam hati terus berbicara hingga sampai ke rumah. Rokok yang terhisap terasa hangat di tenggorokan. Terkadang hidungku terasa terbakar akibat asap yang terhisap tidak sengaja. Sungguh mengganggu rasanya. Nikotin yang ku hirup menghangatkan dadaku. Ku terus menghisap dari tangan kananku membakar sisa batang rokok diujungnya. Membuang sisa pembakaran tembakau. Ujung batang rokok pun memerah hingga terlihat bercahaya dibandingkan gelapnya komplek Margahayu Raya yang sepi dimalam hari ini. Setelah banyak asap yang terhisap ku alihkan tanganku menjauhi mulut. Memindahkan asap nikotin hingga menuju saluran paru-paru ku didalam perut. Terasa nikmat dan menenangkan pikiran. Setelah itu kukeluarkan perlahan sama seperti aku menghisapnya. Asap kelabu kabur keluar dari mulutku melintas kebelakang langkahku meninggalkan rental permainan tadi. Meninggalkan pula temanku sekaligus mengantarku pulang. Asap keluar sisa batang rokok yang terbakar juga kupukul lembut dengan telujuk, ujung batangnya terlepas. Segera saja sisa rokok yang terbakar itu terbuang karena tak berguna seperti asap yang keluar dari mulut. Whuss. Suara angin keluar dari mulut setelah ku hisap rokok ini. Setelah habis sudah rokok dihisap lalu sisanya dibuang di dijalan. Sampailah aku tepat didepan pintu rumahku.

“Oke ini tujuan hidupku sekarang” Sambil ku buka daun pintu depan rumah sambil terus berfikir tujuan hidupku. “Desainer Grafis.Yang akan dilakukan adalah berusaha melampaui batasanku, yang terbiasa malas-malasan.” Sambil terus berjalan melintas ruang tamu, ruang tidur orang tuaku disamping ruang tidur kakakku.“Saya akan semakin baik lagi, cepat dan mendapatkannya sesegera mungkin”langkah kakiku menuju pintu kamar mandi untuk mengambil air dan melangsungkan ibadah dimalam hari. “Kalau pun tidak terjadi ya berarti saya kurang usaha. Itu saja. Saya harus mendapatkan mimpi saya. Saya yakin saya bisa.” Dalam hati terus terucap hingga aku membuka keran dan membahasi tubuhku. Saya melanjutkannya dengan sembahyang malam hari.

Saat itu hari-hari berlanjut untuk mewujudkan impianku. Saya bermain gitar hingga tangan lecet, saya pun menggambar hingga saya bosan. Ini saya lakukan setiap hari nyaris tanpa alasan lain selain menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak perlu di tanyakan untuk apa dilakukan berulang kali. Kini aku telah menemukan tujuan hidupku. Aku adalah desainer grafis.

*****

Waktu berlalu 7 tahun berlangsung melewati tadi. Biasanya kasur terasa empuk di malam yang dingin seperti ini. Dengan selimut katun tebal bermotif kotak merah muda, biru muda bertema kotak-kotak. Saya beristirahat menutup malam. Mengisi kembali energi yang terkuras tadi siang hari. Anehnya masih saja tetap tidak bisa tidur. Saya banyak pikiran. Ah mengapa saya berfikir ini-itu, sehingga sulit tertidur lagi, “Ah kenapa dengan diriku sekarang ini. Saya lupa dengan nama hari ini, benar-benar lupa, tidak ingat sama sekali”. Apa saya juga lupa bahwa tahun terus berganti. Hari berlalu. Apa yang harus kulakukan hari ini adalah untuk menghidupi masa depan nanti. Bukan berbicara masa lalu yang tidak dapat dirubah. Melupakan masa depan yang akan dihadapi, yang dimulai dari masa kini yang sedang di jalani. Mengapa pula saya tidak bertindak seperti dulu. Melakukannya lagi. Mengerjakannya lagi. Bahwa bekerja itu adalah rutinitas yang ku nikmati. Begitu juga dengan desain grafis. Apakah saya yang sekarang berbeda dengan saya yang dulu. Rajin mengerjakan tugas hingga selesai walau pun terlambat. Bergadang dengan komputer demi sebuah nilai kuliah. Sementara sekarang tidak, tidak ada tugas, tidak ada kuliah, tidak ada ijazah. Tidur-tiduran malas mengerjakan sesuatu. Tanpa tujuan. Tidak ada rutinitas kesibukan. Cenderung setiap hari melakukan yang sama. Mudah ditebak. Bangun, makan, tidur, baca, nulis, nonton, berak. Setiap hari adalah sama. Setiap hari adalah pengulangan. Waktu berlalu mengulang kembali. Terus menerus melakukan yang sama adalah rutinitas. Tapi kenapa juga sekarang tidak bisa seperti dulu. Ingin rasanya menjadi serajin dulu. Mengulang waktu yang dulu ku tinggalkan. Menjadi mahasiswa.

*****

Sekarang kembali ke tahun pemikiran awalku. Di tahun 2007-2008 saat saya merasa mandiri, nyaris tidak butuh bantuan dari orang lain. Lebih tepatnya ku tak ingin merepotkan siapa pun. Jadi yang kulakukan adalah melakukan segalanya sendiri sebaik mungkin.

Kini terbayang kembali semua itu, Soekarno Hatta, Margahayu, play station, motor satria, Panatayuda, Buah Batu, Margahayu-Ledeng, Riung Bandung-Dago. Rokok, Gigs, Pertemanan, Anggur Merah, Intisari, Pensil, kertas, cat air, crayon, pensil warna, Institusi Negri, Universitas Swasta, Desain grafis, Desain Komunikasi Visual, dengan menyimpulkan pemikiran tadi yang harus di lakukan adalah memilah aksi diantara pengalamanku tadi, membuang yang tidak perlu dilakukan, melipat gandakan kewajiban ‘tuk melupakan aktivitas tak perlu. Menutup aktivitas tidak produktif dengan aktivitas produktif. Prioritas kewajiban. Setelah itu dengan bantuan komputer, digambar ulang, memvisualisasikan tindakan. Saya berhasil menggambarkannya. Saya akan melakukan seluruhnya sesuai gambar ini. Tidak bisa tidak. Tidak ada alasan apa pun untuk tidak melakukannya. Wajib. Ini tujuan hidup. Ini awal dari karir seorang Desainer Grafis. Harapan, kenangan, kebutuhan, kepastian. Sekarang saya lakukan atau tidak. Kerjakan. Atau tidak mengerjakan. Jika tidak. Saya hanya berharap, meminta dan mengenang saja. Sekarang apakah saya masih mau mewujudkan cita-citaku? Mewujudkan yang dulu menjadi tujuan hidupku. Menjadi desainer grafis atau bekerja paruh waktu dengan uang tipis? Tentu saja hidup harus ada penghasilan. Tidak ada uang, tanpa pekerjaan, yang ada hanya kesendirian, kebohongan, yang akan berakhir dalam pelarian seperti membaca Buku, menonton film, dan mendengarkan musik.

a.jpg

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: