Depresi Bagian 11: Skripsi, Doodling juga Dilatih sama Coach

Agnez sering tampil seksi tidak hanya di instagram saja video musiknya wohoho seksi loh, foto di majalah juga tidak kalah seksinya. Foto-fotonya juga memakai barang fashion ternama, tentunya dengan harga yang mahal. Pada 6 tahun yang lalu, yaitu tahun 2013. Kekayaannya juga ditaksir sebesar Rp. 340 Miliar. Wow sungguh banyak sekali ya sekarang sudah dipastikan kekayaannya bertambah.

Saya hanya bisa membayangkan bagaimana Agnez bisa menjadi sekaya itu tentu dengan usaha, kemampuan, kegagalan-kegagalan, juga terus menerus mencoba untuk bakit dari kegagalan, serta pekerjaannya di dunia hiburan yang panjang dicapai dengan tidak mudah tentu saja bisa dikatakan demikian. Berproses terus-menerus yang pastinya tidak sebentar tentunya. Dulu dia menjadi artis cilik, membuat album musik, membuat video musik, beranjak remaja menuju dewasa saya juga menonton sinetronnya. Seterusnya aktif di dunia tarik suara hingga di kontrak lebel rekaman internasional di Amerika Serikat lalu menetap permanen di L.A. dibagian pantai Barat. Ya meskipun kadang sesekali pulang kampung ke Indonesia untuk memenuhi undangan bernyanyi di berbagai stasiun TV swasta.

Hanya ini yang saya tahu tentangnya. Oh iya beberapa tahun yang lalu saya mencoba-coba mengingat kembali apa yang halusinasi-halusinasi yang saya dapatkan dengan sesosok Agnez Mo.

*****

TV menyiarkan acara reality show, ajang pencarian bakat dalam bidang tarik suara di isi oleh anak-anak, remaja serta di dampingi oleh keluarganya masing-masing. Dalam kesempatan ini acaranya disiarkan langsung dari Jakarta ke seluruh pelosok Nusantara.

Suara Agnez terdengar sebagai juri —Disebutnya bukan juri tapi coach, diantara juga ada coach yang lain seperti Beby Romeo, juga ada Tulus.— Mereka saling berlomba-lomba membujuk penyanyi ini. Anak kecil ini terdengar luar biasa dibandingkan anak-anak yang lain. Kalau tidak salah saya saat itu juga masih mendengarkan album ketiga dari Ka: rapper yang bersuara lempeng dengan musik hip hop yang menghipnotis siapa saja yang mendengarkannya sambil telinga fokus mendengarnya saya juga masih sedang mengerjakan revisi skripsi, seperti perang yang tidak akan pernah saya menangkan. Saya mendengar suara Agnez Mo. Saya tak terlalu ingat saat mematikan komputer di kamar saya sendiri, lalu pindah tidur-tiduran ke kamar Ibu, mendengar pujian Agnez kepada anak kecil tadi. Dasar halusinasi, sialnya atau untungnya begitu, saya malah merasakan seperti berada di posisi anak kecil tadi. Saya di beri masukan untuk memilih coach. Kemampuan saya akan diasah menjadi lebih baik lagi.

Mendengar Coach Agnez yang terus menerus memuji penampilan anak ini. Sangat berbakat, lebih baik pilih coach terbaik sesuai hatimu. Saya tertawa sendiri di dalam kamar Ibu yang gelap tapi diterangi sedikit cahaya yang masuk dari pintu dari luar lampu ruang tengah yang meneranginya. Ruangan tengah ini ada tv tabung, sebesar 21 inch yang sedang ditonton Ibu sendirian sambil merajut taplak meja makan. Tangan ibu memegang jarum rajut yang ujungnya bengkok juga tumpul. Benang katun warna putih gading tertarik dari gulungannya, tangan ibu terampil melipat-lipat benang dengan hitungan tertentu hingga menjadi pola yang jadi satu komposisi taplak yang indah.

Sedikit melihat Ibu fokus merajut juga mendengarkan suara TV, sesekali menonton sebentar. Saya memberanikan diri untuk membuktikan keseriusan Coach Agnez yang mengajakku masuk dalam timnya. Saya bangun dari tidur dengan semangat seperti orang yang diberi kesempatan untuk berubah dari orang yang malas-malasan mengerjakan skripsi, sampai menjadi orang yang bersemangat untuk berkarir di dunia desain grafis. Pikiranku hanya ada di dua dunia, yaitu dunia desain juga dunia musik, saya berjalan dari kamar Ibu. Saya melirikan mata ke layar kaca. Saya malah tertawa kegirangan, ternyata coach Agnez tertarik dengan bakatku. Apa mungkin ini memang dari bakatku atau mungkin dari personalku pikirku saat itu. Yang saya rasa ya saya orang yang baik dibandingkan dengan anak dewasa lainnya, terbuka akan sesuatu hal yang baru, siap belajar dengan hal yang baru tersebut, siap diajak berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

Saya lalu menuju sebrang kamar Ibu, masuklah ke kamarku mengambil buku agenda bekas Ayah pakai dari tempatnya bekerja di bank swasta yang kini telah berganti nama. Mengambil pensil mekanik lalu duduk berdekatan dengan Ibu di meja makan selanjutnya menekan ujung bagian atasnya dengan jempol dari tangan kanan. Isi pensil ini keluar perlahan. Setelah cukup keluar isi pensilnya. Saya mulai men-doodling mengambar apa saja yang ada dalam pikirian saya. Gambar Coach Agnez, menulis beberapa kata motivasi darinya.

Kursi berputar, memperlihatkan Coach Agnez memilih anak ini, termasuk 2 coach yang lain, Coach Beby, Coach Tulus. Saya melihatnya ikut berbinar-binar dari mataku ini memperhatikan mereka, ini saatnya saya menjadi desainer yang bisa dipilih orang. Ada juga yang memilihku, bisa belajar dari coach yang berpengalaman di bidang musik internasional, atau juga nasional sungguh menarik.

Sambil menggambar-gambar, mensketsakan, sedikit menulis dari pembicaraan dari TV, Agnez memberi komentarnya terhadap penampilan anak kecil ini, aku yang sedang berhalusinasi terus doodling. Kamu bisa lebih berkembang lagi, pilihlah coach yang sesuai hatimu. Disebut suruh memilih coach, saya memilih Coach Agnez. Wah ternyata pilihanku benar, saya terpilih menjadi bagian dari Coach Agnez sesuai dengan pilihan anak kecil tadi. Saya seperti anak kecil, memeluk Coach Agnez dengan gembira.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: