Tahun Baru, mulai lagi dari nol

Di akhir tahun baru, saya bersama Ibu dan Kakak saya pergi ke Bank di depan alun-alun kota Bandung kami bertiga bersama juga dengan makelar rumah yang katanya mau membantu kami, yang ujungnya sih tetep minta uang lebih. Makelar ini temannya Kakak saya, awalnya dia bilang ingin membantu tapi ujungnya ya seperti dibilang diawal tetep minta uang lebih. Jadi ya lupakan dulu makelar ini deh, saya juga ketemu pembeli yang kebetulan teman sekelas satu SMA saya dulu. Teman satu komplek juga sih ya dulu teman dekat tapi semenjak SMA saya merasa tidak nyaman lalu saya menjauhinya, sifatnya banyak omong seperti saya sebenarnya cuman terkadang kata-katanya tidak enak, ya bercanda berlebihan, mungkin waktu SMA saya sedang mengalami masalah finasial dengan keluarga yang sedang dalam ekonomi sulit. Ayah tidak bekerja, selain hanya membuat barang antik atau menjualnya lebih seperti hobi kalau bisa dibilang, Ibu saya hanya Ibu rumah tangga biasa, Kakak saya kurang tau juga soalnya saya tidak begitu dekat dengannya kami jarang berbicara, mungkin karena masalah ekonomi tadi juga yang lainnya. Jadi kondisi rumah yang tidak enak diberi teman yang bercandanya tidak enak, jadi saya merasa tidak nyaman.

Nah tapi baiknya teman saya ini jugalah yang meminjamkan uangnya untuk membayar biaya cicilan bulan ke Bank, saat kami sekeluarga kelimpungan mencari bantuan, seperti biasa keluarga besar mungkin sudah bosan membantu, datang ketika pindahan saja untuk membawa barang, itu pun hanya satu mobil kebetulan Uwak saya yang lain sedang di Jakarta, lalu Uwak yang satu lagi sedang ke Bogor ya jadi hanya Uwak saya yang paling besar yang bisa membantu, itu pun tangannya sedang sakit katanya, lagian sudah nenek pula sih. Kebetulan Nenek diajak ikut ke rumah saya yang dijual, soalnya di rumah Uwak saya tidak ada yang menemani. Nenek saya hanya duduk didalam mobil, sempat turun ke rumah yang dijual, kami bertiga Ibu, Kakak juga saya sedang sibuk untuk mengosongkan rumah. Ya kami makan nasi kuning pemberian Uwak saya, setelah itu nenek kembali duduk di mobil.

Keluarga besar tidak membantu kami saat kami sedang di ujung tanduk saat harus membayar cicilan, teman saya yang saat diajak nego untuk membeli rumah awalnya hanya mau membayar 1 bulan. Saat itu 6 bulan yang lalu, waktu itu saya berbicara dengan kakak saya untuk meminta bantuannya untuk membeli rumah, tentu saja membeli sebuah rumah banyak hal yang harus dipertimbangan, selain kecocokan harga, tapi ya sudahlah akhirnya saya dieberi pinjaman satu bulan, katanya tiap bulannya harus dicicil, bulan pertama sih masih ada uang, sebetulan kalau boleh dibilang kami tidak ada yang bekerja dalam keluarga, Ibu jualan rajutan sedang sepi, ini seperti biasa kadang laku kadang tidak, Kakakku sedang di rumah saja, soalnya semua temannya tau kalau dia sedang di tagih utang oleh teman-temannya, terus uangnya sedang kosong jadi usaha beer-nya berhenti dulu, jadi tak ada pemasukan sama sekali. Saya hanya freelancer desain grafis yang kebetulan di bulan itu sudah menjual laptop saya, itu laptop didapat juga dari hasil uang pinjaman koperasi simpan pinjam di komplek saya. Saya berusaha setiap bulannya membayar pinjaman, meski pada akhirnya selalu ibu saya yang membayarnya entah uang dari mana, pinjaman, uang jualan rajutan sampai bantuan uang dari keluarga besar, sedikit sih tapi kadang terpakai juga untuk hidup sehari-hari juga. Di ujung tanduk untuk melunasi cicilan ke bank, keluarga saya kami bertiga Ibu, Kakak, Saya memutuskan untuk mengajak teman saya untuk membeli rumah, dengan berbagai kemudahan, persyaratan, ujungnya harus terjuallah rumah itu untuk melunasi utang Kakakku yang Rp. 300.000.000 juta, dengan itu saya memberanikan diri mengajaknya berbicara, teman saya yang saya jauhi, soalnya sudah tidak nyaman kalau berbicara dengannya juga jauh dari becandanya yang kadang melukai hati saya. Saya putuskan untuk berbicara, sebelumnya Kakakku banyak memberikan kelebihan, seperti bisa mencicil rumah perbulan, bisa juga membayar dulu 200 juta atau puluhan juta terlebih dulu, sampai semua cara kemudahan dikeluarkan. Tapi teman saya tidak tertarik, katanya tidak ada uangnya, hanya ada aset tanah, mobil, juga uang 100 juta, tapi kalo uang 100 juta semua dibayar untuk rumah, nantinya tidak enak juga kalo tidak ada simpanan uang katanya, kalau pun semua dijual tetap tidak enak. Ya intinya menolak, sampai dia menghitung di hpnya dengan kalkulator, biaya perbulan, pertahun, kalau 2 juta sampai berapa sampe lunas, tahunan. Tapi dia hanya tertarik menghitung perbulan, pertahun tadi, ya tidak merasa ingin membeli.

Di ujung bulan, saya memberinya uang cicilan hutang yang saya pinjam ke padanya untuk membayar Bank, bulan selanjutnya tidak ada uang kembali, lalu bulan selanjutnya sama, pada bulan ketiga katanya di usaha untuk dibayar, tapi saya memwhatappsnya, tetep tidak bisa membayar. Hingga akhirnya sebuah kejutan, di akhir tahun beliau datang dengan istrinya ke rumah. Tetapi saya tidak menyangkanya akan membeli rumah, saya aneh saja ketika makelar rumah yang juga teman Kakakku datang dengannya. Kami bertiga dirumah terkejut, ternyata dia mau membeli rumah, sebelemnya si makelar, aneh, kata Kakakku rumah belum ada yang liat, tapi katanya pembeli sudah melihatnya, nanti akan dibeli, ternyata yang membeli adalah temanku ini. Kami bertiga kaget ketika tahu temanku yang akan membeli rumah, soalnya Kakakku sudah memberikan tawaran yang menarik, tapi ditolak dengan alasan tidak ada uang. Kami bersyukur akhirnya mungkin ini awal hidup kami bertiga untuk bisa hidup lebih baik, lalu memulai bisnis diantara Ibu, Kakak, juga saya. Menggunakan uang penjualan rumah untuk bisnis masing-masing.

Saat itu teman saya berkata, saat memberikan pinjaman uang untuk pembayaran 1 cicilan bulanan ya untuk menyelamatkan keluarga kami dari pelelangan rumah, daripada ke bank katanya. Kata Kakakku pada saat temanku pulang, dia tertarik dengan rumah cuman tidak cocok harga, terus memang tidak ada uang. Temanku juga waktu saat obrolan pada penyelamatan rumah berkata, daripada sama bank lebih baik dibeli dengannya, ya itu aku ingat saat dulu, saat penawaran rumah yang berakhir dengan temanku meminjamkan uang satu kali cicilan ke bank. Selanjutnya kembali saat dia berbicara dengan kami bertiga, dengan istri juga makelar. Ternyata temanku ini yang membeli rumah peminjaman kami kaget sekaligus bersyukur ternyata orang yang membantu bayar cicilan ke satu, yang membeli. Dia berkata sebenarnya yang membeli itu istrinya. Jadi ya mungkin sekarang ada uang, tapi pembelian rumah melalui KPR, jadi keluarga temanku yang kebetulan sudah memiliki satu anak laki-laki inilah yang membeli rumahku.

Kembali saat masuk bank di depan alun-alun Bandung, kami bertiga Ibu, Kakakku juga saya masuk. Menyelesaikan akad penjualan rumah. Selesai itu, kami pulang. Selanjutnya ternyata rumah harus segera dikosongkan, katanya mau tahun baruan di rumah. Katanya secepatnya harus pindah, kakakku saat pulang ke rumah berbicara kepada Ibu juga saya, bahwa hanya hitungan jam harus segera pindah, sungguh tak punya hati, walaupun sudah dinegosisasikan untuk bisa diberi waktu lebih panjang. Dahulu saat penjualan rumah ke satu itu diberi waktu 2 bulan, saat penjualan rumah ke dua kami ini hanya diberi hitungan jam. Sungguh tidak bernuarni, seperti di gusur saja, kalau dilihat dari perjalanan pindah-pindah rumahku dari Kebon Sirih, yang rumah nenekku itu diberi waktu 3 bulan, lalu saat pindah ke rumahku di Komplek Margahayu Raya, diberi waktu 2 bulan, terus kenapa saat di Pasirlayung hanya diberi kesempatan hitungan jam harus pindah. Benar-benar tidak masuk akal, banyak orang yang diberi tahu kalau kami pindah hitungan jam, tetangga depan rumah juga merasa tidak masuk akal, saudaraku yang kebetulan berada didepan rumah tetanggaku yang tadi juga merasakan tidak masuk akal. Semua orang berfikir sungguh tidak kasian kepada kami tidak diberi waktu yang panjang untuk bersiap-siap.

Akhirnya kami tetap untuk membereskan rumah, mengosongkannya, saya dengan Kakakku membeli kardus di warung untuk bahan pindah rumah. Selanjutnya temankku dengan makelar menyewa mobil bak terbuka, temankku meminta tolong anak-anak tarka di komplek untuk membantu. Kami memindahkan dengan 4 kali pulang-pergi dari komplek ke rumah kontrakan. Oh iya rumah kontrakan ternyata ukurannya setengahnya rumah kami, masalahnya barang yang kami bawa sangat banyak, sampai hari ini saya harus menata dengan Ibu juga Kakakku dirumah. Didepan rumah garasinya besar bisa untuk 1 mobil, 3 motor. Luas setengahnya adalah bangunan rumahnya, banyak barang seperti meja makan, 2 ranjang, 4 lemari, 3 meja, 4 korsi masih berada diluar. Ah proses pindah-pindah rumah yang sudah jadi pengalamanku adalah melelahkan, membawa barang, mengatur barang, mencari barang yang sudah dikemas di kardus, belum lagi tercecer entah disimpan dimana jadi harus mencari dahulu.

Hari ini hari kedua tahun 2020, tahun yang mungkin saya gunakan untuk merampungkan font-font komersil, juga beberapa font personal use, saya akan fokus di dunia font sajalah daripada melebarkan kerjaan ke yang lain saya ingin membuktikan kalau dari font bisa untuk hidup. Kakakku akan melanjutkan usaha penjualan minuman beernya, ibu akan melanjutkan rajutannya. Kami bertiga akan fokus mencari uang dan memulai hidup dari nol lagi, dengan tidak ada rumah yang kami miliki sekarang, uangnya bisa digunakan untuk berusaha mencari uang. Kami berencana akan membeli tanah lalu membangun rumah dari usaha-usaha yang akan dilakukan di tahun baru ini. Mungkin juga akan membuka warung di depan rumah, atau mungkin menjadi pengusaha lainnya. Saya juga akan tetap fokus mengembangkan diri, membaca buku, menulis, entah apalagi yang harus dilakukan. Seperti kebingungan saya yang hidup seperti ini-ini saja, lalu saya menanyakan kepada teman saya yang alim tapi mesum, kalau hidup buat apa sih, saya rasa kok seperti ini-ini saja. Dia menjawab, manusia hidup untuk beribadah. Saya rasa jawab ini menenangkan saya, lalu saya membuka kembali Al Qur’an yang sudah bertahun-tahun tidak saya baca, terakhir saya rutin membaca itu saat SMA selain memang setiap hari saya membacanya sesuai ketentuan sekolah islam swasta yang saya belajar. Saya membaca lagi isinya, shalat tepat waktu kembali, mulai lagi jalan pagi untuk menggerakan badan saya yang terbiasa diam-diam saja di rumah atau duduk didepan laptop. Saya ingin membuat rutinitas yang lebih produktif saja. Tahun baru saya buka dengan tulisan ini, saya tutup dengan semangat saya untuk menjadi seorang calon pengusaha menjadi seorang pengusaha seuutuhnya. Desainer Huruf profesional saya akan menjadi pengusaha font.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: