Bekerja pada awal bulan Juni

The trouble is, you think you have time.

Jack Kornfield

Hidup saya tidak penting, tidak sepenting sesuatu yang penting bagimu, hidupmu, atau hidup bagi kebanyakan orang lain. Tak usahlah merasa saya ini berperan penting bagi orang lain, jika perlu seperti itulah arti penting, tidak pentingnya saya untuk saat ini. Tidak perlulah saya menjadi seseorang yang penting bagi dirimu, atau bagi banyak orang. Saya tidak penting bagi siapapun. Saya bukanlah siapa-siapa.

Entah apa yang penting hari ini bagiku? … Apa mungkin bekerja? Mendesain produk, membuat produk berupa fon sebagai aset desain grafis, menjual lisensi pemakaiannya. Atau, mungkin, berjualan preloved? Seperti kaset pita, cakram padat, buku, kaos, menjualnya di marketplace lokal, selanjutnya entah apalagi yang akan dijual disana? … Atau mungkin menjalankan hobi ketika senggang? Menulis jurnal, tentang apa saja yang sudah dilakukan, apa yang akan dikerjakan selanjutnya… Atau apalah ini? Apalah itu? … Apakah seperti ini hidup itu? … Saya tidak tau lagi, apa yang penting atau apa yang tidak penting. Terasa melebur menjadi satu, tidak ada bedanya, semua terlihat nyaris sama-sama saja.

Dalam ruangan yang penuh sesak dengan barang-barang yang tidak terpakai, lemari yang penuh dengan barang, atau ranjang yang sudah tidak terpakai, kayu-kayu bekas yang tidak terpakai disimpan begitu saja, ada yang tersusun, ada yang tidak teratur, semua disimpan dalam garasi ini, sementara meja kerja saya berada tepat disampingnya. Ada juga beberapa kardus karton yang terisi barang, juga penuh dengan debu, diatas lemari yang penuh dengan barang-barang entah apalah itu, baju, alat makan, piring, cangkir, pisin. Semua tidak terpakai, atau belum sempat dikeluarkan semenjak pindah ke rumah kontrakan ini.

Diatas meja, berbahan kayu jati, bepelitur warna coklat tua, bergradasi, berserat-serta yang dipakai sebagai meja kerja, bukan dipergunakan sebagaimana mestinya, sebuah meja makan antik yang bisa saja penuh dengan hidangan diatasnya tetapi dipenuh dengan alat-alat lain, yang kadang kalanya ada: buku, catatan, minuman, asbak, bako, serta keperluan saat bekerja lainnya. Kadang rapih teratur jika memang butuh keteraturan, kadang berantakan tak teratur jika sedang malas merapihkan meja kerja ini…. Selayaknya meja kerja pada umumnya, bukan menjadi meja makan yang mungkin orang lain kenal. Dimulai dengan menyalakan komputer jinjing entry level keluaran Taiwan, yang harganya tak sampai seperempat harga laptop desainer grafis profesional. ‘Senjata’ ini yang saya pakai untuk mencoba mencari uang dari pilihan saya menjadi pekerja mandiri di Bandung Timur. Bekerja menjadi seorang pekerja tanpa ‘atasan’, meski sesungguhnya ‘boss’ saya sebenernya adalah trend penjualan, trend visual-visual lainnya, hingga kebutuhan produk tertentu di marketplace, atau mungkin bisa juga, menjadi sebuah kebetulan produknya bisa saja menarik pembeli di tempat tersebut. Bisa saja, bisa jadi demikian. Bisa juga tidak sama sekali.

Saya mulai kerja dari pagi hari, hingga saat tiba malam mulai berganti pagi kembali. Terkadang tidur cepat sebelum jam 12 malam, kadang bisa begadang tidur kurang/lebih 3 jam. Kadang bangun siang, sekitar jam 11 siang, tidur cepat jam 9 malam. Jamnya tidak pasti, untuk bekerja atau tidur, bisa lebih cepat, bisa lebih lambat. Tanpa target, tanpa evaluasi, tanpa ada tuntutan kerja, yang pasti saya selalu saja bekerja atau mengerjakan sesuatu untuk dikerjakan setiap harinya. Tidak tentu, tidak pasti juga, juga tidak ada alasan lain untuk bekerja sesuai target, atau tuntutan lainnya, bahkan target tidak tercapai, selalu seperti itu. Atau gagal fokus mengerjakannya karena satu dan lain hal.

Tapi mari kita lupakan pekerjaan seperti itu, mari ingat kembali keadaan saat ini. Sadar diri masih belum mampu bekerja layaknya desainer huruf lain, yang memiliki banyak portofolio, dengan segudang produk unggulan, serta banyak juga pekerjaan lain yang perlu dilakukan seperti memasarkan produknya sendiri, membuat setiap tampilannya tetap menarik dilihat calon pembeli untuk selanjutnya dimasukan ke keranjang, lalu cekkeluar, membayarnya secara online. Untuk bisa membuat mereka tertarik tidak semudah itu sebenarnya, banyak hal yang belum saya mengerti soal visual apa yang bisa membuat mereka membeli produk yang saya jual lisensi pemakaiannya. Apakah itu? Mungkin fitur ligature, alternate glyph, atau kelengkapan weight hingga kumpulan vector pendukung typeface tersebut. Atau mungkin juga, bisa jadi fon tersebut memang sangat-sangat menarik untuk dibeli, sedang diskon, atau mungkin yang lain. Saya juga tidak tau pasti apa yang membuat fon dibeli. Karena apa pula itu faktornya, seperti apa bisa demikian. Faktor x mungkin. Bisa jadi demikian.

Sebenarnya produk yang saya punya hanya sedikit saja. Bahkan hanya ada 1 produk saja yang dijual lisensinya, sisanya menumpuk sebagai draft yang meminta satu persatu diselesaikan, lalu dijual lisensi pemakaiannya. Sebagian malahan berbentuk hanya sketsa kasar berupa pangram yang belum dilengkapi standard setkarakter yang dibutuhkan di marketplace. Bahkan ada yang hanya sketsa-sketsa satu-dua glyph yang belum berpangram. Saya punya banyak PR untuk menuntaskannya, agar dapat berpenghasilan dari pekerjaan ini.

Ketika duduk diatas kursi yang satu kelompok dengan meja makan antik ini, saya mulai menyalakan rokok dengan korek di tangan kanan, tangan kiri mengapit rokok. Sebelum utuh menjadi sebuah rokok, diperlukan usaha yang tidak instan seperti menggambil rokok pada bungkusnya, jika itu rokok super, ya kalau mau merokok ya melinting sendiri, diisi tembakau mole yang biasa dibeli diwarung dekat rumah. Untuk menjadi manusia ‘ahli hisap’ cara membuatnya saya dibantu dengan sebuah alat linting berupa persegi panjang yang bisa mengulung bakonya, memasukan tembakau mole ke dalam alat tersebut, memutarnya kearah berlawanan arah jarum jam, lalu menyelipkan kertas papir kedalam rongga-rongga diantara tembakau mole dengan alat linting tadi. Kertas tersebut membungkus tembakau yang kini sudah menjadi berbentuk tabung, lengkap dengan tembakau, kertas papir, layaknya rokok pabrikan yang tinggal hisap. Jari jemari menarik alat kearah sesuai jarum jam, bako telah siap dinikmati.

Di pagi yang gelap, saat ada beberapa sepedah motor melewati depan rumah. Ayam sudah mulai berkokok meski langit masih seperti malam dibandingkan pagi hari. Pada saat orang lain pergi bekerja seperti ini, saya sudah didepan komputer untuk memulai hari yang sama dengan mereka. Menikmati bako yang sudah terbakar ujungnya, menikmati setiap asapnya kedalam paru-paru yang sudah terkena kebul dari rokok tingwe. Sambil sesekali meminum kopi hangat sachetan yang disajikan oleh Ibuku, dengan takaran setengah bungkus, dihemat-hemat untuk hari esok. Supaya bisa menikmati kopi lebih lama, ya harus seperti itu katanya. Ya sebenarnya subuh-subuh seperti ini, di pagi buta seperti ini layak dinikmati untuk memulai hari seperti tadi yang saya bilang. Dimulai dengan berfikir hal yang acak untuk memulai pekerjaan dengan menulis jurnal, atau memeriksa daftar kerjaan yang hendak diselesaikan. Yang kadang pula mengecek email, padahal saya tau pendapatan lisensi fon saya sama sekali sama dengan 2 tahun yang lalu, tidak ada penjualan sama sekali. Hampir setiap bulan laporan keuangan dari penjualan lisensi pemakaian fon selalu seperti itu. Tak jauh dari $ 0. Begitu juga dengan PayPal. Setali tiga uang.

Jika boleh kembali saya mencari tau arti penting-tidak penting, sebagai manusia tentunya, yang seringnya akalnya hilang atau disimpan didengkul, ya bisa dirunut dari kejadian apa saja yang sebenarnya terjadi sehari-harinya. Seperti kebiasaan apa saja yang setiap hari saya lakukan, dalam beberapa tahun terakhir: ~telat shalat subuh, yang sudah pasti bangunnya terlambat, malamnya tidur terlalu larut malam~ mulailah merasa rugi, masalahnya keterlambat ini sudah menjadi kebiasaan buruk menahun, yang selalu berulang dilakukan, sementara waktu tidak bisa dibalik, diputar kebelakang, ibadah subuh itu terhapus begitu saja, (saya sedang belajar kecewa untuk ini, jika memang ini dirasa penting, sudah seharusnya bersedih). Gagal shalat subuh tepat waktu. Bahkan terlewat begitu saja tanpa mengerjakan ibadah ini.

Ternyata saat terbangun, dengan telat untuk membuka mata, memaksakan membuka mata, padahal saat itu adzan subuh sudah tiba, kondisi saya sedang mendengar adzan tapi disaat itu terlalu lama menunggu sampai yang ada didalam selimut yang hangat, enggan untuk beranjak pergi mengabil air wudhu, hingga terlewat 1 jam semenjak bangun tidur. Akhirnya shalat subuh dimulai pada jam 06.13 pagi. Cahaya matahari sudah menyuntuh gorden, saya membuka jendela juga disaat yang sama cahaya mulai merubah tampilan kamar menjadi lebih bercahaya lagi, tidak segelap saat malam hadir menutup hari.

Jika merasa penting akan sesuatu hal, maka saya menyesal untuk melewatkannya begitu saja. Sekarang, bagaimana dengan, dahulu? Tidak demikian sesungguhnya. Untuk itu, maka mulailah beradaptasi: mulai mencari strategi baru, mungkin bisa jadi dengan konsisten mulai mengatur waktu tidur untuk tepat waktu setiap harinya, atau membuat reminder di smartphone—yang bisa saja ini mungkin menjadi masalah baru lagi, tentunya, yang awalnya hanya berupa ‘solusi baru’ bisa berubah menjadi sebuah ‘masalah baru’ lagi, lagi-lagi, sebuah jawaban dari permasalahan sebelumnya—tapi untuk hal ini bisa dilihat dari berbagai hal, kerja tanpa tenggak waktu, kerja seenaknya tanpa peduli selesai kapan atau dimana dapat menyelesaikannya sesuai konsep awal, terkadang memang seperti itu saya bekerja tanpa deadline terikat, terlebih sekarang ini jika tiba rasa bosan, saya menjalani kesukaan saya selain bekerja: menonton YouTube, dari channel-channel dimulai dari, anime, vituber, jejepangan, vlog, atau mendengarkan musik-musik, hiphop, punk, metal, atau yang lain, yang lebih banyak lagi: men-scroll beberapa akun media sosial, berkomentar, memberi reaksi dengan emoticon, terkadang berbagi sesuatu hal yang tidak penting-penting di sebuah grup Facebook, menonton beberapa Reels Instagram soal kucing, k-pop, typeface, membaca tweet atau retweet soal type specimen, font in use, menyimak video TikTok soal tarian, orang pamer, buzeRp, dan lain sebagainya. Banyak sosmed yang dibuka bersamaan, namun Fb yang paling sering saya gunakan. Masih banyak aktivitas bersosial media selain itu sebenarnya, yang lebih tidak penting lagi, tidak pula layak ‘tuk dicatat atau tak perlu diingat-ingat lebih jauh, men-scroll terus jika ada hal yang menggagu, tanpa harus befikir melaporkan ke admin, dilewat saja, memang sungguh tidak benar-benar penting juga sosial media digunakan ‘tuk melepas penat saat bekerja dengan internet saat sore hari. Tibalah hujan mulai berkunjung dengan mendadak, membasahi atap rumah ini secepat menulis komentar di Facebook, dengan suara gemericik air yang turun dari langit bagai kamera blitz di hp. Petir menyambar beriringan dengan air yang terus menerus berjatuhan diatas tempat tinggalku ini. Suhu udarapun berubah seketika menjadi dingin dengan sendirinya.

Pekerjaan tertunda. Sibuk menghabiskan waktu dengan sosmed. Sebegitu hebatnya keterlambatan berdampak pada hidupku, disaat orang tua saya selalu beribadah tepat waktu, Masya Allah, seperti yang tidak akan pernah tertinggal barang semenit pun, bahkan waktunya dijaga sebaik mungkin agar bisa selepas adzan, selesai berwudhu, waktunya menjalankannya sembahyang itu dengan perasaan yang biasa-biasa saja, sudah kewajiban yang tak perlu dibahas, tidak ada terasa berat pula, atau seperti bagaimana begitu… Sebab sudah menjadi kebiasaan serupa kegiatan rutin lainnya, memasak, menyapu, mencuci dan lain seterusnya, sehingga rasanya, kebiasaan baik seperti itu tadi, terasa berbanding terbalik dengan saya pribadi, yang buruk naudzubillah min dzalik dalam management waktu, dahulu hal seperti ini terasa bukanlah masalah besar, tapi tidak untuk sekarang. Jikalau tidak pernah ada rasa menyesal dalam dada, merasa merugi didalam pikiran, atau kecewa karena kelalaian berkelanjutan. Mungkin saya akan melewatkannya begitu saja. Tanpa rasa dosa, atau kegagalan untuk mencapainya tanpa ada harapan untuk mendapatkan yang baik-baik dalam hidup, semua seperti berjalan begitu saja. Tertinggal begitu saja. Sama sekali tidak diinginkan.

Dengan mulai belajar kecewa akan menjadi begitu penting untuk merasakan kehilangan sesuatu, akan terasa menjadi perlu untuk tidak kehilangannya, merasakan harga yang mahal untuk ditebus, jika bisa, bahkan sebenarnya waktu tidak bisa dibeli dengan apapun, … Mulailah kecewa dengan segala hal tersebut, mulailah belajar untuk berusaha lebih untuk tidak tertinggal, melepas begitu saja kewajiban beribadah, sudah seharusnya lebih cepat lagi ‘tuk bergegas mengambil air wudhu dari waktu sebelumnya untuk mendapatkannya sesegera mungkin. Tanpa ada hutang ibadah.

Sejauh ini yang dikerjakan selain bekerja sebagai type designer, berjualan preloved adalah bagaimana melanjutkan hidup, tak seputar uang semata, menjalani hal-hal biasa tanpa perduli seberapa banyak isi kantong, saldo rekening, atau hutang-piutang kepada kawan, yang mungkin terasa tidak penting, atau penting, yang mana pada rasa-rasanya itu didapatkan dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sepeti biasa-biasa saja, perasaan tadi hanya ‘tuk sementara. Tidak kurang tidak lebih, yang berarti tidak akan selamanya akan seperti itulah kehidupan. Meski yang saya tau jika melakukan sesuatu harus berkelanjutan: dilanjutkan, atau ditinggalkan, ditingkatkan, atau diturunkan, dipertahankan, atau tidak dilakukan lagi dan lain sebagainya. Hanya hari-hari biasa seperti inilah yang mungkin juga akan terlewatkan begitu saja ketika dipikirkan nantinya. Mungkin, 1 tahun, mungkin 5 tahun, mungkin 10 tahun lagi, tepat setelah tulisan ini dipublikasikan. Pada akhirnya semua hal akan terlihat biasa-biasa saja, yang akan dilupakan waktu, ketika hal tersebut sudah tidak dirasakan penting lagi. Jadi penting tidaknya tulisan berparagraf-paragraf ini, sampe sekarang saya sendiri belum mengerti untuk apa tujuannya saya menulis sepanjang ini. Entahlah. Yang pasti ketika ada yang saya sukai, maka akan saya lakukan, namun bila, ada yang saya tidak sukai, maka akan saya tinggalkan. Seperti itulah sebenernya yang dapat saya sampaikan.

Setelah belajar untuk menyesal beberapa bulan lalu, untuk saat ini saya rasakan perbedaan dalam diri saya sendiri, dari dahulu yang serba rem blong, atau entah apalah itu yang seperti itulah saya, kini semua dijalankan untuk tidak merugi, tidak merasakan keburukan terburuk bisa saja terjadi, memang selalu ada kemungkinan terburuk dari harapan yang terbaik. Yang artinya bukanlah sekedar profit, benefit, atau diantaranya, tidak selalu seperti itu juga ya, asalkan waktu menjadi sedikit bermanfaat saja, itu terasa bukanlah sebuah penyesalan yang mendalam dalam hidup. Sedikit peningkatan daripada tidak ada sama sekali. Sedikit-sedikit ada peningkatan saja sudah lebih baik, daripada tidak sama sekali. Setidaknya menuju jalan yang lebih baik setiap harinya.

Telat datang saat berjanjian dengan E didepan hotel melati, hingga A memberi tahu kalau sudah menunggu 1 jam lamanya, kecewa gara-gara tidak melanjutkan cinta dengan pacar pertama saat SMP, saat melihatnya sudah ditemani dengan buahhatinya, tidak berniat serius untuk menyatakan cinta dengan teman sekelas saat SMA, saat teman-temannya mendekatkanku dengannya, tidak dirasakan penting juga untuk mencari wanita, saat tau teman yang disukai ternyata sedang punya teman dekat lain, saat di Universitas, atau mencari target istri saat akan kerja di toko, lebih malu saat berbicara dengannya, entah kenapa. Hingga berbagai macam yang lain sebenernya penyesalan-penyesalan yang sudah menjadi sejarah, riwayat percintaan yang biasa-biasa saja sebenernya, ini baru berbicara cinta saja ya, belum kehilangan-kehilangan yang lain. Sebenarnya masih banyak juga yang lain dari ini. Ya lebih banyak lagi, lagi, dan lagi. Semua mengecewakan, menyedihkan, kadang teringat-ingat ketika sedang lelah bekerja di saat malam.

Saat waktu terasa begitu lambat, disitulah mulai hidup lebih bernilai dibandingkan sebaliknya, melebihi hidup sebelumnya. Serasa ada hal yang punya ikatan lebih dari sekedar membuang waktu atau mengerjakan sesuatu. Melebihi hal tersebut. Ketika semua terasa begitu cepat, hal ini tidak didapatkan, serupa melewati masa kuliah dahulu, waktu berkumpul dengan teman-teman, mengerjakan kerja praktek bersama-sama, datang ke Jakarta demi mengumpulkan data-data, ‘tuk menyusun skripsi, mengerjakan proyek musik personal, melamar pekerjaan online dengan membantu membuatkan aset desainer grafis di marketplace, mencari pekerjaan offline desainer grafis, bekerja di toko stiker, keluar kerja, untuk merampungkan revisi skripsi yang terlantar menahun, mengidap penyakit jiwa disaat bersamaan mampu merampungkan skripsi yang tertunda, melamar kerja dengan mengirim cv, ijazah, portofolio, namun tetap tidak mendapatkan pekerjaan tetap lagi, tetapi tiba-tiba diterima di marketplace, menjadi seorang type designer yang minim produktifitas bahkan hanya 1 portfolio saja dalam 2 tahun terakhir.

Saat waktu mulai membuat rasa yang tidak bisa dijelaskan lagi. Disana hidup kembali dimulai, kembali kepada keputusan awal. Belajar banyak hal, bekerja lebih giat, serta lebih banyak hal yang harus dikerjakan, yang penting, yang medesak, melupakan yang tidak penting, tidak mendesak, demi mendapatkan uang, atas nama hidup, bukan atas nama tuntutan kehidupan seharusnya. Kalau hidup dituntut seperti ini-itu, saya terkadang menolak mengikutinya, tapi jika saya hidup mengatasnamakan renjana, terasa lebih layak dijalani, lebih nyata saja bagi saya. Pantas untuk dikerjakan sebab memang itu yang dicintai. Meski terkadang harsat bisa meredup atau bisa pula hilang sementara. Hidup hari ini adalah menjadi mandiri dari awalnya adalah seorang yang menjadi beban keluarga, berubah menjadi seseorang yang membantu keluarga, sangat bersyukur sekali jika bisa seperti itu, membantu orang tua bahkan bisa membatu orang banyak. Aamiin… Semoga saja demikian.

Sekarang tinggal dilakukan sebaik mungkin, selayaknya bekerja dahulu, seoptimal mungkin jika tidak bisa maksimal, atau besok sudah tidak dapat dilakukan lagi, terlupakan, tidak dikerjakan lagi. Malas, bosan, ditinggalkan begitu saja.

Lebih baik dikenal orang bukan karena menjadi seseorang yang selalu berusaha, daripada dipahami sebagai seorang yang tidak selalu menyerah.

Menjadi lebih baik lagi. Menjadi diri sendiri. Bekerja mandiri.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: