兄と話すとき Ani to hanasu toki

“Those who love you will understand your feelings even if you didn’t use the right words to express them. Those who don’t love you will misunderstand you even if you used the right words.”

― Shunya

Kakakku adalah seorang yang bisa dibilang sumber saya bersikap selama ini. Memang tak selamanya demikian, ada idola lain yang ingin aku tiru sikapnya, tindakannya, ataupun gaya bicara, atau mungkin cara berkomunikasinya.

Banyak hal yang ingin saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan orang lain. Saat ini saya menjadi mengerti, dihari ini, awalnya bermula saat setelah beliau makan malam, dengan menambahkan piringnya dengan nasi. Selepas makan dengan nikmat, Kakak lelakiku menambahkan nasi kembali, serta mengambil lauk pauk lagi, lagi-lagi sama seperti saat makan diawal pertama tadi. Di porsi yang kedua makannya lebih sedikit, nasi juga sudah habis di Magicom di porsi piringnya yang ke-2 ini.

Saat pertama datang saya bercerita bahwa saya sedang mengerjakan proyek desain grafis: logo, branding, corporate identity, beserta kebutuhan desain sepatu, seperti membuat gaya lain dari dasar desain sneaker vans old skool yang dibutuhkan klien. Sebenarnya orang yang sama-sama bekerja dalam proyek ini adalah temanku sendiri, seorang yang dulu sempat bersama-sama menempuh jurusan DKV. Tetapi baru 1 semester, menuju semester ke-2, dia sudah memutuskan ‘tuk keluar, bosan dengan tugas-tugas. Dahulu dia merasakan hal yang sama ketika sedang bekerja di suatu clothingline di daerah Alun-Alun Kota Bandung, sama seperti itu. Dia bosan kerja lalu memilih kuliah, ternyata kuliah juga sama-sama membosankan, sama-sama saja baginya. Tidak menarik.

Saat ini aku cerita pendek saja sebenarnya, “Bang, Asep teh tinggal ngirimin desain sepatu.” Dia hanya menjawab, “Oh.” Singkat. Lalu obrolan melebar, bukan saya yang mengobrol tapi lebih kepada Ibu dengan Abang saling bercerita banyak topiknya seputar: motor bekas yang dijual ulang, soal penipuan yang dialami Kakakku, soal keluarga besar, hingga soal penyakit yang kuderita selama beberapa tahun terakhir. “Ya, Abang bukan mau bilang kamu gimana ya. Tapi coba cari temen, obatnya cuman itu kok, cari temen.” Saya mengagguk tanda setuju dengannya. Entah pembicaraan apalagi yang kami bertiga obrolankan di ruangan TV ini, Televisi dibiarkan menyala, sinetron kesukaan Ibuku sedang berlangsung. Ibu masih menonton sambil sesekali ikut berbincang-bincang dengan kami. Ruangan ini merangkap ruang tengah juga. Obrolan terus mengalir sahut menyahut, dari Ibu, Abang, Saya sendiri. Tv LED 24′ ini menjadi tidak berfungsi sebagai media hiburan, kami bahkan tidak menontonnya untuk menghibur kami, namun dibiarkan hidup, tanpa ada yang menonton, kami fokus kepada cerita yang sedang berlangsung dari sudut pandang kami masing-masing.

“Ya bukannya cerita kamu yang salah. Tapi kamu salah ngobrol sama orang.” Dia bilang dengan beberapa cerita menemani penjelasannya soal pendapatnya. “Pernah gak, Teh Yuli yang seorang Dokter Gigi, ngobrolin kesehatan gigi, atau proses pembedahan gigi. Gimana sulitnya atau susahnya jadi dokter gigi, dengan teori ama pengalamannya?” Kurang lebih Kakak kandungku berpendapat demikian. “Ya enggaklah.” Aku menjawab. “Ya makannya, orang juga kalo dirasa enggak penting, ya gak usah ngobrolin. Bukannya sombong, tapi pasti orang itu teh tau ama mau lagi ngebahas obrolannya. Oh ini gak mungkin, kan, ngobrolin gigi ke bukan dokter gigi. Ke sesama dokter gigi lagi atuh.” Seketika saya merasa, “Eh, bener ogenya, gak rame ya gak usah diobrolin. Orang juga ngerasa gak penting atau gak ngerasa butuh diobrolin.” Jawabanku cepat menyambar opininya soal komunikasi kedua belah pihak.

Obrolan berlanjut soal penyakitku, soal kesalahanku berkomunikasi. Soal pekerjaan freelance-ku, sampai beberapa hal tentang bagaimana berkomunikasi lainnya. Pendapat orang yang berbeda 3 tahun diatasku ini, aku rasa masih relevan dengan komunikasiku dengan Ibuku yang berbeda 29 tahun denganku. “Tiap hari Bang, Si Asep cerita Ucok Homicide, Soal hip hop, soal orang kulit hitam. Musik weh yang dibilang ke Ibu teh, da Ibu gak ngerti, gak mau tau juga.” Gue terkekeh, melebarkan senyum, merasa bahagia. Kurasakan itu hal yang lucu, pantas saja aku tersenyum lebar. “Oh jadi Si Asep mah: ngejelasin font, ngejelasin bisnis sepatu?!” Ibu yang mendengar jawaban anak tertuanya ini. “Iya gera, sok gitu. Mani detil tea, gak ngerti tapi maksain buat ngasih pengertian ke orang teh. Ke Ibu gitu.” Saat itu, aku masih saja tersenyum. Hingga menjadi tertawa ngakak saat mendengar Ibuku bercerita pengalamannya hidup berdua denganku selama ini. Soal ceritanya itu sungguh benar adanya. Saya terlalu banyak bicara.

Sekarang saya tau apa yang pantas dilakukan. Ya itu kurang-kurangkanlah berbicara, cari topik yang menarik kepada lawan bicara. Topik yang menarik untuk dibahas. Ketika topik tidak menarik, ya sudah, hentikan respon, biasanya aku selalu merespon sebaik mungkin setiap pembicaran dengan lawan bicaraku. Bukan persoalan ramah atau menarik. Aku senang saja merespon lawan bicaraku.

Jadi cukup diam. Dengarkan. Lalu berbicara singkat saja. Orang tak butuh penjelasan pada topik yang dirasa tidak penting.

Diam, saya tutup mulutku. Dengarkan orang lain berbicara. Tandanya saya tidak mau berpanjang lebar dengan topik perbincangan yang tidak pantas diperpanjang lagi.

Saatnya mulai menutup mulut.

Iklan

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: