アートは人生そのものです Āto wa jinsei sonomonodesu: Seorang yang berkarya dengan kemampuannya

Art is anything you can get away with.

– Andy Warhol

Sejak kecil saya suka mengambar. Dari awalnya meniru: mulai dari karakter2 anime, komik amerika, hingga mengambar motor-motor yang juga dari meniru teman di Sekolah Dasar. Teman SD ku ini sering menggambar Moto GP. Dia kini menjadi arsitek, masih juga mengunggah foto-foto diorama, miniatur, figur Moto GP. Entah motor apa yang pasti, saya tidak tau selain motor ber CC-besar digunakan untuk balapan di sirkuit-sirkuit internasional.

Saat itu menggambar adalah hobi yang menyenangkan, aku sangat menyukai menggambar, ketika senggang aku menggambar. Saat SD Pekerjaan Rumahku jarang aku kerjakan di rumah aku lebih memilih datang lebih pagi, untuk mengerjakan PR disekolah, maksudnya meng-copy jawaban dari teman. Aku hampir selalu menyontek PR kawanku yang lebih pintar di kelas. Jadi untuk apa juga aku belajar mata pelajaran waktu SD, kalau waktu itu untuk membaca buku saja aku malas, belum lagi waktu bocil tersebut aku sangat gemar akan bermain Play Station.

Selain mata ku yang minus, juga waktu itu PSX sudah ada dirumah, saat Abang Sagat membawanya untuk disimpan di Rumah Nenek. Saat itu aku masih bertempat tinggal bersama Nenek, Gaek, serta Almarhum Ayah, Ibu juga Abang, yang juga Kakak Kandung ku.

Bermain Grand Turismo 2, dengan melanjutkan gim dari Abang Sagat, kadang bermain dengan sepupuku, seorang yang kini menjadi Dokter Gigi di Bogor, juga bersama Abangku yang saat itu masih SMP. Kami bermain saling bergantian, jika pada suatu hari kami ada dirumah, sama, kami melanjutkan materi gim permainan dari Abang Sagat, uangnya sudah ratusan juta dolar US dengan berbagai macam mobil super yang ada digarasinya. Benar gim yang membuatku bermimpi memiliki kendaraan beroda empat dengan kecepatan yang luar biasa bagai kecepatan cahaya dalam kilatan petir. Beberapakali, saya bermain sendirian, oh iya Abang Sagat sangat jarang pulang ke rumah Nenek. Jadi konsol gim ini aku mainkan sepulang sekolah. Kadang sepupuku yang kini menjadi seorang Ibu juga bekerja sebagai Dokter Gigi saat itu pulang setelah magrib, Abangku yang bekerja sebagai driver sekarang, pada waktu itu pulangnya juga saat malam di hari tersebut. Abang Sagat sekarang bekerja di Bank Negri sebagai kepala wilayah di sebrang pulau.

Pada saat itu, bermain sendirian sangat menyenangkan. Begitu seterusnya hingga PSX pinjaman ini, tidak ada di rumah Almarhum Nenek, berlanjut aku memiliki PS One saat mendapatkan sejumlah uang dari hasil ibadah sunnah mensunat kelamin pada seorang lelaki muslim. Aku bermain PS. Kadang teman-teman SMP ku datang berkunjung, bermain bersamaku. Atau kawan-kawan SMA Abangku datang bergrombol. Pemuda-pemuda yang lebih tua dariku 3 tahun. Seseringnya bermain adu kesebelasan dalam suatu klub bola melawan football club lainnya.

Mungkin saat SMP inilah, saya lebih banyak menonton bokep, bermain PS One, berkumpul di warnet gim online. Waktu menggambar saya sangat sedikit dibandingkan dulu, teralihkan oleh gim, dunia virtual menghilangkan kebiasaan produktif di waktu luang. Saat itu demikian, saya meninggalkan dunia berkesenian ketika pensil 2b menari diatas kertas kosong pada buku gambar. Menghasilkan ilustrasi pin up, sudah tidak ku kerjakan lagi. Bisa dikatakan aku sudah lupa dengan kebiasaan lamaku saat SD di masa SMP ini.

Banyak gim yang kukoleksi, gim balapan, berkelahi, sangat sedikit sekali gim petualangan, rpg, atau gim yang membuatku lebih berfikir untuk menyelesaikan permainan, aku lebih menyenangi bermain adu jotos dengan lawan, mengadu kecepatan jariku ‘tuk mengeluarkan jurus-jurus bela diri melawan komputer sebagai latih tanding di hari tersebut. Atau, balapan dengan mobil berkecepatan 981 Tenaga Kuda, dengan mobil-mobil lain yang berada dibawahnya. Atau memukul lawan lagi dengan stick baseball dengan memegang kendali sepeda roda dua dalam balapan motor liar, mencoba untuk menjatuhkan polisi yang mengejar dibalakang kami, atau disamping motor gede yang sedang saya kemudikan. Melumpuhkannya agar tidak terus menerus dikejar-kejar polisi sehingga saya lebih fokus untuk berada dipaling depan saat garis finish tiba.

Gim-gim tersebut sangat menyenangkan, sementara gim RPG atau petualangan sangat aku jauhi, selain aku terlalu buruk dalam berfikir strategis, bagaimana menyelesaikan perintah, puzzle, juga sangat tidak bersemangat memahami teks bahasa inggris dalam perjalannya berpetualangan di isekai. Gim sepak bola juga tidak begitu kusukai. Juga, … Sepak bola juga bukan tontonan yang kusukai saat berada di depan televisi. Selain itu, mungkin memang lebih senang mengedit status pemain bola, dimulai dengan gaya rambut, warna rambut, asesoris seperti kacamata, berserta skill serba status 19. Ketika bermain strategi melawan komputer selalu gagal. Susah sekali melawannya, sering kalah 0-1, 0-2, hingga 0-4, tidak bisa mencetak gol. Sulit sekali membobol gawang lawan.

Jika waktu itu saya punya kemampuan, juga teknologi informasi sudah mendukung untuk itu: bisa saja saya akan rajin menggambar, menonton YouTube, belajar hal dasar, sesuatu yang fundamental, mencoba mulai memahami 5 W + 1 H, tau akan pesan, juga kesan, bisa membuat garis yang tegas atau yang sesuai kebutuhan. Mungkin saya bisa masuk Institusi Pendidikan Negri di Bandung. Tapi ya seperti yang sudah saya ceritakan dahulu. Saya Gagal. Meskipun pada percobaan kedua sayapun sudah mengetahui cara menggambar dari mengikuti les privat menggambar, tetap saja saya tidak bisa memenuhi audisi, atau tembus masuk Institut Pendidikan tersebut. Selanjutnya saya berkuliah di jurusan DKV, Desain Komunikasi Visual, di Perguruan Tinggi Swasta. Lulus.

Seni yang saya tau, adalah seni terapan yang saya pelajari. Desain. Pekerja Seni yang komersil, seseorang yang berfikir untuk menyelesaikan masalah secara visual. Seorang Sarjana yang berlabel kreatif, mahasiswa yang punya teori dan pengalaman praktik yang baik selama 5 tahun lamanya. Tetapi membutuhkan 3 tahun untuk menyelesaikan revisi skripsi. Sangat tidak solutif, juga tidak kreatif pada realitanya. Kuliah 5 tahun, revisi skripsi 3 tahun, 8 tahun belajar, 5 tahun bayar kuliah, 3 tahun tanpa bayar kuliah, karena sudah diwisuda, dinyatakan lulus kuliah, tetapi masih memiliki hutang tugas akhir berupa penyelesaian karya tulis ilmiah ‘tuk mendapatkan ijazah. Tetapi… Ya, itulah memang saya, dahulu. Saya harus bersyukur telah melakukan, melewati segala hal yang sudah saya alami. Saya seorang yang biasa-biasa saja, tidak kurang tidak lebih. Orang yang mencoba, melakukan, maka saya akan mendapatkannya.

Bekerja mencari uang dari desain grafis, menjual visual, mencari solusi adalah tujuan yang digunakan klien-klien saya. Saat saya awalnya bersekolah, berseragama merah-putih, saya selalu kedapatan permintaan tolong, setengah memaksa untuk menggambar. Tapi saya selalu meminta uang, awalnya untuk mengurangi permintaan teman-teman yang tinggi. Terlalu banyak menggambar, sungguh melelahkan juga, meskipun saya sangat menyukainya.

Efeknya, saya dikatai Padang, saat menggunakan seragam biru-putih, yang dimaksud adalah konotasi negatif yang artinya merujuk kepada orang yang suka uang. Kasarnya: Suku Minang itu Mata Duitan. Tetapi biarlah, saya juga tidak mau banyak menggambar untuk orang lain, terlebih disuruh-suruh itu tidak mengenakan, saya tidak menyukai arahan. Kadang kala arahan dari teman yang meminta gambar juga tidak jelas, ketika selesai malah dibilang jelek, maksudnya tidak sesuai keinginan dia. Tetapi, ya memang begitu, ada percobaan yang dilakukan, ya ada hasil yang didapatkan. Sebenarnya memang sayanya saja yang kurang ahli dalam menggambar ilustrasi pin up.

Berbeda ketika nanti saya belajar les private menggambar saat lulus SMA. Saya selalu mendengar, mencoba memahami, menyimak setiap guru les yang mengajarkan cara atau pandangan lain yang biasanya saya keukeuh. Belajar bagaimana menjadi seorang mahasiswa nantinya. Pada saat les setelah lulus SMA ini, perkembangan saya menggambar menuju puncaknya, dimulai dari hal teknis dasar, juga pemaham komposisi, juga strategi saat menyelesaikan karya di kertas A2. Juga belajar kegiatan2 lain seperti quiz atau hal lain yang berhubungan dengan menggambar.

Selain itu, saat SMP, kembali ke SMP lagi: Menggambar hal mesum juga kadang saya lakukan. Saat itu sempat beberapakali menonton hentai, sambil onani mengeluarkan peju, coli begitu nikmati sambil menonton bokep. Selalu ada rasa dosa sesudah melakukannya, lalu meninggalkan shalat. Bahkan terkadang merasa minder, saya berubah jadi anak yang kurang pecaya diri, tidak bisa berbicara didepan wanita, saya pemalu akan berbicara didepan lawan jenis, padahal saya mencintai wanita. Pada akhirnya saya memiliki pengalaman pertama berpacaran dengan teman sekelas waktu SMP, dengan mulai membiasakan berbicara dengan lawan jenis, cinta monyet pun menjadi sebuah cerita yang saya alami pada waktu tersebut.

Saat bekerja sebagai freelancer illustration untuk sebuah permintaan klien, saya mengerjakan gambar sketsa, ilustrasi untuk anniversary seorang kawan. Hasilnya dibayar lima ribu rupiah, kasihan, gambarku tidak mirip dengan pacarnya. Waktu itu sudah memasuki kuliah pada tahun pertama di kampus.

Saat seorang temanku, seorang mahasiswa yang keluar kampus, sebab merasa bosan dengan desain, yang sama saja dengan saat bekerja dahulu baginya, dia memilih berusaha kaos. Mendirikan clothingline, memintaku membuatkan desain kaos, aku buatkan 12 desain kaos dalam 1 artikel, hingga 3 kali artikel berhasil terjual, dibeli olehnya. Oh iya 12 artikel pertama dibuat untuk kebutuah pekerjaanya, sementara artikel terakhir untuk unit bisnis tees-nya. Membuat logo, membuat ambigram, membuat presentasi, membantu tugas akhir teman sekelasku, hingga akhirnya lulus. Banyak pengalaman juga ya aku ternyata, meski tidak sering atau terlalu banyak juga. Alhamdulillah aku bersyukur pernah lulus kuliah, punya ijazah, punya pengalaman kerja, dulu juga sempat kerja praktek di Radio Swasta, membuat roll banner, hingga akhirnya aku mengenal zine, membaca blog, suka menulis di sosmed, membuat blog personal juga, akhirnya karya tulisku ku unggah.

Sempat berkenalan dengan menjual lisensi penggunaan komersil sebuah font. Mengfokuskan diri di tipografi, melupakan diri seorang ilustrator amatir yang mengerjakan beberapa projek ilustrasi kaos. Mulai melamar ke marketplace, menyodorkan font yang ku kerjakan, dari 2 marketplace, semuanya ditolak, membuat email baru hingga gagal lagi. Selalu gagal. Revisi skripsi yang ku kerjakan ku tunda, proyek musik yang kubuat juga tertunda juga, aku lebih fokus mengerjakan proyek font, melupakan tugasku mencari uang selepas wisuda. Tahun pertama, gagal, tahun kedua saya menjual seluruh barangku untuk menebus pinjaman uang untuk membeli hard disk eksternal untuk menjaga file yang kumiliki. Bagiku file-file di komputerku lebih penting dari sweater, kaset pita, cakram padat, walkman, mini compo, gitar akustik, buku, dan lain seterusnya. Semua ku jual demi membayar cicilan ke koperasi di komplek ku.

Hingga akhirnya aku bekerja, menjadi desainer grafis di toko yang menjual tak hanya spart part, produk motor, tetapi mendesain decal, sticker, serta kebutuhan grafis bagi sebuah perusahaan. Terkadang aku membawakan teh yang diperlukan pengunjung atas suruhan atasan, kadang kala aku mengepel lantai, menyapu, merapihkan toko. Aku diproyeksikan menjadi seorang kepala toko. Serta banyak hal yang ku pelajari dalam hidup ketika bekerja.

Sesungguhnya pekerjaan seni adalah membuat karya yang sesuai permintaan, kreatif menciptakan visual, pandai menggunakan aplikasi komputer, juga tau, paham akan bidang yang sedang di geluti diluar teknis merancang, ialah memahami konsep-konsep lain diluar desain grafis. Bisa bekerjasama dalam sebuah tim. Berkomunikasi yang baik. Membantu orang lain, berempati terhadap setiap karyanya. Manusiakan manusia. Memudahkan manusia, sebenarnya adalah tujuan Desainer Komunikasi Visual.

Bukan hanya paham teori, praktek saja, pengalaman atau mau belajar hal lebih dalam lebih dipertimbangkan, berpribadi bertumbuh, mau berkembang menjadi lebih baik lagi. Tau aturan, paham lisensi, hak cipta, bisa inovatif merancang sesuatu. Pekerja kreatif adalah seorang yang punya kemampuan penyelesaian masalah secara visual.

Saya A(sep)CA(sh)B(all) seorang yang tidak masuk kriteria kreatif, bukan orang yang solutif, bekerja serabutan, tidak punya pemasukan tetap dari pekerjaan lepas sebagai desainer huruf, desainer grafis, desainer komunikasi visual, seorang yang juga mencari keuntungan dari menjual produk pre-loved di marketplace. Seseorang yang bukan dirimu. Bukan siapa-siapa juga. Saya hanyalah seorang yang biasa-biasa saja. Saya ACAB!

Iklan

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: