Membaca text-text di layar secara berkala, menulisnya dengan mengetik 10 jari didepan laptop, di bagikan di blog personal wordpress ini

We write to taste life twice, in the moment and in retrospection. We write, like Proust, to render all of it eternal, and to persuade ourselves that it is eternal. We write to be able to transcend our life, to reach beyond it. We write to teach ourselves to speak with others, to record the journey into the labyrinth.

― Anaïs Nin

Sesungguhnya output tulisan-tulisanku tidak lebih baik dari hasil akhir tulisan-tulisanku sebelumnya. Dari postingan-postingan sebelumnya masih saja buruk, juga begitu-begitu saja. Apa yang akan diharapkan dari tulisan personal? Apa yang perlu ditampilkan? Apa yang diceritakan? Apa kepentinganku berbagi cerita? Curhat? Atau ada kepentingan lain selain itu?

Jawabanku cukup satu: menghidupkan hidupku dalam sebuah text. Dalam sebuah… Apa ya? Mungkin dalam tulisan-tulisan personal yang tidak penting sekaligus penting bagiku untuk berbagi. Dalam tulisan tersebut aku memberikan data-data, mendeskripsikan diriku sebagai diriku menurut versi diriku saat itu. Menjelaskan siapa aku, bagaimana aku berfikir, bagaimana aku ada. Keberadaanku dalam keseharianku dalam sebuah waktu pada masa tersebut. Ketika waktu dihentikan sesaat, ditulis ulang dengan segala apa yang kurasakan.

Akan menjadi penting, jika kepentinganku adalah membuat citra diri yang menjual. Menjual kemampuanku kepada pengikutku di wordpress, menulis kemampuanku yang bisa menjadikan pundi-pundi. Menghasilkan pekerjaan yang bisa membiayai hidupku, juga memberi waktu produktifku untuk mendapatkan perannya sendiri. Menghasilkan uang juga menyenangkan orang tuaku. Memberinya sebanyak mungkin uang, atau mencukupi keperluan hidup kami bertiga. Ibu, Kakak juga diriku sendiri. Bagiku uang adalah masalah yang selalu aku dapatkan selama ini. Aku terlalu bodoh mencarinya, terlalu mudah menyerah saat mengerjakan suatu proyek demi mendapatkan suatu penghasilan.

Dalam perjalanan blog personal ini, banyak ide yang berkembang. Sudah berkali-kali aku menceritakannya. Membuat Novel Tipis, Manga, Anime, Lirik musik Rap, membuat Typeface, melanjutkan Toko Pre-Loved dan lain sebagainya. Yang mungkin semua orang sudah tau, kalo hal tersebut baru saja Proses. Inputnya sudah banyak, bahkan postingan di blog saja sudah ada 209, 2 postingan terkahir aku tunda, dijadikan draf yang entah kapan juga naskah itu akan selesai. Alasannya sudah pasti kalau bukan tidak baik secara kepenulisan, juga kurang puas juga menulisnya hingga tak selesai-selesai. Bahkan terkatung-katung diselesaikan ditengah proyek-proyek yang sudah ku sebutkan barusan.

Proses dalam kreatif, atau proses kreatif maksudku sering tidak jelas arahnya tanpa aturan yang konsisten dari Manager Proyekku: Ibu Kandungku. Ibuku sudah bosan menunggu uang yang kuhasilkan dari beberapa hal yang sering ku kerjakan. Font yang tidak kunjung selesai, Jualan Pre-Loved yang masih saja malas kuunggah ke marketplace. Beserta kegiatanku saat menyelesaikan desain-desain kebutuhan branding footwear dengan temanku.

Pekerjaan itu digantikan dengan rebahan maksimal, dengan kegiatan kontra produktif berserta mata rantai kemalasan: berlama-lama didalam sosial media, akun-akun sosmedku banyak yang ku buka, sekaligus menikmati konten-konten yang ada pada beranda, menemani diriku dalam kebersamaan dengan orang-orang lain di sosmed. Menjadi warga internet di dunia garis-hidup/online.

Saat itu, bukan… Saat ini saya sudah tidak merasakan kesepian. Bukan lagi saat ini saya punya teman, atau ada hubungan dengan kebersamaan. Lebih dari itu saya punya kesibukan yang menemani hari-hariku. Mengerjakan sesuatu: mendesain proyek-proyek; membaca berbagai buku; mulai kembali menunaikan ibadah rutin harian; mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyebut namanya berkali-kali dalam hati, meminta, memohon,, berlindung pada-Nya; banyak juga kegiatan lainnya. Saya menyibukan diri dengan segala hal yang biasa saya lakukan, hingga tidak sadar bahwa saya masih sendirian, masih tidak memiliki wanita, masih tidak berpenghasilan layak, masih bekerja seenaknya dengan pendapatan yang sebegitu-gitu saja. Saya harus bekerja lebih baik lagi, demi berpenghasilan lebih layak. Saya, bukan, maksudku Ibuku sudah bosan menjadi orang miskin. Sudah 9 tahun aku lulus kuliah sebagai Desainer Komunikasi Visual, ijazah telah kudapatkan. Pernah bekerja selama 7 bulan, tetapi sekarang Ibu sangat menginginkanku lebih mandiri. Berpenghasilan. Bisa hidup dari pekerjaanku, bukan dibantu terus oleh Ibu secara finansial.

Untuk saat ini, menulis tulisan seperti ini sama saja mengulang-ngulang kembali tulisan-tulisan yang sudah saya tulis sebelumnya. Nyaris tidak ada bedanya dengan tulisan-tulisan tersebut. Satu atau dua sama sekali tidak ada perbedaan yang mencolok. Dengan gaya penulisan yang mungkin sedikit berbeda, saya sedikit merasakan ada sebuah perbedaan ketika menyampaikan tulisan dengan bahasa baku yang terasa serius, bisa dipercaya atau terasa layak baca. Ketika saya menulis free talk dengan sekali tulis tanpa editing terasa seperti sedang ada dalam podcast atau ngobrol biasa. Terlebih menggunakan bahasa keseharian, yang tidak baku seperti ini. Ya nampaknya saya sadar: bahasa adalah suatu perasaan tertentu yang ada dalam rasa itu sendiri. Maksudnya ada rasa dalam suatu bahasa tertentu, dengan gaya bahasa atau gaya tulisan, bisa memberikan rasa, perasaan tertentu yang hal ini baru saya rasakan sekarang. Lebih kepada sadar kepenulisan saya sudah ada beberapa perbedaan rasa, yang baru-baru saja terasakan sekarang. Bukan berarti dulu tidak terasa, maksudku lebih ada perkembangan dari rasa yang dulu, saat menulis dengan mencoba berbagai gaya dengan cara-cara menulis sesuka hati.

Sekarang buku penelitain skripsi, tesis, desertasi berhenti kubaca. Ada kepentingan lain dalam hal lain. Kuharus memeriksa 200 buku yang baru saja ku dapatkan dari Tante Bogor. Tentu saja tak ku baca semua, selain waktu juga aku akan menjualnya juga di marektplace lokal. Menjual buku berbahasa Indonesia ini. Menyenangkan Ibuku, yang bagi seorang yang melahirkanku ini buku yang ku jual bisa menambah pemasukannya, bisa memperkuat ekonomi keluarga. Ketika 10% dari 200 buku, tunggu maksudku barang, ada 20 VCD juga didalam barang jualanku, ya ada 200 produk pre-loved yang hendak kujual, jika 10%-nya, berarti 20 barang, bisa hingga Rp. 400.000 yang kudapatkan. Pukul rata barang itu Rp. 20.000. Bisa lebih atau kurang, kuambil saja rata-ratanya.

Ya begitulah hidup, membaca, menulis, membagikan.

Dengan ketiga hal tersebut, aku merasa bahwa saya sendiri adalah sebuah media yang bisa menjelaskan diriku ini siapa, kemana aku akan pergi, dimana aku sedang berada sekarang. Tujuanku menulis tak lebih hanya menjelaskan diriku sedang apa, kadang aku menulis yang akan kulakukan, kadang juga aku menulis yang pernah kulakukan. Banyak hal yang ditulis, tidak cukup menarik memang, dengan gaya kepenulisan yang perlu ditingkatkan. Kadang menulis ulang tulisan orang lain, dari strukturnya, diambil logika yang sama, atau esensinya, dengan mengembangkannya melalui contoh lain dari diriku sendiri. Tulisan baru pun terlahir dari proses seperti ini. Bisa berakhir jadi sebuah tulisan baru yang di upload di blog personal ini. Ada yang berakhir jadi draft tulisan di komputer yang tidak diperbeharui.

Saya menikmati proses menulis, menjelaskan diriku, saya juga sangat senang tulisan personal orang lain yang saya baca. Saya bisa menikmati ia menceritakan kejadian yang tertulis. Saya senang dengan kejadian ke kejadian berlangsung. Kadang saya sendiri bingung juga kenapa saya tidak bertanya banyak hal padanya di kolom komentar? Memintanya menjelaskan lebih dari yang ia tulis. Atau kenapa juga saya tidak bertanya lagi dan lagi padanya? Mungkin saya terlampau tidak bisa bertanya, atau merumuskan pertanyaan pada suatu kesempatan. Mungkin juga pertanyaan tidak penting yang saya tanyakan nantinya, membuat saya enggan untuk bertanya. Jadi lebih memilih diam, daripada takut salah, atau mungkin mengganggu.

Iklan

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: