Membiayai berbagai tagihan, berawal dari fokus bekerja mulai hari ini, hingga bagaimana berfikir tentang arti sebenarnya dari sebuah pekerjaan yang menghidupi hidupnya, sebuah kehidupan sang Desainer Komunikasi Visual

The world always seems brighter when you’ve just made something that wasn’t there before.

-Neil Gaiman

Dalam beberapa tulisan terakhir saya selalu terpikirkan untuk menulis hari itu. Saat Uwak saya meninggal. Saat memandikan jasadnya, saat Abang Dewa membantu membasahi sekujur tubuhnya dengan selang, saat raga mematung tidak berjiwa lagi. Ayahanda Bang Dewa sudah tidak lagi ada dalam kehidupannya.

Saat itu, saya melihat kondisi tubuh sang Uwak dengan sedih. Saya merasa kehilang seseorang yang selalu baik kepadaku. Pada beberapa bulan terakhir ini, saya selalu diwasiatkan untuk tidak membicarakan dia, ya maksudnya dia tidak ingin agar uang yang ia berikan kepadaku tidak diberitahukan kepada siapapun. Tetapi saat pertama kali mendapatkan sebagian uang tersebut, uang yang dimilikinyalah yang diberikan kepadaku, yang tidak terhitung bagiku, sebesar puluhan rupiah hingga ratusan ribu rupiah itu, tetap diberikan kepadaku. Sebelumnya dia memanggil adiknya untuk menitipkan uangnya kepadaku. Memberikan sebagian uang, entah sebagai sedekah, atau berbagi kepada keluarga Istrinya.

Baginya diriku ini, orang yang berbeda dibandingkan anak-anak dari adik-adik istrinya, shalih, baik, yang mana sebetulnya saya hanyalah, manusia biasa saja, yang terkadang berkedok, bertopeng menutupi aib atas kecendrungan sifat negatif lainnya yang tidak saya tunjukan ke publik. Saat semua orang tidak tau akan saya yang sebenarnya. Sesungguhnya saya tetaplah makhluk Tuhan yang berdosa bukan seperti apa yang terlihat diluar. Putih bagai malaikat baginya. Saya juga terkadang tidak selalu shalat lima waktu, terkadang tidak shalat jum’at, terkadang banyak hal juga yang tidak shalih-shalih juga, sebenarnya. Saya masih manusia, yang melakukan kesalahan, tidak selalu beriman juga, tidak benar-benar putih, jika saya adalah sebuah warna yang menandakan kesucian. Saya makhluk berdosa yang penuh tipu daya.

Sebelum saya menceritakan ini, saya akan bercerita tentang hal lain. Saat itu saya baru pulang dari konsultasi rutin di tempat psikiater. Saat pulang saya memakan ayam goreng, ayam bumbu padang, sayur daun pepaya, serta sambal hijau sebagai lauknya ditemani nasi putih yang tidak lagi hangat karena dibiarkan tidak masuk magicom. Memakannya saat perut kosong, menjadikannya obat lapar yang benar-benar mujarab. Daging Ayam begitu lembut, meski tidak juicy, cenderung ayamnya terlalu lama digoreng hingga terasa dagingnya kering diluar juga sedikit kering didalam, masih saja terasa nikmat ketika dikunyah ketika badan ini memerlukan asupan ‘fondasi’ yang dibutuhkan. Rasanya berimbang antara setiap rempah-rempah dalam bumbu berwarna coklat ini. Ketika sambal hijau yang masih dalam ukuran sedikit besar, dengan gilingannya yang tidak terlalu lembut, ukuran potongan-potongan cabe yang masih sedikit besar ini kumakan dengan nikmat. Terasa enak-enak saja dimulut saat itu. Sambil mengambil sebagian tahu goreng yang berwarna kuning juga, sama. Begitu nikmatnya, berkah makan di rumah Uwak Mar. Alhamdulillah bisa makan enak, gratis, bikin kenyang. Ya meskipun tidak hangat bahkan sudah dingin. Tetaplah bersyukur telah memakannya disaat lapar, dimana mungkin ada orang lain saat itu yang masih mencari makanan saja sulit, saya masih bisa makan enak, gratis pula.

Semua hidangan ini didapat dari keluarga sekitar, atas dana komplek perumahan bagi sebagian warganya yang meninggal disini, saat itu Nenek saya meninggalkan saya. Saya belum sempat menulis soal perasaan kehilangan Nenek saya yang benar-benar saya cintai. Mungkin akan saya ceritakan saat ini sebelum melanjutkan kepada cerita tentang Uwak Mister.

Saat itu saya makan ditemanin adiknya Uwak Mister, yaitu Bibi Nona, seorang yang ikut tinggal di rumah Tante Margahayu Raya, dia bertanya banyak hal pribadi, seperti mengorek-ngorek informasi dariku tentang kondisiku saat ini. Mulai dari penyakit, pekerjaan, hingga makanan, sampai pendapatan yang kudapatkan, ya segala sesuatu yang sebenarnya sangat privasi, namun aku menjawabnya dengan santai. Tidak ada yang kututup-tutupi. Hingga tiba saat itu, Uwak Mister memanggilnya, setelahnya Bibi Nona memberiku uang dari Uwak Mister dengan pesan: jangan dibilangin ke siapa2 ya, jangan bilang dikasih dari Uwak. Saya menyetujui syarat tersebut dengan mengiyakan kepada kedua kakak beradik ini.

Uwak Mister, jarang terlihat di rumah Tante Mar, memang Uwak Mar juga bekerja, Uwak Mister juga bekerja di sebuah penginapan. Seperti itulah yang ku tau tentang keluarga ini. Mereka semua bekerja mencari nafkah.

Uwak Mister berada di lantai 2 saat itu. Dia belum pulih dari keletihan, kelelahan tingkat tinggi ketika berolahraga berat di Saung Angklung Udjo. Tidak tau ada acara semacam apa di sana, hingga membuatnya harus berolahraga sedemikian berat untuk usia senjannya. Akibat kejadian tersebut, kondisi kesehatannya menjadi semakin parah saat diistirahatkan. Tidak menjadi lebih baik. Kondisinya malah membuatnya menjadi kurus, serta saat berobat ke dokter, dia general check up, yang mana banyak penyakit serius yang beliau derita, mulai dari: kanker hati, yang awalnya memang tidak diketahuinya, juga keluarga. Seperti yang saya ketahui, pada akhirnya penyakit tersebutlah yang menyebar ke organ-organ tubuh lain, hingga membawanya ke surga.

Waktu berbincang-bincang dengan sang adik Uwak Mister sudah selesai. Saat menyudahi makan tadi, aku merokok, sebelumnya melakukan ritual rutin dengan melinting tingwe, menghisapnya setelah berhasil membuat ‘tabung kenikmatan’ berupa batang rokok, menikmati nikotin terbakar ini dengan melihat kesekitar depan rumah, saat ini yang ku tahu hanya ada satu karangan bunga, turut bela sungkawa dari Bank tempat bekerja Abang Sagat, kakaknya Abang Dewa, saya menikmati setiap asapnya, mengkonsumsinya, hingga tidak dapat dinikmati lebih banyak lagi. 1 Batang rokok linting dewe aku buat, telah selesai dihisap. Selanjutnya aku berhenti. Saya beranjak dari teras pergi ke kamar tamu, saat itu Bibi sedang duduk, masih dimeja makan yang sama saat tadi kita mengobrol. “Bi, Asep tidur dulu ya? Capek.” Bibi menjawab, “Iya, sok aja, tidur weh heula.” Setelah itu saya tidur, sedikit melihat sosial media dalam gawai lalu berhenti juga meletakannya bersamaan dengan kacamata, tepat di samping bantal. Saya tertidur di kamar tamu. Saat itu orang rumah atau para keluarga besar dari Ibu sedang makan-makan di restoran Sunda kata Bibi.

Sebenernya tidak ada yang menarik dari Bibi Nona. Namun ia selalu membahas hal yang tidak pantas, atau tak perlu. Sesederhana itu ‘jamur’ pada rumah ‘keluarga Tante Mar…’ Yang berakhir melaporkan, menjelekan, atau memberikomando sesuatu dengan sudut pandang agama akan hal rumah tangga Tante Mar dengan Uwak Mister, seharusnya begini, seharusnya begitu, juga banyak hal lain yang tidak aku tau. Saya tau juga ini, berkat Ibu memberitahu dahulu soal kebiasaan Bibi Nona yang bertingkah seperti itu. Ujungnya, keluarga Margahayu Raya ini bertengkar, disebabkan aduan-aduannya Bibi Nona kepada setiap orang yang hadir di rumah tersebut, kepada tamu: Adik-adiknya Uwak Mar, Keponakan Tante Mar, segala hal diberitakan menurut sudut pandang dia salah. Dia berani membicarakan Si Pemilik rumah kepada sumua orang yang berkunjung, tentang kondisi keluarga tersebut. Tentunya dibelakang orang rumah, saat ada waktu orang rumah tidak ada didepannya, Bibi Nona membicarakan Kakak iparnya, mendukung segala hal dari sudut pandangnya sebagai Adik Ipar. Dalam artian menyudutkan sifat, tingkah laku, serta seluruh yang ia rasakan terhadap kakak iparnya. Selalu mendukung Uwak Mister selaku kakak kandungnya. Menyampai-sampaikan sifat buruk dari Uwak Mar, kepada Ibu, Tanteku, semua diberitahu, padahal jelas Ibu, serta Tanteku adalah Adik Kandung Uwak Mar.

Merepotkan memang tukang lapor serta membuat buruk nama orang. Kadang seperti ujaran kebencian di sosmed, memang tak separah fitna atau mengadu domba, tapi mirip seperti itulah kelakuaan Bibi Nona. Tidak layak juga aku memahami kebenciannya terhadap Uwak Mar. Mungkin ada masalah atau suatu masalah tertentu yang tidak ku mengerti. Mungkin juga memang tidak suka dengan Uwak Mar. Padahal segala biaya hidupnya ditanggung Bibi Mar, sama seperti Uwak Mister. Semua hajat hidupnya dibantu atau didukung Uwak Mar, bisa dibilang dari mengajar sebagai Dosen, bisa menjadikannya berpenghasilan juga menghidupi Bibi Nona, Uwak Mister juga. Kenapa juga Bibi Nona masih sebenci atau dendam, atau apalah terhadapat Uwak Mar? Saya sendiri tidak mengerti dengan ‘keajaiban’ tinggal bareng menumpang di Uwak Mar. Kenapa ya Bibi Nona bersifat memanaskan keluarga? Bukannya menenangkan?

Sisi positif Bibi Nona, mungkin dengan tinggal bersama Uwak Mar, Almarhum Nenek, jadi dekat. Ketika uang bulanan Ibu yang diberikan dari Uwak Mar telat, Bibi Nona mengingatkan untuk memberikannya segera, disebabkan Bibi Nona tau betul ketika butuh uang, ya butuh uang cepat, jangan ditunda-tunda. Akhirnya uang itu datang lebih awal dari biasanya. Kekurangan Uwak Mar, maaf, selain pelit, juga menunda-nunda sesuatu. Entah apa yang dilakukannya sehingga memiliki sifat seperti itu. Akhirnya setelah ada Bibi Nona, uang bulan menjadi tidak terlambat. Cenderung lebih awal. Selanjutnya, Bibi Nonalah yang memberi kasih sayang lebih kepada Almarhum Nenek, dengan kasih sayang. Meski kadang tidak mengerti, dengan bahasa Minang dari Nenek, kadang Nenek mengajaknya berbicara bahasa Minang, menganggapnya seperti Adiknya. Kadang Nenek Pikun lupa siapa itu Bibi Nona, kadang diakuinya sebagai Adiknya yang sudah meninggal, ya begitulah orang tua yang ingatannya sudah tidak terlalu baik lagi seperti dulu.

Kasih sayang Nenek, maksudnya… Kasih sayang Bibi Nona terhadap Nenek sangat dirasakan Almarhum Nenek, kadang Nenek mengajak kabur keluar rumah itu, sebab sering dimarahi Uwak Mar. Kadang Nenek melakukan kebiasan umum orang yang sudah pikun. Banyak hal tersebut dimarahi Uwak Mar. Bibi Nona diajak keluar rumah, lalu Bibi Nona mendiskusikan, bernegosiasi untuk tidak keluar rumah. Sehingga Almarhum Nenek tenang tidak keluar rumah, tidak jadi cabut dari rumah tersebut.

Dari cerita tadi, disini aku belajar, bahwasanya saya tidak perlu menjadi seperti Bibi Nona, yang tidak punya anak, tidak bekerja, hidup dari bantuan pemerintah, tidak ada pensiun, atau dalam kata lain tidak memiliki power apapun, baik ekonomi, tahta, bahkan tidak punya tempat untuk berlindung di hari tuanya, tetapi memaksakan diri merasa benar atas Kakaknya, ya Uwak Mister itu sendiri. Sebenarnya Uwak Mister juga tidak memberikan nafkah kepada Uwak Mar…, sepanjang yang ku ketahui seperti itu, tetapi sudahlah, namanya juga masalah keluarga. Saya juga tidak terlalu mengerti masalahnya seperti apa lengkapnya, detil-detil yang ada seperti apa, soalnya tidak patut juga saya bertanya lengkap kepada Uwak Mar, ada rasa sungkan juga rasa jauh dari perasaan layak untuk ditanyai detail. Yang pasti menjadi sok benar, sok mendukung, atau merasa paling beragama, sesuai kitab suci, tidaklah membuat kita selalu baik. Banyak hal yang harus diingat terlebih dahulu, rumusan masalah, data yang valid, realible, serta uji data, data yang sudah diuji, beserta informasi yang dapat dibuat sintesa, baru bisa dapat disimpulkan, dikategorikan, dibuat bagan-bagan, memberi informasi tersusun rapih… Bukan selalu tentang kutipan ayat suci, atau sudut pandang agama, tapi cek kebenaran dari kedua belah pihak, yang mana Uwak Mar, Uwak Mister harus ditanyakan dahulu. Dicek latarbelakangnya, akan satu masalah tertentu. Semisal apakah benar tidak mengnafkahi? Apakah benar pernikahan kedua yang mereka lakukan tidak merubah apapun dalam keluarga mereka? Pernikahan kedua ini hanya untuk, agar mertua Abang Sagat dapat tau kalau keluarganya lengkap? Apakah benar masalah terbesarnya hanya tidak memberi nafkah keluarga? Apakah benar, bahwa dengan mereka menikah kembali, sama saja seperti dahulu, tidak pernah akur? Kenapa hal tersebut terjadi? Kenapa Uwak Mister selalu tidak ada dirumah, tetapi, ketika cucunya datangnya selalu berusaha ada dirumah? Kemanakah Uwak Mister selama ini? Apa iya Uwak Mister bekerja? Apakah Uwak Mister benar-benar punya istri lain? Apakah Uwak Mister benar-benar seperti yang Bibi Nona tau? Terus kenapa juga Bibi Nona selalu memposisikan Tante Mar sama seperti ‘madunya’ Uwak Mister? Kenapa juga Bibi Nona selalu membawa ayat-ayat Suci sebagai solusi rumah tangga Bibi Mar serta Uwak Mister? Kalau mau, belajar paham soal masalah keluarga, seharusnya diobrolkan terlebih dahulu, bukan menentukan ayat suci sebagai dasar solusi masalah keluarga? Soalnya belum tentu masalahnya seperti itu, rumusan masalahnya saja tidak jelas, kerangka berfikirnya tidak ada, malah langsung berpindah ke solusi, bukannya melengkapi data seperti apa keterkaitan setiap variable: independennya, dari varible dependen. Baru cari teori terkait untuk meningkatkan pemahaman, serta pengumpulan data, wawancara, dan lain seterusnya. Untuk ditinjau. Di buat penjelasan, perencanaan penyelesaian masalahnya. Soalnya soal keluarga bukan dari orang luar, maksudnya diluar keluarga inti: Istri, Suami, Anak. Tapi merekalah yang seharusnya membicarakan bagaimana solusi yang pantas dijalankan terhadap masalah keluarga tersebut, soalnya merekalah yang menjalani. Salah besar kalau hanya mendukung satu pihak, tapi selalu menyalahkan pihak lain. Menyudutkannya. Terlebih mendukung sesuatu tanpa memastikan kebenaran informasinya.

Ya begtiulah mungkin yang bisa kusampaikan soal ini. Tentang kemungkinan pencerahan, pemulihan keluarga selepas menikah kembali, rujuk, atau direcoki adik ipar, serta kelengkapan dinamika hubungan keluarga. Harmonis atau tidak, yang terpenting anak tidak terluka, tidak ada dendam atau masalah menumpuk yang tidak ingin diselesaikan.

*****

Saat itu keluargaku berkumpul, berbicara banyak hal. Hingga saya pulang karena merasa tidak nyaman. Sebelum pulang saya dirumah Uwak Mar… terlebih dahulu.

Perasaan kehilangan Nenek sebelumnya, sama sekali tidak membuatku menangis, tetapi terasa sekali kehilangan orang yang berharga. Beliau berjasa besar bagi keluargaku, saat Almarhum Ayah, bekerja sebagai tukang mebel profesional, sementara Ibuku kehabisan uang warisan demi menghidupi kami berempat, saat itulah peran Almarhumah Nenek membiayai, meminjamkan uangnya untuk hidup kami berempat tadi. Uang itu dipinjam, saat mengantungkan diri pada menjual barang antik tak kunjung membantu ekonomi keluargaku, hingga saya berdua dengan Abang lulus kuliah. Adapula pinjaman dari keluarga Ayah, dari Adik Ayah, awalnya memang Ayahku menutupi bahwa kondisi ekonomi keluarga kami tak perlu baik-baik saja, jadi tidak perlu diekspos kondisi ekonomi kami yang murat-marit ke Adiknya Ayah, hingga tiba-tiba adiknya begitu terkaget-kaget bertahun-tahun kemudian saat mengetahui yang sebenarnya, serta mulai mengulurkan tangan menambah-nambah uang semsesteran kuliahku waktu itu. Ya seperti itulah hidupku, berawal dari bantuan-bantuan keluarga besarku. Pekerjaan Ayah pun susah untuk mencari uang sebenarnya, hidup seperti itulah aku saat itu. Penuh juga dengan hutang terhadap orang-orang yang ku kenal.

Awalnya saya bermimpi, “Sep, hidup mah harus realistis, ngerti?” Dalam mimpi yang berkabut serta kejadian yang ada dalam mimpi yang penuh keluarga serta orang-orang yang saya kenal. Diantara mereka saya merasakan diri yang masih kurang, hampir semua keluarga, sepupuku sudah bisa bekerja, sudah mandiri, mempunyai anak, ada juga yang menganggur, ada juga 1 yang masih kuliah. Dari 13 cucu Nenek.

Ada mimpi lain seperti, “Kapan nikah?” terus ada juga “Udah kerja?” kejadian yang biasa bagi orang Indonesia. Semua ditanyakan, semua diutarakan, aku rasa, rasanya saya seperti orang yang kurang kerjaan, tidak berpenghasilan, tidak memiliki teman, tidak punya masa depan. Tapi jauh hari saya sudah berdamai dengan masa lalu, sudah mencoba berpindah pijakan ‘tuk ke depan. Ku hanya ingin menjadi seseorang dengan hidup yang lebih baik lagi. Ku ingin mandiri. Punya uang untuk kebuthan hidupku.

Lalu perasaan kesedihan ini, terasa tidak bisa dirasakan lagi. Tidak terasa sama sekali, bahkan sudah biasa-biasa saja. Tak terpikirkan bahwa sebelum Nenek meninggalkan kami, dia sudah banyak memberi pelajaran, baik agama, sosial, komunikasi, bahasa, dia orang yang baik. Yang tau agama sebenernya, memanusiakan manusia, suka melucu, melawak dengan gayanya sendiri yang mirip-mirip aku aplikasikan kepada teman-temanku di sekolah dulu, hingga kawan-kawan di tongkrongan tertawa dengan jokes dariku. Orang yang telah meinggalku ini, adalah seorang yang selalu mengingatkanku shalat, menawarkan makanan, hingga hal-hal lain yang sebetulnya aku sangat kangen sekali dengan Nenekku. Dialah orang yang baik.

Seperti itulah, mimpiku tentang Nenek dalam tidur.

Setelah Nenek tiada, Uwak Mister meninggal juga, Tante Mar… merasa rumah menjadi sepi. Tetapi sebagai Dosen tetap di Universitas Negeri dia tetap menjalankan kesibukannya. Beberapakali saya bersama ibu bermala

Sebelum itu, saya banyak mengobrol di hari kedua. Saat sodaraku berbicara soal penipuan, hingga aku bercerita mengenai penyakitku, ditertawai, direndahkan.

Awalnya Abang Sagat bertanya: Apa gak jadi sakit lagi kamu, kalo ditanyain ini? Segera ku jawab, “Ya enggak atuh.” Jawaban saya yang begitu saja keluar dari mulut yang waktu itu tidak sedang dilanda, psikosis. Sudah dipastikan tidak berdampak.

“Sok, gini weh. Milih.” Kata Abang Sagat di samping Abang Dewa. Aku saat itu melihat mukanya. “Mau Service base, bisa makan… Atau Product base, mati.” Tanyanya, ke padaku.

“Product base.” Jawabku. Sekali lagi, “Mau service base, bisa makan… Atau… Product base, mati.” Sepersekian detik, nyaris sama, seperti jawaban diawal, aku menjawab, “Product base.” Pilihan, sudah dua kali, dilakukan, pertanyaan masih tetap sama: “Mau service base, bisa makan… Atau… Product base… Mati.” Langsung ku jawab dengan sama, setelah ditanyakan: “Product base.” “Kenapa?” Abang Sagat bertanya padaku. “Ya emang enaknya product base, bang.” Jawabku tetap keukeuh.

Pertanyaan, ke empat: “Mau… Service base… Bisa makan… Atau… Product base… Tapi… Mati.” Dari pertanyaan yang sama, dengan selalu menjawab yang sama, akhirnya aku berfikir. Ya kalo masih begitu-begitu saja. Ya tidak akan berkembang ujung dari pertanyaan ini. “Service base.” Jawabanku berubah, saat pertanyaan ini.

“Kenapa?” Tanya Abang Sagat, “Ya, soalnya udah nanya 3x, masih weh itu. Ya udah gak boleh jawab itu. Udah weh Service base.” Mukanya sedikit berubah, bukan ekspersi yang tetap sama seperti 3 pertanyaan awal. Ada sedikit yang tidak bisa ku jelaskan.

“Ya, bukan gitu.” Abang Sagat memberi sanggahan.

Abang Sagat: “Kamu, teh mau idup gini2 ajah? Gitu?”

Asep: “Ya enggak atuh Bang.”

A Sagat: “Ya udah mulai buat kerja yang laen, yang pasti2 aja.”

Asep: “…”

A Sagat: “Ai, si font teh gimana sih?”

Asep: “Jadi kerjaannya teh buat produk, aset digital. Buat font yang bisa diketik di komputer. Jadi tau kan? Arial? Times New? Nah Asep, teh, buat yang gitu2.”

Abang sagat memperhatikan, sambil fokus melihatku, sementara Abang Dewa juga melihat kami berkomunikasi saja. Tanpa bertanya.

A Sagat: “Dapet duitnya gimana?”

Asep: “Ya dijual, lisensinya. Jadi gini: entar buat, terus dijual di website.”

A Sagat: “Berapa?”

Asep: “$ 15.”

A Sagat: “Udah dapet berapa dolar kamu selama ini?”

Asep: “Belum. Buatnya juga baru 1. Selama 2 tahun teh.”

A Sagat: “Coba kembangin, buat kaos, tulisan2 kamu teh terus jual.”

Asep: “Wah itu mah product base, cuman harus buat PO, harus ke vendor, terus bulak-balik vendor, sama packing.”

A Sagat: “Iya, gak apa2 atuh. Ya daripada gak ada uang pisan.”

Sebelumnya saya bercerita, saya jadi teringat dahulu sempat ada proyek buat kaos, dalam pikiranku, tanpa menceritakannya kepada mereka: dengan tulisan-tulisanku di twitter untuk dicetak menjadi fashion jalanan. Tidak tau juga bagaimana proses lisensi penggunaan tulisan-tulisan itu, yang pasti teman-temanku meminta juga untuk membuat tulisan langsung selain yang dari twitter, untuk dicetak di mesin printer DTG, demi kebutuhan kaos tersebut.

Hasilnya, aku tidak tau bagaimana. Tapi aku juga tidak tau juga hasilnya seperti apa. Karena tidak ada kejelasan, tweet yang mana yang dipakai untuk menjadi kaos. Serta penjualannya.

Asep: “Iya, sih.”

A Sagat: “Abang juga kemaren buat kaos, tulisan, banyak yang make.”

Asep: “Dijual bang? Berapa?”

A Sagat: “Gak dijual. Dibagiin aja.”

Asep: Dalam hatiku: “Ye kalo kaga dijual mah, ya iya banyak yang make. Tinggal dibuat yang banyak weh. Pasti dipake jugalah kalo gratis mah. Tapi tetep, tergantung buatnya berapa losin? Terus yang make siapa aja?” Begitulah yang ada dalam otakku.

Asep: “Tulisan? Tulisannya apa gitu?”

A Sagat: Beberapa saat berfikir, terlihat sedang berfikir. Membutuhkan waktu beberapa detik, jeda saat menjawab pertanyaannku. Dari waktu ini, aku sempat berpikir, apa mungkin dia sedang berbohong, tujuannya untuk menyemangatiku, sama seperti kejadian dulu waktu berbicara dengan supir angkutan soal percintaan, pekerjaan, hingga menjadi seorang yang pd, berpenghasilan sebagai tukang tahu dengan motor, yang padahal dahulu seorang karyawan bank, yang memilih menjauhi riba. A. Sagat menjawab “PULANG KAMPUNG KARENA SK. BUKAN KARENA KORONA.”

Asep: Dalam hatiku, “Duh naon deui iyeu… Apa iya sih, orang mau pake baju tulisan gak penting gitu? Terus apa tulisan itu penting banget dipake pas lagi korona, atau mungkin baju gratis itu emang pas aja dipake, lagian nambah2 baju yang adalah. Itung2 ganti baju juga. Masa bajunya itu2 aja” Lalu aku bertanya: “Kirain teh dijual.”

A Sagat: “Enggak.”

Asep: “Jualan kaos teh males, mesti PO.”

A. Sagat: “Ya gak usah PO. Langsung weh jual.”

Asep: “Ya modalnya darimana Bang? … Lagian juga kalo langsung kalo gak buat teaser, 1, 2, atau buat nanya2 siapa aja yang mau ikut PO, ya gak jalan juga atuh.”

Dia diam sambil, berpendirian teguh. Setelah itu memberikan pertanyaan lanjutan, sambil memberi instruksi.

A Sagat: “Ya, buat weh.”

Memaksaku, untuk membuat sesuatu yang sudah kupahami. Idenya bagus. Tapi memaksakan kehendak memang bukanlah hal yang baik, untuk mendikte, tapi bila maksudnya lain, hanya untuk membuka pikiran, mungkin? Bisa dibilang lebih baik daripada tanpa ada masukan dari orang lain.

A Sagat: “Terus kenapa juga sih gak pada mau kerja di Bank? Kamu sama Si Abang juga?”

Asep: Bukannya gak mau, gue jelas dah tau riba, terus bekerja di Bank itu capek. Belum lagi beli seragam, atau pakaian kantor yang mahal-mahal itu. Belum lagi tidak nyaman ada didalam Bank. Terlebih menjadi pekerja kantoran, yang baru ku alami, setelah bekerja di Toko Gambar Tempel. Begadang-begadang mungkin ada, tidak sebanyak aku bekerja di Toko Stiker tersebut. Bekerja di Bank bukanlah sebuah pilihan, tetapi keputusan yang tidak ingin ku pilih.

Aku terdiam, tanpa berbicara soal Bank dihadapan Abang-Abangku yang bekerja di tempat tersebut.

A Dewa: “Ai Asep percaya Tuhan?”

Saya terkejut ketika Abang Dewa bertanya seperti ini, nampak seperti tidak percaya kepadaku, atau mungkin sedang menguji. Tapi untuk apapula pertanyaan seperti ini, untungnya apa juga untuknya? Adakah manfaat dari tau kesadaran akan Pemilik Segala-Nya?

Langsung ku jawab.

Asep: “Ya percaya atuh Bang.” Singkat saja, daripada berpanjang-panjang, mungkin lebih dimengerti, bisa menjawab juga dengan cepat pula. “Ya kalo gak percaya mah, saya gak akan puasa, gak akan shalat, zakat juga. Sedekah juga kali Bang.”

Pertanyaan selanjutnya.

A Dewa: “Ai pas solat Asep ngedoa apa?”

Lumayan kepo, sambil tetep aku jawab. Mungkin aku selalu menjawab sesuatu, tanpa berfikir panjang, tanpa rasa tau penting tidak penting, pantas tidak pantas, atau diataranya, diantaranya lagi.

Asep: “Ya-”

Belum sempat ku jawab tuntas, A. Sagat membericandaan, mendekati meneterawakan, merendahkan.

A. Sagat: “Ya dia minta biar Fontnya, jadi duit, … Gitu2? Kan?”

Sambil disaat bersamaan ku menjawab A. Dewa.

Asep: “Ya biar font jadi duit, bisa idup dari font, berkembang.”

Perasaan direndahakan, ditertawakan, dari pekerjaan yang kupilih, dengan penghasilan yang tidak ada sama sekali dari sana. Bahkan cenderung perasaan ini semakin terasa, ditertawai kenyataan, bukan ditertawakan orang, ‘kenyataannyalah’ yang ‘menetertawakanku’, bukan A. Sagat, bukan juga A. Dewa. Bukan mereka berdua, tapi akulah yang memilih pekerjaan yang memberikan penilaian untuk ditertawakan, saat semua yang mengajakku mengobrol kali ini adalah para karyawan Bank Negri. Salah dua orang ini memiliki penghasilan dari pekerjaan sehari-harinya, memiliki posisi di kantornya, merasa pendirianku adalah hal yang perlu mereka serang, berlawanan dengan pemmikiran mereka bahwa aku akan mati bila terus bekerja seperti ini.

A. Sagat: Sambil seolah-oleh membuka baju, di memberikan candaan kepadaku, bahwa aku tidak tersinggung akan sikap ‘lawakannya’, “Derrr engke gering deui maneh?… Moal kan?”

Asep: Aku menjawab dengan tenang, tersinggung memanglah bukan tempatnya buat orang yang sedang berdiskusi, atau tempat membuahkan pemikiran baru. Membuka kemungkinan baru dari ruang baru yang sedang dibangun. Membangun kesadaran, menciptakan sebuah arti dari sudut pandang kami, yang berbeda, atau konsep-konsep yang tidaklah selalu pantas, atau tidak pantas, aku cukup terbuka saja dengan segala hal yang ada dalam setiap komunikasi dengannya, dia, mereka, kita. “Ya enggak atu bang, …”

Sambil melanjutkan pemberitahuan tersebut. “Kata psikiater, tinggal beresin kerjaan satu2, pasti beres.” Meyakinkan diri, sambil menyakinkan mereka bahwa usahaku tidaklah sia-sia, pasti menghasilkan sesuatu.

A. Sagat: “Geus2, enggeus si Asep mah misleuk. Geus bener eta bener. Ngadoa weh alus. Alus eta.”

Disini, dia mendukungku, tetapi logika mendukung malah memberikan persepsi lain, malah sebaliknya, seperti tidak mendukungku sukses dari karir yang sedang ku pilih. Dengan kenyataannya: bahwa dengan berdoa, bekerja ala kadarnya, bahkan cenderung aku kurang keras akan diriku bekerja, terbukti selama 2 tahun baru 1 font. Sementara orang lain bisa lebih dari itu. Bahkan bisa 2 digit, aku 1 digit saja tidak, tidak bertambah-tambah.

Sebelumnya…

A. Sagat: “Asep suka ama cewe?”

Asep: Saat itu aku langsung terpikirkan Yui Hatano, wajah cantiknya, bentuk tirus mukanya, bibir tipisnya, mata sipitnya, make up flawless-nya, rambut yang dicat coklat gelap. Tapi tak lama aku sadar, itu hanya fetish, bukan wanita yang benar-benar ku berbicara dengannya.

Aku langsung terpikirkan Si Tomboy. Tanpa terbayang wajahnya, tanpa terbayang kemolekan fisik, tanpa terlintas wajahnya.

Kusebutlah sebuah nama, …

A. Dewa: “Yang mana? Siapa?”

Asep: “Sama2 suka Homicide. Itu grup Hip Hop gitu.”

A. Dewa: “Ini!” Sambil menunjukan avatar facebook pada smartphone di genggamannya.

Asep: “Bukan.”

Aku mulai membuka instagram, mencari akunnya. Lalu menunjukan pada A. Dewa.

A. Dewa: “Oh ini… Oh suka maen gitar, suka musik.”

Dia stalking akun tersebut, scroll postingan IG. Memahami diri Si Tomboy.

Sebenernya, hubunganku dengan Si Tomboy bukan cinta, temanpun rasanya kurang tepat, hanya pernah bertemu pada saat rilis vinyl Homicide, Album Barisan Nisan, di tahun 2016. Sempat kaget juga kalau dia adalah seorang wanita, dengan tampilan fisik bagaikan seorang lelaki, tentunya dengan gaya berpakaian celana jeans, kaos, berambut pendek.

Saat berbicara dengan dia pun, aku kebingunngan untuk menentukan gender. Jadi aku pastikan dengan bertanya, saat bertanya, ternyata wanita. Aku tertawa, selanjutnya meminta maaf, menduganya seorang pria.

Aku selalu mudah jatuh cinta dengan wanita, bila wanita tersebut bisa bermain alat musik, atau mungkin bisa bernyanyi dengan baik. Ya minimal punya kemampuan yang aku sukai. Musik, Film, Buku, atau Desain Grafis, Type Design, apa saja yang bagiku dia memiliki nilai lebih, bukan soal fisik semata.

A. Sagat: “Geus ulah ditanya Dewa, si Asep mah hayang ngafont.”

Alur berubah. Saat ini akhirnya obrolan meluas.

A. Sagat: “Sok kamu bisa apa?”

Asep: “Ya desain font, jualan pre-loved.”

A. Dewa: “Entar teh kita mau buat bisnis keluarga, entar Asep yang ngerjain sama Abang. Kita pengen keluarga teh punya bisnis yang bisa berkembang bareng.”

Nah kan, ketauan tujuan akhirnya. Dari pola, ngalor ngidul, ngobrol-ngobrol, serta menjelaskan kemampuanku. Akhirnya tujuan mereka itu ingin mengatur hidupku, ya mungkin membeliku dengan pekerjaan keluarga, memberikan penghasilan yang layak? Tidak tau juga ya. Yang pasti ujungnya mereka percaya kepada aku, Abangku, sodara kandungku.

Obrolan terhenti. Kadang kala mereka A. Sagat dengan adiknya, A. Dewa suka berhenti berbicara untuk sesekali menggunakan smartphonenya. Jadi obrolan, kadang-kadang terhenti, tertunda, kadang hening sesaat.

*****

Begitulah menjadi jika menjadi orang yang sakit, lengkap dengan penghasilan yang tidak pasti. Belum memiliki pemasukan tetap dari pekerjaan, belum bisa mandiri. Tidak memiliki pasangan, belum berjodoh, tapi sudah bilang suka terhadap wanita. Usahaku sebagai type designer tidak memberiku earning yang layak.

Wanita yang kusukai, mungkin saja sudah memiliki pria yang lebih baik atau lebih pantas dariku yang seorang pekerja kreatif. Mungkin saja Si Tomboy, sudah memiliki cowo, juga mungkin saja aku sama sekali bukan pria yang disukainya, malah dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku. Juga dia belum tentu mengagapku teman, hanya sekedar kenalan yang dipertemukan pada saat itu dari temannya. Mungkin begitu tepatnya.

Bekerja pada orang lain, bekerjasama dengan keluarga dalam satu wadah, bekerja dengan bisnis tertentu memang bisa saja menjadi opsi jika ada waktu, dilain waktu didepan, ku memilih berhenti bekerja merancang huruf, tidak melakukan aktifitas menjual produk pre-loved.

Bekerja dengan keluarga, berpenghasilan, menikah, meninggalkan font, pre-loved, menjadi seorang yang akan meninggal seperti Nenek, Uwak Mister, menjadi kesepian seperti Uwak Mar, atau bagaimana kedepannya? Aku sendiri tidak tau.

Berkat kejadian itu, hampir tiap hari aku berfikir soal nasib, karir, serta keuanganku. Aku memasang foto wallpaper sepupuku di handphoneku. Supaya ingat selalu aku “Tidak akan pernah sukses, akan mati dengan font tidak akan pernah hidup dari karirku sebagai font kreator.” Sejak saat itulah aku bekerja lebih giat. Namun pada akhirnya, atau kedepan-depannya masih tetap saja bermalas-malasan mengerjakan font, pekerjaan sepatu pun belum ku kerjakan lagi sudah 3 minggu, mengupload buku juga tidak dilakukan dengan baik, saat datang 200 produk preloved. Font tidak dikerjakan, Perloved malas-malasan, Desain Grafis untuk Footwear tidak dilanjut. Mau jadi apa aku ini?

Terkadang memang nikmat menikmati hidup dengan bersantai, tidak bekerja di kantor atau di Toko seperti pengalamanku. Maksudnya bekerja mandiri seperti sekarang butuh komitmen yang besar, untuk orang yang naek-turun semangatnya serta ketekunannya, nampaknya masalah ini ada dalam diriku sendiri.

Mau seperti Bibi Nona, Uwak Mister, Nenek, Ayah, atau jadi siapa saja aku bisa. Tapi jangan sampai seperti ‘tidak punya masa depan, tidak bisa hidup dari karir’. Aku hanya ingin menjadi type designer, penjual preloved, desainer grafis buat produk footwear. Aku seorang freelancer yang juga pekerja mandiri, self employee.

Yang aku butuhkan sekarang rasa tanggung jawab demi masa depanku. Demi hidup yang berpenghasilan, dapat menghidupi hidupku sebagai seorang dewasa. Dapat berkarir di rumah dengan penghasilan yang layak. Pekerjaan yang ada dikerjakan dengan semangat juga dengan itu aku bisa mendapatkan uang.

Saat ini Ibu sudah bosan dengan kalimat: Terakhir, sekali-kali, berhenti. Terhadap kebiasaanku merokok. Saat bekerja juga dia acapkali bosan menyemangatiku yang kadang tidak semangat bekerja mencari uang dengan mengunggah buku-buku bekas, vcd bekas. Font, Footwear ditunda demi uang yang akan kuterima dari mencoba mengupload barang ke marketplace.

Kalau dipikirkan, kenapa ya aku malas? Memilih menulis yang tidak jelas seperti ini? Memilih mementingkan yang tidak penting seperti menulis seperti ini dibandingkan mencoba untuk berjualan, membuat font, membuat desain grafis untuk footwear? Kenapa dengan diriku yang selalu menunda-nunda pekerjaan? Kenapa dengan komitmenku bekerja yang terkadang ada terkadang menghilang begitu saja? Mau bekerja apalagi diriku ini jika tidak mengerjakan font, preloved, footwear? Mau dapat penghasilan darimana jika diriku tidak bekerja? Mau hidup sebagai apalagi aku saat ini jika tidak berpenghasilan? Bisa saja Ibuku meninggal dengan sakit disebabkan anaknya menjadi sumber penyakitnya saat hidup? Memberikan beban pikiran: jomblo, bekerja malas-malasan, menunda-nunda pekerjaan, lelet, tidak mandiri?

Kuharap hari ini di umur 33 tahun, aku menjadi seorang profersional yang bekerja mandiri yang sudah berpengalaman. Bisa menghasilkan uang juga menghidupi diriku sebagai orang dewasa. Bisa menikah. Bisa punya rumah untuk tinggal bersama Ibuku.

Aku ingin bekerja. Berpendapatkan cukup. Aku ingin bisa membahagiakan hidupku, terlebih membahagikan Ibu. Maafkanku Asep, telah membuat hidup menjadi buruk dengan kesalahan-kesalahanku. Mengabadikan keburukan pada tulisan-tulisan. Aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin menjadi diriku dalam keadaan yang lebih baik. Berjalan baik-baik saja meski aku sadar selalu ada halangan, selalu saja ada kesalahan, kegagal ke kegagalan yang kulakukan. Perombakan strategi dalam mewujudkan kemerdekaan diri sebagai seorang pekerja yang bisa menghidupi diri, Ibu.

Aku ingin menjadi type desinger, penjual preloved, desainer grafis produk footwear.

Aku hanyalah manusia biasa-biasa saja yang perlu berusaha lebih dari ini. Untuk mendapatkan yang kuinginkan.

Aku perlu sadar diri, serta paham memaksakan diri bekerja lebih baik lagi.

Iklan

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: