家賃の魂 Yachin No Tamashí

“I have schizophrenia. I am not schizophrenia. I am not my mental illness. My illness is a part of me.”

– Jonathan Harnisch

Waktu keluar RSJ saya rasa tenang, tidak seperti pertama kali tau hebatnya otak berhalusinasi disambung delusi seputar kejadian-kejadian saya waktu itu. Dari revisi skripsi yang akhirnya rampung pada saat halu-delu lagi edan2nya. Sampai persoalan jodoh yang belum bertemu, kehilangan arah sama tetap pengen bekerja ‘tuk berpenghasilan.

Waktu itu kamar saya terasa berbeda. Bisikan-bisikan saat psikosis sudah tak ada lagi. Pikiran seperti kosong dari sebelum penuh, tumpah ruah bagai ember yang terus diisi, tapi tidak mematikan keran airnya. Arus informasi seputar kaset pita, buku, juga berita populer terus ada didalam fikiran. Tidak saya rasakan kini dalam tenang kamarku. Barang-barang yang dahulu berserakan, bungkus-bungkus: kardus, kertas, plastik sudah dirapihkan. Seperti itu juga perasaanku saat itu.

Ibu menawarkanku Bakso Malang Jawa yang kebetulan melintas didepan rumah. Aku dibelikan semangkuk bakso, lalu Ibu membayarnya ke pada Mas penjualnya. Saat itu saya tidak bisa berfikir selain, ada yang hilang serta ada yang lain. Perasaan seperti bercampur layaknya bakso yang terisi 3 biji, mie kuning, sayur, serta sambal. Aku memakannya sampai habis. Perasaanku masih campur aduk saat itu, serupa rasa pedas, gurih, manisnya makananku disore hari yang mulai mendung.

Saat ini yang ku ingat, temannya kakakku mengantarkan kami dari Kolonel Matsuri, kami berempat telah selesai membayarkan administrasi rawat inap aku di sana selam 20 hari. Setauku sekitar belasan juta, tanpa BPJS, waktu tersebut aku dibantu oleh keluarga besarku, baik dari keluarga Almarhum Ayahku maupun keluarga Ibuku. Syukur Alhamdulillah aku bisa keluar dari hidup yang dimulai dari pengajaran kawan-kawan PKL perawat, dokter, juru masak, keamanan, serta semua pihak dalam Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Saat itu aku langsung menggambar, menulis serta menonton tv. Aku juga mulai melamar pekerjaan. Begitulah pengalamanku selepas keluar dari RSJ, tidak seperti pengentahuan orang jikalau pasien disana dirawat seumur hidup atau seperti dipenjara. Tidak seburuk itu, hanya darisanalah hidup kembali menjadi diriku yang sesungguhnya.

Kembali kebelakang sebentar untuk menjadikan masa itu sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Saya tidak ingin kembali sakit maupun merepotkan orang lain. Minum obat yang rajin, bekerja yang baik. Aamiin.

Semoga kalian juga masih ingat pertama kali ke rumah dan ingin menjalani hidup yang lebih baik sebagai ODS, Orang Dengan Skizofernia.

Bekerja pada awal bulan Juni

The trouble is, you think you have time.

Jack Kornfield

Hidup saya tidak penting, tidak sepenting sesuatu yang penting bagimu, hidupmu, atau hidup bagi kebanyakan orang lain. Tak usahlah merasa saya ini berperan penting bagi orang lain, jika perlu seperti itulah arti penting, tidak pentingnya saya untuk saat ini. Tidak perlulah saya menjadi seseorang yang penting bagi dirimu, atau bagi banyak orang. Saya tidak penting bagi siapapun. Saya bukanlah siapa-siapa.

Entah apa yang penting hari ini bagiku? … Apa mungkin bekerja? Mendesain produk, membuat produk berupa fon sebagai aset desain grafis, menjual lisensi pemakaiannya. Atau, mungkin, berjualan preloved? Seperti kaset pita, cakram padat, buku, kaos, menjualnya di marketplace lokal, selanjutnya entah apalagi yang akan dijual disana? … Atau mungkin menjalankan hobi ketika senggang? Menulis jurnal, tentang apa saja yang sudah dilakukan, apa yang akan dikerjakan selanjutnya… Atau apalah ini? Apalah itu? … Apakah seperti ini hidup itu? … Saya tidak tau lagi, apa yang penting atau apa yang tidak penting. Terasa melebur menjadi satu, tidak ada bedanya, semua terlihat nyaris sama-sama saja.

Dalam ruangan yang penuh sesak dengan barang-barang yang tidak terpakai, lemari yang penuh dengan barang, atau ranjang yang sudah tidak terpakai, kayu-kayu bekas yang tidak terpakai disimpan begitu saja, ada yang tersusun, ada yang tidak teratur, semua disimpan dalam garasi ini, sementara meja kerja saya berada tepat disampingnya. Ada juga beberapa kardus karton yang terisi barang, juga penuh dengan debu, diatas lemari yang penuh dengan barang-barang entah apalah itu, baju, alat makan, piring, cangkir, pisin. Semua tidak terpakai, atau belum sempat dikeluarkan semenjak pindah ke rumah kontrakan ini.

Diatas meja, berbahan kayu jati, bepelitur warna coklat tua, bergradasi, berserat-serta yang dipakai sebagai meja kerja, bukan dipergunakan sebagaimana mestinya, sebuah meja makan antik yang bisa saja penuh dengan hidangan diatasnya tetapi dipenuh dengan alat-alat lain, yang kadang kalanya ada: buku, catatan, minuman, asbak, bako, serta keperluan saat bekerja lainnya. Kadang rapih teratur jika memang butuh keteraturan, kadang berantakan tak teratur jika sedang malas merapihkan meja kerja ini…. Selayaknya meja kerja pada umumnya, bukan menjadi meja makan yang mungkin orang lain kenal. Dimulai dengan menyalakan komputer jinjing entry level keluaran Taiwan, yang harganya tak sampai seperempat harga laptop desainer grafis profesional. ‘Senjata’ ini yang saya pakai untuk mencoba mencari uang dari pilihan saya menjadi pekerja mandiri di Bandung Timur. Bekerja menjadi seorang pekerja tanpa ‘atasan’, meski sesungguhnya ‘boss’ saya sebenernya adalah trend penjualan, trend visual-visual lainnya, hingga kebutuhan produk tertentu di marketplace, atau mungkin bisa juga, menjadi sebuah kebetulan produknya bisa saja menarik pembeli di tempat tersebut. Bisa saja, bisa jadi demikian. Bisa juga tidak sama sekali.

Saya mulai kerja dari pagi hari, hingga saat tiba malam mulai berganti pagi kembali. Terkadang tidur cepat sebelum jam 12 malam, kadang bisa begadang tidur kurang/lebih 3 jam. Kadang bangun siang, sekitar jam 11 siang, tidur cepat jam 9 malam. Jamnya tidak pasti, untuk bekerja atau tidur, bisa lebih cepat, bisa lebih lambat. Tanpa target, tanpa evaluasi, tanpa ada tuntutan kerja, yang pasti saya selalu saja bekerja atau mengerjakan sesuatu untuk dikerjakan setiap harinya. Tidak tentu, tidak pasti juga, juga tidak ada alasan lain untuk bekerja sesuai target, atau tuntutan lainnya, bahkan target tidak tercapai, selalu seperti itu. Atau gagal fokus mengerjakannya karena satu dan lain hal.

Tapi mari kita lupakan pekerjaan seperti itu, mari ingat kembali keadaan saat ini. Sadar diri masih belum mampu bekerja layaknya desainer huruf lain, yang memiliki banyak portofolio, dengan segudang produk unggulan, serta banyak juga pekerjaan lain yang perlu dilakukan seperti memasarkan produknya sendiri, membuat setiap tampilannya tetap menarik dilihat calon pembeli untuk selanjutnya dimasukan ke keranjang, lalu cekkeluar, membayarnya secara online. Untuk bisa membuat mereka tertarik tidak semudah itu sebenarnya, banyak hal yang belum saya mengerti soal visual apa yang bisa membuat mereka membeli produk yang saya jual lisensi pemakaiannya. Apakah itu? Mungkin fitur ligature, alternate glyph, atau kelengkapan weight hingga kumpulan vector pendukung typeface tersebut. Atau mungkin juga, bisa jadi fon tersebut memang sangat-sangat menarik untuk dibeli, sedang diskon, atau mungkin yang lain. Saya juga tidak tau pasti apa yang membuat fon dibeli. Karena apa pula itu faktornya, seperti apa bisa demikian. Faktor x mungkin. Bisa jadi demikian.

Sebenarnya produk yang saya punya hanya sedikit saja. Bahkan hanya ada 1 produk saja yang dijual lisensinya, sisanya menumpuk sebagai draft yang meminta satu persatu diselesaikan, lalu dijual lisensi pemakaiannya. Sebagian malahan berbentuk hanya sketsa kasar berupa pangram yang belum dilengkapi standard setkarakter yang dibutuhkan di marketplace. Bahkan ada yang hanya sketsa-sketsa satu-dua glyph yang belum berpangram. Saya punya banyak PR untuk menuntaskannya, agar dapat berpenghasilan dari pekerjaan ini.

Ketika duduk diatas kursi yang satu kelompok dengan meja makan antik ini, saya mulai menyalakan rokok dengan korek di tangan kanan, tangan kiri mengapit rokok. Sebelum utuh menjadi sebuah rokok, diperlukan usaha yang tidak instan seperti menggambil rokok pada bungkusnya, jika itu rokok super, ya kalau mau merokok ya melinting sendiri, diisi tembakau mole yang biasa dibeli diwarung dekat rumah. Untuk menjadi manusia ‘ahli hisap’ cara membuatnya saya dibantu dengan sebuah alat linting berupa persegi panjang yang bisa mengulung bakonya, memasukan tembakau mole ke dalam alat tersebut, memutarnya kearah berlawanan arah jarum jam, lalu menyelipkan kertas papir kedalam rongga-rongga diantara tembakau mole dengan alat linting tadi. Kertas tersebut membungkus tembakau yang kini sudah menjadi berbentuk tabung, lengkap dengan tembakau, kertas papir, layaknya rokok pabrikan yang tinggal hisap. Jari jemari menarik alat kearah sesuai jarum jam, bako telah siap dinikmati.

Di pagi yang gelap, saat ada beberapa sepedah motor melewati depan rumah. Ayam sudah mulai berkokok meski langit masih seperti malam dibandingkan pagi hari. Pada saat orang lain pergi bekerja seperti ini, saya sudah didepan komputer untuk memulai hari yang sama dengan mereka. Menikmati bako yang sudah terbakar ujungnya, menikmati setiap asapnya kedalam paru-paru yang sudah terkena kebul dari rokok tingwe. Sambil sesekali meminum kopi hangat sachetan yang disajikan oleh Ibuku, dengan takaran setengah bungkus, dihemat-hemat untuk hari esok. Supaya bisa menikmati kopi lebih lama, ya harus seperti itu katanya. Ya sebenarnya subuh-subuh seperti ini, di pagi buta seperti ini layak dinikmati untuk memulai hari seperti tadi yang saya bilang. Dimulai dengan berfikir hal yang acak untuk memulai pekerjaan dengan menulis jurnal, atau memeriksa daftar kerjaan yang hendak diselesaikan. Yang kadang pula mengecek email, padahal saya tau pendapatan lisensi fon saya sama sekali sama dengan 2 tahun yang lalu, tidak ada penjualan sama sekali. Hampir setiap bulan laporan keuangan dari penjualan lisensi pemakaian fon selalu seperti itu. Tak jauh dari $ 0. Begitu juga dengan PayPal. Setali tiga uang.

Jika boleh kembali saya mencari tau arti penting-tidak penting, sebagai manusia tentunya, yang seringnya akalnya hilang atau disimpan didengkul, ya bisa dirunut dari kejadian apa saja yang sebenarnya terjadi sehari-harinya. Seperti kebiasaan apa saja yang setiap hari saya lakukan, dalam beberapa tahun terakhir: ~telat shalat subuh, yang sudah pasti bangunnya terlambat, malamnya tidur terlalu larut malam~ mulailah merasa rugi, masalahnya keterlambat ini sudah menjadi kebiasaan buruk menahun, yang selalu berulang dilakukan, sementara waktu tidak bisa dibalik, diputar kebelakang, ibadah subuh itu terhapus begitu saja, (saya sedang belajar kecewa untuk ini, jika memang ini dirasa penting, sudah seharusnya bersedih). Gagal shalat subuh tepat waktu. Bahkan terlewat begitu saja tanpa mengerjakan ibadah ini.

Ternyata saat terbangun, dengan telat untuk membuka mata, memaksakan membuka mata, padahal saat itu adzan subuh sudah tiba, kondisi saya sedang mendengar adzan tapi disaat itu terlalu lama menunggu sampai yang ada didalam selimut yang hangat, enggan untuk beranjak pergi mengabil air wudhu, hingga terlewat 1 jam semenjak bangun tidur. Akhirnya shalat subuh dimulai pada jam 06.13 pagi. Cahaya matahari sudah menyuntuh gorden, saya membuka jendela juga disaat yang sama cahaya mulai merubah tampilan kamar menjadi lebih bercahaya lagi, tidak segelap saat malam hadir menutup hari.

Jika merasa penting akan sesuatu hal, maka saya menyesal untuk melewatkannya begitu saja. Sekarang, bagaimana dengan, dahulu? Tidak demikian sesungguhnya. Untuk itu, maka mulailah beradaptasi: mulai mencari strategi baru, mungkin bisa jadi dengan konsisten mulai mengatur waktu tidur untuk tepat waktu setiap harinya, atau membuat reminder di smartphone—yang bisa saja ini mungkin menjadi masalah baru lagi, tentunya, yang awalnya hanya berupa ‘solusi baru’ bisa berubah menjadi sebuah ‘masalah baru’ lagi, lagi-lagi, sebuah jawaban dari permasalahan sebelumnya—tapi untuk hal ini bisa dilihat dari berbagai hal, kerja tanpa tenggak waktu, kerja seenaknya tanpa peduli selesai kapan atau dimana dapat menyelesaikannya sesuai konsep awal, terkadang memang seperti itu saya bekerja tanpa deadline terikat, terlebih sekarang ini jika tiba rasa bosan, saya menjalani kesukaan saya selain bekerja: menonton YouTube, dari channel-channel dimulai dari, anime, vituber, jejepangan, vlog, atau mendengarkan musik-musik, hiphop, punk, metal, atau yang lain, yang lebih banyak lagi: men-scroll beberapa akun media sosial, berkomentar, memberi reaksi dengan emoticon, terkadang berbagi sesuatu hal yang tidak penting-penting di sebuah grup Facebook, menonton beberapa Reels Instagram soal kucing, k-pop, typeface, membaca tweet atau retweet soal type specimen, font in use, menyimak video TikTok soal tarian, orang pamer, buzeRp, dan lain sebagainya. Banyak sosmed yang dibuka bersamaan, namun Fb yang paling sering saya gunakan. Masih banyak aktivitas bersosial media selain itu sebenarnya, yang lebih tidak penting lagi, tidak pula layak ‘tuk dicatat atau tak perlu diingat-ingat lebih jauh, men-scroll terus jika ada hal yang menggagu, tanpa harus befikir melaporkan ke admin, dilewat saja, memang sungguh tidak benar-benar penting juga sosial media digunakan ‘tuk melepas penat saat bekerja dengan internet saat sore hari. Tibalah hujan mulai berkunjung dengan mendadak, membasahi atap rumah ini secepat menulis komentar di Facebook, dengan suara gemericik air yang turun dari langit bagai kamera blitz di hp. Petir menyambar beriringan dengan air yang terus menerus berjatuhan diatas tempat tinggalku ini. Suhu udarapun berubah seketika menjadi dingin dengan sendirinya.

Pekerjaan tertunda. Sibuk menghabiskan waktu dengan sosmed. Sebegitu hebatnya keterlambatan berdampak pada hidupku, disaat orang tua saya selalu beribadah tepat waktu, Masya Allah, seperti yang tidak akan pernah tertinggal barang semenit pun, bahkan waktunya dijaga sebaik mungkin agar bisa selepas adzan, selesai berwudhu, waktunya menjalankannya sembahyang itu dengan perasaan yang biasa-biasa saja, sudah kewajiban yang tak perlu dibahas, tidak ada terasa berat pula, atau seperti bagaimana begitu… Sebab sudah menjadi kebiasaan serupa kegiatan rutin lainnya, memasak, menyapu, mencuci dan lain seterusnya, sehingga rasanya, kebiasaan baik seperti itu tadi, terasa berbanding terbalik dengan saya pribadi, yang buruk naudzubillah min dzalik dalam management waktu, dahulu hal seperti ini terasa bukanlah masalah besar, tapi tidak untuk sekarang. Jikalau tidak pernah ada rasa menyesal dalam dada, merasa merugi didalam pikiran, atau kecewa karena kelalaian berkelanjutan. Mungkin saya akan melewatkannya begitu saja. Tanpa rasa dosa, atau kegagalan untuk mencapainya tanpa ada harapan untuk mendapatkan yang baik-baik dalam hidup, semua seperti berjalan begitu saja. Tertinggal begitu saja. Sama sekali tidak diinginkan.

Dengan mulai belajar kecewa akan menjadi begitu penting untuk merasakan kehilangan sesuatu, akan terasa menjadi perlu untuk tidak kehilangannya, merasakan harga yang mahal untuk ditebus, jika bisa, bahkan sebenarnya waktu tidak bisa dibeli dengan apapun, … Mulailah kecewa dengan segala hal tersebut, mulailah belajar untuk berusaha lebih untuk tidak tertinggal, melepas begitu saja kewajiban beribadah, sudah seharusnya lebih cepat lagi ‘tuk bergegas mengambil air wudhu dari waktu sebelumnya untuk mendapatkannya sesegera mungkin. Tanpa ada hutang ibadah.

Sejauh ini yang dikerjakan selain bekerja sebagai type designer, berjualan preloved adalah bagaimana melanjutkan hidup, tak seputar uang semata, menjalani hal-hal biasa tanpa perduli seberapa banyak isi kantong, saldo rekening, atau hutang-piutang kepada kawan, yang mungkin terasa tidak penting, atau penting, yang mana pada rasa-rasanya itu didapatkan dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sepeti biasa-biasa saja, perasaan tadi hanya ‘tuk sementara. Tidak kurang tidak lebih, yang berarti tidak akan selamanya akan seperti itulah kehidupan. Meski yang saya tau jika melakukan sesuatu harus berkelanjutan: dilanjutkan, atau ditinggalkan, ditingkatkan, atau diturunkan, dipertahankan, atau tidak dilakukan lagi dan lain sebagainya. Hanya hari-hari biasa seperti inilah yang mungkin juga akan terlewatkan begitu saja ketika dipikirkan nantinya. Mungkin, 1 tahun, mungkin 5 tahun, mungkin 10 tahun lagi, tepat setelah tulisan ini dipublikasikan. Pada akhirnya semua hal akan terlihat biasa-biasa saja, yang akan dilupakan waktu, ketika hal tersebut sudah tidak dirasakan penting lagi. Jadi penting tidaknya tulisan berparagraf-paragraf ini, sampe sekarang saya sendiri belum mengerti untuk apa tujuannya saya menulis sepanjang ini. Entahlah. Yang pasti ketika ada yang saya sukai, maka akan saya lakukan, namun bila, ada yang saya tidak sukai, maka akan saya tinggalkan. Seperti itulah sebenernya yang dapat saya sampaikan.

Setelah belajar untuk menyesal beberapa bulan lalu, untuk saat ini saya rasakan perbedaan dalam diri saya sendiri, dari dahulu yang serba rem blong, atau entah apalah itu yang seperti itulah saya, kini semua dijalankan untuk tidak merugi, tidak merasakan keburukan terburuk bisa saja terjadi, memang selalu ada kemungkinan terburuk dari harapan yang terbaik. Yang artinya bukanlah sekedar profit, benefit, atau diantaranya, tidak selalu seperti itu juga ya, asalkan waktu menjadi sedikit bermanfaat saja, itu terasa bukanlah sebuah penyesalan yang mendalam dalam hidup. Sedikit peningkatan daripada tidak ada sama sekali. Sedikit-sedikit ada peningkatan saja sudah lebih baik, daripada tidak sama sekali. Setidaknya menuju jalan yang lebih baik setiap harinya.

Telat datang saat berjanjian dengan E didepan hotel melati, hingga A memberi tahu kalau sudah menunggu 1 jam lamanya, kecewa gara-gara tidak melanjutkan cinta dengan pacar pertama saat SMP, saat melihatnya sudah ditemani dengan buahhatinya, tidak berniat serius untuk menyatakan cinta dengan teman sekelas saat SMA, saat teman-temannya mendekatkanku dengannya, tidak dirasakan penting juga untuk mencari wanita, saat tau teman yang disukai ternyata sedang punya teman dekat lain, saat di Universitas, atau mencari target istri saat akan kerja di toko, lebih malu saat berbicara dengannya, entah kenapa. Hingga berbagai macam yang lain sebenernya penyesalan-penyesalan yang sudah menjadi sejarah, riwayat percintaan yang biasa-biasa saja sebenernya, ini baru berbicara cinta saja ya, belum kehilangan-kehilangan yang lain. Sebenarnya masih banyak juga yang lain dari ini. Ya lebih banyak lagi, lagi, dan lagi. Semua mengecewakan, menyedihkan, kadang teringat-ingat ketika sedang lelah bekerja di saat malam.

Saat waktu terasa begitu lambat, disitulah mulai hidup lebih bernilai dibandingkan sebaliknya, melebihi hidup sebelumnya. Serasa ada hal yang punya ikatan lebih dari sekedar membuang waktu atau mengerjakan sesuatu. Melebihi hal tersebut. Ketika semua terasa begitu cepat, hal ini tidak didapatkan, serupa melewati masa kuliah dahulu, waktu berkumpul dengan teman-teman, mengerjakan kerja praktek bersama-sama, datang ke Jakarta demi mengumpulkan data-data, ‘tuk menyusun skripsi, mengerjakan proyek musik personal, melamar pekerjaan online dengan membantu membuatkan aset desainer grafis di marketplace, mencari pekerjaan offline desainer grafis, bekerja di toko stiker, keluar kerja, untuk merampungkan revisi skripsi yang terlantar menahun, mengidap penyakit jiwa disaat bersamaan mampu merampungkan skripsi yang tertunda, melamar kerja dengan mengirim cv, ijazah, portofolio, namun tetap tidak mendapatkan pekerjaan tetap lagi, tetapi tiba-tiba diterima di marketplace, menjadi seorang type designer yang minim produktifitas bahkan hanya 1 portfolio saja dalam 2 tahun terakhir.

Saat waktu mulai membuat rasa yang tidak bisa dijelaskan lagi. Disana hidup kembali dimulai, kembali kepada keputusan awal. Belajar banyak hal, bekerja lebih giat, serta lebih banyak hal yang harus dikerjakan, yang penting, yang medesak, melupakan yang tidak penting, tidak mendesak, demi mendapatkan uang, atas nama hidup, bukan atas nama tuntutan kehidupan seharusnya. Kalau hidup dituntut seperti ini-itu, saya terkadang menolak mengikutinya, tapi jika saya hidup mengatasnamakan renjana, terasa lebih layak dijalani, lebih nyata saja bagi saya. Pantas untuk dikerjakan sebab memang itu yang dicintai. Meski terkadang harsat bisa meredup atau bisa pula hilang sementara. Hidup hari ini adalah menjadi mandiri dari awalnya adalah seorang yang menjadi beban keluarga, berubah menjadi seseorang yang membantu keluarga, sangat bersyukur sekali jika bisa seperti itu, membantu orang tua bahkan bisa membatu orang banyak. Aamiin… Semoga saja demikian.

Sekarang tinggal dilakukan sebaik mungkin, selayaknya bekerja dahulu, seoptimal mungkin jika tidak bisa maksimal, atau besok sudah tidak dapat dilakukan lagi, terlupakan, tidak dikerjakan lagi. Malas, bosan, ditinggalkan begitu saja.

Lebih baik dikenal orang bukan karena menjadi seseorang yang selalu berusaha, daripada dipahami sebagai seorang yang tidak selalu menyerah.

Menjadi lebih baik lagi. Menjadi diri sendiri. Bekerja mandiri.

Ya gitu deh, sosmedan, chatingan di wa, ama nulis2, font malah keanggurin

Gue freetalk lagi ye, maaf buat edit2 atau milih2 tulisan yang bagus, entar dolo deh. Penyakit gue selaen nulis jelek berkelanjutan, ama rekor buruk di pendapatan bulanan. Wah beneran dah, duit gue tipis coy.

Soal pekerjaan, ama cinta, skip dolo, gue dah selalu berdoa, meski jalan gue selalu sosmed lagi, sosmed lagi, gak ketemu cewe atau orang 3D, ya gitu deh. Dah gue gak mau bahas pekob2an dolo. Skip dah. Tenang kerjaan dikerjain kok.

Gini gaes, sekarang gue lagi nikmatin buat moodboard, ama ngejalanin proyek laen. Kaya mulai bikin postingan2 fb, yang mana throwback2an, alias 10 tahun mundur kebelakang. Sebenernya dah banyak banget yang buat kaya gini, cuman gue mulai lagi weh. Buat ngebalikin memori gue, yang giat2nya produksi portofolio, atau berkarya.

Gue pengan banyak share di FB, IG, T, TT, YT, atau sosmed2an gitu, cuman duh euy. Masa gue mesti jualin abokep yang mana itu draft, mentah juga, gue dah ngoper ketemen katanya ya gitulah, gak tega aing ngomong tulisan buruk gue itu kaya apa, gitulah, jelek weh. Nah itu kan mau gue revisi, kok, rasanya males euy, rasanya pengen baca2 berita soal masturbasi, kok gue males juga. Dah gue baca2 soal2 itu di detik, gue baca2 judul, pindah2 page, halaman ke halaman gue pilih, baca2 judul, kok males gini nyari bahan atau ide buat nulis abokep. Males juga kayanya gue masukin ke daftar pekerjaan atau daftar waktu iseng gue.

Gue suka vituber, gue suka vlog, gue suka konten2 kaya gitu, tapi lama2, gue kok kaya cuman pengen tau dia tuh produksi konten apa, gimana buatnya, apa yang disampein, gimana cara mereka ngebawain diri atau personanya ke subscriber, atau gimana ngejalanin live stream. Dah gitu doang. Sampe sini akhirnya paling gue liat2 clip2 soal vituber. Dah gitu. Gak penting.

Gue rasa waktu yang berharga gue emang gue investasiin cuman buat ngehibur diri, ngerasa nikmatin idup, padahal idup gue teh butuh duit, butuh buat produksi duit weh. Emang gue gak berpenghasilan tetep sih, terus emang jomblo, terus dirumah cuman berdua doang ama nyokap. Terus gue kerjaan font belom rampung2, mau ngerjain abokep, zine gue lanjutin, males, lagi males2nye, padahal bangun pagi kok, ngopi sachetan, ngebako tingwe. Gue dah jalanin idup weh gitu.

Em, jadi gue teh apa ya. Pemales. Gue pemales menahun.

Gue butuh schedule, gue buat daftar kerjaan, buat daftar jadwal harian, gue dah buat senen-minggu, pokoknya apa yang mau gue kejar gue buat weh gitu. Pokoknya ya ada yang disibukin gitu, rajin weh buat perencanaan, tapi selalu kepotong lagi males, lagi gak mood, atau sibuk sosmed, atau buang2 waktu, yang mana, seperti gue bilang ~gue butuh duit~ jadi kumaha iyeu teh? Rek gawe moal sih? Aing teh kumaha sih?

Tulisan gue, belom sempet gue revisi, abokep masih draft yang belom gue perbaiki secara penulisan atau outline-lah, dasarnya gitu, gue gak fokus, gue juga kurang berusaha keras, gak maksain weh gitu.

Gue selalu ngeluh! Gue gak solutif, gue selalu berharap, gue selalu berdoa, sementara orang2 baek yang ngajak ngobrol gue selalu gue tepis masukannya, kadang ya emang gak perlu dengerin orang, tapi da kudu tau pendapat orang laen juga sih kata gue. Gak mungkin satu pendapat, atau gak mungkin pendapat gue bener teros, kumahanya maksudnya, selalu ada ruang dialog gitu. Jadi orang ngomong mah, dengerin weh.

Nah… Permasalah gue apa?

  1. Font belom rampung, diistirahatin.
  2. Jualan belom update stock lagi.
  3. Abokep mau dilanjut, tapi gue malah males2an lagi.
  4. Kerjaan laen, kaya buat status, sosmedan, upload2 karya lama, gue post. Sepi engagement.
  5. Gue belom buat lagu2 lagi, buat ngejalanin Konsumsisaya, si KS teh belom lanjut euy. Males.
  6. Olahraga, dah lama juga gue gak jalan-jalan-sore, atau sekedar jalan2 gitu. Males juga.
  7. Penelitian sok2an, ala S2 belom gue lanjutin lagi. Kadang lupa ama nulis light novel gue.
  8. Ibadah gue juga masih belom lengkap, kadang males solat, terus ngaji gue lumayan rutin sih, dapet insight sih dari terjemahanannya.

Ya gitu gaes. Gue kayanya kebanyakan nulis di sosmed, atau ngerjain yang kaga penting2, hepi sih gue ngejalanin abokep, sempet gue tulis kaya kata pengantarnya. Terus belom gue edit, revisi, belom proofing juga. Males juga.

Duh, pengen punya IP, tapi belajar buat merek, produk, aja kaya kurang semangat, padahal gue bisa sih buat gituan, ya emang perlu duit juga sih buat ngedaftarinnye ke HAKI, atau apalah gitu yang bayar2 ke pemerintah. Ya jualain2 weh barang2, entar duitnya buat IP, tapi da IP-nya juga open source, sok kumaha tah? Rieut pan? … Gratis tapi ada pemiliknya. Ya buat dilindungi pemerintah. Tapi dasar awal gue buat abokep ya ramah pisan, open source, tapi kayanya gak ada juga yang ngontak gue buat kerja sama buat proyek ini. Lagian emang kaga ada duitnye, terus emang gak menarik kayanya buat tulisan bokcolcrot, atau berenti bokep, atau soal aktivitas seks individu kaya gini. Gak tau dah, pokoknya abokep, gratis selamanya.

Terus mau ngomong apa ya? Emm, gini gaes, kadang bener banget kata temen FB, kudu bisa jaga ritme, rem, gas, gaspol, rem, gas, gaspol, gitu2, terus jangan FOMO, jangan juga ngejar duit, terus jangan jadi kaya yang gak jelas. SIngkat2 aja, okeh gue bahas, gue lagi maenin ritme kerja gue, gue lagi ngejalanin renjana gue: abokep, konsumsisaya, terus gue lagi ngatur ritmenya biar gak bentrok ama fon gue, terus buat FOMO, gue juga dah gak seaktif dulu bersosmed sebenernya, banyak sr aja, silent reader gitu, soal jangan ngejar duit, ya gue enjoy sih ngefont, ya ngejar duit sih sebenernya, tapi, ya dijalanin weh. Kata temen fb gue, segala yang pengen duit instant, bisanya gak kesampean, terus ditinggalin aja gitu, kerjaannya teh.

Gue sayang banget ama nyokap, abang gue, idup gue ditanggung ama mereka, gue belom mandiri, gue juga kekanak2an, terus apalagi ye, soal bokcolcrot, skip sih, gak penting, terus apa ya gue mau bilang teh… euhhh gini gaes, kalo gue cinta font, gue nikah aja ama font, punya anak font2 juga, gitu kata orang teh, duh… Gak usah mikirn Ibu, Abang, pikirin weh font, terus weh eta, dalem poin ini, omongan ini teh ngebekas pisan di otak gue euy. Gue kepikiran terus soal ini teh. Berhari2? Enggak kayanya dah ampir sebulan. Banyak omongan yang laen gitu juga, gue kepikiran terus, kok bisa ya omongan orang yang secara psikologis ngedukung gue, tapi kaya ngasih penjelasan lo jalanin weh, tapi asa gak masuk gitu di logika teh. Maksudnya, asa salah gue teh, dah ngejalanin ini teh euy. Asa terjal pisan rek ngadaki teh?

Emang sih font belom ngehasilin, masih proses produksi, terus emang kadang gue ngerjain yang laen2 juga, ama mungkin jadi lama, gara2 gue ngerjainnya gak ada deadline sih.

Nah ya gak gitu juga sih, maksudnya, masa gue gak mikirin keluarga, gak mikirin nikah, malah asoy bokcolcrot, atau ngerjain hobi, atau hiburan, ya enggaklah. Gue ngeles weh, iyeu mah.

Gue apa ya? Gue gak komitmen, eta hungkul.

Geuslah, komitmen kudu dicatet euy.

Gue nerima kelemahan, kelebihan gue, meski jangan ngerasa sok artist atau pro, jangan pernah ngerasa diri lebih dari orang laen, terus ngerendahin mereka, ya bukan gimana2, jangan sombong weh. Maksud gue gue kadang suka gitu sih, sok sombong, sok asa agul kitu. Tapi skill gue juga gak terakreditasi ‘artist’, bahkan gue sadar gue teh gak ‘pro’. Jadi apa yang mau disombongin ama gue sih, cupu gini banyak omong. Tapi da kalo gak ngomong, entar gue gak bisa curhat lagi, bingung?

Jadi buat font, dinikmatin weh, meski ngebosenin, … Mau ngerjain yang laen2, inget fon juga belom diselesein, belom dikerjain, mesti dikerjain tiap hari, biar cepet beres. Soal laen, kayanya gitu. Apa ye? Gue teh kadang suka ama hal2 yang gak penting yang gak ngaruh ke nambahin isi saldo rekening, atau hal2 remeh temeh yang duitnya itu kaga ada, gak bisa diduitin, gak bisa dikerjain, jadi duit gitu? Gitu…

Ya alhamdulillah, gue dah punya ijazah, dah punya kerjaan tetap, tapi duit atau penghasilan gue emang belom bisa buat jaminan idup. Gak usah jaminan iduplah, buat idup sebulan weh, cukup gak sih 100-300rb? Apa iya gue mesti minta bako, quota ke nyokap, minta makan, atau ngeberatin dia. Sekarang gue sadar, font yang dulu gue kejar dari 2013, di 2022 malah kaya ngasih tau gue kalo, heh Asep, lo teh mau jadi type designer enggak? Mau serius disini kaga sih? Kok gak bener2 komitmen buat ngerjain fon sih? Malah new project2 mulu? Apa gak pengen beli laptop? Tablet? Atau motor? Katanya lo teh mau maen sama temen2 lo, buat hiburan dari kerjaan? Katanya lo teh mau bisa idup dari fon? Tapi kenapa lo gak ngehidupin fon? (Gak ngerjain?)… Dah… Gue kaya digituin weh? Ya, gitu weh.

Sekarang, atau nanti, atau kapan gue mau berenti nulis.

Maaf buat diriku, maafin ya Sep

Kalo boleh dibilang, kerja atau komitmen itu masalah besar gue selama ini. Kalopun dipaksain, da emang dah umurnya sih. 33th bro, kerja teh udah bagian dari idup sehari2, bukan hal yang asing atau dah bukan hal yang gimana2 gitu. Soalnya buat idup mah ya emang butuh kerja.

Komitmen gue buat milih kerjaan, ya font, atau seller online, tapi kan gue pernah nulis soal gak mau dibatesin atau ada kotak2an soal idup. Atau soal batasan masalah ama 1 hal aja. Bisa dibilang ada kemungkinan2 laen yang diluar jalan yang udah gue pilih. Bisa banyak hal sih.

Ya maksain diri buat dijalur yang sama kaya gini, suka banyak godaan, suka ada orang yang gak suka, atau gak setuju, gara2 beda pandang, atau menurut hemat mereka ya, gak gitulah, lo nganggur ya nganggur aja. Atau soal kepastian idup, atau pengen idup nyaman.

Banyak hal sih yang bisa gue obrolin soal gue pribadi. Tapi gue batesin ke komitmen kerja deh. Atau pilihan idup gue buat milih kerjaan ini. Bisa jadi emang bener juga, gue lagi diingetin Allah SWT, hey Asep, nih ada pandangan baru, nih gak gitu, ya mungkin memperluas pandangan gue yang sempit atau hasil yang gak gue pengenin.

Banyak soal ini teh, jadi kepikiran sih. Berhari2 malahan. Gue belom pernah kepikiran separah ini sih. Jadi kaya ngeganjel gitu gaes. Kaya gue tah apa ya… Kaya ada weh terus dikepala teh. Gue gak mau bilang itu apa, cuman ya kalo soal gini aja gue berenti, sayang banget waktu yang gue perjuangin, atau tenaga, ama pikiran gue, energi yang gue keluarin selama 9 tahun. Cuman berenti, gara2 hasil, atau gak sampe target.

Gue udah ngefraktalin semuanya, iya apa aja gue tulis, gue curahin semua, sampe gue ngerasa: sia-sia, tapi bukan putus asa, atau mendekati itu. Gue pengen banget berusaha lebih, dengan Mendekatkan Diri Ke Maha Kuasa, minta, bener2 minta, ampe jalan itu terbuka, tinggal gue sendiri buat milih itu. Kaya: jalan yang dipilih mau dilanjut, atau berenti sebentar, terus tetep jalan terus. Atau cari alamat lain, temuin jalan baru, sebenernya gak baru2 amat sih, gue dah tau ini dari kuliah sih, dari hasil kurang tidur, santei2 tapi tetep sibuk banyak kerjaan, banyak yang dilakuin, tapi soal pemikiran gue yang mundur, emang gak mungkin lagi gue balik kebelakang, atau berkunjung lagi ke sana. Udah bukan waktu yang sama, dah beda, rentang waktunya dah geser. Kalo gue pilih sih, iya gue juga kecewa atuh, target gue gak kesampaen, atau bantuan2 orang laen juga dah tau, sifat gue kaya apa, tapi yang terburuk dari itu semua. Kok gue kaya gini2 aja, atau tetep stay aja gitu? Kaya yang nikmatin. Ngerasa cukup. Ngerasa betah.

Ya kalo boleh bisa dibilang sih, komitmen teh, masalah gue dari dolo, atau kurang maksain, gak ngotot, giliran ngotot gak konsisten, gak tegak gitu, tapi da kalo diluaran mah, gue mah santei sih. Ngalah aja, ngasih jalan buat orang laen, punya jalan yang beda. Kalopun hal yang bikin gue gagal itu teh dah kaya hasil akhir, ya bukan juga, gue masih idup nih, gue masih bisa nulis, gue masih bisa ngapa2in, meski terbatas dengan segala kelebihan juga, ama mungkin, mungkin gue coba ulang lagi, hal2 yang dolo gue lakuin, nyanyi2 pas ngerjain tugas, nikmatin lagu, atau maen gitar, belajar, kerja, atau ngobrol2, ngongkrong2, meski ya seperti dah gue bilang, udah bukan zamannya, dah lewat fase itu teh, dah bukan kaya gitu atuh, da idup gitu2 aja juga, bakalan kemakan sama perubahan, sekecil apapun itu, pasti weh ada perubahan.

Dolo bayi, terus sekarang dewasa muda, perubahan, pertumbuhan, perkembangan, atau apalah itu, yang gitu2lah. Gue bilang sih, gue salah sih, terlalu nyaman, ama terlalu maksain, berikut hasilnya belom sampe target. Kalo pun target gak kekejar, gue salah management waktu. Gue salah udah bikin waktu gue terbuang, sementara kebutuhan idup gue terus minta masuk rumah, gue dijalan aja terus, gue jalan2 gak tentu arah. Malah kaya yang muter2 gitu. Padahal gue tau gue bakalan pasti pulang ke rumah. Bakalan tidur di rumah. Bakalan, beristirahat dirumah. Soalnya kemana lagi gue pulang? kalo bukan ke rumah.

Rumah kontrakan. Rumah yang sebenernya juga bukan keinginan keluarga gue. Tapi betah sih, cuman kalo gue balik lagi, liat rumah gue yang nyaman, atau nikmatin rumah yang dolo, atau yang sebelomnya lagi, atau mungkin rumah almarhum Nenek gue. Mungkin bakalan mundur2 terus sih mikirnya, ya dolo mah bagus, terus sekarang jelek. Pokoknya yang diambil teh yang bagus2nya aja, sementara yang jelek gue lupain. Padahal dah jelas2 gue gak kemana2 gue masih ada dirumah kontrakan ini, tapi pikiran gue teh kaya ada dikamar gue dolo. Mau nangis sama diri sendiri, udah sia2in kesempatan, udah banyak ngelakuin hal yang gak berguna, selaen dapetin pelajaran yang banyak gue dapetin dari pengalaman gue.

Soal idup kan gak bisa tetep sih, orang gue juga bakalan mati, atau mungkin sakit, tapi da alhamdulillahnya gue sehat kok, bersyukurnya gitu. Gue masih bisa ngelakuin semuanya sendiri. Bisa milih yang baek, bisa jadi orang baek, yang menurut orang gue baek, gue soleh, gue polos, kadang banyak ngomong yang gak perlu diomongin, kadang suka ngebodor garing, yang mana gak sesuai tempat, kadang juga ganggu dengan kekurang2an gue, atau gue terlampu kurang ambisi buat jadi orang yang lebih baik setiap harinya.

Ah kayanya tulisan ini makin gak jelas, makin gak tentu arah. Tapi bener deh, pengen komitmen buat kerjaan lebih baik, bukan berarti ganti job, tapi lebih ke ganti langkah gue dengan mungkin gue lari, sampe rumah, atau gue jalan pelan2 aja, terus hari udah malem, gue ditungguin orang tua gue, sementara mereka bingung. Mereka gak tau kalo gue, dah jalan kaki gak tentu arah, buat sekedar keluar dari rumah. Jalan yang panjang. Tapi rasanya enak banget pas nikmatin susana, rasanya teh kaya lepas dari kebosanan, ngerasa bebas, keluar dari rutinitas, kaya apa ya, bisa berpetualang gitu, ngebolang!

Dolo salahnya teh gue gak cerita, eh… Cerita sih, tapi lewat tulisan aja, terus mulai deh gue delusi, mulai dehhh, panjanglah ceritanya.

Pokoknya gue punya visi kedepan, gue punya sistem, punya management, punya kemampuan, punya nilai tersendiri. Iya gue tau ini keliatan kaya braging, tapi gue bingung sih bilangnya yang enak gimana, pokoknya gue punya dasar sih, punya bekal, punya hal yang bisa gue perjuangin.

Ya buat sekarang sih gitu aja gaes. Kerjaan gue berantakan, tapi dah gue rapih2in sih. Malah istirahat, tapi ngerjain kerjaan yang laen, bagusnya sih selesein satu2, tapi kalo gak gue kerjain yang laen2, sayang, gue suka tiba2 banyak ide, banyak input gitu, jadi langsung ke proses, pas outputnya butut, gue ganti lagi sama ide laen, jadi yang ada satu kerjaan ditunda, pindah ke kerjaan baru, yang mana jadi nambah2 kerjaan aja sih. Ya bakalan gak selesei2, soalnya gak fokus.

Target hari ini sih, buat outline, gak tau juga sih buat apa, ada 400 outline, ini kaya ngelatih banget buat nulis. Tapi skemanya gitu2 aja sih, klise, malah kadang tadi pagi gue ketawa2 sendiri, baca outlinenya, kaya lucu aja gitu, kaya nyindir, tapi kalo mention malah jadi narik konfrontasi, nyerang. Giliran diganti, malah kaya gak apa2 gitu, jadi kan gue buat no sara, no debat, no gibah, atau sok2an tulisan gosip tapi semodel tulisan propaganda, hahaha, jatohnya malah jadi kaya tulisan orang mau nyindir tapi gak berani, mau galak, tapi cuman tulisan doang, berani gelut mah kaga, ya gitu, sok serem gitu. Hahahaha, lucu dah pokoknya mah, komedian pisan aing.

Soal kerjaan emang harus dinikmatin sih, komitmen udah dibangun, jadwal harian dah gue buat, terus sosmed dah bisa gue baca, temen2 yang remaja atau nak sekolahan gitu, ya gitu2 weh. Atau artworker yang lagi belajar anatomi, sama caption lawaknya, kadang komen2nya lawak juga, ngetroll, ama beberapa artist juga ngeupload gambar2 yang keren2, sementara gue cuman repost artwork buat dijadiin pp, bg, yang mana gue sadar, cek ombak, cek pasar, ama nulis ngaco seenak jidat, buat captionnya. Parah dah, gue berasa 2016 lagi, pasca kerja, resign, gue buat2 karya, yang menurut gue bagus, atau kebencian gue, ama boss. Asli ni udah clear kok, cuman ya gue jadi inget, ngapain juga gue mesti buat tulisan2 benci ke orang, orangnya gak tau, orangnya gak denger juga, atau orangnya juga gak bisa diajak ngobrol. Buat apa juga, ya?

Tapi ya biarinlah, da eta mah, keur emosi, jadi weh suka2 aing weh. Akhirnya gue tau. Kerja, ada gak enaknya, gak kerja juga sama gak enak, tapi lebih sakit lagi, pas tau yang dah sakit gue teh, ya gue pribadi, kenapa gak buat itu baek2 aja, atau ya minimal gak usah dipikirin gitu, skip2 weh, tapi malah dipikirin terus, kaga jadi duit juga. Malah waktu2 itu, bikin gue jadi bisa lepas emosi. Lega banget dah.

Sayangnya yang tau gue ya keluarga inti aja sih, soalnya gue bisa dibilang kadang sulit dimengerti, atau bahkan kadang dibilang aneh, ya karena gitu, gue sendiri aja kadang2 suka bingung. Naha? Kunaon? …

Ya gitu aje gaes. Cerita gue soal gue yang ngerasa dah baekan, ngerasa udah bisa kerja, dah sedikit2 fokus, gue hari ini paling tidur 3 jam sih. Makan ampe malem aja, obat pagi ama malem dah diminum. Cuman tinggal tidur aja sih sih sekarang. Cuman gue bingun hahahaha, ni font baru kerjain 1 glyph sih, apa bener gue bakalan mati kalo gue milih bikin produk dibanding kerja sebagai desanair grafis yang service base. Yang mana duitnya bisa dibilang lebih pasti.

Tapi gue gak mau kerja kaya gitu euy, asli. Gue dah milih product based sih, kalo bisa sih dua2nya, tapi entar dolo lah, gue buat portofolio dolo, ni juga kok malah buat CV, kaya yang mau kerja diorang ja, padahal males banget keluar rumah, buat kerja, ya kalo gak kerja mah, keluar paling jalan2 aja, keliling disekitar rumah buat refreshing gitu. Nah sekarang gue mau bilang: resiko kerja sendiri teh gitu, untungnya Ibu gue masih ada duit, sisa2 THR kemaren.

Ya iya sih gue gak mau juga jadi santei2, gara tau masih bisa idup gini2 aja, dibackingin keluarga, jualan preloved, kan gak bisa ngeidupin gue buat sebulan. Bisa gak gue bertahan idup gini2 aja. Kalo Abang gak ada, Ibu gak ada, gue kemana, ya gimana nanti sih, tapi insyallah font gue rampung, cuman lagi istirahat aja, lagi ngerjain moodboard media aplikasi font apa yang bisa gue pake buat font gue sekarang. Gitu aja sih kerjaan gue 2 hari ini teh.

Hasilnya gue jadi sadar sih. Enak-gak enak mah relatif sih, asal tau resiko ama bisa nge-management aja proyeknya beresnya kapan, apalagi sekarang orang pada gaspol semua, masa gue slow mulu, ngikutlah, fomolah, biar gak stoiksme, biar ngejar finish yang gak sampe2.

Sekarang waktunya nerima kenyataan. Gak segampang itu ngonsep terus buat dummy, pasti hasil akhirnya gagal2 dolo, tapi insyallah bisa jadi rilisan ke-2.

Ya dah gaes, gue AsepCAshBall, mau gawe dolo, biarin dah malem gini, gue masih aja didepan laptop. Ya dah, buat terakhir dengerin deh lagu: MC MV x Doyz – Sans Temps Mort. Cocok banget buat nutup, sekaligus ngebuka tulisan ini. Dah, bye2!

Idul Fitri di Tahun 2022 masehi ni

Crot, tangan gue ada didepan kontol gue, aer mani gue tadahin pake tangan kiri, tangan kanan gue megang satu2nya batang yang gue punya. Gue mulai nge-close Yua Mikami di situs Spankbang. Lagi2 gue gagal nahan hawa nafsu di malem hari, yang katanya hari2 terakhir bulan puasa itu, 10 hari terakhir ye maksud gue teh, nah ini teh dihari2 terakhir gini teh, gue kudu nahan nafsu seks. Dalam pengeritiannya ada kalimat: mengencangkan ikat pinggang, kalo dalem hadist gitu atau apaan gitu lupa, Nabi gitu yang ngomongnya, lupa euy sumbernya.

Tah salah pisan hari terakhir Ramadhan ini teh, gue malah lebih mentingin nafsu biologis: berkembang biak, yang berujung keluarnya sperma dengan paksa. Ya lo tau, dijam 9-10 malem gini, dah kebiasan gue di bulan ramadhan gak solat isya dolo, ampe akhirnya kadang malah solat jam 2 Subuh. Pokoknya solat isya teh ngaret, lah ni gue pake ngecrot, gue bisa aja mandi wajib dolo kaya biasa di bulan puasa tahun ini, tapi gak gue lakuin: kenapa? Aneh, masa malem2 mandi, terus entar sebelom pergi ke solat Id gue kudu mandi lagi dong? Gue mikirnya gitu sih, jadi ya lo tau ajalah, gue males buat mandi dua kali, mandi subuh di hari terakhir puasa ini aja males, padahal lagi malem takbiran, nonton video panas, terus onani, buat keluarin benih2 manusia.

Gue gagal dalem menuhin solat lima waktu di hari terakhir, oh iya Di Islam kalo Isya itu itungannya solat terkahir, sementara subuh itu itungannya teh solat pertama dalam suatu hari. Nah gagal dah, gak tau pahala gue mau dibawa kemana, sementara doa2 gue selalu gak beranjak dari minta Surga Firdaus®, ai yang dikerjain teh maksiat mulu, kan gak singkron, nya? Tapi da kumaha euy, pengen coli, pengen liat bodi mulus, liatin aurat, liat muka cewe imut, liatin mozaik yang nutupin kelamin.

Ah ngaco deui aing teh? Enya euy, kumaha nya?

*****

Selepas gue solat Id, salaman sama tetangga. Terlepas itu nafsu makan gue ningkat, gue makan hari ini dah 9 porsi, dari beli mei instant, makan ice cream, makan ketupat, kari, cumi, pokoknya makan terus. Sempet tidur juga sebentar pas selepas adzan dzuhur, terus sempet diambilin2 ketombenya ama Ibu gue, apa ya nama yang tepat, pokoknya kaya service buat bersihin ketombe manual dengan pake sisir gitu, terus ketombe2 yang terlepas dari kulit kepala, rambut, turun berantakan dari atas kepala sampe hinggap terakhir diatas baju ama celan jeans “bedug” gue. Baru dah gue solat, sambil dengerin majelis ilmu di YouTube.

Terus gitu2 lah, makan2 aja gue dirumah.

Sekarang, gue rasa perasaan dolo waktu gue kuliah gue nikmatin banget, smsan ama temen soal makanan, atau permintaan maaf tahunan yang berulang2 itu, sekarang gue gak nerima apa2 di kontak wa gue, atau gak dapetin apa2 di grup: SMA, Kuliah. Pokoknya gak ada yang ngasih selamet Idul Fitri, atau minta maaf gitu. Eh ada ding, ada2, temen gue Pak Ustadz tea, dia minta maaf di Fb. Terus gak sempet buat bales dimalem takbiran tadi, baru pas magrib gue bales, gara2 gue baru inget belom sempet bales, lantaran gue teh lupa ngidupin inet di hp, ama pas komen teh gak keluar2 ya, epek teh belom hurung atuh koneksi inetna. Baru weh gue bales.

Sekarang gue juga berharap ini jadi tulisan terakhir gue soal Ramadhan di tahun 2022 masehi ini. Sori bor gue males nyari yang tahun arobnye, …

Gitu aje aktivitas gue dihari raya ni. Moga jadi tulisan penutup di awalan gue buat ngejalnin idup buat ngeraih Surga Firdaus®, Nikah ama Berbisnis.

*****

Hari ke-2 Lebaran mah gue kurangin makan, ampe akhirnya dapet makan di Sumedang nikmatin yamien bakso. Bersyukurnya gue banyak belajar buat hari ini. Kadang perlu sesuatu yang biasa2 aja biar dapetin sesuatu yang bener2 dapet dilakuin berulang.

Gue banyak belajar hal yang singkat, tapi general, atau yang spesifik tapi singkat. Apalagi ye, pokoknya gue seneng2 ama keluarga besar Ibu, sama keponakan, dapet THR, meski gue sekarang selalu memposisin diri, buat gue teh dah gak pantes dapet THR, seharusnya gue yang jual, bukan beli, atau seharusnya gue beli, bukan jual.

Maksudnya tuh, gue ngasih, bukan gue dikasih, pokoknya posisi gue teh bukan sebagai penerima, tapi sebagai pemberi, jangan dikasihianin, atau dianggap perlu bantuan, atau gimana ya, ngejelasin jangan nerima wae, tapi kudu mere oge kitu.

Sekarang, buat hari ini, gue nikmatin apa artinya solat 5 waktu, atau tidur, sempet gak tidur siang, ngobrol2 soal hobi, atau impian sama keluarga, ampe ketiduran, tapi bukan gue, abang gue ketiduran, tapi sebenernya bukan ketiduran sih yang tepat mah, lebih ke tidur2an istirahat, buat nyimpen tenaga bawa mobil.

Sekarang gue sadar pisan, posisi gue gak beranjak dari 2013, bahkan, 2016 pun gue masih lebih buruk, tapi gak ada hal yang enak2 aja, mesti ada yang gak enak, bukan milih gak enak, tapi dienakin weh. Biar join gitu, masuk ke dalem idup yang lebih baik dari sebelomnya, gue kudu idup naek gitu, jangan gini2 wae, kudu bisa lebih baik lah. Jangan turun wae idup teh.

Gue teh, masa belom bisa ngasih THR ke Nyokap, masa belom kawin, masa belom punya motor, gimana janji gue buat beliin rumah, gimana utang2 gue yang dah dilunasin nyokap, gimana utang2 babeh, semua dah dilunasin nyokap.

Gue kudu serius, kurangin mikir2 doang, konsep2 doang, bacot2 doang atau hal2 yang gak ngaruh2 amat ke idup gue. Asli, kerjain deh yang jadi duit, apalah gitu, dapetin duit, idup lebih dewasa, kerjain yang ngehasilin duit, buang hiburan2 yang ngabisin waktu ama energi, yang gak produktif. Buang jauh2 hal yang kaya enak2 tapi sama sekali gak jadi duit.

Butuh duit nih gue teh euy.

Ramadhan hari ke-29

Kemaren bangun tidur kaget. Dapet duit 1 juta hahaha, THR dari Abang. Gue langsung dibawa ke Pasar Kosambi, di daerah ini ada toko jeans yang jualan tiap taun. Dolo kalo inget kesini tempatnya kecil banget, sekarang 2 lantei, sama luas banget, cuman gak ada tempat parkir.

Gue dipilihin jeans, ama Aa penjaga disana. Oh iya, kecepetan ye? Temponya? … Jadi gini, gue tuh setengah sadar gitu, pas ngumpulin nyawa pas baru2 bangun tidur, gitu. Ibu ngebangunin gue seperti biasa kalo dah siang teh, kali ini gue sempet denger wah Si Abang hebat, ngasih 4jt Sep, Asep dapet 1jt, Ibu dapet 3jt. Jadi gitu cerita awalnya.

Nah sekarang, balik lagi ke toko jeans di bilangan Kosambi, gue pilih2, tanya2, gue tau jeans ya slim fit, straight udah, ternyata model belel, atau kucel gitu lagi musim lagi, gak tau model biasa aja alias gak kucel gak ada, dibilang “Wash”, iya sekarang mah adanya yang wash, gitu katanya. Ya dah, dah tau kan Emak gue itu kolot liberal, agak kolot, tapi liberal, jadi gak kaku, tapi kalo gue paksain suka bisa weh, dah liberal, kadang kalo dipaksain juga, kadang dia suka bertahan ama kekakuannye. Bener aja dia gak doyan yang model wash gitu. Gue gak pernah ngemasalahin jeans model wash, yang gue cari awalnya cuman slim fit doang. Tapi pas gue dapet ada yang nomer 34 slim fit, terusa ada straight cut 36, gue cobain.

Di kamar ukur ini, gue nyobain sambil ngebuka celana pendek gue, celana “pergi”, gue pake uprock83, calana yang tahun 2020 lalu gue beli, waktu itu gue beli gue kira teh celana sontog, gue beli ukuran XL, yang didapet malah pas dilutut, emang sih gombrang, enak dipake, gak pernah bikin gak enak dipake. Cuman ya gue salah beli aja, gue kira sontog. Eh gak taunya celana pendek pas dilutut. Terus sekarang, sempet kena silalatu bako gue. Jadi ampir bolong setitik, cuman gak bolong2 bener2. Gue waktu pertama kali kira bolong, yah gak bisa dijual dah. Gue mikirnya gitu, tapi mungkin emang celana ini gak bakalan gue jual juga sih, enak makenya. Nyaman, biarin gak sontog.

Kembali ke ruangan ganti, gue cobain, ternyata yang slim fit ukuran 34 teh, sempit pisan, kaya jadi celana straight atau celana pensil ala anak emo, atau strech gitu, bener2 dah, gue over weight. Sampe gue paksain resleting, wah gue jadi inget lagi waktu berat badan gue 65, terus jadi 75kg, terus jadi 85kg, nah pas masuk 80kg gitu, itu restleting jadi bermasalah dah. Gue paksain naekin ke atas pinggul, meski emang cowo gak ada pinggulnya kaya gitar spanyol gitu, iya tetep kok cowo punyap pinggul cuman beda aja gak kaya cewe yang masuk kedalem. Nah, gue paksain bisa, ini kasusnya celana gue dolo. Sekarang gue gak tega maksain celana baru ini, takut kenapa2, entar suruh beli lagi. Ya dah gue putusin, buat langsung bongkar, terus nyobain straight cut ukuran 36, pas gue pake, langsung pas di pinggang gue. Gak perlu dipaksain naek ke pinggul.

Emak gue ngetok pintu, Sep, gimana celananya? Ibu pengen liat, gue kasih liat aja dengan buka kamar pas. Wah udah cobain yang 35, kata Ibu teh. Nyokap gue saranin buat ukurannya dinaekin 1. Tapi gue bersikukuh di 36 soalnya nyaman. Udah aja yang 35, olahraga, diet, turunin deh berat badan. Dia ngasih saran tambahan, gue dengan ketus jawab: dah gak usah, 36 ajalah. Seketus2nya gue kudu bisa jaga omongan, buat gak nyakitin hati nyokap, soalnya dialah orang yang ngelahirin gue kedunia, yang mana katanya sakitnya cewe, atau batasan sakit cewe itu 1-4, nah kalo pas ngelahirin itu sakitnya tuh di tingkat 6, ngelewatin batas sakit, +2 sakitnya teh. Dah weh gue balik ke stand tadi, terus nyari model laen. Terus balik cobain lagi. Akhirnya gue beli yang ukurang 36 semua, ada yang 1 straight cut satu lagi slim fit, yang mana dengan model slim fit pun keliatannya masih sama aja kaya staright cut, beda sama zaman gue 34, ukuran ini slim fit ama stright cut, keliatan jelas, kaki gue berasa seimbang kalo slim fit, sementara kalo staright cut, di ukuran 34 ini kaki gue kaya ngilang, gak semenonjol slim fit.

Beres dari sana, gue beli baso Bintang Avon, ibu pengen pake pangsit, gue mutusin hal yang sama. Kita beli 2 porsi, dengan rasa Yamin Manis, bakso, pangsit, sekitar 74rb keluar dari kocek Mother gue ni. Ujan masih turun tuh, dari awalnya belanja daging ayam di Supermarket di jalan Sunda, Terus sempet ngambil duit di Circle K, terus sekarang beres belanja jeans, pesen bakso. Sampe akhirnya kita berdua balik lagi ke toko jeans tadi. Dah bawa barang2 semua, sama perintilan ketupat 45pcs.

Gue disuruh pake hp nyokap, ya gue gak punya hp, terus gue pake hp barengan nyokap, terus sekarang gue dikasih amanat buat pesen gocar buat ngater kita ke rumah. Sayangnya batre soak, terus minta nyolok kabel, pada gak ada, akhirnya naek bus ke Padasuka. Ibu pulang ke rumah naek ojeg, gue jalan kaki dari Padasuka ke rumah.

Sampe rumah gue bersyukur. Oh iya pas di perjalanan juga kita ngobrol2. Mother gue bilang: wah doa Ibu terkabul, nanti kalo ada rejeki Asep dibeliin jeans 2, makan baso Bintang Avon, terus pulang. Gue ngeiyain, iya Bu Alhamdulillah ya!

Gue dapetin pengalaman lagi, mengulang pengalaman gue, kalo fon lama beres, kasian nyokap euy, beraharap dapet duit dari kerja gue, tapi fon malah gak selesei2, lama ngerampunginnya. Ya duitnya jadi gak dapet2, malah bikin dia makin gemes, atau putus asa ngeharapin anaknya ngasih THR yang jadi idaman2nye dari dolo, sebelom yang laen kaya punya Cucu, atau material2 laen kaya rumah, motor, sementara kerja gue masih buruk kaya gini, ngefon lama.

Sekarang idup padahal enak, berhubung Abang dapet duit, sementara gue masih ngerjain fon yang lama itu tea. Padahal orang2 buat fon family pada ngebut. pada kelar banyak pula produksinya. Bener2 ngaco dah, …

Jadi sekarang mah, kurangin ngeluh, banyak kerja, bikin fon yang banyak, dapetin dolar, bikin nyokap seneng, terus gue nikah ama cewe secakep yui hatano, sebaik sesolah Ibu, sekompeten bekerja, berbisnisnya Cristina Lie. Pokoknya ini welah buat sekarang mah.

Selamet Ramadhan, eh selamet Idul Fitri. Semoga kita terlahir kembali jadi orang yang tanpa dosa, tapi berbuat lebih banyak lagi kebaikan, ibadah ama jadi orang baek2. Dah welah idup gue mah jadi gini welah. Aamiin.

Bye2!

Ramadhan hari ke-28

Improve dikit2, kerja dikit2,
baca buku dikit,

doa banyak, banyak minta, banyak pengen,

Kali ini gue buat outline dolo deh.

Gitu aja sih kerangka berfikirnya. Sedikit ya dapetnya juga sedikit, banyak juga belom tentu dapet banyak. Ya lagian ningen mah kaga ada puas2nya, selalu pengen lebih.

Okey, gue cerita dolo deh: gini dolo kan gue pernah ceritain soal les private illustrasi buat masuk institusi pendidikan negri yang gue pengenin tuh. Itu dalem 2 semester, gue dapetin perkembangan yang banyak, soalnya gue kerjain itu fokus, sehari2 ngegambar, gak ada yang laen selaen gambar. Ya? Iya lah, rang gue gap year, berenti sekolah, buat kuliah, sementara waktu gap year tadi gue pake les gambar.

Dari awalnya maen PES, FM, ngoleksi kaset pita, ampe akhirnya sadar diri, gue gak bisa idup gitu2 aja, ampe gue juga serius di tempat les, soalnya gue pengen masuk di tahun ke-2 itu. Tahun pertama, pas gue lulus SMA, gue gagal masuk, di tahun setelahnya, si Gap Year itu, gue les kan. Nah gue pengen masuklah, leslah setaun.

Hasilnya memuaskan, temen2 gue buat gambar tradisional, dibawah gue, gue juga belajar cara ngegurat pensil, tekanan pensil, ama teknik2 laen saat ngegambar.

Jadi… Jadi ya gitu gaes, kalo mau usaha lebih pasti bisa, biarin itu butuh konsentrasi, eh, bukan deng, lebih ke konsistensi, ama mau usaha lebih, mau bener2 ngemaksimalin coba2, mau belajar, ama mau bisa weh.

Dah gitu aje kok ceritanya.

Terus doa2 gue yang banyak, gak dijelasin? Enggak, gak usah.

Doa gue harusnya dilanjutin jadi aksi, gue mau ini, mesti doa dolo, dah, nah baru dibuat rencana, udah, nah sekarang dibuat tindakan yang mesti dilakuin sehari2 apaan, nah itu.

Tapi ai gitu mah doa teh gak penting atuh ya? Tinggal langsung weh buat rencana ama tindakan sehari2? Bisa iya bisa enggak, soal doa2, gak bisa dilupain sih, soalna, kan kaya mindset nya? Kaya berfikir gitu, kalo gak dimulai dari doa, ya gak bakalan inget soal ini bisa lupa. Kalo buat gue pribadi gitu, lagian dari doa juga bisa ngemulai berfikir macem2, ama dapetin macem. Gak rugi dah buat berdoa mah.

Tapi da, gak penting doa teh? Kalo tetep berfikir gitu, ya gak apa2, gak masalah juga. Cuman buat gue yang suka berdoa macem2, ampe berfikir kebanyakan, ya doa itu kaya gerbang yang ngebuka pintu didepan. Kaya ada kunci yang gue buat buat masuk suatu ruangan. Nah butuh waktu ama konsistensi nemuin konci, buat konci, atau nyari2 pintu, dapetin pintu2 juga gak gampang, gak ada yang gampang gaes idup teh. Beneran, butuh usaha, waktu, uang, tenaga, engerginya teh banyak pisan buat itu teh.

Jadi mulai aja dari doa deh.

Terus buat ini ya.

Kerja gue dikit nih, belajar gue dikit euy, usaha dikit juga, doa2 gue terkabul, tapi dikit2, ini gue rasain sekarang. Soalnya gue kurang aktif, atau gak aktif sekali buat ngewujudin doa gue, gue kurang usaha, terlalu banyak minta, kurang ngasih, atau kurang memberikan sesuatu gitu. Katanya teh, sedekah teh bakaln ngelancarin doa2 loh. Soal ini gue ngerasain kebahagian dengan sedekah, atau ngasih sesuatu: bisa ilmu atau yang laen sebagainya, ke orang laen, yang mana bukan gue rasa yang paling lebih, atau gimana2, terus orang itu selalu kurang, atau dibawah gue, gue kasih aja, ya gak gitu, lebih ke ngasih kalo dia butuh, kalo minta, terus kebetulan gue ada, ya gue kasihlah. Kaya gitulah konsep gue ngasih sesuatu teh.

Sekarang buat kerjaan salah pisan euy, kerja dikit2 teh, malah lama beresnya, kerja kebanyakan iya cepet beres, tapi jadi burnout capek gawe, kesel, soalnya kerjanya emang makan waktu yang gak bentar, sementara buat kerja marathon gitu, butuh workflow yang asoy, yang mana itu waktu, mood, teh maen pisan, kalo gak bisa ngatur ritme kerja, ya keteteran.

Baca buku banyak, atau ngelahap puluhan lembar seharian, itu capek, gak ada ilmu yang didapetin dari baca keras gitu, keras bener dah berhalaman2 dibaca cepet2, kaya dikejar2 gitu. Yang ada malah buku tamat tapi gak ada yang didapetin ilmunya. Itu yang gue rasain dolo, terus pas baca ulang, malah, kok gue baru dapet info ini, atau itu, lah dolo kemana? Lupa atau gue gak dapetin ilmunya pas baca terburu model gitu dah.

Jadi buat sekarang gue sadar diri ajalah, pelan2 weh. Santei, emang salah juga sih santei, malah kebablasan, kesateian, gak beres2, tapi jelas sekarang gue dah dapetin ilmunya. Jangan gaspol aje, santei boss, rem dikit.

Begitu juga tulisan ini, bakalan lebih enak kalo dikasih outline, ada editing. Kalo enggak gitu weh, hahaha, butut. Tapi ini juga butut sih belom maksimal. Tapi baeh ah upload weh.

Ramadhan hari ke-27

Bener gue teh ibadah kurang teh, ya malah bokcolcrot sih. Kuduna mah ngaji paling bener mah, bisa ngerti Agama®, syukur2 masuk Surga Firdaus®. Dah itu weh dolo lah buat sekarang mah.

Emang sih mengoda pisan euy aurat teh, terlebih buat mensucikan diri: mata dipalingkan dari yang haram, mulut buat ngomong kotor, atau ngedenger yang gak baek, atau gimana2. Tapi da masih suka musik, gue belom ngerti orang yang birang musik haram. Kalo alat musik haram, takutnya memalingkan atau ngebuat jadi ngejauhin ayat suci.

Tapi da suka euy musik teh, enak weh gitu, dolo pernah juga sih sempet beberapa minggu gak dengerin musik, pengen kerja, ama gak jadi desainer grafis. Padahal skill jelas2 di desain komunikasi visual, suka buat ilustrasi tengkorak, monster, malah dijauhin, malah gak dicari celah buat cari duit. Salah juga sih.

Soal, Agama® emang dah fix sih, gue Islam. Tapi soal ibadah yang keteteran, solat ngaret, atau gak solat. Gara2 bokcolcrot, lupa ngaji ama lupa gawe, sama hal2 yang gue liat disosmed soal Aurat® wah dah bikin gue sadar arti ibadah selama bulan suci ini. Di bulan yang lebih baik dari seribu bulan, yang amal bakalan dikaliin berkali2 lipat. Gue sadar, kalo beribadah enak2 weh, bukan enak2 bermaksiat.

Emang sih gue gak suci, tapi buat belajar ngejauhin yang harom, atau berdosa kayanya lebih pantes gue jalanin deh, buat sekarang ya. Soalnya emang dah parah euy gue teh, miskin, bodoh, sombong, sok tau, sok paling2, berasa Si Paling Seni. Padahal siapa gue, mana karya gue, mana kerjaan gue, mana yang bisa disombongin kalo semuanya ini teh cuman titipan, cuman dikasih sementara, sementara Surga® itu abadi. Jadi ya udah weh ngejar Surga® weh.

Musik keras, atau berdistorsi, atau apapun yang sidestream, emang sejarahnye berawal dari orang yang mabok. Musik bertempo cepat, lirik eksplisit, kata2 kasar, atau luapa caci maki. Itu punya nilai seni tersendiri, yang mana gue teh doyan pisan, udah ngerasa itu bagian dari seni yang gue nikmati dalam musik2 yang gue konsumsi setiap harinye. Yang mana musik teh dah bagian gue weh, selama gue kerja, berusaha, kerja mandiri, gak ngedengerin musik teh asa sepi atau kurang inspirasi weh.

Soal belajar dari hal yang kaya gitu. Gue doyan banget. Mahamin lirik, biarin gak begitu2 banget ya, dalam artian gak search atau googling soal lirik lebih jauh, tapi gue pahamin emosi yang ada, ada energi yang gak didapetin dari musik sidestream dibanding musik mainstream. Musik yang sidestream gue maksud kaya yang liriknya galak, ngomong kotor, atau vulgar, itu teh emang jelek, ya sebagai gitu, gak positif atau bermakna negatif. Mana ada ngomong kotor jadi positif? Atau ngomong vulgar jadi berasa bertaqwa? Ya kan?

Nah tapi musik yang kaya gitu teh, enak pisan. Energinya teh dapet banget! Bikin semangat weh gitu. Kalo pun liriknya gak eksplisit, ya gak apa2, selama musiknya kenceng, tempo cepat, atau gagah. Berasa cowo pisan. Tapi da itu mah cuman tempelan atau gaya doang sih, kalo pun liriknya dibuat gak eksplisit sekalipun kalo bagus ya bagus weh. Selera pribados weh iyeu mah.

Nah sekarang ya iya musik haram. Meski gue gak tau dalilnye dari mana, gue gak mau dengerin musik. Terus hidup2 gue jadi sepi weh gitu, tanpa ada semangat atau inspirasi, tanpa ada rasa2, luapan2 emosi, dari musik, lirik, wah bisa2 gue gak bisa ngerjain fon.

Jadi gitu gaes: gue mau jaga pandangan, biar mata gak liat2 aurat, ma jaga omongan juga biar gak kasar, atau nyebut kebon binatang. Ama mungkin gue juga mau jauhin bokcolcrot.

Kalo ini lancar, gue jamin idup gue bakalan lebih produktif, lebih ngebut, ama lebih santuy. Enak weh ngejalanin segala hal nye, bisa tentram, tenang, gak gelisah atau gak tenang. Tenang weh bawaannya.

Cuman buat rokok, bingung juga, mau berenti dah banyak sih alasannya teh, tapi tetep weh ngerokok. Ngebako gini emang hemat, cuman sama aja sih rokok2 juga.

Sama gue teh kebanyakan santei2 euy, kebanyakan molor siang, atau tidur malem, itu mau gue kurangin dah, sedikit2 begadang, atau kerjain fon. Pokoknya fon nomer 1 dah, yang laen entar2 aja. Terus ya gitu, sama kaya yang dah gue bilang ngurangin sosmed, YouTube, lebih ke fon weh.

Gitu gaes, fokus teh biar fon cepet beres ama mulai ngelupain yang laen diluar itu. Ama bisa ngejaga waktu gue lebih bermanfaat daripada bokcolcrot, biar bcc kaya gini teh dah gue pisan. Tapi da haram atuh, jadi ditinggalin weh, atas alasan Surga Firdaus®, ama kehalal weh.

Asli euy, gue pengen fon cepet beres, dapet duit cukup. Bisa idup, ama bisa ngerjain proyek2 laen. Gitu weh teros, ampe gue ketemu cewe yang tepat. Terus apalagi, dah masuk Surga Firdaus®. Dah itu welah.

Ramdhan hari ke-26.1

Gue bokcolcrot lagi, gara2 liat2 spankbang. Aduh kejadian lagi penyesalan, mana gak enak. B aj gitu. Kaya gak naek2 banget. Mana cepet lagi keluarnya. Ah gak rame.

Emang kayanya mesti berenti total bcc euy. Udah ngerasa b aj, terus gak enak. Kaya lurus2 weh gitu. Gak ada bedanya atau enak2 banget. Berasanya teh. Dah ah berenti gue.

Sekarang belom ngefon lagi sih. Cuman lagi sosmedan, itu juga gak rame, b aj. Kok gue makin ngerasa makin b aja ya? Apa emang mesti berenti juga sosmed juga, vlog2 di YouTube juga lagi males nontonnye.

Dah ah gitu aje gue nuli.

Ramadhan hari ke-26

Airphone gue rusak yang left, kadang ada suara, kadang gak ada suara. Kalo ditarik2 bisa ada, bisa enggak suaranya. Ganggu deh. Mana gue suka keganggu kalo ada banyak motor yang lewat, gue kerja di garasi, teras, ya langsung ke luar. Gak ada taman.

Wah balik lagi ke yang dolo, keganggu motor2 lewat. Kepaksa kudu nabung sekitar 200rb, buat beli airphone, gue kurang2in jajan dah kalo gini. Mayan dah, daripada gak fokus. Entar pasti keganggu ama suara dah.

Bener euy, idup teh: nasib2 euy. Mani kiyeu pisan ya Allah, bukan gue yang gak mau, emang gue mau nasib kaya gini. Dengan kelakuan gue kaya gini, kinerja gue waktu nyari duit, atau beribadah, bener2 mesti diperbaikin dah. Aslina Mang. Gue gak mau kaya gini teros: asli euy, masa dah mau 33 penghasilan cuman 100-300rb sebulan. Mengsedih euy.

Nikmatin sosmed emang enak, kadang suka terpacu ama orang2 yang upload2, dari fon, kaset, atau kerjaan ilustrasi, atau dapet purchased fon, orang shitpost, ketawa2. Tapi gue mulai sadar lagi, eta teh gak penting, gak ada hubunganye ama gue. Gue ngerasa capek weh sosmedan, gak dapet duit, coli komen, like, share juga buat apaan dah. Sosmed cuman pencitraan, atau nyari sesuatu doang, kepo atau menuhin pamer/iri doang.

Negatifnye selalu gitu. Mana ada yang sempurna dalem hidup, selalu ada sih sisi idealnya, emang ada, tapi selepas gue temenan ama 3000an friend di Fb, gue gak nemuin hal yang banyak berubah. Tapi seneng sih dapet ilmu freelance, ama anak2 muda yang suka berkarya. Cuman, gue lagi jauhin pekob atau cewe2 seronok. Eh dapetnya yang gitu mulu, mana lagi bulan suci gini, malah nambah2 dosa euy.

Pengennya ngeremove atau block, udah sih, tapi da bakalan ada terus yang gitu mah, jadi actionnya ya skip weh. Kalo dah keseringan ya snooze selama 30 hari. Dah cukuplah, kalo lama2 enek, ya block atau remove friend.

Sekarang gue kangan juga ama temen2 buku, seller2 buku, penulis, editor buku, atau orang yang pecinta buku, gak ada temen buku2 gue euy sekarang, kangan deh postingan soal intelektual, ilmu, atau teori2 atau apalah gitu soal buku ma yang melengkapinye.

Gue juga mulai ngelirik2 lagi twitter, mulai follow2 akun fon, mulai nikmatin timeline, branda gue di twitter. Sesekali liat beranda Fb. Waktu abis aja ama nikmatin konten orang laen, liatin fon orang laen, gitu2 weh. Gak terlalu signifikan ama nambah2 knowledge soal type design buat gue teh.

Hemmm, mau apalagi atuh gue teh? Nikmat mana yang gue dustakan? Semua dah enak di friendlist yang dolo di Fb, gue pake acara eksperimen remove friend, tapi biarinlah, orang juga entar ada yang add2 gue, tapi ditunggu, dari akhir November, ke Desember, Januari, Februari, Maret, April, ampe sekarang mau ke Mei, mau 6 bulan, malah gue add temen2 yang gue kangenin, yang gue deket, baru 1 temen SMA, ma entar 1 temen kuliah dah mau gue add.

Sekarang zaman TikTok, ada TikTok shop, cuman gue males jualan di TikTok, malah live, ama promosiin produk2 gue, males. Terus kalo di IG, sepi, dah upload dari September, belom closing2. Baru ada yang nanyain2 doang. Terus di Fb, sepi juga. Paling yang rame di marketplace sih.

Nah ngomongin soal jualan, jualan gue belom nambah lagi sih, gue belom upload2 barang2 lagi.

Ngobrolin soal apalagi ye? Ehem kalo soal fon, gue mulai kerjain lagi sih, sambil sesekali liat fon yang laen, ada 3 font yang lagi gue garap, cuman emang fokus ke fon family sih. Yang handwritten ini kudu cepet2 diberesin, bosen ngerjainnya kalo dilama2, gak kelar2 dah. Jadi kudu cepet dirampungin. Kudu beres.

Kayanya curhat2 kaya gini, gue jatohnya ke ngeluh atau bikin resolusi tahun ini dah. Lebih ke mau dikerjain, ama udah ngerjain apa. Yang mana gitu2 terus sih, tulisan gue teh. Gue juga bingung jurnaling, nulis dairy, cerpen atau essai atau apalah gitu nulis2 gitu. Apa mungkin dampaknya positif buat gue.

Tapi kalo dari ide, ama energi yang keluar sih, ya gue dapet bisa ngungkapin sesuatu, ama bisa mulai nahan2 energi negatif gue. Ama mulai bikin tulisan ya bisa dibilang positif, atau ngasih gambaran baik, perubahan baik, atau apalah gitu yang gue harapin bisa ngerobah idup gue. Jadi ke arah yang bener.

Bukan berarti gue gak bener, atau gue salah, cuman gue mau lebih baik lagi. Soal salah, bener ya emang gue kaya gitu sih idupnya, cuman kalo kerjaan gue pengen bener2 deh, beneran jadi baek gitu. Jadi tepat, efisien. Mulai dari ngurangin waktu gue disosmed, nganime, atau ngeYouTube, mulai nulis2 kaya gini, yang mana gue dapet ilmu baru. Kalo gue sebenernya dah bisa ngungkapin sesuatu dengan bebas, ama mulai bisa milih2 yang mana yang perlu gue share, yang mana yang perlu di keep, atau jangan pernah dishare.

Tulisan maha gak penting, diatas proyek gak penting2 amat, nulis blog, curhat, ama nyeritain pengalaman idup gue. Soal kemaren, sekarang, atau besok. Bisa diliat dari view, atau mungkin yang komen, gak terlalu banyak atau gak ngerasa tulisan gue ini beneran bisa bagus. Tapi ya tulis2 wehlah, ungkapin perasaan gue weh, soal idup gue, soal kejadian2 yang gue alamain weh.

Tadi ngaterin kue, pas sampe suruh bantuin benerin antene, gak gitu sih ceritanya, lebih ke Kenapa? Ini kok gak ada sinyal teros antenenye? Terus nonton TV gimana ya? Gitu kata tetangga gue yang gue bawain pesenan kue nye. Pas dicheck, kabel nyolok, lampu listrik nyala, kabel normal. Tapi di Tv cuman ngasih laporan gak ada sinyal. Gitu2 weh teros. Udah weh gue bilang: Aduh saya juga kalo soal antene mah gak tau, cuman di rumah juga minta bantuan orang juga. Oh iya atuh Kang Asep, gak usah kalo gitu mah. Berenti aja bantuan teh, gue juga gak bisa bantu lagian.

Terus gue beli Coca Cola 1,5 Liter, sambil beli Susu Dancow Putih sesachet, terus dicampur di Mug Che Guevara gue, sambil jadi barista sebentar, eh adzan langsung dah gue minum enak, creamy manisnya pas, ada rasa susunya, kaya susu soda, cuman lebih kerasa coca cola ama dancow aja sih.

*****

Gue ngobrol ama temen gue. Enak bener dah tenang rasanya. Dia ada masalah keuangan, sayangnya gue gak bisa bantu. Tapi obrolan lanjut ke hal2 lucu. Terus akhirnya dia mau dateng ke rumah, ah entar silahturahmi euy.