Depresi bagian viii

Sut! Suara angin.

Berbicara-diam. 1pt – 0pt. Berbicara-berbicara. 1pt – 1pt. 

1 x menghela nafas = 1 x menghela nafas. Akan berganti posisi selanjutnya mengisi tempat yang ditinggalkan.

Ada suara “Sut” seperti suara angin yang kencang. Satu setan datang berkunjung. Satu setan pergi. Satu setan bertukar posisi dengan yang lain.

Perasaan ini ada setiap kali aku bernafas sesuatu yang ada seperti biasa saja. Pertukaran satu setan dengan yang lain terjadi begitu saja secara simultan dan terus menerus tanpa henti.

Kejadian ini menjadikanku seperti manusia yang serba tau, paling benar, sensitif.

Ketika ada yang mengganti posisi setan itu tidak bertambah kuat. Melainkan tidak bertambah lemah pula ia hanya menjadi seperti biasa. Tak kurang tak lebih.

Perasaanku pun seperti biasa saja. Seperti sesama setan perasaan aku pun merasa sperti biasa saja.

Iklan

Depresi bagian vii

Sebelum masuk ruangan Rajawali. Beberapa hari sebelumnya. Halusi nasiku sudah panjang ceritanya merembet kemana-mana. Halusinasi sudah seperti kenyataan.

Rukiyah selesai. Saat tangan pak rukiyah memegang leherku. Aku seperti dicekik olehnya. Aku membaca 2 kalimat sahadat tetapi keluar berbeda dengan kalimat sahadat yang biasa. Ini rukiyah yang pertama.

Rukiyah yang kedua ini tidak berhasil diselesaikan. Aku menarik terus menerus alat bekam. Menariknya dari punggungku. Aku merasa terganggu dengan aktivitas ini. Menjadikan ku tak bisa diam dan terus menarik-narik alat bekam.

Berzikir menyebut nama Swager. 99 kali. Terus menerus memakai tasbih.

Ketakutan bahwa ada yang mendekati Ibu. Takut ada orang yang membunuhnya.

*****

Enak jaman ku toh. Sticker bergambar Soeharto di spakbor motor bebek tepat di depan tempat bekam ini.

Berbicara dengan Ucok. “Gimana cok berdua dengan Soeharto.” Aku tidak ingat selanjutnya, yang pasti kami tertawa berdua.

*****

Saya harus bertanggung jawab. Dari bekam, dll. Aku mendengar tv tentang pengorbanannya, aku tersinggung dan akan bertanggung jawab.

Saya berteriak, memanggil nama “Nama saya Asep cash ball. saya mau bertanggung jawab. Saya bodoh.

Hari itu sudah malam berteriak. Sudah berpakaian siap pergi. Aku ingin pergi bekerja di tempat kerjaku dulu. Di toko. Mengisi waktuku sambil menjadi orang yang biasa saja tanpa ada yang spesial di hidupku. Sesuatu yang biasa saja.

Depresi bagian vi

20 Desember 2016.
Masuk ke ruangan Perkoetoet
Tiga orang ini, adalah teman baruku di ruangan Perkutut. Ruangan ini lebih luas dibandingkan ruang Rajawali. Ruangan ini tidak ada sel semua bersatu di dalam ruangan berjejer ranjang yang hampir berderet rapat. 10 ranjang berbaris di depan jendela-jendela, didepannya sisa 10 ranjang berbaris juga didepan jendela-jendela yang berseberangan.
Wer, ngobrol dengan para perawat. Berbincang bincang sesaat untuk menghabiskan waktu istirahat. Berbicara bersama sesama pasien, menyenangkan berbicara bersama mereka. Aku berbarengan tiga orang yang senang bercanda dan berbicara panjang lebar.
Setelah makan siang kami curhat masuk rs; ada yang karena ngamuk ada pula yang berkelahi sampai-sampai menghancurkan poskamling. Sungguh diluar batas sekali emosinya.
Di ruangan ini ada kamar mandi di wc tanpa ada pintu sebagai pelengkap, meski pun ada lorongnya entah apa desainnya memang dirancang seperti itu. Jadi setiap kali ada orang di wc akan terlihat jelas baik kencing, berak, mandi semua terlihat jelas di ruangan ini tapi tidak akan terlihat dari ranjang karena tertutup pintu kayu yang didorong.
Setelah beres berbincang-bincang dengan teman-teman kami disuruh menjelaskan jika penyakit waham datang kembali. Seperti ini.
1. Menghardik diri sendiri, yakinkan dalam hati bahwa suara itu bohong.
2. Berbicara dengan orang lain.
3. Beraktivitas menyibukan diri sendiri. Menjalankan hobi, menggambar, menulis.
4. Minum obat teratur.
*****

30 Desember 2016.

Pulang ke rumah. Sampai di kamar. Dan menemukan rasa yang aneh dengan lingkungan. Berasa penyakit ini kembali lagi tapi tidak ada suara-suara yang ada keheningan yang mencekam. Cukup mengagetkan. Tanpa ada suara-suara hanya aku dan kamarku berdua. Hening juga menenangkan.

Depresi bagian v

Berikut ini obat yang aku minum untuk menjaga kewarasan serta kestabilan mental.

Amitriptilyn 

Lorepam lorezpam

Risperidon

Trihexiphinidyl

Obat motorik, obat ketenangan, obat anti depresi, obat halusinasi.

Setelah keluar dari rsj diharuskan

kontrol ke psikiater satu bulan sekali menjelaskan keadaan serta kondisi metal. Membicarakan kegiatan sehari-hari.

Rutin minum obat secara teratur, beraktivitas, mengerjakan freelance, tidur teratur. Tidak ada gangguan suara-suara. Tidak susah tidur. Hidup terasa lebih nyaman.

Setelah itu mengurangi dosis secara perlahan. Obat ketenangan tidak diminum lagi karena kebetulan obatnya sedang kosong. Pemerintah mengambil perannya untuk mengatur keluar masuknya obat pada setiap pasien dengan maksud untuk mempermudah distribusi.

Beruntung Abang sudah bisa membayar bepejees. Jadi aku sudah bisa kontrol ke RS. Untuk memeriksa kestabilan mental, memeriksa terapi psikologi secara psikiatri. Berbicara dengan psikiater setiap 4 minggu sekali adalah bagian dari kontrol ke RS.

Mendapatkan saran psikiater untuk bekerja kembali untuk melanjutkan hidupku serta sesegera mungkin ‘tuk bekerja. Sementara itu aku menginginkan kerja freelance dengan gaji 3jt untuk bisa menutupi kebutuhan bulanan. Tidaklah nyata karena sebenarnya freelance yang kujalani tidak menghasilkan uang bulanan melainkan satu proyek yang panjang dari menciptkan font. Perlu semangat yang sama panjangnya dengan proyek tersebut demi menghasilkan uang.

Lalu selanjutnya diharuskan menabung uang gaji untuk masa depan. Membeli motor, nikah dan lain-lain.

Depresi bagian iv

Masuk ruang pertama kali.
Ruang Rajawali. Diruangan ini semua dikurung dalam sel. Diberikan tempat berupa kasur diatas ranjang. Satu bantal satu selimut. Selimutnya berbau asin, bau-bau aneh yang seperti bau selimut yang tidak pernah dicuci-cuci.

Aku masih berhenti makan. Aku masih marah katanya waktu itu. Tangan kiri di infus. Idung diselang. Untuk bertahan hidup harus dilakukan seperti ini.

Aku masih saja dikejar Homicide. “Mana bangsatku!” Berkali kali terdengar. Ucok mencari-cari diriku seperti merusak siapa siapa saja yang ada didepan. Dengan posisi tidur aku masih saja mendengar suara-suara. Aku merasakan google juga telah mendapatkan semua isi otakku. Aku sudah bisa mudah ditebak karena aku memberikan seluruh otakku pada mesin pencarian ini. Otakku telah di program secara online, realtime.

Ketika berfikir C.I.N.T.A mesin pencari akan mengeja cinta dan berhubungan dengan pikiranku tentang cinta. Kala orang gila lain berfikir lebih aneh lagi. Aku berfikir Ucok telah memasuki google juga otaknya telah bersatu padu dengannya. Menjadi satu kebersamaan.

Jadi bisa dibilang satu kemampuan orang di satukan dengan google si mesin pencari. Mencari diriku mencari seorang Asep yang sebenarnya.

Saat ini sudah malam aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih memikirkan ucok google tadi. Mencariku sampai ruangan Rajawali ini. Mengacak ngacak meja dengan suara yang keras terdengar kursi yang dilempar. Kertas yang berjatuhan satu persatu.
Aku terus merasa was was. “Indonesia bangsa(t)ku.” Terus saja kata-kata tadi diteriakan Ucok Google. Aku terdiam dengan takutnya. Karena suara anjing melolong juga. Sepertinya aku ingin mati saja.

Aku masih di ikat di sel ini. Aku sulit bergerak dengan bebas. Aku masih terus saja berfikir dan berfikir bahwa aku dikejar kejar Ucok google. Suaranya yang serak terus saja meneriakiku. “Indonesia bangsatku.” Aku ketakutan lalu otak berpikir, tebak kata. Indonesia Bangsatku. Non Nasional. Kata-katanya berputar-putar.

Setelah diiket. Menyadari diikat. Belajar lagi idup yang baru. Hidup sebagai buronan.

Halusinasi, mungkin inikah rasanya sebuah ilusi kasat mata. Terdengar terasakan. Sulit untuk dijelaskan secara seksama. Banyak suara-suara terdengar.

*****

Suara telepon terdengar dirumahku. percakapannya dengan diriku. Abang membantuku, tanpa percakapan yang lain mengarahkan. Aku mendengar suara Ucok di telepon Abangku. Jarak kamar kami tempatnya bersebelahan tapi musti berputar dahulu baru suara teleponnya terdengar.

“Sok burukeun tulis lirik.” Ku ambil spidol dan kertas. Kutulis tepat ditengah kertas. Ks. Konsumsi Saya proyek musik yang sudah dikerjakan.
“Ks sok tulis, bisa jadi apa tuh. Tulis. Kopi Susu. Ks kopi susu.” Hip hop warteg. “Gambar kopi, gambar susu.” Ucok Google berbicara mengarahkan apa itu ks musik hip hop sebenarnya aku menulis dibimbing dengannya.

Depresi bagian iii

Sebelumnya aku tidak tau ada penyakit halusinasi bernama Scizophernia

Di tv seorang penjahat diperiksa saldo banknya. Diperiksa apakah rekeningnya gendud. Kebetulan saat ini saya berada di depan Atm, ada seseorang yang sedang memfoto Atm, sekilas seperti adegan di tv. Saya sudah siap tercyduck bersiaplah tertangkap tangan dengan rekening tipis. Biar gak ada uang di rekening juga aku pasti ditangkap polisi sudah di incar-incar. Bersiap-siap di hotel prodeo.
Rasanya otak selalu merespon dengan cepatnya yang ada disekitar. Responsif. Menghubungkan satu hal dengan satu hal yang lain seenak hati. Cocoklogi seenak hati.
Mimpi/realita, dialami diri sendiri. Mimpi ini seperti menjadi nyata tak ada yang bohong. Semua menjadi nyata. Benar-benar nyata.
Tv suara, berita, gosip, iklan, malah  jadi baper. Semua seperti saling berhubungan denganku. Aku seperti ditekan oleh semua orang. Aku disudutkan di ujung pojok jalanan.
Sekilas membuka koran, kata, kalimat adalah tanda. Petanda baik/buruk. Rasanya seperti itu. Semuanya menjadi pesan tersembunyi. Yang menjadikan perlu dibaca semiotikanya. Selalu ada pesan yang terbaca. Aku seperti sedang dikejar polisi. Seorang buronan yang sedang di kejar.
Tak berselanga lama susunan kur’an berdampingan dengan buku ujung berung rebels. Disusun dengan berbagai buku dkv. Tujuannya memanggil setan atau mungkin juga seperti pencarian setan.
Hingga akhir posisinya menjadi. Rentetan pesan aku adalah Tuhan bagi diriku sendiri. Yang siap merubah hidupku setiap saat menjadi orang yang gesit dan siap kerja. Ya pengangguran yang menjadi sang calon pegawai.
*****
Agnez Mo=ibu. Seperti terasuki jiwanya Agnez Mo. Dan berubah seketika menjadi ibu yang baik hatinya.
Abang=kunci rumah. Menjadi kunci rumah yang siap membukan pintu di malam hari. Kerajaan malam hari segala setan berdatangan.
Saya=anarskis, ateis-theis, peramal. Politik politik. Tokoh utama yang menjadi alur cerita. Seorang yang diawasi semua orang. Seseorang yang tak jelas bentuk karakternya. Seseorang yang bermaksud baik sekaligus bermaksud buruk.
Saya sensi jadinya, terlalu sensitif mudah baperan tapi anehnya jadi jarang solat, resah, ketakutan. Melihat sajadah saja seperti melihat hantu. Tidak ingin dipakai bahkan dilihat. Sungguh menakutkan. Aku adalah setan yang terkutuk, tak menyembah tuhan. Setan dan Tuhan menjadi aku sendiri. Aku adalah duniaku sendiri.
Sampai di tempat Rukiyah. Aku berzikir Nyi roro kidul x 1255= kekuatan yang membuat ku bangun berkali-kali sehingga tidak bisa dibekam. Sungguh menggangu orang-orang bekam.
Ketika datang ke tempat rukiyah ini menjadi tidak bisa di rukiyah. Saya menolak tunduk. Saya tidak mau diatur dengan rukiyah.
*****
Kaset, barang pribadi = tidak dijual. Tidak menjadi penjual online lagi. Barang dagangan hanya disimpan saja. Hanya orang yang selalu panas melihat status seperti sedang menyindirku. Aku terlalu sensitif.
Doodle, berawal dari posting fb. Pura-pura … menjadi asik posting dengan seenaknya dalam beberapa jam sekali. Sangat aktif.
Semakin aktif membuat status menyampaikan aspirasi. Entah penting atau tidak penting semua ditulis seenak jidat. Asal ada status baru.

Coli

Sekarang ini udah jarang juga gue nulis di komputer. Jarang nulis juga buat memo pake kertas selembar hvs.
Dah mah jarang pake Microsoft word, kompi paling juga kepake buat font doang, sisanya paling ngetik di hp, bb. Ya gitu2 weh.
Istilahnya mah buat Sketsa kasarlah belum jadi tulisan utuh. Kerangka kerjanya gitulah.
Kadang buat gambar2 di hvs terus dikasih 2 pilihan bisa iya / bisa tidak. Kadang ke tunda sama buat tulisan yang laen. Terus pas beres malah jadi banyak, jadi banyak juga ngaplotnya. Kadang kerasa tulisannya ada yang kurang pas mesti di tambahin atau dikurangin. Tapi malah tetep dipaksain ngaplot. Biarin ajalah.
Sekarang2 ini sih ada rencana mau buat Abokep zine lagi sih. Masih bercerita seputaran seks harian. Asalnya mah gak mau di terusin juga. Lah orang dah gue delete juga tulisannya waktu sebelom masuk rsj kemaren2, 1000 halaman isinya mah soal seks, coli2 gitu2 aja sih, yang udah sering ditulis juga. Cuman bedanya itu masih referensi sama kutipan2 pemikiran orang yang belum jadi satu cerita utuh.
Sebenernya tulisan di Abokep zine mau nyelesaikan soal masalah coli yang dah edik. Ini perasaan gue waktu jadi jomblo belasan taun ampe sekarang. Duh lama banget ya.
Masalahnya mah dah ketemu kalo ternyata hidup gue gak bisa jauh2 dari seks, solusinya ya kenikmatan ngocok, yang kalo gak diatur, bakalan ngebuat gue jadi candu. Males2an sama bener2 gak semangat, lah gue coli keseringan malah lupa gawe, lupa kewajiban, maunya teh coli aja mulu. Enak sih tapi pengen di berentiin, gak mungkin juga. Malah sakit selangkangan gue, perih, padahal dah 2 bulan lebih gak coli. Enak sih idup semangat cuman ya itu tadi, dah kebiasain dikeluarin paksa, jadi si spermanya gak bisa keluar sendiri mesti di coliin biar keluar.
Paling sih coli 4-3 kali lah sebulan teh. Tetep jomblo biarin yang penting ada kerjaan harian juga. Ngerjain font sama nulis aktivitas harian. Kurangin cokil banyakin ngefont yeh. Okey!