Depresi Bagian 11: Skripsi, Doodling juga Dilatih sama Coach

Agnez sering tampil seksi tidak hanya di instagram saja video musiknya wohoho seksi loh, foto di majalah juga tidak kalah seksinya. Foto-fotonya juga memakai barang fashion ternama, tentunya dengan harga yang mahal. Pada 6 tahun yang lalu, yaitu tahun 2013. Kekayaannya juga ditaksir sebesar Rp. 340 Miliar. Wow sungguh banyak sekali ya sekarang sudah dipastikan kekayaannya bertambah.

Saya hanya bisa membayangkan bagaimana Agnez bisa menjadi sekaya itu tentu dengan usaha, kemampuan, kegagalan-kegagalan, juga terus menerus mencoba untuk bakit dari kegagalan, serta pekerjaannya di dunia hiburan yang panjang dicapai dengan tidak mudah tentu saja bisa dikatakan demikian. Berproses terus-menerus yang pastinya tidak sebentar tentunya. Dulu dia menjadi artis cilik, membuat album musik, membuat video musik, beranjak remaja menuju dewasa saya juga menonton sinetronnya. Seterusnya aktif di dunia tarik suara hingga di kontrak lebel rekaman internasional di Amerika Serikat lalu menetap permanen di L.A. dibagian pantai Barat. Ya meskipun kadang sesekali pulang kampung ke Indonesia untuk memenuhi undangan bernyanyi di berbagai stasiun TV swasta.

Hanya ini yang saya tahu tentangnya. Oh iya beberapa tahun yang lalu saya mencoba-coba mengingat kembali apa yang halusinasi-halusinasi yang saya dapatkan dengan sesosok Agnez Mo.

*****

TV menyiarkan acara reality show, ajang pencarian bakat dalam bidang tarik suara di isi oleh anak-anak, remaja serta di dampingi oleh keluarganya masing-masing. Dalam kesempatan ini acaranya disiarkan langsung dari Jakarta ke seluruh pelosok Nusantara.

Suara Agnez terdengar sebagai juri —Disebutnya bukan juri tapi coach, diantara juga ada coach yang lain seperti Beby Romeo, juga ada Tulus.— Mereka saling berlomba-lomba membujuk penyanyi ini. Anak kecil ini terdengar luar biasa dibandingkan anak-anak yang lain. Kalau tidak salah saya saat itu juga masih mendengarkan album ketiga dari Ka: rapper yang bersuara lempeng dengan musik hip hop yang menghipnotis siapa saja yang mendengarkannya sambil telinga fokus mendengarnya saya juga masih sedang mengerjakan revisi skripsi, seperti perang yang tidak akan pernah saya menangkan. Saya mendengar suara Agnez Mo. Saya tak terlalu ingat saat mematikan komputer di kamar saya sendiri, lalu pindah tidur-tiduran ke kamar Ibu, mendengar pujian Agnez kepada anak kecil tadi. Dasar halusinasi, sialnya atau untungnya begitu, saya malah merasakan seperti berada di posisi anak kecil tadi. Saya di beri masukan untuk memilih coach. Kemampuan saya akan diasah menjadi lebih baik lagi.

Mendengar Coach Agnez yang terus menerus memuji penampilan anak ini. Sangat berbakat, lebih baik pilih coach terbaik sesuai hatimu. Saya tertawa sendiri di dalam kamar Ibu yang gelap tapi diterangi sedikit cahaya yang masuk dari pintu dari luar lampu ruang tengah yang meneranginya. Ruangan tengah ini ada tv tabung, sebesar 21 inch yang sedang ditonton Ibu sendirian sambil merajut taplak meja makan. Tangan ibu memegang jarum rajut yang ujungnya bengkok juga tumpul. Benang katun warna putih gading tertarik dari gulungannya, tangan ibu terampil melipat-lipat benang dengan hitungan tertentu hingga menjadi pola yang jadi satu komposisi taplak yang indah.

Sedikit melihat Ibu fokus merajut juga mendengarkan suara TV, sesekali menonton sebentar. Saya memberanikan diri untuk membuktikan keseriusan Coach Agnez yang mengajakku masuk dalam timnya. Saya bangun dari tidur dengan semangat seperti orang yang diberi kesempatan untuk berubah dari orang yang malas-malasan mengerjakan skripsi, sampai menjadi orang yang bersemangat untuk berkarir di dunia desain grafis. Pikiranku hanya ada di dua dunia, yaitu dunia desain juga dunia musik, saya berjalan dari kamar Ibu. Saya melirikan mata ke layar kaca. Saya malah tertawa kegirangan, ternyata coach Agnez tertarik dengan bakatku. Apa mungkin ini memang dari bakatku atau mungkin dari personalku pikirku saat itu. Yang saya rasa ya saya orang yang baik dibandingkan dengan anak dewasa lainnya, terbuka akan sesuatu hal yang baru, siap belajar dengan hal yang baru tersebut, siap diajak berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

Saya lalu menuju sebrang kamar Ibu, masuklah ke kamarku mengambil buku agenda bekas Ayah pakai dari tempatnya bekerja di bank swasta yang kini telah berganti nama. Mengambil pensil mekanik lalu duduk berdekatan dengan Ibu di meja makan selanjutnya menekan ujung bagian atasnya dengan jempol dari tangan kanan. Isi pensil ini keluar perlahan. Setelah cukup keluar isi pensilnya. Saya mulai men-doodling mengambar apa saja yang ada dalam pikirian saya. Gambar Coach Agnez, menulis beberapa kata motivasi darinya.

Kursi berputar, memperlihatkan Coach Agnez memilih anak ini, termasuk 2 coach yang lain, Coach Beby, Coach Tulus. Saya melihatnya ikut berbinar-binar dari mataku ini memperhatikan mereka, ini saatnya saya menjadi desainer yang bisa dipilih orang. Ada juga yang memilihku, bisa belajar dari coach yang berpengalaman di bidang musik internasional, atau juga nasional sungguh menarik.

Sambil menggambar-gambar, mensketsakan, sedikit menulis dari pembicaraan dari TV, Agnez memberi komentarnya terhadap penampilan anak kecil ini, aku yang sedang berhalusinasi terus doodling. Kamu bisa lebih berkembang lagi, pilihlah coach yang sesuai hatimu. Disebut suruh memilih coach, saya memilih Coach Agnez. Wah ternyata pilihanku benar, saya terpilih menjadi bagian dari Coach Agnez sesuai dengan pilihan anak kecil tadi. Saya seperti anak kecil, memeluk Coach Agnez dengan gembira.

Iklan

Asepcashball si punk yang slonong boy, eh bukan deng saya mah hip hop yang slongong coy.

Kayanya gue mesti nulis nih, sebisa gue, sebenernya ini tulisan yang mungkin udah lo baca di blog laen yang lo follow, nah gue pengen ngeaplikasiin tulisan tersebut dengan versi gue yang tentunya punya relevansi yang beda ama penulis awal, nge-rip off tema lah meski ini malah ngebuatnya jadi ngaco, biarin.

Daripada copas yang plek gitu2 aja ya mending buat struktur tulisan yang sama tapi dengan objek, subjek, yang gue ambil dari diri gue pribadi. Secara personal gue pengen apa yang gue tulis ngena ama kehidupan gue sehari-hari sih biar pun cocoklogi tingkat tinggi. Biarin jadi amburadul juga. Biarin diketawain juga. Tai Anjinglah. Lanjut weh.

Jujur2 nih, ini blog isinya semua shitposting lah kaya di facebook gue. Jadi ya gini deh isi2nya, jangan kecewa ya.

Gue dari awal bilang ya, gue pengen nulis aja sebisa gue, okeh selamet baca. Semoga Tuhan membuka jalan terang buat gue yang lagi belajar segala hal biar di jalan yang ditempuh ini ngebuka gue buat berkembang jadi hal baik atau mungkin buruk ya ambil aja yang ada manfaatnya buat diri lo pribadi. Biarin, “Gak usah diomongin, gak penting.”

Okeh! Sekali lagi selamat membaca!

Yang harus dilakuin seorang Punk:

1. Merdeka dari pemerintah.
2. & korporasi2.
3. Harus bisa idup eksis di luar tadi. Buat jejaring alternatif, baru politis.
4. Jadi punk bukan cuman musik, zine yang ngemerdekaain aja. Mesti idup dengan budaya tandingan juga.

Okeh deh bro, gue ikutin permainan punk yang punk ini mulai dari sekarang.

1.
“Merdeka dari pemerintah,” ini awalnya gue pengen idup bebas dari aturan pemerintah: bebas buat musik sampling gak bayar ke musisi penciptanya, pake software bajakan buat bikin musik kolase! Bikin zine Asep yang seenaknya, ama buat zine Abokep yang diluar e.y.d. bikin blog yang pernah ngebahas film porno, yang jelas itu porno aksi, porno teks. Gue gak peduli! Yang penting gue bisa bebas berekspresi, ngelewatin batesan2!

Gue pengen nulis diluar kekuatan proxy internet dari dekominfo, yang ngebuat gue gak bisa buka situs bokep. Dengan gampang gue bisa ngebokep cuman ngetik “proxy” di google terus pilih situs “proxysite.com” lanjut masuk websitenya terus ngisi alamat web yang pengen dibuka, “xvideos.com.” Udah gue bisa ngebokep, lolos dari aturan pemerintah yang ngalangin gue buat ngebuka situs bokep. Kebebasan gue buat aturan sendiri dari aturan2 yang udah ada.

2.
“Merdeka dari korporasi2,” buat sekarang sih gue masih ngikut2 sih, ngeblog pake wordpress, internetan pake provider indosat ooredoo di hp samsung smart phone yang kelas low end: buat sms, nelepon, whatsapp-an, facebook-an, terus ngebuka bokep di perusahaan xvideos, nulis atau ngegambar pake pensil merek Faber Castel, nebelin garisnya pake Spidol dari Snowman. Ampe hal dasar kaya, mandi pake sabun batangan, sikat gigi pake sikatnya ama pasta giginya, keramas pake sampo, ngeringin diri pake anduk, pake kolor terus baju ama celana, terus apalagi yang ngebuat gue gak tergantung ama perusahaan yang gue bayar buat hidup sehari2.

Gue mesti cuek aja atau mesti cari alternatif. Apa mungkin gue mesti ke hutan? Biar idup pra-modern tapi itu punk banget.

Enggaklah, gue pengen mandiri kaya yang dibilang tadi. Gue terpaksa pake sesuai kemampuan gue aja, ngemaksimalin yang ada dengan ngeminimalisir pengaruh Korporasi di hidup gue. Kaya alternatifnya sih gue gak makan di Mc D, soalnya mahal bro. Mending makan Mie Kocok aja.

Gue masih jadi pengangguran, semi-pengusaha font yang masih ngebuat sketsa typeface di kertas pake pinsil 2b ama spidol. Belom idup dari font sih masih kerja keras ngebangun type foundry.

3.
“Harus bisa idup eksis di luar ketergantungan dari pemerintah ama korporasi2. Buat jejaring alternatif, ini baru politis.”

3.1. BEBAS DARI PEMERINTAH

Dengan ngebuat blog, zine, musik, ya gue pengen ngebuat jejaring yang diluar pemerintah lah. Jelas gue pengen jadi penulis, pemikir, pemusik yang keluar dari kerjaannya penulis, pemikir, pemusik tadi.

Dengan bebas gak di stir pemerintah gue sendiri yang nentuin arah yang gue bangun. Ngeblog biarin sepi juga, follower cuman 4 orang aja, gak apa2, tulisan banyaknya yang sok eksperimental soalnya gue pengen ngembangin gaya tulisan gue biar jadi karakter gue, sok bikin diferensiasi ama blog2 laen, ya gitulah namanya juga orang bebas, bebas jadi alesan utama gue nulis, berpendapat ama satu yang terakhir buat musik.

Jadi inti bebas dari pemerintah yang gue maksud tuh apa? Yang ngelakuin kerja di luar pemerintahlah. Mandiri, buat jejaring alternatif.

Gue yakin interpretasi lo beda2 tapi bebas lah lo mau ngartiinnya gimana soal ini. Coba baca dari awal lagi, baca pelan-pelan, sambil ngebayangin tiap kata yang bisa lo bikin visualnya di otak. Ngebayangin terus hubungin ama kata2 selanjutnya, sambungin jadi kalimat terus ya ngertiin sendiri. Masih gak ngerti? Ya udah “Gak usah diomongin gak penting.”

3.2. BEBAS DARI KORPORASI-KORPORASI

Ini sama kaya sub bab sebelumnya, cuman objeknya diganti ama korporasi2, bikin hidup lo jangan jadi konsumtif. Ngambil dari buku Nietzsche yang judulnya Zarathustra yang baru gue baca setengah bukunya, jadilah manusia unggul, yang berdaya cipta. Di buku bergaya Novel Filsafat ini gue gak begitu ngarti sih, jujur aja bahasanya baku, terus biarin ini buku yang udah di terjemahin ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris yang awalnya ditulis asli dari bahasa Jerman. Banyak perumpamaan2 yang gak gue ngerti. Dah jelas gue belajar ambil intinya aja, lo bisa jadi manusia unggul, bisa ngeproduksiin karya lo. Yang bisa lo jual daripada lo jadi konsumen aja, ya kaya kerja lah ngehasilin karya terus2an.

4.
“Jadi punk bukan cuman musik, zine yang ngemerdekaain aja. Mesti idup dengan budaya tandingan.”

Musik
Okeh musik yang gue buat sebenernya dari kebosanan gue, terus ya gue buatlah, ngulik2, hasilnya ya eksperimental. Jelek atau bagusnya emang gue yang buat. Jadi ya gue sendiri yang tau dimana jelek atau bagusnya dimana. Jadi okeh lupain aja musik gue soalnya gue udah gak buat musik lagi sekarang.

Zine
Gue dah buat zine 2, Zine Abokep yang soal bokep, berenti ngebokep juga, Zine Asep yang personal juga sih tapi ala2 mahasiswa galau yang pengen ngebebasin diri sambil nulis tulisan hariannya.

Budaya Tandingan
Ini yang gue dapet ya mesti terus2an ngelawan arus. Biarin disebut so bener atau idealis yang penting kerja, ya kerja ngehasilin sesuatu lah berkarya.

Ya gini aja dulu buat sekarang2 mah ya, entar kalo ada perkembangan pasti gue curhat di blog ini. Tapi tetep “gak usah diomongin gak penting.”

*****

Dulu gak tau kalo Circle A di tembok2 di sekitar Jalan Viadek deket ama gedung BNI 46, itu artinya anarkis. Yang gue tau itu ada tuliasan “kep@r@t,” ngegantiin huruf a pake Circle A, atau apalah vandalisme yang ditulis di jalanan ngebuat gue tau oh ini ada loh orang iseng pake cat semprot kalengan buat bikin tulisan di tembok. Tapi buat apa ya?

Gue masih SD waktu itu. Jalan kaki dari sekolah gue di Jalan Merdeka. Ngeliat tulisan itu gue sih tertarik ama Circle A itu, apaan ya artinya atau itu kaya gang GBR, BRIGEZ, XTC, M2R, gitu ya gue gak ngerti tulisan “kep@r@t” itu waktu dulu. Sebelum gue baca2 waktu kuliah ama denger punk rock waktu SMP.

Pernah liat Punk, rambutnya di mohawk warna merah, bajunya Sex Pistols yang lusuh, pake spike, ngeliatnya aja takut. Gue jalan kaki ke Mall BIP, sampe disana gue ketemu sama anak Punk, gue naek eskalator bareng Ibu gue mau belanja bulanan. Ngeliat anak Punk tadi bikin gue heran sendiri kok pakeannya harus gitu sih, kenapa rambutnya berdiri terus diwarnain. Dia jalan keliatan pd2 aja tuh gak ada masalah kaya gue yang keheranan sekaligus takjub ngeliatnya.

Hidup jadi punk, itu pilihan, berarti ada konsekuensinya. Itu yang ngebuat punk mau dandanan kaya gitu, pilihan yang diambil buat bebas bergaya punk. Konsekueinsi dianggap preman, ama negatif ama orang selaen punk ya itu bagian dari pilihan ya jalanin aja.

Pernah juga denger kalo punk itu sering ngupil terus upilnya di simpen di pegangan tangan di eskalator. Jadi kalo ada orang megang ke pegangan eskalator otomatis megang juga upilnya, jorok. Gue yang masih SD dulu percaya, jadi gak megang pegangan eskalator.

Tapi waktu itu suka lagu-lagu punk. Green Day, Blink 182, The Offspring. Lagu ini yang bikin gue semangat, sempet denger The Casualties dari saudara gue yang baru pulang dari Amerika Serikat. Wow punk itu ada juga ya yang kaya gini dia bilang itu punk rock sementara punk yang gue denger itu pop punk. Beda. Gue suka dua2nya.

*****

Mau siapa pun ngeapresiasiin tulisan gue, like, komen, share, makasih ya itu udah ngebantu gue ngerasa penting buat nulis, padahal blog ini “gak usah diomongin gak penting.” Lagian anak Punk apaan yang gaya pakaiannya geek kaya gue. Gue cuman orang culun, yang obesitas, sering juga disebut bapak sama orang yang baru di kenal. Padahal baru aja umur 30 tahun, bukan 40an belom punya anak apalagi nikah.

Gue ngejauhin deh kritik-otokritik di musik, komunitas, zine yang entar hasilnya ya gitu2 aja, kalo mau sekali pun bawa santei aja gak usah ngegas.

Gue tau kalo aja ngekritik siap2 aja disebut Polisi Skena, atau Tukang Urus Urusan Orang.

Gue gak peduli yang penting jalan terus.

Tapi apa juga yang mau di kritik, musik, gue cuman orang iseng yang coba buat musik, secara teori aja gue gak dalem terus gimana mau ngebedah musiknya, terus, komunitas gue rasa gue sendiri2 aja sih gak masuk komunitas, gue kurang gaul, maen kurang jauh, tapi kalo mau masuk komunitas sih mau2 aja, daripada sendirian aja, zine gue cuman berhasil buat 2 itu juga kayanya jarang ada yang baca, tuker-tukeran zine pernah, itu juga cuman sekali seumur hidup. Jadi yang mau dikritik tuh: musik, komunitas, zine gak gue kritik, seperti yang udah gue bilang lah, emang gue ngerti apa, ngerti aja enggak. Daripada sotoi jadi ya mending jadi gak peduli ajalah. Maen aman.

Gue pengen membangun alternatif dari apa yang ada, ini bisa jadi sesuatu yang jauh lebih berguna dan produktif dibandingin nulis apa aja yang gue gak setujuin. Ide ama peraktek itu mesti sejalan. Kalo ngeritik ama dikritik malah jadi tontonan, ngapain juga coba. Dah cuek aja.

Kalo gak ngerti mending ngedalemin objek yang dibahas, kenalin juga ama subjeknya biar ngerti pemikirannya. Jadi gak asal kritik.

Oh iya ngulang lagi nih dulu awalnya buat zine2 itu gara2 gak gak ada zine bokep yang ngejelasin gimana coli, ampe berenti coli juga. Ya udah gue buat tulisan itu, soalnya belom ada yang buat.

Gue juga pengen ikut ama temen2 yang ada di pemerintah, atau korporasi beda ideologi gak apa2 yang penting satu irisan bokep, coli, crot, terus ada namanya forum nofap indonesia. Bukan komunitas ya, soalnya kalo tukang ngocok kalo dikumpulin itu gay banget, kalo forumkan tempat berbagi, ya kadang ada yang nyemangatin juga biar berenti. Masuklah gue ke group facebooknya tadi, nofap indonesia, isinya anak muda umur belasan, 20an awal jarang yang usianya sepantaran gue, gue 30. Kalo pun ada yang diatas gue paling ngasih masukan kaya ke anaknya. Sering liat postingan disana isinya curhat tapi yang ngebosenin tuh pas ada penyesalan yang diulang2, uh males bacanya. Tapi gue nemuin banyak istilah baru, ama nemuin kalo zine gue itu hampir sama kaya pemikiran di forum ini soal berentinya ama pengen berbagi cerita coli terus cerita berenti coli. Gue milih gak share zine Abokep di sana sih gue lebih milih tetep share di blog personal aja, biarin sepi2 aja juga. Kaya niat awal gue pengen berenti tapi susah, jadi gue nulis buat mahamin bokep, coli, crot. Gak ngebagiin biarin ajalah. Eh tapi sekarang grup facebooknya malah ditutup. Biasanya ada yang ngelaporin tuh, jadi ditutup. Ya udah gue gak ada irisan sama sepemikiran lagi tapi biarin lah mending post diblog personal aja.

Gue pengen bisa membangun ruang alternatif di kota. Kaya perpustakaan jalanan. Ruang alternatif. Paling entaran gue mau nyumbang zine Asep ama Abokep juga.

Ngembangin komunitas okey2 aja tapi jangan mau komunitas dibawa ikut kampanye politik, sebagei calon walikota contohnya.

Kaya yang udah dibilang gue gak masuk ke komunitas jadi gue gak bisa bilang apa2, paling manggut2 aja.

Sekarang komunitas terpeta-petakan relasi sosialnya berdasarkan program kampanye korporasi yang memberinya makan.

Nah ini juga gue rasa gue gak bisa ngasih apa2 soalnya ya gue belom masuk komunitas.

Mungkin ini yang bener kali ya. Komunitas di biayain rokok nasional, mending ngembangin ama duit komunitas sendiri. Daripada ngasih ruang buat korporasi nyari duit disana.

Korporasi udah mau ngesponsorin, ya bebaslah. Dianggep bukan masalah, ya toleranai ajalah, pilihan buat kompromis.

Ini juga gue setuju2 aja sih.

Nulis zine, buat ngebangun tradisi ama jejaring alternatif di pemerintah, korporasi. Ngelawan konformitas bareng2.

Nah ini gue pengen berjejaring biar zine gue ada yang bacalah.

Ide2 tadi gue dapet dari blog sebelah, dari punk, ada juga yang ngasih zine tentang ide-ide ‘alternatif’ itu. Buat gue bermain dengan ide2 itu sama relevansinya ama bokep, coli, crot, desainer grafis, type designer, illustrator, penulis blog, zine maker ampe hal yang ada diantaranya.

Yang dulunya jadi punk di tahun 90an – 2000an sekarang umurnya 30 ampe 40-an. Mungkin udah ninggalin punk, atau pas waktu itu yang belom umur 20-an juga, dah ninggalin dunia punknya. Ini dah kaya jadi penyesalan, terus tobat, sejelek inilah punk.

Jangan mau kawan2 disponsori partai? sampai semua rekan menjadi corong kampanye calon pemimpin daerah? bermain band di acara tentara? sampai semua teman beririsan dengan ormas fasis? sampai band metal kanan kiri kalian bermain di acara megaloman rasis?

Jir, bete juga ya. Jangan nyoblos. Dah gue cuman bilang itu aja.

Dari zine, blog ngasih gue buat ngeredefinisi punk sebagei gerakan individual aja sih, khususnya gitu, umumnya ya jadi pergerakan beberapa orang aja, ya emang jejaring alternatifnya kecil, tapi itu gak jadi masalah, buat bareng2 berjalan. Ya kaya nulis yang gue anggep punk, meski selebihnya gue cuman omdo, copy paste. Kadang gak action2 gara cuman mikir doang.

Waktu SMA dulu sering donor darah, tapi pas di rumah di komplek gak ikutan kerja bakti, ngebantu yang tidak beruntung juga paling ngasih uang sedekah aja. Hal-hal filantropis ini jadi rutinitas gue, biarin gak semua dilakuin ya, buat gue jadi berguna buat orang laen, sebab gue rasa gue harus ngelakuin yang bermanfaat selagi gue bisa lakuin…

Punk itu ngasih pencerahan ke gue, lewat zine yang gue baca. Dulu zaman kuliah ngebaca anarkisme yang cuman taunya, gak ada struktur organisasi, gak ada ketua, gak ada bawahan, semua rata ngewakilin yang ada. Jadi dikelompok ya semua harus gerak dengan kemampuan yang sama… Gue ngerti ini doang, sisanya jangan tanya. Gue gak ngerti.

Terus ngejalanin idup mandiri dari yang kecil sehari2. Kaya buat D.I.Y. Semua ngelakuin sendiri, yang akhirnya jadi zine Asep ama Abokep.

Beres belanja, ikut bantu Ibu bawa barang2 hasil belanja di super market, keluar ngelewatin gerbang. Punk ada di luar gedung Mall BIP, gue masih inget dulu juga ada yang ngelapak kaset pita, VCD ama audio CD bootleg, sticker, buku komik bekas, perangko, hewan2 langka, ampe bong buat make narkoba.

Punk Is Dead, dah gak liat anak punk lagi di BIP, barudak PI dah gak tau pada kemana. BIP dah rubah, gak ada pedagang kaki lima ngelapak.

Apa punk itu pindah tempat, atau lagi sibuk kerja di tempat2 ini:

1. Penghadangan penggusuran di satu sudut kota,
2. Di sekitar berisik toa pada aksi solidaritas terhadap penangkapan petani Majalengka yang bergaung sampai ke Bandung.
3. Di deretan buku yang dijejerkan saat aksi simbolik bagi kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang disikat militer di tengah kota kita sendiri,
4. Di antara rintik hujan menggotong pompa penyedot air hasil udunan menuju lokasi banjir di Bale Endah.
5. Di ruang-ruang sempit kontrakan membuat ruang belajar alternatif dan lingkar studi koperasi.

Gue gak ada di sana. Gue lebih sering ada di rumah, males2an di kamar, sambil kadang2 ke warnet buat ngecek email, cek blog, kali aja ada yang kontak buat kerja atau mesen desain. Ah sekarang umur 30 tahun dah susah juga sih kerja, yang manggil lewat whatsapp aja dah gak ada. Kayanya bener nih harus jadi font kreator yang one man show aja.

Okey! Inget gak usah nyoblos, jadi diri sendiri aja buat nyelametin diri. Nyoblos gak ngerubah diri sendiri, harus ngelawan diri sendiri baru bisa robah.

Zine Abokep #2-11. 2014 – 2015.

Tulisan-tulisan ini diambil dari pdf, jadi layoutnya kaya gini nih, berhubung gue gak punya komputer buat ngebaca pdf ini saya pindahkan ke blog personal gue, jadi bisa baca online di hp android low end. Oh iya ini tulisan lama sih tahun 2014-2015. Ini bagian dari cara gue buat dokumentasi tulisan gue, sekaligus janji pribadi buat berbagi zine Abokep, Abokep #13 ada di posting di blog ini juga cari aja di posting2an sebelumnya.

Pas baca lagi ternyata gue loncat 1 volume dari 11 ke 13. Yang volume 13 itu ternyata volume 12. Jadi kalo lo nyari volume 12 ya lo baca aja volume 13.

Abokep Zine 02 /

Juli 2014

Sama kaya edisi sebelumnya. Masih soal ngebokep, coli. Ya, emang kemampuan gue cuman itu kok. Jadi gue bahas yang gue lakuin, sama ngarti ajalah. Zine politik dengan P besar, zine politik dengan p kecil, zine seks bebas dengan gender apapun gak ada disini. Cuman ngebahas coli di sini mah jadi kalo kamu jijik sama coli ya udah gak usah dibaca ya? buang aja! Ngerasa bersalah gue udah coli di bulan puasa. Udah hampir idul fitri. 3 hari batal puasa cuman gara-gara pengen coli, sambil ngeliat toket gede AI Shinozaki, Anri Okita, emang tolol sih. Gue yang tuhanis aja masih suka kalah sama sisi setan gue yang ngajak coli di bulan puasa. Kesalahan ini sih udah sering banget gue ulang. Bukan berarti gak coli itu gak salah. Lo yang gak suka coli gue pertanyakan apa lo punya kontol atau kaga? Punya fantasi seks apa kaga? Apa mungkin kontol lo udah gak fungsi? Haaa. Menyedihkan. Emang sih coli ada gak baeknya. Penggangguran kaya gue kan butuh kesibukan, biar disebut punya idup. Biar ada kesibukan ngobatin BT gue, gue coli. Ngecrot ke kertas A4 yang udah gue print gambarnya Anri Okita. Toket gedenya bikin gue seneng ngeluarin sperma cepet. kadang cuman 2 menit aja gue udah crot di atas gambar tadi. Impoten, atau apapun gue gak peduli. Anak kan bisa beli, sekarang di tv aja banyak tuh yang jual beli anak. Coba lo tonton berita. Karena kemiskinan, jual anak lebih baek daripada ngurus anak. Jadi kalau pun gue impoten gue punya kesempatan beli anak. Santai aja. Kesibukan gue emang dihabisin buat coli sambil, ngebayangin kapan gue dapet duit dari kerja gue. Ngelamar udah, tinggal nunggu interview doang. Anjing lama. Gue nunggu sampe udah 9 bulan belom juga dapet panggilan. Ya gak apa-apa lah yang penting gue punya kesibukan baru selain itu. Coli. Coli. Coli. Banyak banget yang bermoral, agamis nuduh coli itu perbutan jahat, gak baik. Emang. Tapi gue emang gak bijaksana kok. Apalagi baik, gue gak baek. Coli ngabisin waktu gue sakarang ini. Sering gue bosen gue coli. Sering juga gue tidur. Semakin sering juga gue makan. Ya, idup gitu-gitu aja ngebosenin. Jadinya gue juga mulai ngurangin coli. Gue bikin zine ini. Cerita pengalaman gue sekarang. Jadi inspiratif atau kaga gak peduli sih. Gue cuman mau berbagi aja. Banyak banget kesempatan buat ngerubah waktu luang gue jadi duit. Gue butuh banget duit. Gue sering ditagih duit sama bokap nyokap gue. Katanya “kamu ituh usia produktif, harusnya kerja

2

nyari uang. Sekarang bagian Ayah dapet uang dari kamu. Udah masanya sekarang kerja. Jangan lelet lagi. Ngapain freelance, kalo duitnya kecil. Emang kamu bisa idup dari situ? ”. Gue ngebalesnya dengan diem aja. Lagian pan, gue tuhanis. Jadi harus nurut apa kata bokap-nyokap biar gak masuk neraka. Doraka. Terbukti sekarang duit gue tipis banget di dompet. Gak ada lagi dvd-dvd bajakan yang gue beli. Gak ada lagi rilisan album lokal yang gue beli. Internet gue aja gak gue isi pulsanya, terlantar gak kepake. Gak sanggup beli pulsa. Minta duit ke bonyok juga malu. Udah bosen lagi di komentari pemales, pengguran, makanya kerja. Aduh.

1

Ya udah gue bisnis kaos sama jual beli barang gue yang gak kepake. Lumayan ngalir juga duitnya. Meskipun gak sepasti gue kerja. Gelar sarjana gue simpen aja di lemari ngamanin kertas ijazah gue. Belum kepake buat kerja kantoran. Emang bisnis kecil-kecilan juga untungnya sama kecilnya. Kalo gue mau sih pengen kerja kantoran. Tapi gue belum dapet interview kerja mulu. Coli bosen, nunggu interview bosen, jualbeli barang juga bosen, ngapain lagi. Ya udah gue nulis zine ini. Semoga gue dapet ngebaca kesaharian gue ngapain aja selama ini. Kalo boleh dibilang idup pengagguran emang nyenengin. Punya banyak waktu buat ngelakuin apapun. Apalagi gue jomblo, makanya gue ngabisin kantong biji kontol gue dengan coli setiap hari. Gue belum punya memek yang dapet di siram sama sperma gue. Ah biarin lah, gak penting juga punya cewe pusing ngurusnya. Idup gue aja udah gak ke urus ditambah harus ngurus cewe? Aduh anjing males. Keluarga gue yang sering beratem, Bonyok ampirampiran cere. Sebelum Bokap diambil Tuhan gue gak nyangka secepet itu kematian bakal ngebawa bokap ke surga. Janji gue buat segera kerja belum kepenuhi. Ema gue udah bosen ngerap adu rima same lirikal ayo kerja ala Slank. “kerja, kerja, ayo kita kerja!”. Maapin gue yah, belum bisa ngasih uang ke Ibu. Maapin gue bu, belum bisa nyenenging ibu. Belum mampu ngebiayain idup keluarga, apalagi idup sendiri. Gue emang pengen ngerubah kebiasan gue coli, biar pokus kerja nyari duit. Gue udah kehutangan banyak sama bonyok. Kerasa banget di tinggal babeh gue jadi makin sering coli. Makin binggung ngelakuin apa yang mesti gue lakuin. Gak tau kenapa. Apa psikologis gue udeh kena coli. Jadi gak bisa mikir bersih. Gak tau juga. Ah, gue sabar aja dah nungguin review kerja. Ayah gue meninggal pas gue coli. Gue gak tau bakal meninggal hari ini. Gue nutup pintu gue biar gak ngeliat di sakaratul. Gue juga gak nyangka emak gue yang kecapean tidur di kamar laen gak nemenin Ayah. Ayah hari ini bawel banget. Pengen ditemenin mulu lagi. Gue yang butek ngurusin skripsi waktu itu, pengen refreshing. Gue coli sambil nonton bokep. Saori Hara. Cakep banget anjing, dari jepang. Imut-imut gitu. Gue suka banget cewe imut. Gue coli. Ayah gue berisik banget teriak, teriak. Nama gue disebut

3

berkali-kali. Nama emak gue disebut juga. Berkali-kali. Tapi emak gue tidur dikamar yang jauh dari kamar Ayah gue. Gue kamarnya sampingan sama Ayah. Tapi gue tutup pintu. Gue coli. Gue ngeluarin sperma dengan santai. Anjing fresh banget lah. Gue crot di gelas. Gelas mug yang gambarnya Che Guevara. Mug ini warna merah. Tulisan Che Guevaranya warna item. Kontol lemes, sperma udah disimpen di gelas. Gue agak heran. Kenapa ya, Babeh gue diem. Dari tadi subuh padahal berisik banget. Asem uratnya kambuh, penyakit jantungnya juga udah lama gak sembuhsembuh. Kemaren-kemaren sih di tes dia juga kena lambungnya. Penyakit apalagi ini. banyak banget. Kasian babeh gue. Mukanya tua banget beberapa bulan ini. Mungkin bakal segera diambil gue mikir. Beberapa hari lalu. Tapi gue gak nyangka secepet ini. Keadaan hening setelah gue coli. Bikin gue pengen molor, santai. Gue matiin komputer. Tombol bulet power di pencet. Komputer Shutting Down. Layar CRT gue matiin juga. Speaker juga. Gue molor sore itu. Gue pengen istirahat dari nulis skripsi sebentar. Gue buat nanti aja udah magrib. Nanti mandi wajib, terus solat. Baru berisin revisi skripsi yang susah kelarnya ini. Dah lah santei. Hening. Langit hari itu mendung. Tandanya udah mau masuk magrib. Gue bangun. Mau cuci muka. Mau mandi juga. Emak gue yang dasarnya cerewet ketakutan. Gue kan ngatau ya. Tapi rada ngeri juga. “itu ayah, kenapa diem terus. Coba cek nafasnya!” gue ngeyakini emak. “Udah biarin aja, ayah istirahat bu. Dari tadi subuh kecapean, biar istirahat”. Gue pengen ngebersiin kontol gue sama sperma kering gue sama mandi wajib. Biar bisa solat asar. Gue mandi. Gue fresh. Kontol gue dah gak ada bekas sperma kering lagi. Kolor gue yang kena sisa sperma coli dah gue ganti ama yang baru. Kontol gue bersih. Sekarang gue mau solat. Emak gue berkalikali nanya. Itu coba cek ayah apa masih nafas. Dengan ketakutan. Ibu emang histeris orangnya. Penakut. Maklum ibu-ibu. Ya udah deh gue ganti baju dulu. Gue peggang ayah. Cuman ko feeling gue gak enak ya? Perasaan gue ko emang udah gak ada nyawa. Bener aja gue yang ngeliat babeh gue terlentang. Dengan kaki satu kebawah ranjang. Satu lagi masih diatas ranjang. Tangan kirinya nyentuh ubin. Gue heran posisinya aneh banget. Tadi siang gue juga sempet juga ngurutin kakinya. Cuman anehnya dingin banget. Ko dingin ya. Gue heran. Biasanya kalo udah dingin itu udah meninggal. Tapi ah. Enggak ini kan masih ngobrol sama gue. gue urut terus sampe Ayah agak tenang. Baru deh gue coli terus bobo siang. Nah sekarang gue coba ngebalikin dia yang lagi tidur tadi. Gue balikin. Gue kaget. Ada cairan kuning di mulutnya. Entah nikotin atau apa, dulu babeh gue ngerokok. 2 bungkus abis dalem sehari. Sekarang udah 10 tahun berenti ngerokok sama berenti kerja kantoran. Lebih milih kerja ngejual barang antik. Hah,

4

kenapa ini. gue kaget setengah sadar gue heran. Apa ini meninggal babeh gue? gue coba sabar, pasrah. Gue ngarahin tangan gue deket dengan idungnya. Mastiin masih ada nafas. Gue gak ngerasa. Ada nafas. Gue pegang tangannya kaya di film-film. Gue cek denyut nadinya. Gak ada. Gak ada yang gerak nadinya. Gak. Gue cuman bisa inget sampe sekarang. Mukanya yang kesakitan sama kesedihan dia. Idup miskin, ampir bisa dikata keluarga gue ngemis kemana-mana biar gue bisa kuliah, biar bisa jadi orang yang ngasih mereka kepastian pasokan makan selama idup. Gue nangis, gue teriak. “Ayah Ayah Ayah! “. Emak gue yang dibelakang gue. Juga teriak gak kalah histerisnya sama gue. Gue jadi sebel sama coli. Gue jadi benci diri gue. Gue benci. Benci. Bokap gue kesakitan. Setelahnya datenglah dokter deket rumah buat ngecek. Katanya Ayah gue udah meninggal dari sore. Kalo gue itung pas gue coli itu. Pas hening. Pas itulah waktunya babeh gue di ambil Tuhan. Penyakit jantung makin parah kalo ditambah asam urat. Kata dokter ini, rasanya bakalan sakit banget. Gak tau Bokap tuh dapet sakitnya kaya gimana. Katanya juga gak boleh banyak pikiran. Gak boleh kecapean. Gak boleh stress. Nah kalo ditambah dengan penyakit asam urat yang sakit banget bakalan kerasa berkali-kali. Gue mikir apa emang gini ya idup. Kena penyakit terus mati. Gue tau semua orang pasti mati. Cuman gimana ama udah ngebuat apa aja selama idup. Gue mikir. Coli udah ngebuang waktu gue sama babeh. Disaat di sakaratul maut, gue malah coli. Bukannya nemenin dia. Bukan nyeneing dia dengen nemenin dia baca-baca ayat suci. Ngobrol biar gak terlalu kesakitan. Gue milih coli daripada itu semua. Ah anjing ini penyesalan gue yang terbesar. Makanya semenjak itu gue benci coli. Tapi sekarang kok gue heran. Kenapa gue sekarang malah sebaliknya. Kebanyakan coli. Aneh. Kebanyakan juga waktu gue dibuang buat ngeluarin sperma dibanding nyari duit. Sampe sekarang emak gue butuh duit buat memperpanjang umur di dunia. Sekarang gue jadi inget lagi, kenapa gue harus berenti coli. Harus kerja. Harus idup di luar gaul same temen-temen gue. temen-temen kantor atau gue gini terus. Coli sampe mampus, terus nyesel berkalikali ngulangin kesalahan yang sama. Coli. Gue pengen keluar rumah gaul lagi sama temen gue. Gue idup buat ngebahagiaan emak gue sama hasil gue buang waktu gue di dunia kerja sama kaya Ayah gue dulu kerja buat idup.

1

Abokep Zine 03 /

Agustus 2014

Coli bagian idup gue yang terkadang ngebuat gue jadi bodo. Kadang juga ngebuka otak gue jadi lebih percaya sama adanya kontrol seksual. Gue di kontrol seks, gue bisa juga sampe gak ngontrol coli. Kalo pikiran gue bisa ngebuat kontol gak coli. Berarti gue bebas dari seks. Gue bebasin pikiran gue buat ngelakuin apapun. Bebasin pikiran bisa ngebuat gue ngerti apa artinya idup selain kontol, uang, games, buku, musik, gitar sampe agama. Anri Okita, Ruri Saijo, Maria Ozawa, Hitomi Tanaka dan Rio ada di folder yang gue simpen tersembunyi. Udah seharusnya filefile bokep harus disimpen aman. Biar kalo ada yang mau ngebokep kudu usaha dulu. Lagian jarang juga sih yang make komputer selaen Abang gue. Sisanya gue terus yang make. Isinya sih dikit cuman 400 mb, kumpulan film pendek 1 menit sampe 7 menit. Gue gak butuh file gede yang penting desahan kesakitan yang tereaktereak bisa gue dapet dari JAV. Toket gede atau kimcil juga gak napa-napa. Bule atau Asia juga gak penting. Cuman terakahirakhir ini gue suka sama Jepang. Gue lagi suka yang sipit-sipit, moe, bukake. Downloadnya juga cepet. cuman 3-19 menit. Modem gue kan kuotanya ngeselin sama ngeselinya sama isi dompet gue yang tipis. Jadi gue harus ngehemat buar ngebokep juga. Gue seneng banget coli. Kenapa ya, enak aja. Gue bisa fresh sambil ngilangin stress gue yang belum dapet-dapet kerja. Gue gak punya cewe, gak make dildo, apalagi lagi nyobain perek. Gak itu bukan gue. Gue cukup nikmatin coli. Ego gue buat nikmatin diri gue sendiri bikin coli itu nikmat. Gue bisa ngambil kenikmatan desahan di film JAV sambil ngebayangin gue adu kelamin. Gue harus tau bener kapan harus ngecrot ke gelas. Kapan gue harus ngatur mouse gue di timeline media player classic, kapan gue harus ngilangin recently file bokep, kapan juga harus ngerename file bokep. biar kaga ketauan. Sekarang gue malah BT sama coli. Masalahnya gue masih jadi penggaguran yang butuh duit. Kerjaan gak ada panggilan kerja mulu. Interview belum dapet-dapet ya udah gue bisnis aja. Ngerjain yang bisa gue kerjain jadi duit. Bokep gue tinggalin. Gue delete semua file bokep. Gue maenin gitar gue lagi. Gue buat lagu lagi. Gak ada lirik. Asal bunyi aja, yang penting gue punya

2

penyaluran seni gue dibandingin nyalurin kontol gue ke coli. Capek. Gue mulai mikirmikir kapan ya gue berenti coli beneran. Atau emang gak bisa berenti. Tapi nguraing coli aja. Biar gak terlalu sering banget. Lagian gue udah mandul juga. Cuman 2 menit udah crot. Padahal gue pengen banget lama-lama maenin kontol. Tapi gue udah punya caranya kok. Gue suka maen gitar. Emang gak ada yang nikmatin permainan gitar gue selain gue sendiri. Idealis atau gak enak didenger gue gak peduli. Kalo lo ngerasa gak enak musik gue buat berarti ya anggap aja itu salah kalian ngederin musik gue. Biar banyak kesibukan. Gue juga pernah ngeekspresiin coli gue ke gitar. Tiap sange gue harus maen gitar, fokus nikmatin proses gue petik satu persatu senarnya. Dari ke enam senar ini gue sering banget buat musik. Gak tau dah jenisnya apa, yang penting gue maen gitar aja. Gue gak ngerti juga susuanan tangan gue bisa ngehasilin suara yang asik. Asal bentuk, petik, langsung keluar suara. Gue juga harus jago ngatur kemana musiknya bakal ke ujung. Ngatur awal, tengah, boom sama akhir. Kira-kira gitulah bahasa gue nya mah gak tau juga kalo bahasa musiknya mah. Gue nikmatin aja prosesnya sama sekali gak mikirin harus kaya gimana juga hasilnya. Gue buat musik buat gue sendiri. Selama telinga gue ngerasa enak didenger salam itu juga gue ngebuat musik. Udah ampir 7 hari gue gak ngebuat skripsi. Selalu gak ada mood. Tapi mood bisa dipaksa sama deadline. Yah terima ajalah gue kena damprat dosen. Yang penting bisa dapet ijazah terus kerja. Udah gitu aja. Gue pengen idup normal lagi. Gak pake coli, gak pake ngaret, gak pake lemes, gak buangbuang waktu gue buat coli. Anjing capek. Gue tau gue kalah berkali-kali sama coli. Tapi bukan berarti gue gak selalu bisa berenti. Gue berenti coli. Gue fokus skripsi aja deh.

1

Abokep Zine 04 /

September 2014

Mitos itu gak dibuat dari denger orang laen aja. Gue sendiri bikin mitos buat temen-temen gue. Gue juga setuju dengan pendapat gue meskipun emang gak objektif kalo diliat dari kedokteran dan psikologis juga. Tapi kan gue juga bukan kerja di dua-duannya. Gak ngerti. Gue cuman nikmatin coli gue aja, gue rasa gue banyak pengalaman dari kelas 5 SD, sampe sekarang kerja kantoran. Semakin sering coli semakin sering juga gue makan. Semakin sering coli semakin lemes badan gue. Gue gak pernah ngerasa penting buat mandi, ibadah, belajar, tidur, karena gue rasa gue lebih milih coli. Gue jadi kucel, jarang mandi, males ngapangapain. Gue juga bisa buat mitos orang gak butuh coli, gak butuh memek, gak juga butuh bantuan obat penegang kontol. Ya gue rasa gue bisa lebih baik idup kalo gak coli. Makin sering coli gue makin ngerasa waktu makin cepet. Tiba-tiba hari-hari kelewat, senin ke rabu, kamis ke sabtu, minggu ke selasa, rabu ke jum’at. Gak kerasa hari terus berubah. Bandingin gue gak ngerjain apapun selain ngebokep, coli dan crot. Gue rasa mitos waktu kepake kebanyakan coli emang bener deh. Gue bisa makan banyak kalo abis coli. Bisa sampe nambah 2x, gak tau emang lemes bawaanya lapar. Tapi kalo udah makan pengen coli lagi. Ah anjing repot dah. Gue juga jadi jarang mandi, gue lebih milih coli, kalo gak molor. Gue begadang subuh buat bisa ngebokep. Selang berapa jam gue harus udah siap berangkat ke kampus. Repot anjing, lemes. Gara-gara gue males mandi wajib, jadi males solat, ngaji, sampe nahan kontol buat di pake ngeluarin pejuh. Jelas ini bukan ibadah. Sampe PR yang gak sempet gue kerjain. Gak niat ngerjain kecuali nyontek temen. Gue udah siap dari pagi-pagi dateng ke kampus buat itu. Setiap kontol butuh memek, semua orang juga punya nafsu seks buat di lampiasin. Semua orang pengen punya anak biar nanti sebelum di kubur ada yang ngedoain masuk surga. Pengen punya pasangan buat ngobrol, berbagi hari, berbagi waktu, nikmatin idup, bukan masalah ngentot aja. Kontol lecet kalo keseringan coli. Emang kejadian. Gue jadi males coli, kalo di paksaain makin lecet kontolnya. Ujungnya perih. Jadi gue harus ngalihin ke solat, ngegitar, ngegambar biar gue gak

2

ngebokep, coli, crot. Mata gue bakal tambah minus. Gue ampir setiap tahun naek setengah minusnya. Jadi gue mikir, kalo gue gak coli 3x sehari gak begadang. Mata gue bakal sehat. Minimal gak nambahlah minusnya. Gue berhasil ngebuktiin. Itu semua. Sakit pinggang kalo kebanyakan coli. Emang bener. Tempat pembuatan sperma gue gak perlu kerja keras buat produksi sperma berlebih. Badan gue jadi gak lemes, gak sakit pinggang lagi. Pegel-pegel dan tegang. Gak enak badan. Wah ini juga gak keluar lagi pas gue berenti coli. Pokoknya badan jadi seger, kaya udah molor. Seneng dah. Dari pengalaman tadi gue cuman bisa dapetin kalo gue berenti coli. Gue berenti mikir gimana berenti. Gue ngelakuin aja yang harus gue lakuin. Kerja, ngegitar, ngegambar. Ngelakuin kesukaan gue seneng. Kalo boleh di bilang gue ini sulit banget lepas tapi bukan berarti gue gak bisa lepas. Gue harus ngelakuin, terus dapet hasilnya. Udah. Gitu aja.

1

Abokep Zine 05 /

Oktober 2014 Part I-II.

Keseharian gue itu di isi di dalem kamar. 24 jam yang ada cuman berdiam diri, duduk, baca tulisan, nulis juga, kadang coli berkali-kali sampe lemes. Gue bosen hidup kaya gini, tapi kenapa gue tetep tahan ya? terus di ulang-ulang pula? Gue sendiri gak bisa jawab. Susah buat jujur ke orang laen, gue lebih milih mendem masalah, curhat-curhatan sama gue sendiri, nyari solusi sendiri. Kan gue sendiri yang punya masalah, gue sendiri yang nyelesein, kalo bukan gue gak akan selesei juga masalah yang gue punya. Gue butuh cara sederhana buat selesein masalah. Coli emang enak, berkali-kali gue nulis gitu. Berkali-kali juga gue gak bisa bo’ong. Emang enak ko coli, emang enak ko idup 24 jam ngelakuin yang gue suka. Tapi gue bosen coli terus. Gue butuh olah raga, rutinitas, hiburan gue buat keluar dari ngocok kontol terus crot. Gue pengen berenti. Gue udah terlalu keenakan coli, gue udah banyak ngabisin waktu gue buat coli. Gue juga udah ngalamin apa aja yang ilang di idup gue gara-gara sibuk coli di bandingin kesibukan gue sama orang laen. Maafin gue yah, bu, bang, nek, tementemen gue. Gue emang ngerasa ngulangin rasa nyesek gini di tulisan ini. Gue juga pengennya sih ngelanjutin idup. Tapi gue rasa gue harus mulai ngasih standard tinggi buat gue keluar dari keseringan coli. Sempet gue buat aturan, coli cukup sekali crot. Coli juga cukup 3 hari sekali, Coli juga jangan di buang tapi di minum, biar bisa di cerna lagi terus gue dapet tenaga. Coli jangan lama-lama secepetnya aja, biar jiwa tenang. Gue juga ngurangin nonton bokep dikit-dikit. Kalo gue ngehapus total malah yang ada kebingungan gue mau ngecrot apa. Yang ada gue malah nyari bahan coli yang laen. Tetep aja gue coli. Jadi okeh gue bakalan ngasih standard deh. Temen-temen gue ngasih tau. “bisa bego loh kebanyakan”. Ada juga yang bilang “wah kamu hyper sex ya?” gue setuju tapi gue malu buat jujur. “ah udah tinggalin aja, malah capek sendiri, gak ada manfaatnya juga”. Gue rasa iya juga jadi sekarang gue harus berani ngambil tindakan. Mau berenti? Mau ngelanjutin? Kalo berenti ya udah jauhin. Mau lanjut ya coli aja bebas gak usah mikirin berenti atau ngerasa dosa.

****

2

Gue rasa tindakan gue harus ngasih banyak duit buat tabungan gue, beban gue buat idup mandiri emang harus di jawab. Bukannya coli itu bakalan lemes, gak mungkin kan gue kerja dengan keadaan lemes, males, gak kreatif, pasif, masa bodo. Gue rasa gue milih berenti. Gue mulai mikir. Lakuin yang positif aja. Bebas sibukin diri, jadi gue balik baca, nonton film, komen blog orang, nulis lagi, dengerin musik lagi, buat musik lagi, gaul di luaran. Gue rasa idup kaya orang laen itu gampang. Gue kan pernah idup kaya gitu. Gue juga pernah idup keluar dari itu. Buat balik lagi kayanya gampang. Ah lakuin ajalah jangan ngabisin umur buat mikirin tapi gak ngelakuin. Mikir doang mah malah jadi lelet, gak jadi juga gue berenti coli.

****

Temen gue banyak yang terbuka buat berenti. Tapi semua gagal, semuanya juga nasibnya selalu sama kaya gue. Ngebokep takut coli tapi tetep di tonton. Terus lupa lagi sama tujuannya buat berenti coli, eh malah nyekek kontol di gesek enak terus ngeluarin sperma. Crot. Baru aja sadar, aduh gue ngerasa dosa udah coli, kan gue mau berenti kenapa gue coli ya? kenapa sih gue? ko gue ngelakuin ini. Gue waktu SMP-SMA sering putus asa gara-gara mikirin ginian. Uban gue numpuk berjubel di sekitaran kira-kanan belahan kepala gue. Rambut beruban kaya bapak-bapak, temen gue bilang “lo stress? Lo gak mau di cat rambutnya? Biar keliatan muda? Kenapa gak lo botakin lagi, biar gak keliatan? Mending di gondrongin aja, biar gak keliatan? Soalnya botak jadi keliatan jelas.” Gue sih binggung sama rambut gue. gue banyak ngeduga-duga, gue rasa itu salah. Gue males juga nyari masalah uban gue, gue berharap rambut gue putih semua, jadi lebih jelas gak abu-abu. Gak jelas juga maunya apa sih ni uban. Gue kecewa berkali-kali, tapi kenapa gue lakuin coli berkali-kali. Jelas gue kecewa, tapi gak penting yang ada malah cape. Mending gue nulis coli perbulan lebih jelas. Emang rencanan berenti ini ambisius, keliatan so suci, so mau progresif. Tapi tujuan awal gue kan pengen keluar dari bosen coli, terbukti gue ngilangin banyak waktu sama orang yang gue sayangin. Gue kecewa, gue depresi, gue ngerasa gak bermanfaat, jadi jalan keluarnya cuman gue keluar dari ketertarikan gue sama coli. Banyak harapan idah yang udah terwujud dengan ngurangin satu hal yang gue sayangin. Gue ngurangin tidur gue buat ngebayar janji ngumpulin tugas kuliah di meja dosen. Gue dapet nilai yang gue mau, sesuai persetujuan dosen. Gue juga dapet pengalaman, kalo mau ambil, kalo gak mau diem aja, cari yang laen masih banyak kan. Jadi kenapa juga harus kecewa, depresi bukanya gue udah nikmatin idup kaya gini.

3

Onani 3 x sehari, kecewa terus depresi? Sekarang apa yang harus gue lakuin?

****

ELENA: Wow dia makin cakep, mukanya makin imut sekaligus makin dewasa deh. Anehnya, ko malah makin imut ya, gue gak pernah ngira muka dia seimut itu sekarang. Dulu pertama liat sih biasa aja. Mirip mukamuka artis sinteron baru. Cakep, putih, tinggi, langsing, rambut item panjang. Gak tau juga sekarang udah semester berapa dia kuliah di sana. Kebetulan kerjaanya jadi model freelance, edorsment gue rasa ngebuat dia terbiasa di foto. Buat gue dia nyaris gak ada yang spesial di bandingin mereka di TV. Jadi pilihan gue buat bilang dia gak imut salah besar kalo gue liat foto facebooknya sekarang. Sekarang gue juga gak ngerti kenapa foto facebooknya keitung jarang update foto, gak tau kenapa. Mungkin ekspresinya yang senyum biasa sambil ngelihat kamera dengan hot pants, Kakinya yang putih makin keliatan jelas dari hot pants yang sengaja di potong super pendek. Restlatingnya dah pasti nutup, kan bukan pemaen bokep juga. Dia pake naekin hot pants itu ke atas sampe setinggi selangkangannya. Sayangnya rambutnya jadi coklat, ah gue jadi inget cewe korea yang booming beberapa tahun lalu. Baju item yukensi kontras keliatan di banding kulitnya yang putih. Badannya langsing persis iklan Ola Ramlan yang nawarin baju pengencang perut dengan teknologi Jepang. Rambuntya sepanjang punggun di atas pantat. Dengan potongan nyaris sama rata. Sayangnya gue gak suka sama latar belakang foto ini. Mobil sedan berbaris di atas aspal, di belakangnya kaya ada pohon pembatas parkir tadi. Ada tiang lampunya juga. Aduh, jelek banget deh coba di foto belakangnya kamar dia. Atau gak di tempat kuliahan dia. Gue gak suka di tempat parkir keliatannya cewe mall yang baru turun parkir, terus jalan 8 langkah sambil siap-siap di foto. Gak apa-apalah yang penting kontol gue ngerespon muka cakepnya bakal gue gosok sekarang. Pelan-pelan gue jadi lupa lagi sama janji gue buat berenti coli. Ah, lagi-lagi ada aja cobaanya buat berenti, facebook. Sial nyesel juga gue nga-add dia. Gue nikmatin paha putih itu, gue gak peduli foto ini endorsement produk online shop cewe. Gue gak tau dia ngebolehin fotonya di pake bacol, kalo gak juga gue gak bakal maksa di gak marah. Ya coli mah coli aja.

1

Abokep Zine 06 /

Oktober 2014 part II-II.

Gue baca lagi buku lama. Gue jadi inget puasa di Margahayu. Lagulagu nostalgia disana. Banyak yang gue kerjain jadi kurang molor, untungnya gue banyak minum aer putih sama banyakin lagi solat. Normal? Gak tau juga sih. Gue sendiri ngerasa ini pernah gue lakuin dulu. Cuman gue gak konsisten, jadi lupa sama kehebatan agama gue sendiri. Gue gak ngelakuin ibadah agama lagi. Sekarang gue ulangin lagi itu. Sekarang gue paham. Agama itu penting, hubungannya gede sama rutinitas gue sekarang. Ngerjain skripsi. Begadang cuman abis buat baca skripsi progresif metal di Medan. Gue nikmatin pengertiannya musik lagian ini emang lumayan seru di baca. Sayangnya emang gak spesifik ke Band apa, terus gimana produksinya. Tapi cukuplah ada perbandingan sama band laennya. Teori loud, ngerekam musik di komputer terus di ulik live, baru ngumpul bareng lagi jamming, pas ngerasa dah oke baru deh direkaman. Ini jadi ngehemat bayar studio latihan. Nitip lapak lagu di clothingline. Musisi independen yang gak punya label rekaman yang gak ngebantu distribusi album butuh kerja besar buat ngejual album musik kaya gini. Emang musik ini susah di ngertiin kalo di bandingin pop punk yang lebih sederhana. Namanya juga idealisme gak peduli sama sederhana, apalagi pop punk bisa lebih gampanglah dapetin duitnya. Yang denger lebih banyak dibanding prog metal, peluang dapet duitnya lebih banyak. Yang suka juga lebih banyak. Tapi lebih penting produktif, inovatif nyalurin hasrat musik. Daripada mabok, maen memek, coli ya mending buat album musik bareng temen. Ngembangin komunitas musik. Butuh banyak kenalan, sama nikmatin proses dari band kecil yang umurnya tahunan, terus jadi band sedeng yang umurnya belasan. Baru deh jadi band gede pas masuk umur dah puluhan tahun. Pas ada band gede laen yang ngedapetin inspirasi dari album musik ini bakal ngebuat jadi band legenda.

*****

Novel zine ini emang bakal makan tahunan gue rasa. Gue nikmatin nulisnya sih. Sekalian mahamin tulisan gue lagi. Ngatur kata ke kata yang nyambung di kalimat. Gue jadi banyak baca artikel, skripsi, zine, blog buat ngambil inspirasi sudut pandang.

2

Gue ngebagiin berita ini biar kalo ada yang butuh bisa spesifik. “zine coli remaja”. Mau di bilang cabul, bokep, porno apa ke gue gak peduli. Yang penting asoy nulis. Asoy baca. Asoy gratis.

*****

Gue coli lagi. Gue download lagi Ruri Saijo, Shion Utsonomiya, Anri Okita, Phoenix Marie, Memphis Monroe sama Lisa Ann. Gue ngebokep lagi. Padahal udah ampir seminggu lebih gue berenti. Gue nulis terus jalan-jalan keluar rumah biar gak stress. Gue berent coli. Tapi BT lagi, gue coli lagi. Kalo BT pasti aja coli. Sialan. Jum’at, Sabtu, Minggu gue coli. Anjing kerasa lagi nih males-malesannya. Pengen molor anjing. Tapi skripsi belom kelar. Gue malah asik nulis novel zine ini. Aduh anjing mau move on ko ribet ya. Padahal tinggal berenti coli doang.

1

Abokep Zine 07 /

November 2014.

Bangun subuh ngumpulin fokus buat jalan kaki kecil ke kamar mandi. Gue lagi pengen solat subuh. Gue butuh itu buat gue bangun pagi. Gak tau kenapa gue pengen solat subuh lagi. Pengen mandi pagi jam 5 kaya dulu. Istirahat jam 12. Mandi sore kalo gak magrib. Baru deh ngerjain lagi. Sekarang gue pengen ngulang rutinitas gue yang dulu gue tinggalin. Air wudhu yang gue ambil dingin. Gak sedingin waktu gue wudhu di Cisarua Lembang. Dulu sempet maen di sana. Gila digin.Kalo sekarang udaranya dingin bikin males-malesan jadi gak solat subuh. Sekarang beda gue paksain bangun, okey gue mau solat subuh. Lupa lagi belum solat Isya. Gue solat cepet, gak pake solat sunat. Gak dzikir juga. Gue terima kasih sama Tuhan. Gue nerima gue sekarang. Gue nikmatin idup ajalah. Apa susahnya sih, tinggal jadi “yes man”. Udah kelar semua dapet dah yang pengen gue mau. Adzan subuh kedengeran. Gue udah solat Isya, pas dah tinggal solat subuh terus ngerjain revisi. Gue rasa gue udah ampir 2 – 3 bulan ini gak ngerjain revisi deh. Nyokap masih kuat nahan omongan ke orang-orang kalo gue sendiri belom ngerjain revisi. Jadi gimana mau kerja. Revisi aja belom. Padahal sih tinggal ngelamar doang. Gue di untungin sama rahasia itu. Bisanya Nyokap suka terbuka nyerita apa-apa ke ampir semua orang. Gak ada sensor. Tapi untungnya sekarang gak seterbuka itu. Kan gak semua orang juga mau denger, gak semua orang juga mau nutupin rahasia, gak semua orang juga ngasih solusi dari masalah yang di dengernya. Jadi mending gak usah di ceritaain sekalian. Untungnya sekarang Ibu udah tau itu semua.

****

Coli yang gue lakuin lagi mulai ngelukain jantung gue. Lemes. Dag-dig-dug di dada gue kerasa lagi. Gue susah juga buat bangun tidur. Tapi gue paksain biar gue menuhin solat. Sekalian solat subuh. Aduh gini nih kalo coli lebih dari sekali kerasanya gak enak, gue harus berenti dulu istirahat. Sebulan dua bulan. Gak usah coli. 3 bulanlah gue gak coli. Cuman gue males ngedelete bokep yang 100 Giga. Gue mulai nyortir lagi, dikit-dikit. Daripada gak di tonton mending di delete yang gak rame, gak jelas, gak unik, gak spesial. Jadi ya udah nanti juga gue bakalan ngebokep lagi. Atau gue milih gak di delete tapi nanti gue ngebokep lagi. Ah, mending gak usah di deletelah terus gak di tonton. Udah gitu aja. Bakal ngehemat waktu gue buat gak ngedownload film bokep lagi. sampe

2

ngehabisin quota. Ya semoga aja. Gue sendiri udah cape, cuman bokep sama kaya nafsu yang leannya. Selalu gak pernah ngerasa puas, pengen lagi-lagi. Jadi kalo di ikutin makin rusak nih jantung. Udah mah fisik gue jelek, makan sembarang, ah gue gak mau penyakitan. Gue mulai OCD lagi, tapi gue rakus. Jadi gue makan 2 piring. Pas udah 6 jam gue makan lagi gorengan. Pas udah 3 jam baru deh gue tidur. Badan gue kerasa ga enak. Idung gue mampet lagi.

****

Yap Liem kalo gak salah namanya. “idung mampet itu perutnya bermasalah. Daerah idung, mulut jerawat, itu pencernaannya bermasalah. Mata sering merah itu jantung yang bermasalah. Alis sering naek turun gak karuan. Itu organ hatinya bermasalah. Telinganya keliatan ngeitemin. Itu perutnya bermasalah.” Perasaan itu semua gue rasain sekarang deh. Tapi gue rasa telinga gue gak ngeitemin. Gue jadi ngerasa gue udah ngerusak badan gue lagi. Ah gue pengen terusin OCD ah, biar sehat, seger. Badan enakan kalo makan sekali ama 2 hari gak makan. Ringan. Tapi gue lakuin seminggu sekali. Gue juga sadar kalo tiap hari gak makan juga lemes. Jadi gue OCD 24 jam. Baru deh kerasa enakan badan, idung gak mampe. Mata kerasa ngantuk kalo udah jam 9 malem. Perut ngempesin dikit. Mata mah udah gak merah. Gue udah jarang begadang. Alis juga gak naek turun lagi, gak normal. Tapi sekarang normal kok. Di deket mulut sama idung juga gak jerawatan. Gue rasa puasa emang bagus. Makanya orang dulu buat Candi puasa. Orang buat lukisan puasa. Orang bikin pagelaran wayang puasa. Di puasain itu bikin fokus, sensitif naek, ningkatin intuisi juga. Jadi puasa itu baek. Cuman kalo Senin Kemis tuh beda rasanya. Lebih islami, lebih kerasa tujuan buat Tuhan. Surgawi. Kalo gue sekarang OCD ya tujuannya buat diri gue. Jadi yaduniawi. Nafsu coli gue juga ilang. Kalo OCD doang gue masih sempet coli. Terus jadi lapar. Langsung berenti deh OCD-nya. Gue pengennya ngelakuin yang baek-baek ajalah sekarang mah. Biar waktu gue di pake buat dapetin manfaat. Gue harus bijaksana ngejalanin apa yang harus gue beresin sekarang. Revisi.

****

Sofia Andres Official Page? Hah kok mukanya mirip sama Sahila Yemima Selena? Oh mirip tapi fotonya beda. Gue cek instagram ini. Ini tuh artis bocah Filipina 15 tahunan. Udah maen film dari 2012. Ada juga trailer filmnya di youtube. Hebatnya mukanya sama. Udah pasti dia orang yang gue pake coli kemaren-kemaren. Yang di facebook ngaku-ngaku jadi Sahila Yemima Selena cuman tukang rampok identitas Sofia Andres. Bangke dah. Gue ketipu. Kontol gue juga ketipu. Sperma yang keluar juga ketipu. Gue ketipu sama foto. Sialan. Untung aja gue klik kanan search foto di google. Soalnya aneh jarang update.

3

Terus ko fotonya ada yang kotak-kotak kaya instagram gitu. Hemm, mulai curiga dikit. Terkahir gue liat malah akun-nya gak aktif. Gak tau temen-temen yang sering ngobrol di FB itu palsu juga atau enggak. Gak tau dah.

****

Gue mulai olah raga. Lari pagi. Kelilingkeliling. Sempet ketemu temen gue yang kerja pagi. Gue gak nyapa, di juga gak ngeliat gue. Gue nikmatin jalan pagi gue aja gak tau mau jalan kemana yang penting jalan aja biar gak stress. Ibu di rumah ngomong terus, apalagi Abang kena kasus penipuan. Tapi gue gak percaya, soalnya Abang gue bisa di percaya gak kaya omongan Uwa gue. Abang gue bisa di percaya orangnya. Gak mungkin juga dipenjara. Uwa cuman ngebacot doang gak pake bukti. Ah gue gak percaya bacot Uwa. Gue jalan sampe SMAN 14. Beli pulsa di deket daerah ABRI. Jalan dikit. Naek angkot sampe Gasibu. Disini gue ngobrol banyak sama bapak yang mau demo. Pagipagi ini ada 2-3 cewe enak di pake coli. Yang pertama celana hotpantsnya asik. Warna merah muda. Atasanya sweater tebel longgar, ngebuka resleting atasnya. Nonjolin toketnya. Gue bisa liat kaos ketat yang penuh keringet. Muka lucunya kaya cewe semester awal kuliahlah. Dugaan gue yang laen mungkin dia masih SMA. Gak tau juga sih. Yang satu lagi pakainya super ketat. Celana panjang training, sweater ketat, pake topi lari. Sepatu warna ijo neon. Mukanya enak kalo gue muncratin. Mirip Jessica Mila cuman lebih lonjong aja mukannya. Yang terakhir gue duga di emang punya banyak temen cakep. Rombongan tapi gakterlalu gue perhatiin. Gue rasa gue sering liat cewe cakep ini. Muka cakepnya pasaran. Gue gak terlalu peduli 3 cewe ini. Gue gak mau coli juga di depan umum. Ngapain? Mau pamer kontol? Gak guna. Dah sekarang mah gue cuman mau istirahat doang. Nikmatin air putih botolan yang gue beli tadi. Obrolan gue sama Si Bapak standard. Kuliah dimana? Jurusan apa? gue bales gak kalah standard. Gue ikut nanya balik. Kerja dimana? Gimana kerjanya. Obrolan ujungnya ngejelasin semua yang gak gue duga. Dari cara ngurus anak. Agama, olahraga, sindiran, sampe ngejaga anak cewe buat ngelindungin masa depannya. Siapa juga yang mau anaknya jadi makanan playboy. Perawan ilang, nikah juga enggak. Repot. Gue juga gak mau. Lagian gue juga bukan playboy gak ngertilah playboy2 yang di maksud bapak. Giliran udah penuh buruh yang siap demo gue mulai ngerasa gue di cuekin. Udah mau jam makan siang. Ah mending gue keluar ajalah. Gue pengen liat yang laen. Gue pamitan “pak saya jalan-jalan dulu” tangan gue salaman tanganya. Gue pamitan. Gue jalan ke tempat orang-orang yang lagi ngegambar Gedung Sate. Gambarnya udah kira-kira 3 jam. Tapi masih sketsa? Garisnya keren tapi ko lama gini

4

ngegambarnya? Heran. Gue cuman ngeliat 2 menit terus gue jalan lagi. Gue ninggalin mereka. Ninggalin juga bapak yang mau demo tadi. Gue belom pernah ikut demo. Ngapain? Gak penting. Gue bukan aktivis, gue juga gak terlalu peduli sama resiko naeknya BBM. Naeknya harga-harga. Gue juga tau gue jadi makin kerasa susah harga pada naek. Tapi gue masih bisa gak makan 2 hari. Ngurangin coli. Ngurangin makan juga. Banyakin olahraga. Gue pengen ngurangin duit buat yang gak penting biar bisa ngimbangin kenaekan BBM. Gue lanjutin kaki gue. Gue jalan lagi ke Taman Sari. Ngelewatin kenangan gue waktu SMP. Maen CS. Gue ngelewatin temen gue. Eh bukan. Kenalan gue. Dia lagi motoin jalan di perempatan. Lagi-lagi gue gak nyapa. Males. Gue males basa-basi, apalagi di tanya kerja dimana. Aduh makin males. Makanya gue gak nyapa 2 orang yang gue kenal hari ini. SMPN 40. Gue jalan lewat gang yang hampir gak ada yang robah. Cuman gue makin tinggi aja jadi sudut pandangnya robah. Gue ngelewatin cicendo jalan yang masih tetep sempit di Gubernuran. Keliling lewat Jalan BNI 46. Terus nembus ke Kebon Sirih. Gue jalan terus sampe ampir ke rumah Nenek gue. Cuman gak gue lanjutin ke rumah Nenek. Gue males ngenang rumah itu lagi. Suka jadi inget banyak kenangan di rumah kosong itu. Jadi gue belok masuk ke gang samping Viara. Gue nembus gang ini sampe ke Cicendo lagi. Gue jalan lagi. Cuman gue balik ke mesjid Agung deket Gedung Walikota. Gue neduh. Solat sunat masuk mesjid terus sambung Solat Duha. Diem bentar. Lanjut Dzikir di samping gue fokus orang ngebaca Al Qur’an. Gue gak terlalu bisa baca Al Qur’an. Jadi gue dzikir aja sekalian nunggu solat Dzuhur. Mesjid ini keliatan ke urus. Gue liat catnya gak terlalu luntur. Ampir bisa di bilang barulah. Gak ada yang robah ampir 11 tahun gue gak solat di sini. Solat Dzuhur bareng. Orang-orang kiri-kanan gue cepetcepet ngilang. Mungkin ke ganggu sama bau badan gue yang gak enak. Padahal gue udah buka sweater kok dari tadi. Repor nih kalo udah bau badan kaya gini. Suka kasian sama idungnya orang laen. Sekarang gue dengerin Imam. Singkatnya. Gue ambil hubungannya sama jalan-jalan yang udah gue lewatin tadi. Gue bakalan naek derajatnya kalo berhasil ngelewatin revisi, coli, kerja, baru gue naek lagi ke ujian laen. Istri, anak, rumah, gajian, sama pengsiun. Pokoknya idup tuh naek kelas terus, gak mungkin gini-gini terus. Okey gue setuju. Gak tau kenapa gue selalu dapet jawaban di Mesjid kalo gak Al Qur’an. Mungkin Tuhan baek sama gue mau ngasih gue jawaban yang gue nerima jawaban tersembunyi itu. Gak mungkin juga gue gak percaya, soalnya doa gue udah pernah kejadian. Sama kaya doa gue pas sakit jantung dulu “gue pengen idup lebih baek di kehidupan ke dua.” Itu kejadian. Gue masih idup ampe sekarang.

5

Gue lanjut jalan. Asalnya mau gue terusin sampe Cihampelas. Ah tapi kaki gue udah gak kuat. Udah jam 1 siang. Gue pengen istirahat. Gue naek angkot di depan SMPN 40. Gue lanjut naek angkot ke dua. Turun di depan. Jalan panjang ke rumah gak pake ojeg. Di rumah gue bilang gue demo. Gue ngasih selembaran demo yang gue dapet di angkot. Gue makan dikit. Mandi. Terus tidur pas Isya. Abang gue pulang ngobrol-ngobrol sama Ibu. Mereka kira gue udah tidur pules padahal gue denger semua yang mereka obrolin. Gue malah gak bisa tidur. Gue keluar kencing terus tidur lagi. Gue ngebanyangin lagi yang udah gue lakuin tadi. Ternyata idup ini tinggal di jalanin aja. Nerima hasilnya. Cuman gitu kok gak susah. Idup ya gini.

1

Abokep Zine 08 /

Desember 2014.

Halo? Gue ini lo, nah lo ntuh sekarang lagi ngebaca gue. Tulisan ini tulisan gue buat lo. Gue sekarang cuman mau ngasih kabar kalo lo masih suka coli. Koleksi bokep lo masih ada aja di komputer. Kadang lo nyesel udah ngebokep, kadang juga lo biasa aja. Gak ngerasa salah juga. Bener gak sih lo mau berenti? kalo iya jangan setengah-setengah buat ngehapus bokep dari hard disk lo. Udah apus aja bokep dari idup lo. Gue tau lo emang niat bener buat gak ngebokep, coli, crot. Tapi kenapa lo masih coli. Udah berapa kali juga lo mau nyoba berenti? eh gak bisa-bisa? Gak apa-apa. Namanya juga nyoba, gagal sekali dua kali mah wajar. Asal jangan gagal terus-terusan. Berarti ada yang salah nih sama rencana lo. Realistis aja ya. Lo kan udah tau. Terus kenapa lo masih terus ngelakuin? Coba pikirin deh.

*****

Udah? … Udah dipikirin belom?… Okey. Udah dipikiri ya? Nah jadi masih mau ngebokep? Terus coli? Crot? Enggak? Okey. Gak usah di pikirin sekarang mah. Udah puluhan kali gue bilang. Jalanin aja, nikmatin aja, nanti juga ada hasilnya. Kejar target ya biar dapet tujuannya. Berenti okey? Dah sampe ketemu lagi bulan depan.

*****

Kalo lo mau berenti ya berenti aja. Konsisten. Jangan pernah lupa udah banyak contoh yang lo baca, ngebandingin sama orang laen. Liat hasilnya sekarang? Masih mau? Coli? Jadi gimana nih? Dah berenti aja lah masih banyak kok yang lebih penting. Duit. Duit. Inget cicilan. Tuh kan berasa ke ulang-ulang kan? Bosen. Makanya jangan ngulang-ngulang lagi. Berenti coli terus kerja. Okey? Dah gak usah banyak mikir lagi. Pengalaman ini di tulis dari belasan taun yang lalu. Sebelum lo jadi desainer huruf yang lo pengenin. Punya banyak buku di perpustakan lo. Lo udah jadi lebih sehat dari sekarang. Salam.

*****

“Crot. Aduh.” Dah lama gak kaya gini. Kontol gue gak tahan pengen ngeluarin air maninya. Padahal dari tadi gue udah maen santei. Coli pelan-pelan sambil nonton film Ragini MMS yang dimaenin sama Sunny Leone. Si peranakan India sama Canada. Dia maen film Boolywood kekinian. Durasinya 1 jam setengah lebih dikit dari film india biasanya 3 jam. Nah cuman film ini keliatan kaya kebanyakan nonton film Indonesia yang horror seksi itu loh. Aneh ya? horror

2

kok seksi. Ah biarinlah toh emang gitu yang gue tonton. Persis dugaan gue. Sunny Leon emang jago kalo udah akting. Dari ngedesah, sampe ngomong yang bikin gue percaya. Jagolah ni cewe bisa bikin gue percaya. Tapi gue tau ini akting. Boongan. Badannya yang beda tipis sama Kim Kardashian, mukanya juga. Cuman lebih India aja. Gila gue sange liat ni film. Coli lagi lah. Udah bisa di tebak kan? Nah film ini cukup bisa di bilang horror lah. Meski gak ngagetin buat gue. Banyak adegan yang progresif-lah dari kebanyakan film India yang udah-udah. Kalo boleh gue nilai sih bisalah buat pake coli mah. Banyak adegan yang enak di liat. Dari nyanyi-nyanyi ala India yang gak bisa di Ilangin dari semua Film India. Sampe nonton kulit Sunny yang beberapa bagiannya di sensor. Ah anjing. Sayang . Sampe nonton adegan ngentot sok artistik. Gue gak inget siapa pun di film ini kecuali si Sunny Leone itu. Lah gue nonton juga gak serius. Di cepetin aja sambil ngecek bagian mana yang enak buat di pake coli. Ada cewe-cewe laen di film ini. Itu semua gak sebagus Sunny. Emang gak di kasih peran secoli itu. Kalo Sunny ya emang enak di Coliin. Film ini abis kaya biasa. Setan mati. Para pembasmi setan idup. Standard. Kalo ada kouta aja. Gue kayannya lebih milih coliiin dia di xvideos. Untung aja gue punya cadangan. Daftar foto Ai Shinozaki gue bisa menuhin mata gue sama toket, semok, sama lucunya muka Jepang yang manis. Sayangnya gue gak punya daftar foto Sunny Leone. Ah udahlah, gue kepaksa ngecrot. Tangan gue udah siggap nalangin aer mani yang muncrat. Crot. Untung aja sedikit. Abis udah 2-3 hari ini gue coli terus. Sange.

*****

Ternyata bener. Yang gue baca itu jadi kenyataan. Coli itu bakal di lakuin padahal udah nikah. Susah kan berenti. Bukan berarti gak bisa. Tapi gak gampang. Jadi kalo mau udah gue harus relain semua kenangan itu. Gue harus move on. Gue harus lepasin yang udah jadi bagian gue. Coli. Ya mau gimana lagi. Gue harus berenti. Soalnya selain kedengeran ngulangin kesalahan yang sama. Ngulang cerita yang udah-udah. Ini udah bukan rutinitas yang baek gue lakuin di umur gue sekarang. Gue tau bakal kaya apa jadinya kalo gue terusin ini. Gue udah tau bakal kaya apa itu. Gue juga udah tau kalo gue berenti berarti gue berhasil jadi orang yang gue perluin. Gue bakal jadi orang yang idup seneng. Idup yang asik. Tau kan? Gimananya caranya nikmatin idup? Nah idup harus di nikmatin. Sekarang gue lagi nunggu kiriman zine taon 2000-an awal. Masih buatan zine maker kesukaan gue. Pam. Judulnya “Esai kegagalan punk”. Judul yang menyesek. Sama nyeseknya kaya gue mau buat “essai kegagalan coli”. Gue belom baca zine itu. Kira-kira minggu depanlah gue baru bisa baca. Mungkin bakalan ngedahuliin informasi apa yang gue

3

dapet nanti kalo gue bakal bilang zine itu gagal. Gue juga bakal kedengeran sok tau waktu gue bilang gue bakal ngegantiin coli jadi jogging, kerja sama ngerjain kerja sampingan. Okey semua yang gue tulis tadi kedengaran cuman kata-kata sementara. Kebaruannya bakal terus di lanjutin. Sama kaya idup yang minta terus di sambung. Ngelanjutin idup sekarang. Salam.

1

Abokep Zine 09 /

Januari 2015.

Sebelumnya gue bilang lo pasti udah tau. Gak usah kaget. Orang bisanya gue ngomong itu kok. Kontol. Tulisan kontol. Cerita coli. Udah berkali-kali gue bilang berenti. Tapi selalu aja kaya gini. Jadi mungkin bener udah karakter kali ya. Tapi gue rasa gue udah gak ada topik, teori buat ngejelasin ini. Bakal kedengeran ngulang-ngulang yang udah kemaren gue lakuin. Bisa di bilang ini udah pastilah. Jadi buat apa juga ya? Awal bulan ini gue mulei ngebuka blog redflava.com, gue coli bareng beberapa foto artis Korea yang cuman terkenal di internet doang. Jadi gak banyak orang juga yang tau. Beda kalo terkenal di tv, lebih banyak yang tau. Wih selangkangnya yang bersih, putih. Wow. Sama kaya pakean yang dia pake, cuman bedanya ini ketat gak setipis bajunya yang nyeplak, dia keliatan kurus kaya artis-artis K-Pop kebanyakan. Biasa aja sih kalo di liat juga, jadi colinya juga biasa aja. Bokep-coli-crot. Besoknya gue buka blog itu lagi, coli lagi pas liat Ai Shinozaki, besoknya lagi gue coli liat Anri Okita di google image, sampe akhir bulannya gue coli lagi di WC pake hp pinjeman. Gue coli nikmatin Ruri Saijo. Biasa aja, gak ada yang aneh. Coli-coli lagi. Terus niat berenti coli dateng lagi. Gitugitu aja. Bosennya bukan bosen lagi. Gue udah bosen buat bilang bosen dari keadaan coli gue yang ngebosenin ini. Bosen euy. Tapi da gimana atuh? Gue kaya yang nikmatin kebosenan gue ini. Gak peduli padahal gue bener-bener bosen. Gak ngerti deh gue ini emang mau berenti? atau emang nulis berenti doang? Jadi coli mah tetep weh ngecrot. Gak tau deh.

*****

Udah coli gue buka blog laen yang nyeritain kerja di Jakarta sambil nikmatin cewe. Blog yang masih biasa aja. Blog yang gue liat tadi ngasih komentar balik dari komentar gue. Dia nyaranin gue buat nyari cewe, gue setuju sama ide itu. Cuman gue rasa bakal bener-bener susah kalo gue masih kaya gini terus. Gue mikir mana ada duit yang bisa gue dapet kalo gue masih serabutan kaya gini. Mana ada waktu juga buat ngeluarin duit dari dompet, kalo di itung malah kerasa rugi malahan. Kalo bagian gak di itung eh dah abis lagi. Aduh. Serba salah dah. Gue juga tau sih idup kaya gini gak enak, dah tau dari dulu juga. Jujur. Kalo mungkin gue buat janji sama diri gue sendiri sih gue bakalan nikah di umur 28, pas udah 3 taunan kerja penuh di Jakarta. Gue udah punya beberapa hal yang bisa di jadiin kepastian di dalem dompet, duit ada terus. Gak apa-apalah kerjaan kena omelan boss mah. Tapi tetep kudu dinikmatin sih kalo gak ya cape sendiri. Nyantei weh selesein ajalah

2

kerjaanya sampe revisi kerjaan beres. Ah udah pastinya gitulah, dah ketebak. Ngebosenin. Jadi gue udah tau sekarang kaya apa itu masa depan. Kerja, nikah terus coli sama istri gue, istri gue nanti maenin kontol gue, gue nanti maenin memek istri gue. Ya paling gitulah. Masalah bosen mah emang udah kebiasaan gue aja. Gue orangnya bosenan. Serius.

*****

Temen gue bilang jangan coli mulu, ujungnya gue di kasih banyak saran kalo idup itu duit, di luar itu bukan idup. Temen gue ngejelasin pentingnya duit. Gue udah tau. Bukan gak mau dengerin dia ya. Tapi emang beneran gue udah tau, gue juga ngerti kok sama idup itu butuh duit. Cuman gue males aja nyari duit aja kemarenkemaren mah. Ya itu sih bulan kemaren. Sekarang gue mah ngejual barang, banyak yang gue jual buat ngisi waktu gue. Biar gak coli, nulis sama nyesel udah coli terus. Gue gak mau kaya gitu terus bray. Kalo di itung sekarang sih waktu gue tuh banyakan jualanya deh kalo dibandingin colinya. Ya ngecrotnya kalo ada bacolnya aja. Kalo gak ada mah ya molor, ngirim barang, ngepost barang, sampe ngebungkus barang. Ngirim resi sambil ngeganti status barang. Barang laku gak ada stoknya lagi. Cuman satu-satunya. Emang barang pribadi gue sih. Gue juga males nyari barang lagi.Gue jualan cuman ngabisin barang terus berenti. Ah sekarang gue butuh cewe buat ngobrol. Gak cuman jadian terus kencan gak gitu, ya gue pengen biasa aja minus ngentot ya. Gue pengen biasa-biasa ajalah. Ngobrol gitu. Tapi siapa juga ya? bingung. Yang gue kenal gak bikin gue pengen sih. A udah kerja di jakarta, B udah dapet suami, C udah beda pulau juga sekarang, mantan? Jangan ngomong deh, dah pada nikah juga. Gue pernah nyoba nyapa di Fb, eh malah sombong gak di bales. Gak ngerti kenapa, males juga mikirinnya. Temen gue bilang, ya mantan mang emang gitu. Gak mungkin lah lo deketin dia lagian udah nikah pula. Mau ngapain? Balikan? Gak mungkin. Udah relain aja idup lo sekarang, cari cewe gue males, tapi gue pengen kerja, sama kawin juga jadi ya butuh jadian terus punya rumah, gue pengen jadi gitu ajalah kaya mantangue yang sekarang udah nikah.

*****

1

Abokep Zine 10 /

Februari 2015.

Sekarang udah ampir 2 tahun gue gak punya Ayah. Suka keingetan waktu masih ada. Kalo gue pikir lagi idupnya gak bisa gue ngerti. Gak ketebak. Kadang suka ngagetin juga. Sebelum gue kecewa sama idup gue yang tragis. Pas Ayah meninggal idup gue tetep tragis. Gue masih inget hari senen dia diambil Tuhan pas gue lagi coli di kamar sebelah. Gue kecewa sama kontol gue yang pengennya di gosok terus. Gue kecewa kalo sebenernya gue lebih milih ngecrot enak daripada nemenin die. Ah gue udah gak bisa lupain waktu sore di kamar gue sama suara pelan Ayah dikamar sebelah. Gue gak bisa lupain kesombongan gue buat nutup pintu kamar gue. Biar gak kedengeran suara Ayah yang minta tolong dibacain ayat suci biar tenang, gak bisa diem. Gue cuman pengen coli terus tidur. Gue juga yang nyuruh Emak gue buat tidur di kamar sebelah, biar emak istirahat terus Ayah juga istirahat. Ternyata Ayah istirahat buat selamanya, gue nyesel udah coli waktu itu. Ibu* juga kecewa udah ninggalin dia terkahir kalinya. Ah emang mungkin itu waktu yang paling pas kali ya. Gue aja kali yang terlalu mikirin ini jadi masalah besar yang gak bisa gue rubah. Waktu yang berlalu ampir 2 tahun Ayah tinggal di bawah batu nisan yang gue bawa kesana. Butuh waktu setahun buat gue maksain nerima kalo di udah meninggal. Gue gak punya cukup uang jadi gue paksain bawa kesana sendirian. Gak pake jasa angkut. Eh yang ada DKM ngerasa di acuhin gara-gara gue gak ngomong -ngomong dulu ke DKM mesjid buat nyimpen nisan ke sana. Gue emang gak doyan ngomong, lagian gue harus ngomong apa buat nyimpen batu nisan. Ternyata gue gue juga harus bayar ke tukang semen buat ngerahpihin nisannya. Gak asal nempel aja kaya kemaren. Gue kan belom kerja jadi gue gak bisa bayar itu. Nisan yang gue bawa itu berat banget. Tangan gue sampe lecet, biar kata dibantuin tukang ojeg yang ngater sampe daerah kuburan. Gue mesti jalan ke makam ayah 35 meter, dengan ngebawa nisan yang berat banget itu. Wah gak bakalan gue lupain. Maafin gue yah baru bisa bawa sekarang. Keluarga gue tenang sekarang. Ibu udah mulai sama sekali gak ngomongin Ayah. Apalagi Abang gak sama sekali sedramtis gue keilangan Ayah. Gue gak tau isi ati mereka, mungkin mereka mulai ngelupain Ayah. Ngasih waktu buat gak diisi kecewa. Gue cuman bisa kecewa, soalnya gue coli pas Ayah di ambil idupnya sama Tuhan. Gue tau Tuhan maha kuasa, idup Ayah cuman pinjeman Tuhan. Semua ini milik tuhan. Gue ngerti. Makanya gue harus ngebalikin

2

pinjeman-pinjeman yang gue punya, gue pengen gue mati sehat, kaya, dah punya manfaat banyak buat orang laen, punya banyak temen kaya Ayah sama Abang, punya segalanya yang gak gue punya sekarang. Istri yang baek, 2 anak yang bersyukur udah di ajarin arti idup. Gue tau yah kalo gue ini emang pemales yang kurang suka nyelesein tugasnya sampe beres. Gue ngerti sama udah lulus langsung kerja aja, gue juga masih inget omongan laen dari Ayah yang bilang bahagian Ibu, bawa dia ke Mekah. Gue pengen ngewujudin itu semua Yah. Kalo gak sekarang mungkin besok.

*****

Gue lagi ngocok, cewe ini bule yang ngentot dari belakang itu cowo yang perannye jadi boss. Rok mini item yang enak di liat sama stocking ketat warna kulit ini emang bikin konak. Boss tua ini udah mulei ngeremes-remes toket sekertarisnye. Gue tau komputer sama meja yang jadi temen ngentot disana. Mereka cuman bisa diem, ada yang kena geser paksa kaya monitor led yang di pukul si Boss gara-gara ngalangin die yang ngentot memek skertarisnye. Si sekertaris kaya biasa gak bisa ngelak, emang dibayar buat akting pasrah yang penting jago ngedesah. Gak natural buat gue gak masalah. Soalnya gue belom pernah ngetot sama cewe. Jadi gue gak bisa ngebedain natural atau gak natural. Gue ngocok, pas pintu gak gue konci. Pintu kebuka bebas. 2 jam lagi gue udah harus nyampe kampus buat masuk kelas. Ibu lagi sibuk masak, Abang lagi tidur garagara kecapean udah pulang subuh gak tau ngapain. Mungkin kerja paruh waktu. Ayah gue lagi tidur. 2-3 taun yang lalu Ayah masih sehat. Masih bisa sibukin diri di gudang buat bikin alat, beres-beres gudang sambil makan 2 plastik kerupuk panjang. Isinya 10 kerupuk ukuran sedeng. Dia bisa ngabisin 2 plastik kalo lagi lapar. Ini emang kaya cemilan daripada temen makan nasi. Beres itu ngelanjutin kerjaan masih tetep di gudang. Gue mah ngocok aja. Asik. Gue mikir ah aman lah paling 2 menit juga udah ngecrot. Gak bakal ketauan. Santei. Gue ngocok nikmatin desahan yang gak ada suaranya. Gue matiin biar gak ada yang heran sama suara ngentot “ah.. ah…” itu. Gue ngocok terus. Mata gue jelas nikmatin muka yang kesakitan di perkosa boss. Si skertaris ini emang tipe gue lah. Rambut pirang, toket biasa, kaki jenjang, badan model. Beuh ngetot nih kontol kata gue dalem ati. Pas enak-enaknya ngocok, kok ada kepala gue kaget. Gue langsung buru-buru nutupin kontol ke posisi semula. Celana gue jadi sempit, kontol gue gak keliatan kaya orang yang biasa aja lagi pake komputer. Sok-soak lagi ngerjain tugas. Gak ada yang aneh. Gue tau waktunya kurang sedikit. Aduh gimana nih. Gue pura-pura lagi garuk-garuk celana aja. Aduh gatel. Eh Ayah gue ngeliat gue gitu malah bisa aja. Malah senyumlah. Mungkin dia ngira gue gatel betulan bukan

3

lagi coli. Padahal ampir aja ketaun. Waduh. Repot dah. Malunya itu loh. Pagi-pagi udah coli aja, gimana mau bener. Gue udah nebak dia bakal ngomong apa. Soalnya di rumah yang paling bawel cuman Ayah. Tegas, keras sampe ngomong itu nusuk kedalem. Masalahnya gue salah makin aja kena dicecer. Pengalaman ini gak bakalan gue lupain. Bagian dari ampir ketaun coli. Dulu juga ampir ketauan Ibu, Abang, Nenek, kaka keponakan, Abang sodara jauh gue, sampe ampir ketauan cewe gue. Tapi gak ada yang dari mereka tau gue lagi coli. Gue selalu gak ketauan, ngeles.

*****

1

Abokep Zine 11 /

Maret 2015.

Sekarang gue mau istirahat nulis. Gue berenti sebentar buat ngambil nafas baru. Gue capek. Engap udah banyak nulis. Gue rasa udah kebanyakan juga nulis sampe 11 edisi. Gue pengen berenti dulu nulis. Gue pengen nyari tulisan laen buat menuhin inspirasi nulis gue. Zine novel ini bakalan ngambil ide-ide orang terus gue ubah jadi ide gue yang baru. Gue akuin gue maling ide. Gak apa-apa selama itu masih bisa gue ambil. Kalo gak bisa berarti gue gak bisa maksain ide orang laen didalem ingetan gue. Gue ngambil cuman buat ngingetin sama pengalaman yang udah gue dapet dulu. Idup gue jelas beda sama ide mereka lah. Dah pasti ini mah. Jadi gak semua juga gue ambil. Pengalaman gue jelas beda sama ide-ide itu. Cuman pengalaman gue yang gue masukin. Diluar itu enggak. Wah jujur nih gue tuh udah binggung mau nulis apalagi. Udah ada pengulangan yang sebenernya cukup banyak. Udah kebaca strukturnya. Ngebokep, sange, ngocok, mata merah, kontol siap-siap muntah, crot, enak, terus nyesel. Terus ngerasa duh gak enak nih rasanya. Tapi eh besok-besoknya udah pengen coli lagi. Nah aneh kan? Terus kenapa mesti nyesel kalo dah pasti pengen coli lagi? Jadi tujuan gue buat nulis zine novel ini apa? udah gue tulis juga. Gini nih sebenernya gue tuh pengen ngejelasin semuanya kedalem cerita yang gue anggep penting. Yang gak gue anggep penting mah ya gak gue tulis. Bakalan gue buang cukup sebagei pilihan yang salah di masukin ke sini. Jadi yang penting ya masuk. Gue sambung-sambungin sama ide-ide orang laen terus gue tulis ulang. Lumayan panjang juga sih daftar yang mesti ditulis ulang. Tau sendirikan ide-ide yang gue ambil itu banyak. Kira-kira ada 1000 halaman yang gue ambil dari ide orang laen. Itu juga belom gue tulis ulang. Beberapa ada yang masih ide murni orang laen. Ada yang gue sambungin sama pengalaman coli gue. Jadi ini proses yang pajang. Waktu, tenaga, pikiran, uang, sampe idup gue ditulisan ini. Tetep gue pengen tulisan ini beres. Gue rasa ada selera sastra yang mesti di penuh di tulisan ini, ada juga tinjauan cultural studies, politis, agama, psikologis, kesehatan, ekonomi, fashion, art, desain, musik sampe hal yang emang gak di anggap penting. Kentut, nguap, gak penting kan? Tapi itu nyambung loh kalo tau ilmunya.

2

Ternyata itu tandanye gue itu sakit jantung kalo diliat dari mata merah mah. Itu jantungnye kebanyakan dipake. Kecapean. Gue bisa begadang, jalan kaki sama kebanyakan mikir. Bahaya buat jantung gue. Gue masih bisa kentut. Yang katanya kentut itu sehat. *pencernaan mungkin. Gue gak tau pastinya. Makanya gue perlu baca ulang ilmunya. Oke? Gue pamit dulu. Dah. Gue bilang lagi ya. Kalo nanti kalo gue ada waktu, uang, tenaga, mood sama selera nulis gue udah nambah. Baru gue nulis lagi. Soalnya ya itu tadi gue rasa kurang ide. Jadi gue perlu nyari ide-ide, sama nulis ulang. Okey. Makasih ya.

*****

Zine ini buat siapa aja yang baca. Gak perlu kaya apa atau gimana. Cuman gue rasa SMP mesti baca emang telanjang secara visual itu ngegoda. Tulisan ini juga sama ngebugilin bokep sampe keliatan kulitnya. Ngeliatin dimana coklat terangnya kulit gue. Ngeliatin tanda lahir di tangan kanan gue. Pas dibagean siku pergelangan tangan gue. Setelanjang itulah. Orang laen ngeliat gue. Yang rasanye ngebuat gue kedinginan . Gue gak pake baju. Semua udah gue buka berantakan di dalem tulisan ini. Kolor kotor yang keliatan bekas coli. Aer sperma yang keliatan encer. Beningnya sperma keliatan jelas. Kebanyakan coli kayanya. Gue coli buat pengalaman gue keluar dari tanggal di kalender yang gue lewatin. Gue jadiin cerita gue jadi tulisan ini. Bugil. Kerasa bugilnya. Gue bisa ngeliatan bulu kontol ngelindungin bijinya. Bisa gue pegang tuh batangnya. Gue pengen coli. Gue mungkin kebanyakan coli pas nulis ini deh kayanya. Sampe gue nulis banyak pengalaman gue jelas cuman yang udah lewat. Gue atur sedemikan asiknya. Sampe gue lupa ini tuh sebenernya diary yang enak dirasa tapi baunya ngingetin gue sama kolor. Bau kolor yang kering gara-gara bekas spermanya gak dicuci. Perlu diterjen buat ngebersiin barbuk ini. Cukup gue yang tau gak ada yang perlu tau. Yang pasti tulisan coli ini ditulis buat ngerti seberapa pentingnya coli buat gue. Crot sperma keluar dari ujung kontol. Tangan gue maksain keluarnya sperma. Kontol gue gesek. Gue enak. Gue nikmatin proses coli sampe ngecrot. Yah kaya ginilah tulisan gue. Sekeren ini atau bisa sampe gimana sih nulis tuh? Seniat apa sih gue nyari ide-ide buat gue tulis ulang? Ini ngenalis gue sama proses nulis, struktur, tematis, penglohan alesan sama yang udah gue lakuin, ngatur kata perkata sampe kalimat, ngerunut paragrah ke paragraf biar nyambung utuh enak dibaca. Ini butuh ngebaca tulisan gue berkali-kali. Nulis yang gampang di baca itu susah. Gue udah ngertiin itu. Asli broh. Terus gue sempet nyetak di hvs, ngedesain ulang novel zine ini pake Adobe Illustrator. Kalo udah puas ya gue cetak di printer pinjeman yang belom gue balikin. Akhirnya printer itu malah rusak. Duh gak apa-apa lah berarti emang bener gue pengen nulis sampe

3

butuh printer baru. Gue pengen baca tulisan ini nikmatin pengalaman sama ideide orang laen yang dah gue curi. Gue gak pengen kontol gue lecek sama kaya tulisan gue. Gue pengen zine ini dibaca pas gue tau kalo tulisan gak guna gini tuh bisa jadi sejarah pas gue baca ulang nanti. Gak tau kapan. Mau seniat apa juga nulisnya ya kalo gak guna ya gak guna cocoknya mah buat dibuang ke tong sampah. Cuman ngabisin waktu ajah.

*****

Zine Abokep. A5. Volume 1. Mei 2014. asepcashball@gmail.com. AntiHak Cipta. Baca, buat, bagi. Bandung.

1

Gue ngebokep dari SD. Lingkungan gue, otak gue, hobi gue, bokep semua. Jadi ya gitu-gitu aja. Coli lagi coli lagi. Sampe gue mikir lagi ini udah banyak ngabisin waktu, tenaga, pikiran, sampe ngamburin duit buat beli komik, vcd, dvd, ngabisin quota internet. Cuman buat ngebokep doang.

Okeh gue nyesel. Persis kondom yang gue pake, bukan buat ngewe memek. Gue cuman bisa coli doang. Kalo masalah duit mah ada sih, ya buat ngetot memek doang mah bisa. Tapi lebih enakan coli. Gue milih ngentot kontol gue aja. Termasuk niggalin bokap gue, sama nongkrong bareng temen. Ninggalin juga cewe gue. Gue coli dengan asoynya. Aslinya sih gue pengen bebas dari semuanya. Gak mau ada tanggungan. Bebas dari kewajiban.

2

Gue udah nyandu bokep. Sekarang gue tuh susah fokus, lebih fokus kalo ngehayal bokep. Ngawur terus gak bisa buktiin omongan sendiri. Kalo ngoborol gak ngeliat mata orang yang ngajak ngobrol.

Sering haus, sering minum, sering kencing. Banyak ngabisin waktu sendiri, browsing, game, nonton film. Jarang gaul, dikit banget punya temen. Orang laen bilang kelakuan gue aneh daripada orang laen, gak fashionable. Kalo gue lagi sendirian, pasti lagi coli. Sampe nilai ujian gue turun.

3

Secara medis gue tuh udah ketagihan. Otak yang harusnya digunain buat ngendaliin kemana arah idup sampe arah kontol. Bisa dapet untung dari mau ngelakuin atau enggak ngelakuin.

4

Kalo coli dibiarin terus, bisa ampe ngecilin ukuran otak. Bisa ampe ngerusak otak permanen. Untuk normalin lagi ngebutuhin waktu 1,5 tahun yang tergantung kerusakan sama pertolongan medis secara terus-terusan. Karena otak ngalamin regenerasi jaringan. Tapi cepat atau lambat ya bakalan sembuh juga tergangung tingkat kecanduannya juga sih.

Sebenernya kecanduaan makan yang bikin gembrot, narkoba yang bikin teler, masih lebih gampang disembuhin dibandingin bokep. Otak yang candu susah di obatin. Susah buat ngatur otak biar berenti ngebokep. Berenti coli. Ngebokep juga bisa ngurangin fungsi otak.

Di badan ini banyak hormon yang kerja. Ada 4 hormon yang yang rusak cara kerjanya. Kalo hormon ini kerjanya normal bisa nguntungi. Nah bokep ngebuat ke–4 hormon ini keluar kebanyakan terus-terusan.

Dopamine: “Pengen yang lebih dari coli. Lebih dan lebih lagi”. Awalnya download jpeg bokep. Pengen download video bokep. Pengen coli. Pengen dicoliin cewe. Pengen digesekin toket. Pengen kontol di gesek memek. Pengen kontol maen sama bo’ol* juga. Pengen kontol. Pengen terus. Terus dan terus. Nambah terus tapi gak puas-puas. Manusiawi sih. Dari coli ke penyimpangan seksual. Dari sini punya rencana mungkin dengan nyoba merkosa, incest*, ngewe hewan, nyiksa sambil ngewe. Itu semua buat nikmatin sensasi baru sesuai hormon dopamine. Cuman pengen ngedapetin sensasi puas, senang , bahagia. Pantesan aja gue gak pernah bisa berenti bikin memek-memekan dari nutrijell, bakal digesek-gesek buat kontol gue. Gue selalu pengen lebih.

Neuropiniphrin: “labirin* bokep”. Hormon ini bikin otak di puteran labirin*bokep. Idup gak bisa keluar dari bokep.Bawaanya pengen ngebokep mulu. Liat toket, memek, kontol, cute face Maria Ozawa, sampe kontol ngeluarin sperma. Sepasti itu pikiran gue. Sedih. Jadinye, males belajar, malah pengen belajar coli, males mikir kecuali mikirin memek, males kreatif kecuali nyobain jus mangga buat pelumas coli. Semua seks. Seks. Seks. Seks. Otak seks yang pegang kendali. Aduh. Berasa goblok gini.

Serotonin: “mau keadaan seneng, sedih, marah bakal coli terus”. Aduh pake ada kerjaan segala nih di kantor. Eh liat youtube ah. Ntar aja ngerjain ini mah. Bisa ditunda. Nyantai. Beberapa menit selanjutnya. Anjing enak. Coli sama Megan Fox. Bibir. Senyuman sama badannya yang seksi. Rambutnya yang item lurus. Ah shit sperma di kontol gue responnya kepengen coli aja. Haha asik. Sperma keluar hati senang. Tragisnya mau lagi kesel, bahagia, sedih, kesepian, ngalamin deadline kerja. Lebih mentingin waktu buat coli dulu sebentar. Buat ngisi rasa nyaman untuk ningkatin hormon serotin. Sial. Pantes gue rajin coli. Kan enak bawaanya pengen molor sambil coli.

Oksitosin: “punya hubungan batin sama bokep”. Hormon ini persis ikatan batin Ibu sama anaknya. Pas si Ibu ngelahirin, hormon oksitisoin keluar. Jadi punya ikatan batin sama anaknya karena cinta. Terus cinta itu ngebuat hormon oksitosin kerja terus-terusan sampe akhirnya berenti lanjut aktivitas laen seterusnya. Bisa aja jadi langsung molor mungkin. Nah bokep juga sama. Punya ikatan batin. Pengen liat Sasha Grey nyepong gue lagi. Pake lingerie* warna item, gak pake kolor. Pengen liat bibirnya lagi. Desahannya yang asik sambil coli. Persis kaya status pernikahan. Kangennya sama. Kangen Sasha Grey. Ngelepasnye dengan ngebokep.

“Men, Your sons will grow up to be like you. Your daughters will grow up and marry men like you. Is that going to be a good thing or a bad thing?”

5

*****

Malem-malem gue mikir. Begadang. Gak bisa tidur. Bukan karena kebanyakan molor. Gue terus mikir sambil nanya diri sendiri. Pernah gak ya gue ngebokep tapi gak coli? Dalem ati gue ngejawab. Dulu sempet ngebokep sambil maen gitar. Tapi susah. Gue harus mokusin maen gitar daripada fokus liat toket gede Lisa Ann dijilatin. Maenin lagu buatan sendiri, sambil kontol konak. Pas adegan gangbang. Lisa teriak-teriak minta tolong diselametin. Biar bebas dari giliran kontol-kontol yang pengen nikmatin memeknya. Kuping gue yang disumpel headset*Philips dengerin itu semua. Repot. Apalagi lagu gue yang gue maenin jadi gak jelas. Udah mah gak jelas asalnya juga. Tapi kalo aja gagal nahan coli. Gue bakal coli terus gak jadi berenti. Jadi budak seks. Kaya yang gue baca di forum-forum bule, ngebokep ngerusak mental. Mending kalo ngentot istri ada nyampurnya hormon testosteron (yang ada dipunyain istri) sama pheremones (yang dipunyain cowo). Otak bakal aktif ngehasilin hormon di dalem tubuh. Ngasih sinyal ke zat-zat yang sama pentingnya keseluruh tubuh.

Kalo udah nikah pasti kerasa bedanya. Lebih milih ngentotin istri daripada coli sama tangan sendiri itu sensasi nya bakal kerasa, besok nya bakal semangat, bakal lebih bisa ngehargain idup, idup lebih indah daripada sekarang. Kalo coli hormon gue aja maen sendiri kesepian gak ada memek. Gak tau angetnya memek. Gak ada manfaatnye.

Coli sama ngewe apa bedanya? Bedalah. Coli, buat pecudang yang gak mampu ngeidupin keluarga sama Istri. Gak bisa jadi kepala keluarga dari rumah tangga yang diurusnya. Persis kaya ngeliat Memphis Monroe pake baju cheerleader di monitor komputer. Padahal kenalan aja kaga mengang tanganye Palsu. Kaya punya bini gak tanggung jawab buat biayain anak sekolah, duit makan, duit tagihan ini itu. Udah coli udah aja pergi. Terus bisanye paling minta duit sama Mama. Haha. Kasian anjing. Gak bisa bayar memek haa? Gak bisa ngedeketin cewe ye! Gak bisa emang? Pasti gak bisa. Haha. Norak. Masih aja coli anjing!

Coli emang gak ngehasilin duit apalagi ngehemat duit. Semua akibat ada sebabnye.Dibutuhin 6 menit buat coli. Coba kaliin 365 hari dalem setaun. Terus kaliin 15 tahun karir coli. Dah berapa jam tuh? 6 x 365 x 15 jadi 547 jam 30 menit buat dipakecoli doang. Crot. Kalo dipake bisnis nyari duit. Dapet duit di jam itu? Berapa juta rupiah yang di dapet? Coba itung. Kalo dibuat banyak bisa lebih banyak dari kata banyak itu sendiri.

Udahnya idup balik normal lagi. Gak terlalu ugal-ugalan seenak jidat. Gue ngemulai lagi semuanya. Gue yang ada untungnya kaya, duit, manfaat, lebih cepet lagi kerja, lebih positif ajalah. Gue gak mau mati miskin, gue juga gak mau coli terus. Udah cape anjing.

6

PRIA SEBATANG KONTOL
Awalnya dari liat-liat gambar, download video dulu belum ngerti. Doyan banget nyari bokep udah kaya hobi maen game online aja. Dulu juga sempet pengen berenti. Dasar anak SMP. Gak mau nonton lagi, vcd bokep gue dah banyak. Eh tetep aja coli 2 minggu udahnya.

Gue sempet udah nginjek cd games ps WWF. Yang biasanya pas adegan opening video Debra pake bra masuk. Tangan gue terampil mencet tombol “open”. Biar videonya tadi berenti, pas ada gambar toket gede. Gue buka celana. Langsung coli. Kreatifkan? Tapi tetep aja gue coli lagi.
Coli udah jadi bagean dari idup. Yang harus gue lakuin selaen makan, minum, maen, molor. Gue Nyesel tapi kenapa juga gue masih terus ngelakuin? Sialan.

Sampe pantat Abang udah pernah gue coba. Untungnya gue gak pernah nyoba seks selain pantat abang gue.

7

Selanjutnya gue coli aja terus. Gue buang sperma kemana aja. Yang penting gak ketauan orang. Bisa ke lap, baju, kolor, celana, gelas, selimut, tisu, koran, apa aja. Maen cantik. Barbuknya* langsung buang. Dan belum pernah ketauan.

Gue nikmatin bokep dari media yang gampang gue ketemuin. Bisa majalah, tv, koran, komik, film, internet, masih banyak lagi yang laen.

*****

Sekarang gue pengen idup gue sama nyenenginnya kaya sebelum kelas 5 SD. Bukan berarti gue harus jadi anak kelas 4 SD. Terus harus sekolah lagi. Enggak gitu. Gue pengen ceria. Gak peduliin PR, dateng telat ke sekolah. Santai. Gue pengen kaya dulu. Apalagi dulu itu gue masih murni. Gak kecanduaan bokep kaya sekarang. Coli aja belum ngerti waktu dulu mah. Coba liat gue sekarang. Rambut gondrong. Jenggotan. Kumis panjang. Sering disebut Al-qaeda*. Seserem itu muka gue? pengagguran, gak punya cewe, gak punya duit, idup miskin. Ah ngebosenin idup kaya gini terus. BT anjing. Gue pengen punya idup yang baek, lebih banyak waktu luang, duit gak kepake buat bokep. Lebih hemat. Gue sadar gue gak punya banyak temen. Lagian sahabat lebih penting dari temen yang asal kenal aja. Gue berasa jadi hikikomori*.

Idup miskin gak bisa beli pulsa buat Hp, gue gak mampu bayar kebutuhan gue. Miskin. Skripsi aja gak beres-beres. Males-malesan. Kebanyakan molor. Sampe gak ngelakukan apapun. Minim produktivitas*. Bisa dikatain idup jadi ngebosenin. Ayolah buat sesuatu. Ngapain juga harus buang sperma? Coli itu sama aja kaya buang calon anak.

8

Gue jujur gue ni pecundang, orang lain bisa berenti. Gue masih gini-gini aja. Mau sampe kapan gini terus? Ayolah berubah. Malu sama umur, calon istri, calon anak. Inget mati heh. Gue gak mau coli, gue juga gak mau orang lain coli. “kalo gue ngomong besok berenti, atau udah ini berenti, setiap hari juga ada besok, ada nanti”. Jadi mau sampe kapan? Dulu anak SD seumuran gue pada udah nonton bokep. Ngomongin memek, sambil cerita-cerita film bokep apa aja yang udah ditonton. Film semi yang isinya banyakan ngobrol dibandingin ngewenya. Semacam American Pie. Kalo kebalikannya, Film full. Filmnya kaya Tarzan X. Terus tukeran cerita film bokep di sekolaan. Sampe nyerita dah berapa kali coli hari ini. Seminggu berapakali.

Tunggu… Itukan dulu… Sekarang gimana kalo pas lagi coli terus Ibu datang ngeliat sperma keluar dengan nikmat. Pas detik itu juga gue jadi penyesalan Ibu, kecewa sepaket sama pengen nampar sekarang juga. Gue gak mau itu kejadiaan.

9

Sekarang-sekarang gue ngerasa susah molor, mental cepet turun. Sering banget mikirin ngewe, ngatain orang seenak hand body dipake coli, gak pake bukti, bikin geli. Gue juga gak mau jadi pengedar bokep. Dengan ngebagiin hasil download-an bokep sama aja dengan mindahin coli ke orang lain. Emang bocah kaya gue jadi males ngapa-ngapain kalo udah kenal bokep, coli sama ngecrot. Lemes.

*****

Kalo pas SD omongan gue kasar banget, bokep banget, gak ada yang laen. Dari memek ke kontol. Dari toket ke bo’ol. Sama aja kaya otak gue. Kelakuan gue juga kasar. Tapi gue gak tiap hari ngebokep kaya waktu gue SMP. Gue belom punya VCD player dirumah.
Jadi ya gue cuman bisa ngebayangin aje. Berfantasi. Nerima otak diperbudak bokep sampe goblok. Temen gue yang gendut item, gak bisa baca tulis apalagi ngurusin idup. Namanya Renaldy. Ya namanya itu. Kemarin-kemarin gue sempet lupa.

Badannya gemuk. Kulitnya item. Sering bawa 1 liter gelas plastik air minum mineral. Yang diisi ulang ama susu kental manis. Manis banget kalo diinget rasanya.

Dia suka ketawa kalo gue becandain. Kite udah deket banget. Temen sekelas pula.

Gue nerima titipannye 1 lembar hvs gambar bokep. didalemnya ada 5 adegan bule bugil, yang dientot 5 bule cowo. White supermacy*, semua bule gak ada yang laen. Gue nikmatin banget. Nyenengin.

“Bugil emang keren” dalam ati gue bilang. Sambil senyum. Gak ada masalah, gue simpen baek-baek di saku gak usah dikeluarain kecuali kalo di wc rumah aja. Aman. Gak ada yang tau.

10

Hari ini gue Ujian Nasional SD gue duduk paling depan, karena susunan nama gue. Gue gak fokus. Kaki gue geli. Geli-geli enak kalo di goyang dikit kaki gue. Ngebuletin jawab PG jadi pengen coli juga. Dulu pas kelas 4 SD gue ngebokep bareng di rumah temen. Berlima. Ngeliat bareng gimana kontol kuda di perternakan ngewe cewe bule. Anjing ni gile banget. Panjang banget tuh kontol kuda. Cewenya kaya kesakitan? Gak tau keenakan? Gak tau juga. Diewe aja tuh cewe. Kudanya teriak. “iheee… iheee…” kaya pilem-pilem koboy. Anjing parah dah.

Sempet juge pas saudara gue minjem VCD* bokep dulu taun 2000’an. Bedua aja. Sampe bikin kontes dadakan. Kite ngeliatin kontol siapa yang paling panjang. Gue ngaku kalah. Fuck! Kontol die panjang banget. Kaya kontol kuda. Ngeri anjing. Hari-hari itu gak ada yang laen ampir seharian cuman nonton bokep doang.

Sama kaya sekaranglah. Dimana ada waktu sendirian hari itu juga gue coli. Gak ada kerjaan laen. Gue coli di wc pake hp Ibu, nonton Ruri Saijo.

Gue nyetak kertas dengan warna yang ngebentuk Kelly Brook, Megan Fox. Coli diatas kertas hvs itu. Beres ngecrot gue langung ngebuangnya di tong sampah.

11

Kalo pas gue SMP dulu gue molor sambil coli ngembayangin temen gue di sekolah. Ada 3 cewe Fanny, Ines sama Kartika. Fanny. Cewe bohai kulit putih, badannya tinggi, rambut pendek, mukanya persis kaya Dewi Persik, rok mininya yang ketat bikin kolornya nyetak keliatan. Bajunya juga ketat. Toketnya udah berisi penuh.

Kalo Ines. Cewenya pendek dibandingin Fanny, kalo jalan kakinya suka rada miring. Sekilas jadi keliatan ngangkanglah. Mukanya cakep kaya Marshanda yang artis sinetron ituloh Sinteron Bidadari. Rambutnya panjang. Cuman lebih tomboy.

Kalo yang namanya Kartika. Mukanya manis kaya Dhini Aminarti artis sinetron juga. Wah badannya sama kecilnya kaya Ines cuman dia gak tomboy. Suka banget senyum termasuk ke gue. Padahal gue gak pernah deket, bahkan ngobrol. Gue ngebayangin kontol gue beradu sama memek mereka. Fantasi gue liar persis film JAV.

Gue juga sempetin nonton Baywatch kalo sanggup begadang di jam 12 malem. Buat sekedar coli di depan tv yang ada artis Hollywood. Pamela Anderson. Gue konci kamar bonyok biar gue gak ketauan. Gue coli sampe ketiduran. Besoknya gue baru sadar kalo gue udah ngebuat mereka tidur di sofa berdua.

Kalo sekarang sih nonton acara Jupe. Kuis gak jelas. Ngeliat bentuk badan yang seksi, make up keren pake baju serba ketat sama serba terbuka. Acara dewasa emang paling cocok buat bahan coli. Banyak juga yang laen. Pokonya kalo gue liat yang seksi sedikit aja bawaanya pengen coli.

12

Waktunya enak bikin gue mikir pas kejadian tiap kali gue ngomong tuh ampir semuanye bilang “haah?’ “apa?’” “kenapa” semua gak ngerti yang gue omongin.

Mulut gue gak sanggup buat ngomong yang jelas. Suara gue juga pelan. Gue lemes. Coli tiap hari. Sepertinya gue sukses jadi budak seks. Gue nurutin apapun yang semua orang bilang. Minjem duit gue kasih, minjem kaos gue pinjemen. Gue cuman bisa coli. Sehari 3 kali.

Hobi laen gue paling cuman maen game online RO*. Game online pertama dan terakhir gue. Gue juga gak bisa fokus maennya selalu kebelet coli. Anjing bawaanya ngambek mulu kalo karakter gue mati di siksa monster. Kalo temen-temen gue mah pada jago-jago, naek level char* cepet. Gue mah masih aja novice gak berkembang-berkembang. Lama dah.

Selaen itu gue juga suka baca. Dari koran berita, koran mesum murahan, majalah remaja, majalah ibu-ibu, majalah Politik dan majalah musik. Kebetulan keluarga gue suka baca. Ada yang tuker pinjem sama tante, atau dapet kiriman dari uwak gue di Bogor. Didalemnya kadang keselip iklan panas. Ada beberapa iklan dewasa yang sering gue pake coli. Di iklan itu ada cewe SMA pake bikini, ngajak gue nelepon, sambil pegang gagang telepon. Bikin sange.

Yang gue liat dari dia tuh kulit putih, rambut panjang, muka indonya ngerangsang kontol jadi berdiri. Mata gue gak bisa ngedip bentaran. Ya udah gue coli lagi. Kalo majalah ibu-ibu juga sama aja. Cuman gambarnya beda. Cuman ilustrasi doang, sama pakeannya tuh seksi pisan da ini mah artis barat euy.

Mirip kaya Britney Spear, Madonna dan Cristina Aguilera yang gue puja. Cerita seks juga ada dalem curhatan pembaca majalah ini. Dengan solusi sok ilmiah dari dokter seks sama seksolog ternama ngasih kebijaksanaan apa yang mesti dilakuin. Majalah ini juga ngeliatin gue gimana sehat dengan ngelakuin seks. Ngejaga kontol biar gak loyo. Gimana beradu di ranjang. Ngasih fakta aneh, kalo ngentot bisa ngurangin pilek. Dan pas gue coba gak kebukti. Gue masih aja pilek padahal dah coli 2 kali crot. Eh anjing majalah emang gampang buat ngeboong orang. Kan gak ada hubungannya juga keluar sperma itu bisa ngurangin ingus di idung. Bisa ngurangin pilek. Gak ngerti dah.

Informasi yang gue terima mentah-mentah itu langsung aja di telen kaya sperma yang gue suka jilatin pas ngecrot ditangan gue. Gue gak perlu mikir buat ngabisin sperma yang gue keluarin. Jilat terus sampe abis, keluarain terus spermanya sampe enaknya keluar. Waktu itu gak nyari bukti laen buat ngebandingin informasi tadi. Baca-baca dulu enggak. Apalagi ngobrol sama yang pernah ngewe. Enggaklah. Gak bakalan juga gue lakuin kalo gitu mah. Internet waktu itu cuman jadi bahan coli, bukan tempat tanya-jawab gimana cara nyebuhin gue.

13

Sekarang-sekarang ini sih koran berita murahan yang ada selipan bokepnya udah jarang. Dah gak gue temuin lagi cerita-cerita memek karangan penulis koran. Gak tau pada kemana tuh orang yang kreatif kaya gitu. Padahal waktu gue SMP dulu tuh banyak banget. Satu namanya yang ampe sekarang gue ingetuh namanya koran tuh Lampu Merah. Sering banget nampilin berita esek-esek, soal seks di halaman depan. Pake ukuran tulisan yang gede pula. Tulisan headlinenya tuh “COwok konak LIat dalaman cewe” pesan tersembunyiya tuh COLI , kontol banget kan entuh tulisannya. Goblok. Parah.

Tapi ini bikin masa muda gue bisa seneng-seneng sama fotonya Nova Eliza tahun 2002. Die pake kaos yukensi biru ketat. Bentuk pinggulnya keliatan. Pusernya keliatan sedikit. Behh, belahan toketnya gede. Mukanya cakep. Gue yang tadinya lagi makan mie instan jagi gak fokus makan. Anjing gue sange. Gue tunda dulu mie itu, gue simpen di karpet. Gue bawalah tu korannye ke wc. Langsung aja lumurin kontol sama sabun cair. Gue coli di wc.

Karena hobi coli ini gue jadi tau kenapa cairan sperma gue berubah. Kenapa warna sperma gue jadi gak putih lagi. Gak terlalu kentel malah cair kaya air putih biasa. Bening gak berwarna. Gue mikir gue mandul.

Besoknya gak lama gue ngerasa gak enak badan. Kontol gue lecet keseringan digesek. Biji peler gue udah kaya korma aja bentuknya kurus kering item. Kayanya keseringan coli ngabisin sperma, jadi seret. Cuman nyisain air. Kontol gue perih. Perih banget di kulit batangnye. Ada bagian kulit merah-merah terkelupas. Gue pikir sih kayanya kebanyakan coli peke sabun. Ujung kontol, pas di bagean lubang kencingnya ikut-ikutan perih juga. Perut gue juga sama, sakit pas dibawah puser, diatas kontol. Apa mungkin gue sakit-sakitan gini karena kebanyakan coli? Tapi itu yang paling mungkin. Tiap gue baca seks di majalah gak ada yang bahas kecanduan coli. Jadi gue binggung gue ini sakit atau normal. Emang buat berenti kecanduan coli susah gue akuin. Yang aneh tuh gue bisa berenti yang laen. Gue bisa berenti mabok, judi, narkoba, game online tapi gue susah buat berenti coli.

Kenape ye? Tapi baru sekarang gue ngerti. Gue baru tau kenikmatan coli waktu itu. Enaknya ngecrot. Seks kan emang kebutuhan makhluk hidup. Sayangnya aja gue gak bisa ngedaliin nafsu gue.

Beberapa hari kemudian di SMP gue Guru BP gue ngasih pelajaran didepan kelas. Sambil ngasih masukan moralis tentang seks. Katanya sih enaknya gue harus ngomong ke bonyok*. Anjing masa gue ngobrolin coli ke bonyok? Malu dong. Dasar guru BP goblok dah. Gue males ngederin pelajaran kejujuran kaya gini. Ya udah gue ngobrol berdua bareng temen sebangku gue. Meskipun obrolan seserius itu di anggep lawakan gue malah dapet ha ha hi hi daripada solusi cerdas kaya majalah ibu-ibu yang gue baca. Modar anjing!

Pulang dari sekolah gue mampir ke rumah temen. Cuman sebentar. Gue langsung balik kerumah buat ngegesek-gesek pelan kontol sambil nonton VCD bokep dari Carel. Kebetulan di rumah gak ada orang. Jadi gue bebas coli hari ini gak usah sembunyi-sembunyi. Di sekolah temen gue ini banyak musuhnye. Orang nya ngeselin sih. Sok ganteng. Tapi gue gak masalah temenan sama die. Gue gak suka nyari musuh. Sebelum gue ikutan jadi sebel juga. Nontonlah gue bokep yang dikasih pinjem die di kamar nenek gue. Gue gak ngecek isi bokepnya apaan. Dibilangin bagus aja. Cakep cewenye sumpah katanya gitu. Pas gue coba nonton disitu ada cewe yang badannye kaya bule biasa. Kurus. Rambut pirang. Pake mini dress* kucel. Die pasrah di ewe sama bule yang gak tau darimana datengnye. Tiba-tiba aja ada. Tapi tolong dong, masa cewek ini rambutnye botak. Anjing botak! Kaya Shaolin Avatar. Dugul!

Kalo cowo yang nikmatin memeknya rambutnya cepak. Aneh Anjing ni cewe. Cowonya mah normal weh tampilannya mah. Binggung dah. Tapi gue mah tetep coli weh. Ngelurain sperma kaya biasa. Besoknya gue marahin die. Sarap. Ngasih bokep kaya gini anjing. Eh, die ketawa-ketawa aje. Sialan dasar kontol botak. Gue teriak didepan mukannya yang ngeselin.

14

Gue sempet juga punya cewe. Tapi. Gue putusin. Gue ngerasa aneh. Ko gini ya punya cewe? Binggung mau ngapa-ngapin teh. Ini cinta pertama gue. Gue masih SMP. Culun. Gue kenal dia karena bangku dikelas kita berdempetan. Kelas udah kaya akuarium. Sempit. Tingginya 2 meter. Luasnya 4×6 meter. Kalo di badingin kelasnya temen guetuh 8×12 meter. Beda 2 kali lipet. Panas banget kalo di dalem kelas.

Untungnya 3 bulan terakhir kelas gue dapet 2 kipas angin. Tapi itu gak ngerubah apa pun. Cuman ngurangin keringet. Gerah tetep aja gerah. Gue duduk di bagian ke dua barisan depan. Gue emang suka ngobrol sama dia. Suka becanda, suka banget jail sama dia. Pokoknya kita udah deket kaya temen-temen cowo gue. Sebelumnya gue belum pernah sedeket ini sama cewe. Gue gak pernah punya temen cewe, gue juga gak mau gaul sama cewe. Selalu ada rasa kagok buat ngobrol sama cewe.

Semua berubah pas gue kenal sama dia. Gue jadi berani deketin dia, gue pede ngobrol sama dia. Dia manis, kulitnya coklat. Rambutnya lurus kaya Lena Tan. Kadang poninya dipaksa diarahin ke belakang kepala pake bando pelastik warna item. Kadang pake poni. Orangnya ramah banget, makanya gue bisa deketin dia.

Biasanya cewe pada males ngobrol sama gue. Gue gak pernah bisa serius kalo ngobrol sih. Tapi kalo sama dia beda. Gue nyaman ngobrol. Kalo sekarang ngobrol gue gak panik. Biasanya jantung gue suka dag-dig-dug kalo harus ngobrol sama orang. Takut salah ngomong, takut gak ngerti, takut ditanya. Pokonya gue malu buat ngomong. Jadi gue lebih banyak diem.

Mood gue selalu jelek, kepengen ngambek, teriak-teriak biar gue tenang. Kadang pengen coli biar gue bisa nyaman.

Gue sayang banget sama die bukan karena fisiknya cakep kaya pemaen bokep. Gak lah mukanya cuman manis gak cakep. Toketnya juga kecil kaya temen-temen sesekolah. Jelas beda jauh sama toket silikon pemaen bokep yang sering gue tonton.

Gue becandain die pas jam istirahat. Selalu aja berdua ngegodain dia kalo lagi belajar, “eh kamu makin cantik aja”. Sumpah gue gak pernah gitu sama cewe cuman ke dia aja gue berani. Karena kita emang udah kenal. Gue juga berani maen mata. Kedepin mata kanan gue pas kita bengong berdua. Gue bahkan gak seberani ini sama cewe. Dia ngebales manja “ih oon*”. Terus kita ketawa berdua.

Temen sekelas gue udah tau gue deket sama dia. Gue jadi sibuk mikirin dia. Gue pengen ngobrol banyak sama dia. Sayang gue gak punya Hp, jadi gue gak bisa ngobrol seharian di luar kelas. Waktu itu cuman beberapa orang aja punya hp, hp masih jadi barang mahal gak semurah sekarang. Belum terlalu umum juga anak SMP punya hp.

Suaranya cempreng mirip Nycta Gina. Gue gak ngerasa pantes buat jadiin dia bahan coli. Karena gue rasa di bukan tempat gue ngeluarin sperma. Dia yang terbaik buat idup gue, gue mau sperma gue buat film bokep aja. Hebatnya gue jadi lupa coli, lupa juga kebiasaan nonton bokep di malem hari. Sekedar begadang terus crot. Gue dah gak begadang.

Gue lupa sama coli gara-gara gue deket sama dia. Wah badan gue yang lemes kecapean coli jadi jos. Gak ngos-ngosan kaya dah coli. Napas gue sekarang lancar. Jantung gue juga. Gue selalu aja semangat buat sekolah. Jadi rajin belajar, baca buku pelajaran bareng berdua. Ngobrolin PR ngerjain berdua. Kegoblokan matematika gue berkurang sedikit-sedikit.

Dia banyak ngenalin gue sama rumus matematika, gak tau apa namanya gue lupa. Gue udah jarang make rumus ini sekarang. Padahal dulu gue inget apalah namanya. Pokoknya x dan y gitu lah. Gue sekarang lebih ngerti gimana milih judul mana yang cocok buat di klik. Suara desahan mana yang pantes di pake, dan posisi doggy, 69, atau misionaris yang gue pake buat coli.

Posisi doggy peris kaya namanya, ngentot gaya anjing. Posisi 69 itu kebalik, balik. Kontol di spong, memek di spong juga. Misionaris mah standar, ngentot memek muka saling ketemu buat adu cipokan. Gue dapet ini dari internet, lumayan juga sih masih banyak gaya laen yang belum gue search di internet. Tapi ya gitu-gitu ajalah, fariasinya banyak.

Dulu gue inget banget dah. Rumus-rumus matematika udah kaya gue coli aja. 2 menit langsung crot. Beres. Mau soal kaya gimana juga gue bakal gue jawab cepet. Gampang. Ah cemen dah pokonya pelajaran SMP tuh. Setiap omongan orang bisa gampang gue inget, beda sama waktu gue coli tiga kali sehari. Beda banget. Gue jadi ngerasa pinter, gampang inget. Hahaha ternyata gue cerdas juga euy. Gue gak kerasa kena gangguan metal, semacem ketakutan sama kegagalan. Gak perlu lagi takut nyoba ngejawab soal lagi. Gak perlu takut ngelakuin sebelom nyobain. Gue bisa ngejawab semua. Rasa takut itu ilang. Jadi gak ada lagi rasa tertekan buat ngelakuin ini itu. Ngerasa salah udah coli, mikir jorok, crot, ngebokep sama gak solat. Gue santai aja. Bisa di bilang itu jaman depresi ilang kontrol tuh ilang. Semua dah ada jalannya. Lancar-lancar aja biar ada gangguan juga. Gak lama dari itu gue maju terus jadian sama dia. Ini ngebikin gue jadi orang baek. Positif thinking. Cewe pertama yang ngerubah idup gue itu dia. Selain Ibu gue yang dah ngelahiri gue ngajarin gimana caranya jalan kaki maju kedepan. Nenek gue yang ngasih gue yang gue suka. Makanan, lawakan, sama kedisiplinan. Cewe gue ngasih kelengkapan idup yang baru gue rasain sekarang. Enaknya punya cewe tuh gitu.

*****

Gue jadi semangat, gak kebanyakan molor lagi kaya dulu. Gak gampang ngantuklah. Otak gue berasa lebih cerdas. Gue lebih gampang nginget pelajaran, gampang juga ngerti yang diterangin guru di depan kelas. Gue bisa belajar lebih berkualitas. Gue ngerasa dengan mikir positif, gue pasti bisa, gue pantes dapet hasil dari yang gue lakuin. Gue pasti berhasil. Ternyata emang bener berhasil ko. Badan gue yang biasanya harus di cas dulu biar gak pegel-pegel. Jadi fit. Padahal gue gak molor siang. Wah enak banget nih. Kok gue berasa hidup gue indah kalo deket dia lebih hidup. Gue jadi pengen gini terus selamanya. Gue pengen lebih baek lagi berdua sama dia. Saling support, belajar bareng. Ngobrolin matematika yang gak pernah gue ngerti jadi mulai ngerti dikit-dikit. Dikit-dikit nilai raport gue naek. Kalo pun gue stress pas waktu belajar tapi masih bisalah efektif belajarnya. Gue jadi bisa fokus belajar bareng berdua. Biasanya gue belajar cuman 2 menit doang. Buka buku baca satu halaman. Di halam ke dua pasti gue udah ngatuk. Ya udah gue makan, terus tidur. Gak pernah gue paksaain belajar sampe ngerti. Lebih fokus kalo kerja. Gue selalu punya energi buat belajar matematika, dia selalu ngasih penjelasaan yang mudah dimengerti. Emang top dah cewe gue, gue jadi makin cinta. I love you.

Gue sempurna jadi orang yang bisa ngatur omongan. Bisa tenang. Gue jadi jarang ngomongin memek di depan dia. Karena malu. Takut kena damprat lagi. Temen-temen gue yang biasanya nge-bully gue jadi takut. Kerena kebetulan cewe gue ini kenal mereka semua. Temen cewe pada gak berani nge-bully lagi. Gue aman dari ejekan bocah seumuran yang konyol.

Gue jadi seneng dengan keadaan ini. Banyak hal berobah. Gue jadi bisa ngatur emosi gue. Gak ngelawak terus, gue bisa jaga sikap. Obrolan ngalir aja gak pake tegang, santai. Nikmatin semuanya lebih enak. Lebih ceria. Gue sekarang lebih gampang ngobrol sama orang laen gak tertutup lagi, gue bisa ngobrol apa aja sama orang laen. Gue jadi ramah.

Abis dari sekolah gue les privat berlima dalam satu ruangan. Gue bercanda sama mereka. Ketawa-katawa enjoy nikmatin proses belajar, gue pulang bawa ilmu. Kenikmatan ini bikin juga gue ngerasa solat, belajar, pacaran yang bikin gue banyak berubah. Gue bersukur gue dapet ini semua sekarang. Sehabis itu gue pulang dari tempat les. Jalan kaki berdua ngerokok bareng temen gue.

Matahari mulai cukup redup sore ini. Angin ngedekatin langkah gue berdua. Rokok mild ketengan yang dibeli di warung udah tinggal nyisaain sepertiga. Kebetulan temen gue juga dah punya pacar. Dia banyak ngobrol kalo pacaran ke mall sambil makan es krim.

Ngobrol berduaan sambil saling tatap mata. Pegangan tangan. Ah gue jadi kangen cewe gue. Tapi gue sabar kan besok juga gue ketemuan sama si manis. Tenang aja hari besok pasti lebih baik lagi daripada hari ini.

Rokok yang ngebakar nikotin udah mulai ngedeketin filter. Tandanya gue harus buang rokok ini sekarang. Gue injek puntungnya ke bawah tanah kaki gue langsung ngegesek-gesek sepatu kanan gue. Rokok mati dibawah sepatu converse made in Indonesia. Gue naek angkot, temen gue nunggu angkotnya dateng. Gue naek angkot yang berbeda arah.

Kami berdua beda tempat tinggal. Gue pamit. Angin masuk dari jendala pintu angkot yang gue buka. Gue duduk merenung di dalem kerumunan penumpang laennya. Wah gue udah harus fokus dapet SMA negri yang baek buat masa depan gue bareng Si Manis. Gue ngerasa hidup gue sehat jauh dari kepengen tau gue sama coli, seks. Gue gak maen kontol lagi, gue udah bosen. Gue selalu ngerasa sehat, buktinya kalo orang laen pilek. Gue gak pilek. Gue jelas lebih sehat. Gak gampang sakit. Kalo maen RO juga gue gak ngambek mukul meja karena kalah strategi ngebunuh moster gue. Bacotan bocah SMP ini gak seliar dulu. Gak ada kosakata buruk di mulut gue hari ini. Gue malah tenang-tenang aja. Santei.

Ko gue bisa ya jadi kaya gini. Gue sekarang gak pernah lagi maen RO lebih dari 2 jam. Karena gue tau lebih penting belajar daripada naikin experience karakter game online.

Gue rajin solat buat bilang makasih udah ngasih perubahan yang baek buat idup gue. Gue sayang idup gue, gue cinta Si Manis, gue suka semua hal yang gue lakuin hari ini. Waktu yang gue abisin buat coli itu gak sebaek sekarang. Gak ada waktu selaen buat kita berdua.

*****

Tapi itu cuman sementara… Gue mulai lagi. Balik lagi coli. Iya balik coli lagi. Gue dah pisah sekolah sama dia. Gue ada dilingkungan sekolah yang baru. Coli jadi udah kaya cewe gue. Lagi-lagi gue coli. Gue macarin lagi kontol gue sama tangan gue. Goblok! Gue tau banget ini bakal balik lagi kaya dulu. Suram. Padahal gue tau gak ada tuh tempat rehabilitasi coli biar gue berenti. Ah… Yang ada gue tuh harus mandiri, berenti total. Biar gak lemes lagi. Uuh…Kalau pun sekarang ini gue ngerasa kaya LDR padahal mah gue emang beneran putus. Gue mutusin hubungan cinta gue sama dia. Gak mungkin juga gue ngelakuin phone seks buat sekedar ngerasain ngentot. Gue gak ada hp lagian gila aja kalo make telepon rumah. Lagian telepon yang gue perlu itu bakalan ribet kalo nelepon dia. Rumah dia satu cuman nomer terleponnya itu paralel, jadi gue harus masuk kenomor yang sama tapi kadang yang nerma itu belom tentu cewe gue. Satu nomer ini bisa yang nerima tetangganya, bisa juga sodaranya, bisa juga uwanya. Ada 2 atau 3 rumah mungkin yang bakalan gue telepon. Solanya ni nomer emang nyambung ke 2 sampe 3 rumah ini. Kebayangkan? Ribetnya gue mesti nelepon dia. Mesti ngerinduin dia tapi ribetnya ini masih gak seribet gue ngocok lagi. Ah seks emang kebutuhan idup sih tapi gak harus phone seks jugalah buat ngerasain ngentot mah. Dah yang positif ajalah. Saling support aja sekarang mah. Cewe gue kan bukan artis bokep juga. Jadi ya gak usah gue bayar cinta ini pake sperma.

Cewe gue ada buat ngisi kesendirian gue yang dulu banyak di isi coli. Banyak waktu kosong yang gak gue pake buat sekedar ngobrol bareng temen di tongkrongan. Gue kan cuman anak rumahan yang kurang gaul. Gak mungkinlah ngegunain waktu buat ngobrol ditempat banyak orang gitu. Gue suka jadi diem-dieman aja. Ya mungkin emang dasarnya kuper kali.

Kalo pun status putus kaya gini gue gak bakal coli lagi buat ngebayangin mantan termanis ini buat ngilangin perasaan kangen. Ah tapi gue kangen mantan gue ini.*bentuk badan, muka, rambut, tangan, sentuhan dulu. Tulisan di coretan* ngebayangin die buat coli sambil merkosa die tuh gak gue lakuin. Gue gak mau gambarin pemerkosaanye. Gue cuman bisa mikirin yang laen daripada nanti efeknya sementara doang. Fantasi gue merkosa cuman sesaat. Gak sampe masukin lobangnya gue cuman sampe buka kolor terus geceng* Crot. Besoknya pasti aja kangen lagi. Coli lagi. Emang udah tabiat nih. Coli lagi.

15

Adzan berkumandang, toket gede, kontol pajang masih enak-enakan. *bokep Lisa Ann maen bareng Cowo, adegan di lantei, blowjob* Mereka bedua enak ngentot sementara gue coli. Gue nonton bokep lagi. Gak tau kenapa gue bisa berenti. Gue dengerin adzan sampe abis. Berenti sebentar. Kepengen solat juga. Tapi kontol udah keenakan. Pengen digesek lagi. Ah anjing gue jadi pusing mau pilih yang mana.

Sperma udah di ujung kontol lagi nih ampir muncrat ke tv. kepaksa gue gak solat, gue tidur aja. Gue ngerasa salah udah coli lagi, gak solat juga, aduh gue mesti ngebersiin sperma gue lagi yang ngebasahin ujung tv. Anjing susah lagi ngebersiinnya.

Gue ngeluarin waktu buat bersiin itu pake tisu.
Sekarang gue naek kelas, gue dah SMA kalo diliat dari samping perut gue dah maju, kaya om-om. Uban dah numpuk di samping kiri-kanan rambut gue. Gue botakin aja rambutnya biar gak keliatan ubanan. Tapi tetep aja gak bisa ngilangin muka tua ini. Gue masih pake kacamata minus tebel. Gue gampang banget ngambek, kalo kehina dikit. Gue pukul. Sering banget berantem. Gue dijauhin sama lingkungan gue. Sampe dikit banget punya temen. Males banget punya temen. Ngerasa aneh aja ngobrol sama orang. *adegan ngobrol sama temen* Jadi pendiem lagi. Males gerak. Males olah raga. Gue jadi orang yang emosian lagi. Gampang ngambek *adegan gue ngambek, sekolah, rumah, wc, kamar sendiri, angkot sampe lagi mimpi juga* .

Gue jadi punya kebiasaan suka minta makanan. Hey, gue miskin, gue juga pengen nyobain makan. Gak apa-apa kan gue minta? Ujungnya gue malah dapet penyakit, diabetes, jantung, asam urat sampe gula darah tinggi.

Mata gue juga malah tambah minus. Tiap kali harus mikir gak bisa, analisa gue minim, logika mati, hasil skripsi banal abis. Sampe saat ini gue bohong kalo gue masih bisa idup enak? Gak, idup ini gak ada yang enak. Idealis? Ya. Tapi semua orang punya sisi edealnya masing masing. Termasuk idup yang harus dijalanin. Keseringan begadang, muka kusut kecapean, gampang banget sakit pilek, panas, mencret. Sering gue freelance tapi gak ada yang berakhir jadi duit. Semua tadi bikin idup ngebosenin.

Gue ngotorin lantai ruang tengah gue. Langsung gue bersihin. Sperma gue yang netes di depan tv. Gue coliin pemotretan model di tv. Anjing modelnya cakep. Sayang cuman 30 menit. Gue harus konsentrasi. Takutnya Ibu, Ayah, atau Abang gue bangun. Untungnya itu gak pernah kejadian kalo gak gue bisa batal coli. Gue jilatin semua sperma gue. Dari tangan gue. Ubin. Sampe bersih. Kontol gue jadi lemes lagi. Hasrat gue dah abis. Gue tidur pules. 4 jam kemudian gue lemes banget ke sekolah. Males ngapa-ngapain.
Gue ampir ngeluarin sperma di gelas. Tapi suara pintu ngebatalin gue. Abang gue keluar pas dibelakang gue. Untung aja gak tau ngeliat gue coli, gak tau enggak. Gue langsung ngakat kolor ama celana keposisi semula. Biar gak ketauan coli. Gue pura-pura minum air. Padahal airnya gak ada. Gue mencet channel tv yang laen. Padahal Massayu Anasthasia lagi jalan pake baju SMA. Ratu Felisha lagi ngobrol sama die. Anjing sange banget dah. Mukanya cakep banget. Gue pengen ngecrot. Ternyata abang gue gak tau. Die terus aja jalan keluar kamarnya terus masuk kamar mandi. Gue berenti coli. Gue konak, kentang anjing.

16

Sekarang ini gue stress, skripsi belom kelar-kelar. Ngerasa salah juga lagi udah coli. Terbengkalai juga freelance. Kebanyakan coli. Sperma keluar sebentar. Udah abis aja enaknya. Cuman bentaran doang enaknya. Putus asa, gue gak keluar-luar rumah. Gak ada duit pula. Ah anjing kesel. Pengen refreshing. Eh malah coli lagi. Anjing bete dah. Jerawat numbuh lagi. Badan jadi bau lagi. Minder banget gue.Gampang lupa. Dari janji sampe kewajiban. Kalo udah gitu mood gue jadi jelek.

Tiap udah coli gue benggong. Diem. Gak jelas juga mau ngapa-ngapain. Bawaannya kepengen molor kalo gak makan.

Gue ngalihiin nafsu nikmatin selangkangan gue. Bagian tubuh pas di tengah cowo yang bisa nikmatin seks. Bisa penis, biji kontol atau lubang tai.

Hobi coli gue ganti sama hobi yang laen. Ngerokok. Gw pindah candu yang laen. Emang sama-sama gak sehat sih. Gue nikmatin rokok sampe juga gue bisa berenti ngerokok. Gue lanjut coli lagi. Kenapa ye gue bisa balik coli lagi? Gak ngerti. Kalo berenti ngerokok aja gue bisa, kenapa gue gak bisa berenti coli? Emang seks harus dilakuin tapi bukan berati gue jadi budak seks. Sial emang kalo udah coli. Pasti ada aja sialnya. Baru kerasa sekarang. Nyesel.

Banyak keluarga gue yang ninggalin gue cepet persis puntung rokok yang numpuk bekas di isep. Berserakan gak teratur ngebul nyisain bau tembakau yang khas. Nyisain bekas penyakit jantung yang udah ngebunuh papih, mamih, gaek, uwak, sampe bokap gue. Apa gue harus ngegantiin mereka mati? Bukan sama serangan jantung. Bukan. Tapi gue mati karena coli. Shit.

Gue punya bau badan yang menyengat. Tiap gue udah coli. Badan jadi bau. Tiap keringet yang keluar bau badan keluar juga. Baunye kaya tukang becak, sumpah bau banget.

Gue ngerasa stamina gue abis. Waktu gue lari 1 putaran di gasibu. Aduh lemes banget gak kuat. Baru 1 kali puteran aja udah lemes. Temen-temen gue lebih kuat dari gue. Mereka suka futsal sih. Gue suka coli. Jelas hasilnya beda.

17

Gue berempat sahabatan, mutusin bareng begadang semaleman di warnet. Ya hiburan aja bosen sekolah terus. Jomblo, pop punk, jalan kaki, gak ada yang ngeganggu. Sebelum gue ngenes ngerasa dihina selanjutnya. Sampe gue didefinisiin bokep, dan gue adalah bokep. Gue gak ngebantah gue emang kecanduan bokep. Meraka make buat chat, myspace, friendster. Kasian.

Rajin solat bikin gue rajin mandi. Cukup ngurangin gue coli. Tapi harus solat tepat waktu dari sana gue dapet ketenangan gak coli lagi. Sering ngaji. Dapet inspirasi gimana idup harus dijalani. Coli tuh berarti gue ngewe tangan gue. Gue gak bisa mikirn apapun selain maen kontol.

18

Kecanduaan bokep bikin gue nyari candu tandingan. Gue ngerokok. Habis 6 sampe 12 batang.

Sempet juga dapet serangan jantung. Asam urat. Semua didapet dari gabungan coli, rokok, makan 7 kali sehari, tidur 2-4 jam sehari. Banyak mikirin lirik-lirik Homicide*. Sambil ngebenci sahabat gue. Gue pusing anjing. Bonyok berantem tiap hari. Miskin, gak bisa beli ini itu, hp aja gue gak punya. Motor kaga ada. Tiap hari naek angkot. Gue berharap ini berubah karena dijanjiin dapet motor. Eh, gak taunya gak jadi. Tetep aja kaya gitu. Sampe sekarang gue malah jadi benci sama motor. Gue jadi males belajar motor. Masa bodo ah. Naek angkot aja udah cukup buat gue.
Rajin coli, rajin makan. Raji coli, rajin molor. Rajin coli, rajin ngabisin waktu. Rajin coli nunda kerjaan. Rajin coli ngabisin quota internet. Rajin coli gak ngehasilin uang. Rajin coli menyedihkan. Rajin coli bikin gue cape.

*****

Nah kalo pas gue kuliah tuh gini. Anggep aja idup itu dualisme. Yang berarti itu ada kiri, ada kanan. Ada depan ada juga belakang. Ada atas ada bawah. Coli itu, gue ngewe tangan gue. satulisme. Kalo ngewe cewe itu dualisme. Gak seimbang. Gak bisa teges, gak bisa nepatin janji, gak bisa bener-bener, lebih bener kalo ngebokep. Pasti ada aja alesan buat ngebokep lagi. Ato gue emang gak mau berenti? Banyak banget video musik, film sampe majalah dewasa yang gue inget. Yang biasa gue pake coli, sambil ngamanin diri di kamar. Pintu dikunci rapet-rapet. Biar gak dibilang cabul. Pertama kali gue nonton Christina Aguilera – Not Myself Tonight Just Dirrty pas gue SMP. Sempet mau minjem VCD temen gue. Gak dikasih pinjem. Gue download lagi pas kuliah. Wow, gue seneng banget liat celana koboi, terus keliatan kolor. Awesome.
Gue baru tau model yang ada di video musik White Stripes – I Just Do Know What To Do With Myself itu Kate Moss. Kurus, pirang, video ini cuman warna item putih doang, background-nya full item, asik striptease. Konsep yang keren, sensasi banget.
Terus waktu kuliah ini gue suka Megan Fox tuh gak lebih dari brunette seksi. Sama badan kurusnya. Persis cinta gue sama Sasha Grey. Gue taunya dari internet. Di FHM Megan orang no.1 terseksiyang paling dicari di internet. Promosi film Jenifer’s Body keluaran tahun 2009 itu bikin gue tau akting buruknya berbading kebalik sama sempurnanya make up-nya. Kesempurnaan cewek.
Gue pengen ngewe Kelly Brook pas nonton film keluaran tahun 2005 judulnye Three (Survival Island). Kelly akting cuman pake bikini sama selendang di 85% durasi film. wow ini udah harus nonton pokoknya mah. Cerita jelek, akting jelek, ada adegan seksnya lagi. Ini semua komposisi yang sempurna buat coli.
Gue banyak ngabisin baca Maxim, FHM, Playboy, NUTS, Prick. Males juga baca artikelnya, gak tau kenapa. Foto bagus, layout bagus, cewe keren, make up keren, pas.
Emang bokep itu dosa. Tuhan ada dimana-mana. Bisa liat gue coli mau dimana pun juge. Mau bokep, coli semuanye dilarang agama. Enak banget pas ngeluarin sperma tuh rasanya, lemes tapi seneng, langsung molor deh udahnya pegel-pegel pas bangun, gara-gara kasur yang tipis. Lebih banyakan ngebokep sambil coli, dibandingin molor sambil ileran.
Gue puasa romadon satu bulan penuh. Gak tau apa yang gue pikirin. Gak ada seharipun gue coli. Ternyata gue bisa ya. Emang kalo dikerjain gak banyak mikir tuh bisa. Gue aja yang terlalu banyak mikir. Pemikir. Sampe uban gue aja banyak banget.
Gue berenti total. Ngegantiin semua cerita kontol. Dengan hal laen. Ibadah rajin 5 kali sehari. Berenti ngomong kasar ama jorok. Gak sama sekali pegang kontol, gue takut batal puasanya. Gue takut azab Tuhan. Ustadz online ngasih tau, gue boleh coli kalo alesannye biar gak ngewe jablay. Kalo ngebokep terus coli itu dosa. Ngeliat kontol beradu sama memek kan dosa, sama aja kaya ngeliat memek langsung. Mau video, mau gambar, sama aja. Agama nyuruh puasa untuk ngurangin coli. Semua alasan tadi bikin gue berenti. Gue ngerasa gampang molor, gak malu natap muka orang. Semua jadi lebih baek. Gak kerasa banyak untungnya juga persis kaya gue pacaran dulu. Dunia jadi indah sementara. Sebentar doang.

*****

Temen gue gak jadi nerima artwork* bandnya. Yang udah susah payah gue buat. Katanya ini mah bokep bukan artwork. Itu juga gue tau setaun udahnya. Sebernernya gak apa-apa sih. Cuman masalahnya kita sama sekali gak ada komunikasi. Brainstoming* aja enggak, gimana gue mau ngerti maksudnya. Dia aja gak mau ngertiin gue. Beberapa tahun sesudahnya gue liat lagi, dia keluar dengan dengan artwork baru. Albumnya gratis dibagi di setiap tongkrongan. Bikin gue berenti mikir sejenak. Ternyata artwork yang dia mau kaya gitu toh. Oh, seleranya kaya gini. Emm, ternyata.
Gue lebih milih pura-pura ngetik skripsi. Padahal gue coli sambil nonton Sex and Zen: the new heroin. Kalo gak salah judulnya gitu. Gue coli, ngebayangin Saori Hara yang minta ampun bahenolnya, dengan desahan palsu di adegan adu kelamin yang juga palsu. Gue idup dengan coli yang palsu. Tapi gue bisa ngejauhin diri dari memek AIDS perek. Sadar gak sadar udah di program jadi budak seks, ngerasa salah udah coli, bakal ngerasa bokep itu asli padahal akting. desahan JAV yang palsu. Sama lebih milih toket Amy Anderssen yang segede melon dibandingin toket Dian Sastro. Fisik yang sempurna bikinan operasi plastik. Semua yang di nilai cuman fisik, gak ngehormatin fisik. Di film ini ada artis cantik namanya Saori hara, 1 orang model internasional taiwan, 1 orang model internasional Thailand. Film Hongkong ini box office. Mereka ngehasilin duit. Nambah daftar film yang udah dikerjain. Seks masa kini. Film semi. Bisa juga ngelajutin dapet duit di seri selanjutnye. Tapi gue dapat apa? Uang? Gak. Keuntungan? Bokap gue meninggal, seharusnya gue ada nemenin dia.
Udah wisuda gue malah sibuk coli ngembayangin blow job Sasha Grey nikmatin batang kontol. Sama persis didepan gue. Bukannya buat CV* buat disebar di kantor.
Gue fokus nikmatin lidah angetnye ngebasahin kontol. Kontol yang dikulum, tegang. Rasanya lebih enak dari coli di bayangan gue. Bahannya selalu ada aja. Mulai dari tawaran nge-copy file bokep, tawaran download bokep, streaming bokep, dapet majalah, sampe jpeg bokep. Gue tau coli, seks, BDSM, skandal seks artis, boobpedia, sampe xvideos. Padahal waktu SD yang gue tau cuman worldsex yang harus di ketik di warnet yang gue sewa. Semua berawal dari warnet. Semua informasi. Disitu juga sumber segala masalah idup gue. Coli ngebawa masalah. Internet yang dipake ngebokep setiap detiknya, 3075,64 USD dibelanjain buat bokep. Setiap detik, 28258 pemake internet ngeliat situs bokep. Setiap detik, 372 pemake internet ngetik kata kunci yang berhubungan dengan bokep di google atau xvideos. Sekarang udah sampe 420.000.000 situs bokep. Penyubang isi situs bokep di dunia adalah Amerika yang nyumbang 89% sisanya Jerman, Inggris, Australia, Jepang dan Belanda. Kalo masih ada yang suka coli. Bokep bakal ada terus. Bokep bakal di produksi terus menerus. Talent-talent bokep bakal hadir, menuhin selera pria kesepian. Seks paling banyak di cari, sampe blog-blog sepi pake tags bokep buat kebanjiran pendatang nyasar. 60% alasan ngebuka internet adalah buat ngeliat situs bokep doang. 70% remaja Amerika ngebuka situs bokep. Di Amerika duit dari industri bokep itu ngalahin stasiun tv ABC, CBS, NBC disatuin. Sekarang Indonesia di urutan ke-7 negara yang ngetik kata kunci “sex” di google.Jadi bener kalo naeknya pemerkosaan nambah 60 kasus di taun 2010 itu karena gampangnya orang ngebokep”.

*****

Dulu juga waktu kuliah ini gue sempet berhasil berenti total. Gak ada coli-colian lagi. Gw sibuk banget kuliah. Hampir setiap jam gw pake ngerjain tugas kuliah. Gak ada nonton tv, maen games. Begadang, dari subuh ketemu subuh. Sampe molor aja harus mikir. Perlu gak ya, karena waktu mepet sama deadline. Sampe sering gak mandi yang penting tugas ngumpul. Efektif ama efisien waktu. Sampe kadang-kadang tetep aja telat ngumpulin tugas. Ini yang bikin gue semangat supaya gak telat lagi. Gw selalu bilang di otak. Ngerjain ini. ngerjain itu. Ngerjain yang lain. Terus menerus kaya gitu selama kuliah. Sibuk pisan.Ini berhasil nurunin banget aktivitas ngebokep, ngeluarin sperma. Semua waktu gue dah abis untuk kuliah, kecapeaan langsung molor. Karena udah nanemin ide “gue harus ngerjain ini, setelahnya ini, terus ini, nah bakal dikumpulin besok”. Otak kiri gw udah nerima ide gue. Mikir positif.
Cewe di film bokep tuh cuman buat buang sperma gue aja. Sia-sia. Ngeluarin hasrat percuma. Capek anjing. Lemes. Banyak juga alesan yang bikin gue coli. Bisa bosen, gak ada kerjaan. Dan lain-lain. Tapi idup ini emang ngebosenin. Gue bisa coli kapan pun. Gue bisa ngentot apapun. Tapi ujung-ujungnye gue bakal bosen juga. Gue delete semua file bokep. Gak nyoba ngopy file bokep apalagi download bokep. Gue juga gak streaming. Gue nyari gimana ganti nomer DNS pake DNS Nawala*. Biar gak ngebokep lagi. Simpen foto ayah di deket komputer, deket kasur biar inget terus sambil nambah semangat nyari duit. Jangan nutup pintu kamar. Karena biasanya coli. Jangan tutup jendela. Biar takut ada yang liat gue lagi coli. Bisa juga pindahin komputer ke ruang yang banyak orang bisa liat. Kaya di ruang tengah, ruang keluarga.

*****

Waktu temen-temen dah kerja gue masih kuliah. Ayah meninggal dan semua tetep sama. Gue sampe gak tau udah berapa bulan nunda skripsi yang tinggal revisi doang. Gak tau apa yang bikin males. Gak tau juga apa yang ada diotak gue. Apalagi otak orang lain. Yang nuduh gue bodo, pemales, defenisi ngebosenin laennya. Ah anjing, coli mah. Coli aja. Gak usah mikirin orang laen toh gue ini yang nikmatin. Omongan yang naif dalam ati.
Kenapa juga orang yang gue kenal pada nyuruh gue lulus kuliah. Jurusan desain grafis. Tahun 1989 gue dilahirin 24 tahun yang lalu. Cumancowo jomblo biasa, yang kurang gaul, yang lebih milih ngebokep dibanding kerja. Gue ngerasa bersalah. Gue ngerasa curiga. Gue emang budak seks. Gue yang milih gitu. Tapi gak apa, lah gue senang-senang aja ko begini. Emang pas Ayah meninggal buat gue mikir. Gue harus mandiri, kerja, ngewujutin semua harapan. Tapi itu cuman sebentar doang. 8 bulan seterusnya gue masih belum ngerevisi skripsi. Gue emang berengsek kata semua orang yang tau gue masih pengaguran.Tepat.
Gue punya rencana kerja. Gue juga punya bisnis yang harus di kerjaain. Gue kasih tenggat waktu buat nyelesein itu semua. Ngumpulin duit juga buat ngembangin bisnis sama bayar tagihan. Gue udah males juga ngaggur. Terlalu bebas. Saking bebasnya binggung mau ngapain. Maen ke temen males. Gak ada duit. Duit freelance gue abis buat beli pulsa internet. Kalo pun gue maksaain jalan kaki 15 menit ke temen gue. Males juga. Hp gue rusak lagi. Padahal tinggal beli nomer yang lima rebuan. Malesnya minta ampun. Dah aja ngejugrug dirumah. Males-malesan. Gue butuh kerjaan. Alesannya udah numpuk. Simplenya gue kerja buat keluarga gue.Gue pengen idup dengan rutinitas kerja. Bosen gue freelance miskin kaya gini. Ah anjing cape deh. Rencana sih kerja di Tv, atau illustrator* deh. Yang penting gue kerja desain grafis. Biasanya kerja kantoran tuh senin sampe jumat.Sabtu dan minggu liburan, jalan kaki olah raga kesukaan gue, refreshing, sambil ngerjain freelance juga.Ngebosenin?Emang, idup emang kaya gini. Gak tau didepan bakal kaya gimana lagi. Jalanin aja.

*****

KEBANGUN DARI TIDUR. Gak kerasa udah *4 jam gue begadang*. Badan gue keringetan, selimut udah basah. Otak gue panas kebanyakan mikir dibandingin tidur. Gak istirahat. Selalu aja banyak mikir. By the way kapan ya gue nyelesein skripsi. Sementara sekarang udah pas 1 tahun ayah meninggal. Komputer gue nunjukin tanggal 25 Juni 2014, jam 10:30. Rabu yang sama dengan tahun kemarin.
*ada adegan yang emang harus jelas, vulgar buat ngejelasin, atau ngedeskripiin bentuknya, ada juga adegan yang emang gak perlu dijelasin. Gak perlu-perlu amat. Masuk keluar kamar, masuk lagi wc dah gitu aja. Nah gak jelas kan wcnya kaya apa? Nah kamarnya kaya apa, da sebelumnya dah diceritaain semua yang ada dikamar gue tuh kaya apa. Nah gitu jadi gak perlu jelas juga ya.

LATAR BELAKANG
Kenapa sih gue coli?Gimana gue coli? Kenapa sih gue ketagihan coli? Kenapa juga gue harus berenti? Apa yang harus gue lakuin biar berenti? Gimana caranya gue bisa idup lebih enak, kalo gak coli? Terus kalo udah berenti gimana? Mau apa lagi?
Kecanduaan coli dah masuk ke penyakit seks. Candu dari coli ini bikin idup gak produktif. Dapet pengalaman tapi sedih, gak guna, kalo pun ada gunanya sih ya gak usah diulangin lagi tuh pengalaman jelek kaya gitu mah. Gue sih pengennya idup banyak duit. Gue punya cita-cita yang ngebutuhin duit sih. Biar banyak duity ague butuh kerja. Semuanye bisa ngehasilin cita-cita jadi kenyataan. Terus gue berenti coli buat idup yang lebih dari coli. Idup yang bikin gue jadi orang yang berjuang buat cita-cita. Bukan idup yang berjuang buat coli.
CHRISS LIE METHOD
Genre:
Drama, Dewasa, tsundere, gelap, school life, broken home,
Judul Komik:(1.) Coli itu enak tapi kadang coli itu eneg.(2.) Beresnya sih bersih, sebelomnya sih kotor. Beres dulu ah.
Premis:
Seorang remaja sampe dewasa yang pengen coba berenti coli buat ngewujudin mimpinya sebagai *musisi, penulis novel, ilustrator gore.* Berhasil sih, meski harus berkali-kali gagal.
Log-Line:
Coli emang pengalaman idup dia yang paling berkesan. Dari remaja udah tau gimana coli yang baek. Gimana coli yang gak bikin lemes, sampe gimana coli pake pelumas yang aneh. *Jus mangga, mentega, saleb, sampe sempet nyoba lubang pantat abangnya sendiri*. Usahanya berhasil berhenti meski berkali-kali coli lagi. Coli lagi. Ayahnya meninggal pas dia coli. Itu ngebuat alesan kuat saatnya berenti coli. *Rencana selanjutnya ngebahagiaan orang tuanya, selesein skripsi sambil berusaha ngebayar utang keluarga. Dia kuliah dari nginjem uang yang udah jatuh tempo harus dibayar.*
Nama Karakter: Anonimus
Gender: Pria
Tempat/tanggal lahir/umur:
Bandung / *Juni 22 1989* / 24 tahun.
Asal-usul singkat:
Lahir di keluarga menengah sederhana.
Hobby/Kemampuan khusus:
Gak pinter tapi suka ngegambar di buku tulisnya kalo gurunya udah ngebosenin didengerin di kelas. Suka banget menyediri. Bisa maen gitar, hobi dengerin musik.
Sifat:
Pelupa, penyendiri, eksetrik, pikirannya terbuka sama hal baru, gampang di provokasi.
Kelemahan:
Kecanduaan games online, kecanduan coli, suka nunda-nunda kerjaan, gampang banget ngeboong, sering lemes, pemalesan.
Kelebihan:
Pemikirannya terbuka, suka belajar meskipun lambat, lambat nyelesein masalah: asal-asalan nyelesein kerjaannya. Nunda masalah hingga dateng masalah baru. Numpukin masalah.
Sesuatu yang bisa menjadi ciri visual: bisa bentuk badan, wajah, rambut, pose, emblem/logo, senjata, kostum, dsb. (perlu gak? Kalo enggak bisa siapa aja sih yang jadi cowo ini, tapi bentuk fisik juga dah gue kerjaain di kalimat “perut gue buncit, badan gue bau, pake kaca mata).
Badannya tinggi, rambur uban, rambut botak gue suka motong rambut gue 1 cm, pake kacamata minus 3,75, perut buncit, muka asia, gak ada asesoris khusus yang dipake, celana jeans longgar, baju kaos band metal.
Pengenalan karakter
Seorang anak remaja, menemukan seks sebagai hobi. Merubahnya di SMA, hingga sebelum bekerja. Bertemu dengan agama, ideologi, dan teori filosofi. Sebelumnya banyak belajar self problem solving. Berkali-kali gagal berhenti coli.
STRUKTUR CERITA: Pengenalan masalah
Onani, broken home, kemiskinan, kesendirian, gelap, sinis, sex addict, musik, religi, mengambar, desain huruf.
Pengenalan ideologi, agama, filosofi, problem solving.
Ideologi politik radikal dari *ucok homicide*, dari lagu homicide*. Agama Islam radikal macem bom bunuh diri, sampe cerita pahlawan bunuh diri di Islam. Filosofi dari zine lokal. Problem solving SWOT program, kontiuitas, kampanye personal.
Jatuh.
Waktu SMP sempat berkali-kali pingin berenti tapi gak bisa. Sempet berenti 2 minggu. Tapi onani lagi.
Problem solving.
Ngejauhin idup dari film bokep, nyoba mulai ngurangin ngomong jorok, kasar. Mulai rajin solat. Mulai nyoba pacaran.
Jatuh.
Gak di terima di SMAN, gak pernah merasakan hal seperti ini. merasa jelek di SMP ingin balas dendam di SMA biar gak di bully lagi. Ngejelasin kontol di goyang enak.
Lebih jatuh lagi.
SMA berteman dengan teman baru. Deket. Berakhir dengan tidak menyenangkan, terlalu serius nerima becandaan. Penyebabnya pusing mikirin Ayah dan ibu yang sering berantem. Kemiskinan membuatnya jadi sensitif gampang kesinggung. Marah-marah sama bercanda sampe hal-hal yang gak penting. Ngehibur pake becanda gak pernah berenti biar ngelupain dunia yang terlalu serius ini bisa gila.
Terpuruk.
Mulai mau ngerti agama, Belajar gambar illustrasi. Pengen sekolah di instusi terbaik di seni rupa. Lagi-lagi di tolak Institusi nasional, nyari universitas swasta. Balas dendam lagi pengen berhasil.
Memulai kembali dari awal. Recto Verso. a-z-a.
Menjadi pekerja desain grafis profesional di indonesia. Menginspirasi desainer huruf muda untuk berkarir di dunia type design.
DRAMATIS
Gagal punya cewe gara-gara kemalesan. Babeh meninggal, dapet bencana keuangan, sampe di jauhin temen, gara-gara bau badan, sulit dimengerti, sampe susah tidur gara-gara mikirin grup fasis musik yang bikin band. Sampe kembali nemuin temen yang cocok. *Bertiga maen PS bareng*. Nikmatin lagi idup dengan beribadah.
EKONOMI
Semiskin apa, berbandingannya dengan tetangga, teman sekolah, keluarga. Saya tidak mampu membeli handphone, tidak mampu membeli motor, selalu berjalan kaki, lebih memilih menabung daripada menggeluarkan uang percuma, lama-lama membagikan uang ke teman-teman malah rezeki makin terbuka lebar.
KULIAH: sering telat solat subuh, sering telat ngumpulin tugas, sering jarang coli, mulai ngertiin kalo sebenernya nyari duit itu penting. Mulai tau banyak soal desain grafis, jadi hobi nulis, baca buku, mulai freelance, mulai nyari referensi musik, sampe belajar literatur punk, mulai gak puasa, jajan terus sampe gak punya tabungan lagi, punya temen kuliah yang asik.

REFERENSI
Pengalaman diri, net, ilmu pengetahuan, filosofi, meterial, medis, psikologis, testimoni coli, books of coli, agama, dll.
DO IT YOURSELF
Buat mail abokep@gmail.com. Bikin layout pdf. Distribusiin di blog-blog bokep.
Edit

IMAJINASI COLI.
Coli emang enak. Apalagi ngebayangin pasrahnya cewe yang mau di nikmatin. Ngocok kontol pake semangat ngeluarin pejuh. Kehangatan palsu. Bisa ganti cewe kapan pun. Bisa ganti ukuran toket berapa pun. Selama imajinasi yang kuat bisa dinikmatin kalo coli. Anjing enak dah coli. Kalo udah coli, ketagihan kaya gue emang bahaya. Parah dah. Gue ngabayangin Angelababy* model terkenal dari hongkong. Mukanye imut, badan seksi, rambut item panjang, bibir tipis, matanye agak sipit.Dia lagi sibuk diarahin sama DOP buat cover majalah. Gue coli ngebayangin die. Anjing.Kontol gue paksa 2 kali kerja lebih keras. 2 kali juga keluar sperma. Anjing enak. Goblok lah pengen liat memeknya gak kesampean, gue cuman bisa bayangin toket yang tipis. Gue bayangin juga desahan dia mirip sama Maria Ozawa.

TARGET JANGKA PENDEK.
Ngurangin coli. Banyakin hobi.

TARGET JANGKA PANJANG.
Berenti coli total. Nikah. Jadi pengusaha.

ALESAN BERENTI.
Gue *maen gitar boy*, gak maen kontol. Gue juga sekarang mau kerja bray. Gak mau jadi gay* bray. Kasian bray.
Gue dah jual gitar gue. Gue pengen jadi sarjana dulu. Ngeberesin revisi. Gue pengen ikutan jobfair dijakarta.

HARUS ADA PERSAINGAN BRAY.
Gue kudu bersaing sama gue yang dulu. atau gue bersaing sama temen gue yang suka coli juga terus siapa yang berenti duluan itu yang menang. Kan yang menang yang berenti coli. Okeh.

Semua berubah, semua sama aja. Gue aneh. lo juga aneh. Semua orang juga aneh. Aneh emang itu dimilikin semua orang loh. Sayangnya semua orang gak mau di bilang aneh. Emang sulit buat jujur ke orang lain. Tapi lebih sulit lagi jujur ke diri sendiri.

Film ‘3D Sex and Zen: Extreme Ectasy, di rilis April 2011
Aturan: Jumlah kata dalam novel minimal 35.000 kata, sementara cerpen minimal 3000 kata maskimal 10.000 kata. Ekslusif dalam media novel zine printed. Paling ada bootleg-nya berupa scanner. Bebas di gunakan untuk orang lain tanpa persetujuan.
Karakter Ane, fanny, kartika, merlinda. Abang, ibu, ayah, nenek. Agypan, temen les private. Temen rental PS. Temen DU 68. Temen di PGII. Gank fasis pop punk.

****Kebanyakan coli bikin ngerubah jam tidur gue, jadi sering begadang. Besoknya pas sekolah males ngapa-ngapain deh, jadi gampang parno, lemes, gak bisa konsen, bisa-bisa gak ngecrot, mandul. Najis. Di mulei dari parno tadi bisa jadi mandul. Males dah mikirinnya juga.

Nelen aer mani mah gak apa-apa, kalo pun ada kuman, virus yang bikin penyakit. Bagusnya sih gak di minum, Tapi gue suka, malah gue jadi lebih fokus, alias masih bisa jadi energi lagi. Jadi sperma lagi deh pas dah di proses sama perut.
*****
*Sudut pandang bocah cowo ngeliat coli, bokep, crot, same lingkunganye*. Dari kurangnya pengalaman, nyari pengalaman, sampe bacaan yang pas dilakuin itu ternyata beda sama tulisannya yang dia baca. Pengalamannya sih ni bocah kecewa sama yang udah dilakuin.
Buat ngelakuin sesuei skrip yang dipikirin nih bocah. Jelas gue bikin panduan ini. Ya biar konsisten tiap karakter punya kepribadian sendiri. Jadi kalo ada konflik macem ketauan coli kan punya cara sendiri buat nyeleseinnya. Bisa gak nyelesein juga sih. Ya gitu deh.
Gue jadi kepikiran buat karakter hayalan yang cuman ada dimimpinya ‘gue’ jadi dimimpi ini dia buat buassnya minta ampun. Ngentotnya liar. Beda sama kenyataanya. Cuman coli doang.
Kemarahanmu,
ketakutanmu,
kesendirian,
frustasi
GIMMICK: BOKEP, COLI, CROT. 3x pengulangan. *lingkaran setan.
Struktur: 1. Lingkarang setan, bokep, coli crot. 2. Setiap bokep punya masa waktunya, dulu stocking item toket gede itu ngegoda, sekarang badan skinny pake iketan “Ishikari” itu ngegoda. 3. Orde baru, orde lama, orderan. Ada hukum hak cipta, hukum produksi, manajemen bisnis, sampe semua orang itu produsen & konsumen. 4. Dibuat atau ngebuat?

2015: commentar.
Ceritanya kependekan, kerasa cepet banget temponya, kurang detil di adegan seksnya. Kalo mau juga didetilin lagi cerita waktu SMP. Detelin lagi perihnya di SMA, detilin lagi kerja keras di Kuliah, detilin lagi banyak ilmu tapi gak banyak aksi di sarjana penggaguran.

Seorang pemalas yang masih menganggur dan masih terus mencari pekerjaan tetap untuk menghidupi masa depannya. Autobiografi Asep Cash Ball. Bandung. 2015.

Kira-kira waktu itu sekitar tahun 2007-2008 saat saya berhenti sebentar untuk mengejar yang lain. Saya sudah lelah mencoba menjadi mahasiswa. Saat itu pula saya baru lulus dari SMA Islam swasta di Bandung. Karena tidak banyak kumpulan pinjaman dari saudara, saya terpaksa menerima kekalahan. Saya tidak masuk Institusi negri. Uangnya tidak cukup.

Saat itu saya tidak bekerja. Hidup hanya dari uang orang tua, orang lain menyebutnya pengangguran. Saat itu waktu tidak berlalu dihabiskan untuk sekedar menunggu tahun depan. Saya disibukan belajar menggambar secara berkelompok, ya ini usaha untuk bisa menembus Intitusi negri tadi. Tak apalah mencoba untuk kedua kalinya. Penasaran. Percaya diri sajalah sambil mencoba mendapatkan peluang yang ke dua. Saat itu dananya sudah ada, didapat dari hasil bantuan pinjaman beberapa orang yang berbaik hati memberikan sejumlah hutang. Akhirnya saya bisa berhasil mengisi waktu kosong dengan les menggambar dari uang mereka.

Saat itu saya masih ingat dimana teman-teman yang lain memulai hidup barunya di universitas dengan rupiah yang cukup. Kuliah dengan fasilitas serba cukup yang sesuai dengan ekonomi keluarganya. Sementara saya hanya bisa menggambar di tempat les dengan uang yang minim juga dengan fasilitas seadanya pula. Ada uang ada banyak kesempatan, tak ada uang sediki kesempatan begitulah kenyataan saya saat itu.

Banyak waktu luang yang terpakai untuk tidur, makan, menggambar, membaca buku, tak lupa mendengarkan musik, menonton tv sampai onani. Semua tidak teratur. Oh iya, saat ini saya masih menjadi penghisap asap nikotin sambil bermain sepak bola virtual. Tak ada simpanan uang, tak ada sisa uang jajan semua dihabiskan untuk bersenang-senang penghilang sakitnya kemiskinan. Melupakan semua tanpa beban dengan begadang setiap malam menggambar apa pun yang ada di tabung berukuran 21 inchi. Jika saat menoton liputan berita dan terinspirasi maka saya akan langsung mengambarnya, begitu pula dengan sinetron. Semua digambar ulang diatas kertas tanpa terkecuali. Pensil 2b menjadi alat peniru visual yang kulihat. Hampir semua telah saya gambar. Tak Cuma itu saya juga mengambil referensi lain seperti foto, film, sampai barang-barang yang ada di kamar. Semua saya gambar. Saya jadi terbiasa menggambar berbagai objek. Mungkin saja aktivitas keseharian seperti ini bakal berguna saat proses seleksi nanti. Pasti lulus Institusi. Positif.

Seingat saya waktu itu seluruh waktu yang ada digunakan hanya untuk mengambar saja. Sehingga rutinitas ini membuat gambar saya terasa semakin cepat saja menyelesaikannya, pensil 2b semakin tepat menggoreskan anatomi manusia untuk menkomunikasikan apa yang digambar, siapa saja yang ada disana, kenapa bisa terjadi sesuatu disana, dimanakah orang yang digambar itu, waktunya kapan dan bagaimana kejadiannya tadi. Dengan mudahnya saya menggambarkannya semua itu.

Dengan lancarnya menggunakan teknik arsir, gelap-terang, kesederhanaan, membuat ilustrasi dalam setiap kertas. Begitu mudahnya menggambar itu. Menyenangkan. Tanpa perlu menjadi realis, cukup terlihat manusia saja sudah cukup. Tidak perlu menyerupai komik Amerika yang berotot itu atau seperti komik Jepang yang bermata besar. Tidak perlu komikal. Cukup komunikatif sajalah.

Ketika mengambar saya disuruh tidak hanya menggambar subjek pria saja, ada wanitanya jugalah. Biar bervariasi. Agar telihat membaur dengan umur yang berbeda-beda dalam satu ilustrasi. Terkenang tempat les yang ramai, menyenangkan berhasil bertahan les disana selama 2 semester penuh, tak pernah bolos bahkan selalu tepat waktu, hujan, panas, malam siang saya datangi tanpa pernah bosan. Tak pernah mengeluh. Selama itu pula saya jadi mengerti proses pembuatan ilustrasi, dari pemilihan objek, pemaknaan, komunikasi visual sampai teknik dasarnya begitu pula dengan teman-teman les privat yang rajin-rajin. Semuanya hebat. Pandai mengikuti bimbingan kakak mahasiswa. Diantara membimbing kami di tempat ini mereka juga sibuk dibimbing tugas akhirnya oleh Dosennya di Institusi Negri. Para guru ini sudah belajar banyak di Institusi yang akan ku tuju nanti. Tak hanya mahasiswa ada pula dosen yang juga mengajar disini. Sebelumnya tidak pernah kukira dosen membantu kami disini. Bimbingannya santai, ringan tapi penuh kritikan pedas tanpa kekerasan fisik tentunya, hanya ada kalimat kejujuran yang menusuk hati sebagai penggatinya. Memotivasi sekaligus menyinggung, membangkitkan semangat menggambar yang terkadang perlu ditingkatkan lagi dan lagi. Belajar lebih baik lagi.

Bila di siangnya menjadi mahasiswa, sorenya menjadi dosen atau disibukan menjadi guru les meng
ambar sampai malam. Satu hari yang penuh dengan kewajiban dan kesenangan. Saya salut dengan kesibukan ini sungguh mengispirasi saya untuk menjadi seperti mereka. Mahasiswa. Dosen. Pengajar les.

Dari kertas A4 ke kertas A2 terus saja berlanjut. Menggambar semakin mudah jika dilakukan tanpa beban. Sangat menyenangkan rasanya. Seperti bagaimana saya menggambar waktu kecil dahulu. Saya rasa les private seperti ini memudahkan saya menguasainya, selain itu juga jadi terbiasa bersaing dengan teman-teman les yang jago-jago gambar. Saya juga sudah dibiasakan untuk terus menggambar 3 jam tanpa henti sampai selesai. Tanpa istirahat. Bilamana telah tiba waktunya selesai saya akan mengisi waktu saya dengan menepati 5 kali kewajiban ibadah dalam sehari. Saya juga selalu mengerjakan PR, mengumpulkannya paling awal. Saya tak mau didahului orang lain begitu juga teman-teman yang saya kenal. Begitu seterusnya hingga lulus dari tempat les tersebut. Secepat mungkin saya kerjakan segalanya. Dari sanalah mulainya proses menggambar ilustrasi berjalan dengan tepat waktu dan juga terbiasa teratur. Tak ada waktu yang terbuang, tidak ada kewajiban yang tidak dipenuhi.

Tak terasa waktu sudah memasuki waktu ujian. Semakin dekatlah harapan untuk menjadi desainer grafis impianku dari sejak SD saat menggambar pahlawan super di halaman belakang buku tulis. Menulis kata porno, surat cinta, judul lagu dari MTV sampai beberapa gambar yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Absurd. Oke. Kali ini saya harus ikut seleksi lagi. Saya harus diterima di institusi negri. Saya pasti diterima. Pasti. Saya yakin itu. Pasti.

Hari pertama seleksi intitusi itu saya berhasil menyelesaikannya, tak ada masalah, menggambar memang sudah tak perlu takut untuk gagal, gambar saja selesai, hari kedua berbeda lagi, saya terkendala Bahasa Inggris saya yang buruk meskipun pun sudah rajin belajar 16 tenses, seharusnya sih jadi gampang ya, tapi ternyata ada beberapa soal yang sulit ‘tuk di isi. Ya kalau sudah begini sih seperti biasa saja. Asal jawab. Kalo salah juga tak masalah juga kan yang dinilai gambar ilustrasinya. Bukan Bahasa inggrisnya juga, jadi ya santai saja. Paling penilaian dititik beratkan pada ilustrasi jadi tidak perlu pusing. Isi saja sekenanya. Santai.

*****

Waktu istirahat telah tiba. Teman-temanku menikmati makan siang gratis pemberian intitusi, saya juga makan dengan lahap. Kami berbicara tentang tes ini sambil menunggu waktu istirahat berakhir dan mengerjakan ujian selajutnya. Saat itu saya telah berhasil berhenti berlangganan nikotin, membuat saya selalu menjaga jarak jika ada asap nikotin yang tak sengaja melewati hidung. Nasi kotak telah habis. Tak terasa bel berbunyi kami pun masuk kembali untuk menyelesaikan seleksi gambar illustrasi lagi. Setelah selesai mengerjakan test tadi saya langsung pulang, makan, mandi dan tidur sebentar.

Saya berharap lulus seleksi tahun ini. Berharap pula bisa berpenghasilan dari desain grafis.Ya mudah-mudahanlah terwujud. Soalnya saya sudah bosan menganggur. Sayangnya setelah setahun penuh berhasil memahami ilustrasi melebihi tahun sebelumnya. Semua peluang hilang hanya dengan hasil ujian selama 3 hari. Hasilnya di tolak lagi. Sama seperti hasil tahun lalu. Kecewa. Tapi itulah hasil dari mencoba. Kuterima kenyataan. Ya sudahlah. Saya terpaksa pindahkan masa depan dari institusi negeri ke universitas swasta. Dengan konsekuensi tambahan pinjaman yang semakin banyak pula tentunya.Terpaksa meningkatkan budget demi ijazah. Saya rasa selalu saja ada yang membantu saya dan keluarga. Beruntunglah kami sekeluarga. Meskipun sebenarnya bila masuk istitusi negri uangnya lebih murah daripada di universitas swasta tapi mau bagaimana lagi sekarang saya harus menjadi sarjana. Pikirku singkat. Lupakan impian menjadi mahasiswa negri. Dengan kekecewaan akan penolakan saya berjanji akan membuktikan bahwa saya tidak pantas di tolak. Saya marah. Keluar rumah, berjalan menghabiskan uang jajan untuk bermain console game. Tak ada pelarian kekecewaan selain itu. Hanya menghabiskan uang sesaat tanpa menyelesaikan masalah. Setelah uang habis saya kembali ingat sudah saatnya saya buktikan. Saya bisa kok lulus 4 tahun Cum laude. Tak perlu negri swasta pun cukup. Saya tak perlu negri. Semua universitas sama saja tak ada bedanya. Alasan yang dibuat karena penolakan. Bukan karena kemampuanku yang pas-pasan.

Langsung saja terlintas diangan akan kenikmatan bekerja di ruangan kantor yang penuh dengan kerjaan yang menyenangkan. Menggambar, menggunakan komputer. Wah desain grafis. Impianku akan tercapai. Semangat! Saya akan lulus dan bekerja dibidang seni komersil. Kuliah ini harus lekas selesai.

*****

Tahun pertama saya langsung bertahan dengan nilai di bawah Cum Laude, berkembang terus secara bertahap, stabil. Tugas-tugas kuliah terlewati dan tibalah saat tahun ke empat. Saat teman sekelasku lulus Cum Laude dan bekerja. Saya masih tetap harus berjuang, harapan saya turunkan menjadi tidak Cum Laude & lulus kuliah. Ya tidak apa-apalah turun target juga. Lulus 4 tahun juga sudah tidak mungkin. Dan benar saja saya pun telat lulus 1 tahun dari mereka. Saya diwisuda sama seperti teman-teman tapi saya belum menyelesaikan revisi. Banyak hal yang saya kerjakan hingga tidak punya tenaga untuk fokus menyelesaikannya.

1 tahun pun berlalu, skripsi masih juga belum di selesaikan. Walau pun di kerjakan hampir tiap hari. Sambil ditemani penulisan zine, pembuatan musik, freelance desain grafis, jual-beli barang bekas, sampai meminjam banyak uang dan barang sebagai marketer online. Banyak yang kucoba demi melepas kebosan menulis revisi skripsi. Terus saja menulis sambil disibukan banyak pekerjaan tadi. Yang sebenarnya membuat waktu menulis hilang diisi pelepas kebosanan tadi. Gagal fokus. Gagal revisi.

Ah tentu saja tak akan selesai-selesai jika masih seperti ini. Disaat yang sama saya tidak punya pekerjaan tetap untuk menghidupi diri sendiri. Kesibukan pelepas kebosanan tidak memberi jaminan hidup. Hanya menghabiskan waktu menulis skripsi. Kenyataan yang terbalik ini tak melupakan kerja paruh waktu yang sejujurnya tidak menghidupi saya. Awalnya sih meremehkan gelar buat apalah punya ijazah itu. Yang penting kan hidup punya uang dari kerja paruh waktu, itu saja sudah cukup. Harapan saya turun kembali. Bukan lulus menjadi sarjana desain komunikasi visual melainkan seorang pekerja desain grafis serabutan. Harapan yang biasanya menjadi target hidup untuk lebih baik terus saja merosot ke arah lebih rendah. Pencapaian buruk yang didapat dari hasil tidak memberikan harapan untuk mencoba hal yang lain ‘tuk mendapatkan target awal. Kini perpindahan target yang realistis.

Kenyataan bahwa kerja serabutan itu tidaklah menghidupi hari ini. Sedikit kerja sedikit pula uang yang didapat. Meski pun banyak sekali waktu luangnya. Ya kalau keluar rumah saja saya masih tetap meminta uang dari Ibu apa pantas saya bisa disebut bekerja paruh waktu yang bisa menghidupi. Jika masih tetap meminta uang walau pun sudah bekerja apakah bisa disebut pekerja jika masih saja dibayar walau pun tidak bekerja. Saya tidak tau ini bisa disebut bekerja atau bukan. Saya tidak peduli saya tetap idealis untuk tetap bekerja paruh waktu saja. Beberapa bulan terakhir kenyataan bekerja paruh waktu itu penghasilannya sedikit tidak sebaik bekerja di kantoran yang ku impikan dahulu. Kenapa ya selalu saja tidak sesuai harapan antara keinginan dengan hasil yang didapat. Apa mungkin saya masih kurang usaha. 2 semester belajar illustrasi. 5 tahun belajar desain grafis. apa mungkin saya masih kurang usaha. Apa mungkin iya freelancer itu tidak menghidupi. Setelah dijalani aku mendapatkan hasil seperti ini.

Bila di hitung dengan teman yang sudah berpenghasilan bulanan uang ku tidak sampai seperempat gaji kantoran kawanku. Dengan selisih uang yang banyak itu saya kembali berjanji lagi bahwa tahun ini saya akan bekerja dengan semangat yang sama seperti mengganggur saat SMA dulu. 2 semester dihabiskan les privat menggambar. Ah sudah dua kali juga saya mengagur. Kali ini saya berjanji sama seperti janji-janjiku terdahulu yang menyemangati hidup agar menjadi lebih baik lagi. Oke-oke tahun ini saya harus membuktikannya. Saya akan menyelesaikan skripsiku. Saya harus membayar utang-utang keluarga ini secepat. Saya harus segera menyelesaikan revisi hingga bekerja dengan ijazah saya. Saya akan menjadi desainer komunikasi visual yang bekerja di kantor. Membayar semua kebodohan selama 2 tahun terakhir. Saya harus membayar itu semua. Mampu tidak mampu harus mampu.

*****

Bekerja memang melelahkan, terlebih jika selalu menunda pekerjaan. Waktu tidur berkurang, waktu kerja tetap sama. Hanya mengulur-ngulur waktu saja. Hebatnya saya selalu punya alasan pembenaran untuk itu. Saya selalu menunda hingga tiba satu hari sebelum waktu pengumpulan tugas. Rutinitas ini sudah jadi kebiasaan buruk yang berkelanjutan. Saya bukan tidak mau merubahnya, tetapi selalu berubah sementara lalu kembali lagi terlambat mengumpulkan tugas lagi-lagi dengan berbagai alasan pembenaran. Selalu seperti itu. Sebentar-sebentar tepat waktu, sebentar-sebentar tidak tepat waktu. Tidak pasti.

Tahun berganti. Dari bulan ke bulan. Minggu ke minggu. Hari ke hari. Saya mulai sadar sedikit-sedikit. Lagi-lagi saya berfikir. Saya tidak mungkin menganggur seperti ini, juga tidak mungkin menghabiskan waktu untuk membaca buku terus menerus di rumah sebuah hobi yang tidak bisa membayar kuota internet. Ini hanya kenikmatan semu. Saya tak perlu lagi menonton film sampai mendengarkan musik untuk mengusir kenyatan bahwa usia pertengahan dua puluhan memang sudah seharusnya bekerja bukan berdiam diri dikamar. Berada dirumah tidak mendatangkan uang. Bagaimana pula kewajiban untuk membayar uang pinjaman sekolahku dari orang-orang yang baik yang pernah menolongku di awal tadi kuceritakan. Hutang haruslah dibayar tidak bisa tidak. Tidak ada penghasilan tidak ada kehidupan, ah masa iya sih harus meminjam uang terus-menerus sampai mampus. Tidak mungkinlah. Lagi pula tidak mungkin pula untuk selalu meminta uang dari Ibu, kasian. Tak bisa lagi setega itu, tapi saya hanya betah tinggal dalam kamar tidak mau keluar selain mengikuti ibadah jumat. Selain itu saya habiskan hidup didalam kamar. Komputer, buku, onani dan kenikmatan hidup dalam kamar.

*****

Beberapa bulan sebelum wisuda Ayah ku meninggal saat itu saya mengerjakan skripsi. Padahal jarak kamarnya tepat berada didepan kamarku. Aku merasa salah sekarang untuk tidak melihatnya saat itu, karena terlalu fokus mengerjakan revisi. Meskipun terkadang cukup malas juga untuk merampungkannya. Sekarang penyesalan tersebut bukan hanya menyisakan rasa bersalah yang mendalam. Revisi masih saja belum diselesaikan. Ah malas rasanya menyelesaikannya apalagi aku kesulitan untuk tetap menjaga fokus untuk mengerjakan revisi dalam beberapa jam. Susah fokus. Selalu saja malas merampungkan revisi skripsi setiap harinya. Begitu pula dengan bekerja paruh waktu terkadang malas juga dijalani. Hemm, aku memang pemalas akut.

*****

Rasanya sifat pemalas memang ada pada setiap orang. Mungkin tidak, mungkin iya, tetapi seseringnya saya dengar kata itu. Malas. Sebagai alasan pembenaran. Alasan yang sama untuk keluar dari revisi skripsiku. Pelarian dari masalah yang harus dijalani, dinikmati dan diselesaikan hingga tuntas. Saya hidup tanpa tanggung jawab.

Sementara itu kalau pun melihat temanku yang lulus lebih awal dariku juga tetap saja menganggur hingga 1,5 tahun padahal dia Cum Laude. Mungkin saja, temanku ini terlalu banyak menikmati zona nyaman. Seperti omongan sok tau lain yang pernah selintas terdengar. Saat bertemu dengannya aku banyak bertanya banyak hal tentang ‘masa ngaggurnya’ itu dia hanya menjawab sangat singkat seperti tidak mau dibicarakan lebih jauh. Singkatnya dia terlalu sibuk mengisi waktunya untuk menyelesaikan beberapa game dibandingkan bekerja di kantor. Tidak pernah melamar kerja, tidak membuat cv, baginya kerja kepada orang lain itu tidak sebaik bekerja sendiri. Mandiri. Kerja sendiri dengan penghasilan yang sedikit. Terkuras bunga bank dan rekan bisnis. Penghasilan sama saja seperti bekerja paruh waktu. Kerjanya sedikit uangnya juga sedikit.

Sementara sekarang dia dengan mudahnya berkata “Buang waktu katanya bermain game sekarang ini, sebaiknya dari dahulu saja aku bekerja di kantor.” Kalimat ini meyakinkanku bahwa menganggur itu tak berguna, dengan badan yang terlihat semakin membesar maka bisa kuduga hidupnya itu di isi tidur sampai pusing, hingga makan terus menurus sampai badan membesar melebar gemuk. Hal yang sama kurang lebih sama kulakukan sekarang jika melihat badanku sekarang. Obesitas.

Bedanya aku tidak mengisi waktu mengganggurku dengan bermain game, aku tidak peduli permainan seperti itu. Tidak penting. Yang aku peduli adalah membaca musik, politik, sejarah, sampai pengetahuan seputar kerja paruh waktu di internet. Tapi ini tetap sama-sama saja membuang waktuku untuk bekerja di kantor, nampaknya hidup ini bukan sekedar hidup untuk menikmati hidup asal-asalan ada uang, tanpa pendapatan tetap yang mampu menjamin hidup bulan ini. Kerja paruh waktu tidak mendapatkan kepastian uang gajian. Tapi belajar dari hari kemarin itu ya, seperti itu. Bekerja sendiri tidak mudah. Mandiri itu tak perlu banyak pengorbanan, perlu kemampuan, perlu realistis. Walau pun gagal berbisnis, dengan uang yang tidak kembali tadi, investasi menjadi kerugian. Barang yang di investasikan tidak bisa menjadi uang. Bahkan percobaan bekerja di internet itu menjadi bukti kegagalan menjadi pekerja online. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Mungkin masih membutuhkan waktu tambahan lagi untuk dipelajari. Aku akan mencobanya nanti selepas bekerja kantoran. Semoga saja bisa kuwujudkan.

Sekarang ini temanku yang tadi kembali memulai lagi hidupnya dengan bekerja kantoran. Sibuk menabung uang untuk mencari peluang bisnis baru. Berhenti menjadi pebisinis dan memulai hidup sekarang sebagai seorang pekerja kantoran. Sama halnya dengannya saya berpikir demikian sekarang, tetapi tetap saja saya masih mencoba dengan bekerja paruh waktu dulu bukan dengan bekerja penuh di kantor. Jelas berbedalah hasilnya. Saya harus mencari banyak peluang untuk bekerja paruh waktu di dunia maya. Yang pada akhirnya tetap saja membuatku berfikir ulang. Aku harus bekerja kantoran dengan uang bulanan yang pasti kudapatkan baru mencari uang di internet sebagai tambahan uang bulananku. Itulah harapanku sekarang secepatnya saya kumpulkan uang pinjaman untuk dapat menghidupi Ibu dan Kakakku.

Setelah membaca, menganalisa bahwa tidak akan ada uang maka tidak ada pula kelanjutan hidup ini. Yang ku perlukan saat ini hanya bekerja untuk mendapatkan uang. —Jika dulu saya mampu menikmati kesulitan demi kesulitan hingga terlewati dengan caraku sendiri.— Sekarang pun seharusnya sama. Saya hanya harus mulai menikmatinya kembali dengan halangan-halangan yang ada. Memang sudah terlambat untuk mengawali ini lagi, sungguh-sungguh terlambat jika kebiasan burukku tidak ku hilangkan sekarang juga dan masih saja menunda-nunda kewajiban yang ada. Ini akan menjadi malapetaka. Hutangku semakin bertambah banyak begitu juga kesialanku.

*****

6 tahun sebelumnya saya bukanlah seorang mahasiswa desain grafis apalagi pekerja paruh waktu. Saya cuman pengangguran yang masih mengerjakan PR gambar ilustrasi dalam grup les privat. Saya berjalan sendiri seperti biasa. Sedikit memiliki teman.Saya tak peduli dengan cinta wanita. Saya hanya mencintai diri sendiri tanpa perlu ditemani wanita. Hingga saya pun lupa akan janji teman sepermainan di hari ini. “Ya langit sudah gelap lagi ya?” keluhku sore ini yang semakin mendung meninggalkan teduh menuju hujan yang akan turun. Cuaca berubah dengan cepatnya.

“Duh, kok belum datang juga ya”. Kubertanya dalam hati. Padahal kami sudah berjanji akan bermain sepak bola virtual di rental ini. 3 jam terlewati kami pulang ke rumah masing-masing. Rental ini dipenuhi anak berusia belasan, asik menghabiskan uangnya untuk menikmati permainan yang ditawarkan. Ada isi kulkas yang berisi minuman botol yang siap membasahi tenggorokan bila kerongkongan ini haus. Ada pula mie instant yang siap mengobati rasa lapar jika tiba-tiba perut tidak mau kompromi. Ada juga rokok yang siap dihisap mengusir candu sesaat. Semua lengkap asalkan ada uang semua bisa dinikmati. Tempat ini bisa menghabiskan uang untuk ditukar dengan kesenangan. Tempat hiburan yang menyenangkan.

Akhirnya teman ku datang juga kami langsung bermain berdua saja. 2 jam berlalu, permain bola dimainkan di dalam layar tv. Kontrol game ku genggam. Bermain tanpa beban. Bebas emosi ku hilang saat itu juga. Tv padam tanda kami harus pulang membayarnya dengan selembar kertas. Tak ada uang kembalian di kasir. Permainan usai, saya berjalan kaki pulang sendirian tanpa diantar temanku naik motor, karena jalan pulang ini terhitung dekat jaraknnya dengan rumah ku dibandingkan kawanku yang harus pulang naik motor ke rumahnya. Jadi kami pulang masing-masing berpamitan.

Di perjalan saya menyemangati hidup yang harus diraih. Saya bermimpi “Saya akan bermain gitar hingga melebihi Jimi Hendrix, saya menggambar hingga menjadi ilustrator terbaik seperti cover komik Amerika” di dalam hati terus berbicara hingga sampai ke rumah. Rokok yang terhisap terasa hangat di tenggorokan. Terkadang hidungku terasa terbakar akibat asap yang terhisap tidak sengaja. Sungguh mengganggu rasanya. Nikotin yang ku hirup menghangatkan dadaku. Ku terus menghisap dari tangan kananku membakar sisa batang rokok diujungnya. Membuang sisa pembakaran tembakau. Ujung batang rokok pun memerah hingga terlihat bercahaya dibandingkan gelapnya komplek Margahayu Raya yang sepi dimalam hari ini. Setelah banyak asap yang terhisap ku alihkan tanganku menjauhi mulut. Memindahkan asap nikotin hingga menuju saluran paru-paru ku didalam perut. Terasa nikmat dan menenangkan pikiran. Setelah itu kukeluarkan perlahan sama seperti aku menghisapnya. Asap kelabu kabur keluar dari mulutku melintas kebelakang langkahku meninggalkan rental permainan tadi. Meninggalkan pula temanku sekaligus mengantarku pulang. Asap keluar sisa batang rokok yang terbakar juga kupukul lembut dengan telujuk, ujung batangnya terlepas. Segera saja sisa rokok yang terbakar itu terbuang karena tak berguna seperti asap yang keluar dari mulut. Whuss. Suara angin keluar dari mulut setelah ku hisap rokok ini. Setelah habis sudah rokok dihisap lalu sisanya dibuang di dijalan. Sampailah aku tepat didepan pintu rumahku.

“Oke ini tujuan hidupku sekarang” Sambil ku buka daun pintu depan rumah sambil terus berfikir tujuan hidupku. “Desainer Grafis.Yang akan dilakukan adalah berusaha melampaui batasanku, yang terbiasa malas-malasan.” Sambil terus berjalan melintas ruang tamu, ruang tidur orang tuaku disamping ruang tidur kakakku.“Saya akan semakin baik lagi, cepat dan mendapatkannya sesegera mungkin”langkah kakiku menuju pintu kamar mandi untuk mengambil air dan melangsungkan ibadah dimalam hari. “Kalau pun tidak terjadi ya berarti saya kurang usaha. Itu saja. Saya harus mendapatkan mimpi saya. Saya yakin saya bisa.” Dalam hati terus terucap hingga aku membuka keran dan membahasi tubuhku. Saya melanjutkannya dengan sembahyang malam hari.

Saat itu hari-hari berlanjut untuk mewujudkan impianku. Saya bermain gitar hingga tangan lecet, saya pun menggambar hingga saya bosan. Ini saya lakukan setiap hari nyaris tanpa alasan lain selain menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak perlu di tanyakan untuk apa dilakukan berulang kali. Kini aku telah menemukan tujuan hidupku. Aku adalah desainer grafis.

*****

Waktu berlalu 7 tahun berlangsung melewati tadi. Biasanya kasur terasa empuk di malam yang dingin seperti ini. Dengan selimut katun tebal bermotif kotak merah muda, biru muda bertema kotak-kotak. Saya beristirahat menutup malam. Mengisi kembali energi yang terkuras tadi siang hari. Anehnya masih saja tetap tidak bisa tidur. Saya banyak pikiran. Ah mengapa saya berfikir ini-itu, sehingga sulit tertidur lagi, “Ah kenapa dengan diriku sekarang ini. Saya lupa dengan nama hari ini, benar-benar lupa, tidak ingat sama sekali”. Apa saya juga lupa bahwa tahun terus berganti. Hari berlalu. Apa yang harus kulakukan hari ini adalah untuk menghidupi masa depan nanti. Bukan berbicara masa lalu yang tidak dapat dirubah. Melupakan masa depan yang akan dihadapi, yang dimulai dari masa kini yang sedang di jalani. Mengapa pula saya tidak bertindak seperti dulu. Melakukannya lagi. Mengerjakannya lagi. Bahwa bekerja itu adalah rutinitas yang ku nikmati. Begitu juga dengan desain grafis. Apakah saya yang sekarang berbeda dengan saya yang dulu. Rajin mengerjakan tugas hingga selesai walau pun terlambat. Bergadang dengan komputer demi sebuah nilai kuliah. Sementara sekarang tidak, tidak ada tugas, tidak ada kuliah, tidak ada ijazah. Tidur-tiduran malas mengerjakan sesuatu. Tanpa tujuan. Tidak ada rutinitas kesibukan. Cenderung setiap hari melakukan yang sama. Mudah ditebak. Bangun, makan, tidur, baca, nulis, nonton, berak. Setiap hari adalah sama. Setiap hari adalah pengulangan. Waktu berlalu mengulang kembali. Terus menerus melakukan yang sama adalah rutinitas. Tapi kenapa juga sekarang tidak bisa seperti dulu. Ingin rasanya menjadi serajin dulu. Mengulang waktu yang dulu ku tinggalkan. Menjadi mahasiswa.

*****

Sekarang kembali ke tahun pemikiran awalku. Di tahun 2007-2008 saat saya merasa mandiri, nyaris tidak butuh bantuan dari orang lain. Lebih tepatnya ku tak ingin merepotkan siapa pun. Jadi yang kulakukan adalah melakukan segalanya sendiri sebaik mungkin.

Kini terbayang kembali semua itu, Soekarno Hatta, Margahayu, play station, motor satria, Panatayuda, Buah Batu, Margahayu-Ledeng, Riung Bandung-Dago. Rokok, Gigs, Pertemanan, Anggur Merah, Intisari, Pensil, kertas, cat air, crayon, pensil warna, Institusi Negri, Universitas Swasta, Desain grafis, Desain Komunikasi Visual, dengan menyimpulkan pemikiran tadi yang harus di lakukan adalah memilah aksi diantara pengalamanku tadi, membuang yang tidak perlu dilakukan, melipat gandakan kewajiban ‘tuk melupakan aktivitas tak perlu. Menutup aktivitas tidak produktif dengan aktivitas produktif. Prioritas kewajiban. Setelah itu dengan bantuan komputer, digambar ulang, memvisualisasikan tindakan. Saya berhasil menggambarkannya. Saya akan melakukan seluruhnya sesuai gambar ini. Tidak bisa tidak. Tidak ada alasan apa pun untuk tidak melakukannya. Wajib. Ini tujuan hidup. Ini awal dari karir seorang Desainer Grafis. Harapan, kenangan, kebutuhan, kepastian. Sekarang saya lakukan atau tidak. Kerjakan. Atau tidak mengerjakan. Jika tidak. Saya hanya berharap, meminta dan mengenang saja. Sekarang apakah saya masih mau mewujudkan cita-citaku? Mewujudkan yang dulu menjadi tujuan hidupku. Menjadi desainer grafis atau bekerja paruh waktu dengan uang tipis? Tentu saja hidup harus ada penghasilan. Tidak ada uang, tanpa pekerjaan, yang ada hanya kesendirian, kebohongan, yang akan berakhir dalam pelarian seperti membaca Buku, menonton film, dan mendengarkan musik.

a.jpg

Depresi bagian X

Masih meraba-raba ingatan; ada beberapa hal yang terlupakan tetapi tetap dipaksakan ditulis sedetil mungkin: jadi ada detail-detail kejadian baru yang ditulis menggantikan kejadian yang lama. Kurang tepat mewakili memang, tapi apa daya kemampuan ingatan akan kejadiannya ya baru sampai disini. Semoga saja ini menjadi kejadian yang bisa mewakili kenyataan dengan beberapa kekurangan disana-sini tentunya tak akan menjadi soal bila tetap dibaca untuk mewujudkan kejadian ini seperti yang telah dilalui.

Entah ini malam ke berapa; Ucok Homicide bersama Risa Sarasvati hari ini hadir di dekat rumahku. Memasuki rumah, melintas di samping rumah, sampai-sampai mengusir setan dalam diriku. Entah malam keberapa pula aku tidak tidur seharian yang pasti hampir 2 hari aku tak tidur, yang selama itu hanya dikamar tidak melakukan apa pun selain menutup mata tertidur. Ini yang Ibuku bilang saat aku telah keluar dari Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung.

Aku tidak begitu ingat ya, Ucok seperti kakek-kakek dengan baju kemeja tetapi tidak menggunakan celana melainkan bersarung seperti bapak-bapa hendak ke mesjid untuk shalat ia berjalan berdua bersama Risa, Ucok membawa tongkat untuk melindungi saya dari jin yang menganggu mengelilingi komplek, sementara, Risa berpakaian serba hitam, menggunakan jaket parasut, celana jeans, namun ketika ku ingat lagi Risa bukan seperti itu, dia berpakaian seperti nenek-nenek, memakai kebaya ketat berwarna gelap tidak hitam tapi warnanya aku tak bisa melihat jelasnya. Mereka bersama-sama datang jauh-jauh dari rumah mereka untuk mengusir setan juga mendekatkan diri denganku, aku seperti orang utan si spesies yang dilindungi, bukan asli Kalimantan tapi produk asli Bandung.

Kembali ke makhluk astral, Jin ini ada yang berwujud wanita, dan ada pula yang lelaki. Seperti Kuntil Anak yang terbang membawa orang-orang yang seperti Genderuwo atau apalah itu namanya Setan yang berbadan tegap dan menyeramkan. Ukuran tubuhnya berbeda-beda ada yang besar terbang, yang berjalan berukuran sedang seukuran manusia dewasa, ada juga yang lebih kecil dari itu. Mereka berjalan juga berterbangan mengelilingi komplek mencari aku yang memangil Setan-setan ini. Tak bisa dijelaskan yang pasti mungkin aku sompral atau pikiranku membayangkan para setan, selanjutnya halusinasiku berlanjut berkelanjutan membawa setan-setan tersebut.

“Duk… Duk…” Suara Hansip melakukan siskamling di komplek ini, aku pernah sekali bertemu dengan hansip, membawa tongkat memukul jalan secara vertikal dari ujung tongkatnya kadang memukul tiang listrik, “Ting… Ting… Ting…” Tiga kali pukulan, pernah suatu kali ketika itu aku bertanya, untuk apa sih memukul tiang listrik? Jawabannya ya untuk memberi tahu penghuni sekitar komplek bahwa sedang ada siskamling. Pertanda komplek sedang di lindungi dari maling. Waktu itu aku sudah pulang dari Cisarua —Entah kenapa pula hari itu, sebelum masuk Cisarua, saat hansip lewat, aku malah berhalusinasi bahwa sekumpulan setan sedang melewati rumahku. “Setan kok mengejarku sih”: pikiranku saat ini selepas dari Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung, yang jadi pusat pengobatan ganguan jiwa di Indonesia sekaligus Rumah Sakit jiwa terbesar di Indonesia. Ketakutanku ketika itu apabila mereka akan membawaku ke Alam Ghaib disana, seperti neraka. Kalau aku ingat-ingat sekarang mungkin aku akan dibawa mati dan diculik ke Neraka. Saya begitu ketakutan akan hal ini waktu itu, serasa mimpi tapi nyata atau keduanya bercampur menjadi satu dalam kedaan sedang halusinasi, cemas serta terus menghayal kalau ini kejadian nyata padahal hanya halusinasiku saja yang sedang gila-gila nya.

Dimalam itu Ibuku tertidur dengan nyaman di kamar sebelah kamarku. Lampu kamar Ibu, lampu kamarku sudah dimatikan hanya ada lampu yang hidup di dapur dekat ruang kamarku cahayanya hanya menyinari sedikit ruang tv yang juga dekat dengan kamar ibu. Di malam yang dingin ini, serta rasanya seperti nge-fly ganja aku rasa naik sekali berasa enak terbang. Aku seperti dikejar-kejar sungguhan badan basah kuyup karena keringat, cemas, tidak bisa berfikir jernih malah terus berhalusinasi terus menerus ini yang aku rasakan waktu itu.

*****

Malam datang, hingga subuh ini tidak bisa tidur: benar-benar tidak bisa tidur semalaman penuh. Badan pun tak enak rasanya, mungkin akibat kurang istirahat meski pun mau dibagaimana dipaksakan tetap tidak bisa tidur.

Mungkin saat itu mungkin telah lewat jam 1 malam, oh tidak kalau tidak salah: mungkin ini jam 4 subuh, saat tak lama dari itu adzan subuh datang. Hp terdengar, nenek ke luar kamar ibu menuju kamar mandi. Waktu itu Nenek sedang ada di Bandung, bermalam di rumahku. Hampir setiap dini hari Nenek dipastikan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Aku sudah mandi tak bisa tidur saat itu yang aku ingat sudah memakai baju karyawan toko sticker, mungkin aku siap bekerja untuk bekerja di pagi hari tapi tidak jam sekerang padahal aku telah keluar kerja saat itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka kali ini bukan Nenek melainkan pintu yang terdengar diluar jendela, itu kamar Abangku—Abang adalah panggilan kakak bagi orang Minang seperti ku, bukan memanggil Aa meski aku juga berdarah Sunda. Dia merokok sambil berjalan tak lama terdengar suara dia duduk di samping kamarku, aku tak melihat namun merasakan ya halusinasiku selajutnya berbicara sambil membawa telepon. Terdengar suara Poppy Sovia, juga Ucok. Mereka bercerita tentang acara musik yang akan mereka bintangi. Poppy sebagai host acara tersebut sementara Ucok mengisi acara tersebut sebagai grup hip hopnya, mungkin Homicide atau Bars of Death. Perbincangan begitu singkat, tak ada basa-basi langsung saja mereka menyindirku aku mendengar Eye Feel Six juga ikut berbicara, beberapa orang lain juga seperti yang lain.

Bahkan Ucok pun sempat bercanda supaya cepat bermain mengunjungi toko rekaman serta pernak pernik musiknya Di Jalan Kartini. Locdown. Tempat ini pernah dikunjungi saat ada perilisan ulang 10 tahun album Homicide Illsurekshun, aku membeli 2 vinyl meskipun aku tidak memiliki turn table untuk memainkan piringan hitam itu.

Sebelumnya menonton tv sebelum tidak bisa tidur tadi, tombol tv ditekan TV hidup lalu mulai memilih channel dari acara berita, ah aku tidak suka berita yang sedang booming tentang Novel Baswedan yang di siram air keras di mukanya, channel selanjutnya acara stand up comedy sangat lucu juga menghibur para penonton di studio mereka tertawa tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak tersenyum bahkan tertawa aku tidak menikmati acara ini. Tidak lucu. Channel terus berganti hingga bertemu dengan acara musik indie, DCDC. Ceritanya aku lupa tapi yang pasti besok itu ada acara hip hop di Braga tepatnya aku lupa dimana, aku berencana datang ke sana sendiri amat tertarik hadir menikmati musik hip hop yang penuh rima serta menghibur diri dari kesepian apalagi aki masih belum bekerja lagi.

Di acara ini ada juga Edi Brokoli, Budi Dalton bersama Si Cantik Poppy, liat Poppy yang keliatan nakal dengan pakean yukensi, celana jeans belel, sepatu kulit, mataku menikmati penampilannya malah membuatku ingin menjadi nakal juga. Senakal-nakalnya anak bandel umur dua puluhan, tidak bekerja, mabuk, berkata kotor, sambil menghabisi waktu muda dengan senang-senang, sungguh masa muda yang menyenangkan.

Entah bagaimana waktu berlalu begitu cepat sekitar jam 10 siang aku mendengar suara Poppy ada di acara hip hop di Bandung, aku mendengarkan sambil menulis mind map bersama Ucok.

Bob; saudara sepupuku dari keluarga Ibuku tiba-tiba datang ke rumah membeli gas 3 kg. Selanjutnya pergi, padahal sepersekian detik aku ingin ikut bersama datang ke acara hip hop, menumpang motornya sampai angkot dibandingkan naik ojeg atau jalan kaki kebawah yang ku tempuh selama 15 menit berjalan kaki ini bisa menghemat waktu, tenaga untuk dihabiskan di tempat acara musik hip hop di sana.

Pikiranku cepat untuk berkemas membawa segala macam keperluan ke acara, spidol yang digunakan bersama Ucok saat branding Konsumsi Saya saya di hentikan. Saat disadari banyak juga tulisan, gambar, logo di beberapa kertas putih. Kaki terasa berat menginjakan kaki ‘tuk keluar kamar berangkat langsung ke Braga, ya aku baru ingat nama tempatnya. Bob membeli gas cepat saja, tak sampai 5 menitlah aku ingat suara kenalpot motor metiknya terdengar sampai ruang kamarku. Sangat singkatnya dia belanja aku juga kecewa tidak jadi ikut dengannya mengapa terlalu lama berfikir, malah juga malas menggerakan kaki aku yang sedang asik doodling.

Mau disebut apalagi kegilaanku saat itu kupingku terasa mendengar Eye Feel Six bernyanyi aku mendengar lagu dengan lirik kurang lebih seperti “Coli sejak sd sampai kakek-kakek, pemuda gila geli sendiri tanpa bini ini”, benar-benar menyindirku langsung menonjok mukaku, apa mereka sudah membaca blogku lalu membullyku, aku dirundung masalah karena project hip hop ku juga belum membuat lagu baru lagi. Liriknya aku senang karena aku merasa sangat hidup diceramahi ahli ngocok. Aku tertawa sendiri.

Ada yang mengetuk pintu depan rumah Ibu langsung sigap membuka pintu ternyata ada yang akan membeli gas. Dalam halusinasiku setiap yang membeli gas, berarti menambah tenaga, kecepatan, seperti sepeda motor makin kencang bertenaga begitu juga dengan diriku yang merasakan meningkatnya adrenalin ke sekujur tubuh. “Gas, gaspolkeun tenaga maneh, gas, gas, gas, boa edan beuki tarik euy.” Yang terjadi malah saya peregangan badan, pemanasan, seperti pemain Persib yang siap bermain di Lapangan bola, nyatanya tak ada semua itu hanya ada semangat tempur yang tinggi tanpa wadah untuk bermain.

*****

Melanjutkan doodling Konsumsi Saya, Ucok mengarahkan visualisasi KS menjadi kopi susu.

Depresi bagian IX

Banyak cerita yang ku ingat sekaligus juga ku lupa, akan menjadi amat panjang jika dirunut, bertele-tele pula. Mengulang-ulang cerita-cerita.

Hari ini aku ketakutan sejadi-jadinya Ucok yang aku kenal hanya sebatas lewat lagu mengejarku setelah sesudahnya 3-4 hari didepan menagih omonganku bahwa aku menyebut Indonesia bangsatku, kalimat pendek yang berkonotasi negatif berakibat Ucok harus mengejarku terus menerus karena mungkin saja kalimat tadi telah menghinanya. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi kali ini suaranya terdengar olehku, mengajakku berbicara, berbagi rima, menulis. Padahal kita tak bertemu muka.

Sekarang coba aku pikir dengan kepala dingin tentunya apa mungkin, terjadi dikenyataan beliau bisa naik pitam padaku hanya karena aku menyebut Indonesia Bangsatku. Kalimat plesetan dari Indonesia Bangsaku yang menjadi Indonesia bangsat yang berarti mencuri. Sebenernya apa pula yang kucuri dari Ucok atau apa yang Ucok curi dariku entah yang pasti yang aku ingat, aku terus menerus dikejar olehnya hingga sampai ruangan Rajawali di Rumah Sakit Jiwa di Cisarua Bandung. Aku tak begitu ingat yang ku ingat Ucok selalu ku dengar bahkan berubah-ubah wujud menjadi orang lain terus mengejarku dengan bantuan google. Ya ini terjadi karena Ucok telah bergabung dengan google lalu mendatangiku dengan wujud berubah-ubah semudah mengetik kata kunci digoogle. Bisa menjadi siapa pun. Abangku, Ibuku bahkan menjadi diriku sendiri.

“Tuh kamu mah udah saya diemin malah terus nyosor ngomong ngehina saya.” Ucapnya kala saya bangun dari tidur. Tidur yang saya maksud adalah mata terpejam tapi otak tidak lelah untuk berhenti berfikir mengolah cerita dari berbagai stimulus yang didapat dari cerita-cerita lain atau bisa juga dari satu kata kunci yang diperpanjang menjadi cerita dikejar-kejar Ucok. Aku terus beradu rima dengannya. Ngerap dengan penggayaan yang sama dengannya. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana bisa seorang fans bahkan die hard fans menjadi sama hebatnya cuman karena bisa meniru Ucok lalu beradu mikrofon dengan teknik ngejiplak tok sama persis seperti mendengar lagu-lagu grup Homicide. Menjengkelkannya meniru lalu menjadi beradu bukan menjadi teman satu lagu bernyanyi bersama, bersenang senang bersama menikmati lagu. Tidak. Ini menjadi duel yang mengancam eksistensi atau sang pemilik nama besar dicontek lalu di bakar api amarah hingga gosong untuk memanas bersama beradu rap dengan aduhai. Aku begitu tergila-gila dengan Hip hop sampai pada saat halusinasi seperti ini pun aku masih bisa menghubungkannya dengan hip hop. Ya aku pecinta hip hop setelah hip hop yang telah mati ku lindungi untuk tetap di dengarkan dalam keseharian. Ada juga perkataan seperti ini “Eta Indonesia bangsatku datang?” Terus. “Maneh rek jadi naon mun ngabangsat Indonesia?” dan masih banyak kalimat lain yang intinya mencari tangan panjang yang aku ucapkan. Aku tidak mengerti persoalan jelasnya dari halusinasiku ini. Menghina, adu bacot lalu seperti dikejar-kejar pembunuh yang terus meneror dengan pertanyaan tiada hentinya.

Entah mengapa tiba-tiba hadir seorang wanita, Risa Sarasvati yang bersamaan Ucok datang di depan pintu rumahku. Masih dari suaranya kudengar aku tidak melihat dengan mataku hanya aku sadar betul mereka datang memanggil namaku di ruang depan yang bersebelahan kamarku. Mereka mencoba untuk menghentikan adu rap yang aku mulai dengan Ucok tadi siang di kepalaku. Dalam ruang kamarku ini tanpa terlihat wujud Ucok hanya suaranya terdengar jelas dikamar. Yang jelas aku sedang beradu rap battle melalui suara yang langsung dibalas dengan kalimat canggih yang aku rasa tidak berima hanya panjang, sarkas, tak kenal belas kasihan sesuatu yang bukan battle rap sebenarnya karena biasanya diharuskan berima dan saling beradu kuasa diatas arena siapa yang paling jago dalam berima. Yang aku ingat lagi aku memakai celana pendek, kaos oblong tiba-tiba mereka masuk kedalam tubuhku. Penisku mengeras. Cerita berlanjut menjadi cerita kanjut. Mereka membantuku untuk mengeluarkan setan-setan yang ada didalam tubuhku. Memasuki ruangan didalam betisku hingga di bawah pusar mengeluarkan setan dari mulutku dengan cara aku bersendawa. Setan-setan keluar perlahan-lahan. Cara ini dilakukan dengan cara membacakan nama-nama setan dengan ngerap satu persatu setan itu keluar yang aku rasakan sendawa makin banyak dengan durasi yang lebih lama dari biasanya sambil ada sensasi seperti kuda, kadal, gajah, singa, jerapah keluar dari mulut dan menyebar keseluruh tubuh seperti mereka mengetarkan daratan bumi rasanya di sekitar tubuhku pun bergetar. Aku menyebut nama Ucok berkali-kali, Risa berkali-kali hingga akhirnya aku kalah. Mengeluarkan semua setan-setan dari tubuhku.

*****

Hari ini aku mendengar suaranya lagi Ucok menuntunkun menulis KS, Konsumsi Saya proyekan musik hip hop yang ku buat sendirian di kamar tanpa ada hardware sampling berharga jutaan rupiah, tanpa ada alat yang cukup seperti producer lainnya cuman bermodalkan pc rumahan beserta software bajakan sampling bernama Adobe Audition Cs 5,5. Musik ini bisa dibilang eksperimenku dengan kumpulan suara-suara dari koleksi lagu, film, yang diambil lalu disusun ulang seenak jidat. Sedangkan beat drum diambil dari iklan-iklan sample beat yang dijual online lalu di potong untuk selanjutnya di konstruksi ulang menjadi musik yang eklektik. Mungkin bisa membuat bergoyang bisa juga mengangguk-angguk.

Konsumsi Saya,KS singkatnya disebut demikian ditulis menjadi tema yang sedang aku tulis di kertas kosong hvs yang didapat dari Uwak ku. Inisial KS kutulis dengan spidol hitam. “KS, naon tah KS teh Sep sok tulis?” Ucok mengajaku untuk branding producer hip hop Konsumsi Saya di telingaku terdengar demikian walau sekarang ku tahu itu semua cuman waham, hasil dari halusinasiku saja. Aku mulai menulis KS, aku teringat Kopi Susu kutulislah itu. Hasil brain storming ini manjadi mind map KS, “Oh… Kopi susu, Ko… pi Su… Su. Tah tulis.” Lalu selanjutnya beliau bilang, “Gambarkeun atuh Kopi Susu teh? Manya hip hop tukang ngopi sia mah aya-aya wae Sep.” Seakan-akan benar-benar dia ada di sampingku ya, oh iya aku mendengarnya karena kamar Abangku yang berada berdekatan dengan kamarku di sedang mendengarkan musik dengan bantuan air phone yang di simpan di ubin. Tak digunakan. Ini hasil dari Ucok menelepon Kakakku ini suara yang keluar dari head set yang terdengar sampai ruangan sebelahnya, yaitu kamarku. Sekarang aku bertanya apa benar suara dari handsfree terdengar sekeras itu hingga sampai ke kamar sebelah? Sungguh hil yang mustahal tapi anggap saja hyperrealitas ini nyata. Ku gambarkan 1 bungkus sachet kopi instant berlogo KS, Konsumsi Saya si Kopi Susu. Aku tertawa gembira bisa bersama-sama bekerja membuat visual KS.

Setelahnya aku mendengarkan Siksa Kubur, berjudul Honai duet dengan Morgue Vanguard aku berhasil bersendawa tanpa henti sepanjang lagu untuk mengambil semua setan yang ada disekitar rumah bahkan komplek di Bandung Utara. Entah kekuatan apa yang merasuki ku hingga bisa bersendawa selama hampir 5 menit sepanjang durasi lagu tersebut. Aku merasakan setan yang ada sepanjang malam ketika aku tidur telah menyatu denganku. Hingga aku merasa tenang.

Hari yang lain ibuku membersihkan rumah, menyapu seluruh sudut ruangan hingga kutemukan kristal putih apa mungkin pemberian dari setan karena telah ada dalam diriku atau bagaimana mungkin juga benda itu bisa hadir di dalam kamarku? Aku tak mengerti. Apa ini hasil dari pemberian garam yang ku simpan sesendok teh di setiap ujung-ujung ruangan kamar, tidak ada yang tau tepatnya seperti apa hanya dugaanku saja.

*****

Hari berganti. Pikiranku semakin banyak saja. Kesana kemari.