Membiayai berbagai tagihan, berawal dari fokus bekerja mulai hari ini, hingga bagaimana berfikir tentang arti sebenarnya dari sebuah pekerjaan yang menghidupi hidupnya, sebuah kehidupan sang Desainer Komunikasi Visual

The world always seems brighter when you’ve just made something that wasn’t there before.

-Neil Gaiman

Dalam beberapa tulisan terakhir saya selalu terpikirkan untuk menulis hari itu. Saat Uwak saya meninggal. Saat memandikan jasadnya, saat Abang Dewa membantu membasahi sekujur tubuhnya dengan selang, saat raga mematung tidak berjiwa lagi. Ayahanda Bang Dewa sudah tidak lagi ada dalam kehidupannya.

Saat itu, saya melihat kondisi tubuh sang Uwak dengan sedih. Saya merasa kehilang seseorang yang selalu baik kepadaku. Pada beberapa bulan terakhir ini, saya selalu diwasiatkan untuk tidak membicarakan dia, ya maksudnya dia tidak ingin agar uang yang ia berikan kepadaku tidak diberitahukan kepada siapapun. Tetapi saat pertama kali mendapatkan sebagian uang tersebut, uang yang dimilikinyalah yang diberikan kepadaku, yang tidak terhitung bagiku, sebesar puluhan rupiah hingga ratusan ribu rupiah itu, tetap diberikan kepadaku. Sebelumnya dia memanggil adiknya untuk menitipkan uangnya kepadaku. Memberikan sebagian uang, entah sebagai sedekah, atau berbagi kepada keluarga Istrinya.

Baginya diriku ini, orang yang berbeda dibandingkan anak-anak dari adik-adik istrinya, shalih, baik, yang mana sebetulnya saya hanyalah, manusia biasa saja, yang terkadang berkedok, bertopeng menutupi aib atas kecendrungan sifat negatif lainnya yang tidak saya tunjukan ke publik. Saat semua orang tidak tau akan saya yang sebenarnya. Sesungguhnya saya tetaplah makhluk Tuhan yang berdosa bukan seperti apa yang terlihat diluar. Putih bagai malaikat baginya. Saya juga terkadang tidak selalu shalat lima waktu, terkadang tidak shalat jum’at, terkadang banyak hal juga yang tidak shalih-shalih juga, sebenarnya. Saya masih manusia, yang melakukan kesalahan, tidak selalu beriman juga, tidak benar-benar putih, jika saya adalah sebuah warna yang menandakan kesucian. Saya makhluk berdosa yang penuh tipu daya.

Sebelum saya menceritakan ini, saya akan bercerita tentang hal lain. Saat itu saya baru pulang dari konsultasi rutin di tempat psikiater. Saat pulang saya memakan ayam goreng, ayam bumbu padang, sayur daun pepaya, serta sambal hijau sebagai lauknya ditemani nasi putih yang tidak lagi hangat karena dibiarkan tidak masuk magicom. Memakannya saat perut kosong, menjadikannya obat lapar yang benar-benar mujarab. Daging Ayam begitu lembut, meski tidak juicy, cenderung ayamnya terlalu lama digoreng hingga terasa dagingnya kering diluar juga sedikit kering didalam, masih saja terasa nikmat ketika dikunyah ketika badan ini memerlukan asupan ‘fondasi’ yang dibutuhkan. Rasanya berimbang antara setiap rempah-rempah dalam bumbu berwarna coklat ini. Ketika sambal hijau yang masih dalam ukuran sedikit besar, dengan gilingannya yang tidak terlalu lembut, ukuran potongan-potongan cabe yang masih sedikit besar ini kumakan dengan nikmat. Terasa enak-enak saja dimulut saat itu. Sambil mengambil sebagian tahu goreng yang berwarna kuning juga, sama. Begitu nikmatnya, berkah makan di rumah Uwak Mar. Alhamdulillah bisa makan enak, gratis, bikin kenyang. Ya meskipun tidak hangat bahkan sudah dingin. Tetaplah bersyukur telah memakannya disaat lapar, dimana mungkin ada orang lain saat itu yang masih mencari makanan saja sulit, saya masih bisa makan enak, gratis pula.

Semua hidangan ini didapat dari keluarga sekitar, atas dana komplek perumahan bagi sebagian warganya yang meninggal disini, saat itu Nenek saya meninggalkan saya. Saya belum sempat menulis soal perasaan kehilangan Nenek saya yang benar-benar saya cintai. Mungkin akan saya ceritakan saat ini sebelum melanjutkan kepada cerita tentang Uwak Mister.

Saat itu saya makan ditemanin adiknya Uwak Mister, yaitu Bibi Nona, seorang yang ikut tinggal di rumah Tante Margahayu Raya, dia bertanya banyak hal pribadi, seperti mengorek-ngorek informasi dariku tentang kondisiku saat ini. Mulai dari penyakit, pekerjaan, hingga makanan, sampai pendapatan yang kudapatkan, ya segala sesuatu yang sebenarnya sangat privasi, namun aku menjawabnya dengan santai. Tidak ada yang kututup-tutupi. Hingga tiba saat itu, Uwak Mister memanggilnya, setelahnya Bibi Nona memberiku uang dari Uwak Mister dengan pesan: jangan dibilangin ke siapa2 ya, jangan bilang dikasih dari Uwak. Saya menyetujui syarat tersebut dengan mengiyakan kepada kedua kakak beradik ini.

Uwak Mister, jarang terlihat di rumah Tante Mar, memang Uwak Mar juga bekerja, Uwak Mister juga bekerja di sebuah penginapan. Seperti itulah yang ku tau tentang keluarga ini. Mereka semua bekerja mencari nafkah.

Uwak Mister berada di lantai 2 saat itu. Dia belum pulih dari keletihan, kelelahan tingkat tinggi ketika berolahraga berat di Saung Angklung Udjo. Tidak tau ada acara semacam apa di sana, hingga membuatnya harus berolahraga sedemikian berat untuk usia senjannya. Akibat kejadian tersebut, kondisi kesehatannya menjadi semakin parah saat diistirahatkan. Tidak menjadi lebih baik. Kondisinya malah membuatnya menjadi kurus, serta saat berobat ke dokter, dia general check up, yang mana banyak penyakit serius yang beliau derita, mulai dari: kanker hati, yang awalnya memang tidak diketahuinya, juga keluarga. Seperti yang saya ketahui, pada akhirnya penyakit tersebutlah yang menyebar ke organ-organ tubuh lain, hingga membawanya ke surga.

Waktu berbincang-bincang dengan sang adik Uwak Mister sudah selesai. Saat menyudahi makan tadi, aku merokok, sebelumnya melakukan ritual rutin dengan melinting tingwe, menghisapnya setelah berhasil membuat ‘tabung kenikmatan’ berupa batang rokok, menikmati nikotin terbakar ini dengan melihat kesekitar depan rumah, saat ini yang ku tahu hanya ada satu karangan bunga, turut bela sungkawa dari Bank tempat bekerja Abang Sagat, kakaknya Abang Dewa, saya menikmati setiap asapnya, mengkonsumsinya, hingga tidak dapat dinikmati lebih banyak lagi. 1 Batang rokok linting dewe aku buat, telah selesai dihisap. Selanjutnya aku berhenti. Saya beranjak dari teras pergi ke kamar tamu, saat itu Bibi sedang duduk, masih dimeja makan yang sama saat tadi kita mengobrol. “Bi, Asep tidur dulu ya? Capek.” Bibi menjawab, “Iya, sok aja, tidur weh heula.” Setelah itu saya tidur, sedikit melihat sosial media dalam gawai lalu berhenti juga meletakannya bersamaan dengan kacamata, tepat di samping bantal. Saya tertidur di kamar tamu. Saat itu orang rumah atau para keluarga besar dari Ibu sedang makan-makan di restoran Sunda kata Bibi.

Sebenernya tidak ada yang menarik dari Bibi Nona. Namun ia selalu membahas hal yang tidak pantas, atau tak perlu. Sesederhana itu ‘jamur’ pada rumah ‘keluarga Tante Mar…’ Yang berakhir melaporkan, menjelekan, atau memberikomando sesuatu dengan sudut pandang agama akan hal rumah tangga Tante Mar dengan Uwak Mister, seharusnya begini, seharusnya begitu, juga banyak hal lain yang tidak aku tau. Saya tau juga ini, berkat Ibu memberitahu dahulu soal kebiasaan Bibi Nona yang bertingkah seperti itu. Ujungnya, keluarga Margahayu Raya ini bertengkar, disebabkan aduan-aduannya Bibi Nona kepada setiap orang yang hadir di rumah tersebut, kepada tamu: Adik-adiknya Uwak Mar, Keponakan Tante Mar, segala hal diberitakan menurut sudut pandang dia salah. Dia berani membicarakan Si Pemilik rumah kepada sumua orang yang berkunjung, tentang kondisi keluarga tersebut. Tentunya dibelakang orang rumah, saat ada waktu orang rumah tidak ada didepannya, Bibi Nona membicarakan Kakak iparnya, mendukung segala hal dari sudut pandangnya sebagai Adik Ipar. Dalam artian menyudutkan sifat, tingkah laku, serta seluruh yang ia rasakan terhadap kakak iparnya. Selalu mendukung Uwak Mister selaku kakak kandungnya. Menyampai-sampaikan sifat buruk dari Uwak Mar, kepada Ibu, Tanteku, semua diberitahu, padahal jelas Ibu, serta Tanteku adalah Adik Kandung Uwak Mar.

Merepotkan memang tukang lapor serta membuat buruk nama orang. Kadang seperti ujaran kebencian di sosmed, memang tak separah fitna atau mengadu domba, tapi mirip seperti itulah kelakuaan Bibi Nona. Tidak layak juga aku memahami kebenciannya terhadap Uwak Mar. Mungkin ada masalah atau suatu masalah tertentu yang tidak ku mengerti. Mungkin juga memang tidak suka dengan Uwak Mar. Padahal segala biaya hidupnya ditanggung Bibi Mar, sama seperti Uwak Mister. Semua hajat hidupnya dibantu atau didukung Uwak Mar, bisa dibilang dari mengajar sebagai Dosen, bisa menjadikannya berpenghasilan juga menghidupi Bibi Nona, Uwak Mister juga. Kenapa juga Bibi Nona masih sebenci atau dendam, atau apalah terhadapat Uwak Mar? Saya sendiri tidak mengerti dengan ‘keajaiban’ tinggal bareng menumpang di Uwak Mar. Kenapa ya Bibi Nona bersifat memanaskan keluarga? Bukannya menenangkan?

Sisi positif Bibi Nona, mungkin dengan tinggal bersama Uwak Mar, Almarhum Nenek, jadi dekat. Ketika uang bulanan Ibu yang diberikan dari Uwak Mar telat, Bibi Nona mengingatkan untuk memberikannya segera, disebabkan Bibi Nona tau betul ketika butuh uang, ya butuh uang cepat, jangan ditunda-tunda. Akhirnya uang itu datang lebih awal dari biasanya. Kekurangan Uwak Mar, maaf, selain pelit, juga menunda-nunda sesuatu. Entah apa yang dilakukannya sehingga memiliki sifat seperti itu. Akhirnya setelah ada Bibi Nona, uang bulan menjadi tidak terlambat. Cenderung lebih awal. Selanjutnya, Bibi Nonalah yang memberi kasih sayang lebih kepada Almarhum Nenek, dengan kasih sayang. Meski kadang tidak mengerti, dengan bahasa Minang dari Nenek, kadang Nenek mengajaknya berbicara bahasa Minang, menganggapnya seperti Adiknya. Kadang Nenek Pikun lupa siapa itu Bibi Nona, kadang diakuinya sebagai Adiknya yang sudah meninggal, ya begitulah orang tua yang ingatannya sudah tidak terlalu baik lagi seperti dulu.

Kasih sayang Nenek, maksudnya… Kasih sayang Bibi Nona terhadap Nenek sangat dirasakan Almarhum Nenek, kadang Nenek mengajak kabur keluar rumah itu, sebab sering dimarahi Uwak Mar. Kadang Nenek melakukan kebiasan umum orang yang sudah pikun. Banyak hal tersebut dimarahi Uwak Mar. Bibi Nona diajak keluar rumah, lalu Bibi Nona mendiskusikan, bernegosiasi untuk tidak keluar rumah. Sehingga Almarhum Nenek tenang tidak keluar rumah, tidak jadi cabut dari rumah tersebut.

Dari cerita tadi, disini aku belajar, bahwasanya saya tidak perlu menjadi seperti Bibi Nona, yang tidak punya anak, tidak bekerja, hidup dari bantuan pemerintah, tidak ada pensiun, atau dalam kata lain tidak memiliki power apapun, baik ekonomi, tahta, bahkan tidak punya tempat untuk berlindung di hari tuanya, tetapi memaksakan diri merasa benar atas Kakaknya, ya Uwak Mister itu sendiri. Sebenarnya Uwak Mister juga tidak memberikan nafkah kepada Uwak Mar…, sepanjang yang ku ketahui seperti itu, tetapi sudahlah, namanya juga masalah keluarga. Saya juga tidak terlalu mengerti masalahnya seperti apa lengkapnya, detil-detil yang ada seperti apa, soalnya tidak patut juga saya bertanya lengkap kepada Uwak Mar, ada rasa sungkan juga rasa jauh dari perasaan layak untuk ditanyai detail. Yang pasti menjadi sok benar, sok mendukung, atau merasa paling beragama, sesuai kitab suci, tidaklah membuat kita selalu baik. Banyak hal yang harus diingat terlebih dahulu, rumusan masalah, data yang valid, realible, serta uji data, data yang sudah diuji, beserta informasi yang dapat dibuat sintesa, baru bisa dapat disimpulkan, dikategorikan, dibuat bagan-bagan, memberi informasi tersusun rapih… Bukan selalu tentang kutipan ayat suci, atau sudut pandang agama, tapi cek kebenaran dari kedua belah pihak, yang mana Uwak Mar, Uwak Mister harus ditanyakan dahulu. Dicek latarbelakangnya, akan satu masalah tertentu. Semisal apakah benar tidak mengnafkahi? Apakah benar pernikahan kedua yang mereka lakukan tidak merubah apapun dalam keluarga mereka? Pernikahan kedua ini hanya untuk, agar mertua Abang Sagat dapat tau kalau keluarganya lengkap? Apakah benar masalah terbesarnya hanya tidak memberi nafkah keluarga? Apakah benar, bahwa dengan mereka menikah kembali, sama saja seperti dahulu, tidak pernah akur? Kenapa hal tersebut terjadi? Kenapa Uwak Mister selalu tidak ada dirumah, tetapi, ketika cucunya datangnya selalu berusaha ada dirumah? Kemanakah Uwak Mister selama ini? Apa iya Uwak Mister bekerja? Apakah Uwak Mister benar-benar punya istri lain? Apakah Uwak Mister benar-benar seperti yang Bibi Nona tau? Terus kenapa juga Bibi Nona selalu memposisikan Tante Mar sama seperti ‘madunya’ Uwak Mister? Kenapa juga Bibi Nona selalu membawa ayat-ayat Suci sebagai solusi rumah tangga Bibi Mar serta Uwak Mister? Kalau mau, belajar paham soal masalah keluarga, seharusnya diobrolkan terlebih dahulu, bukan menentukan ayat suci sebagai dasar solusi masalah keluarga? Soalnya belum tentu masalahnya seperti itu, rumusan masalahnya saja tidak jelas, kerangka berfikirnya tidak ada, malah langsung berpindah ke solusi, bukannya melengkapi data seperti apa keterkaitan setiap variable: independennya, dari varible dependen. Baru cari teori terkait untuk meningkatkan pemahaman, serta pengumpulan data, wawancara, dan lain seterusnya. Untuk ditinjau. Di buat penjelasan, perencanaan penyelesaian masalahnya. Soalnya soal keluarga bukan dari orang luar, maksudnya diluar keluarga inti: Istri, Suami, Anak. Tapi merekalah yang seharusnya membicarakan bagaimana solusi yang pantas dijalankan terhadap masalah keluarga tersebut, soalnya merekalah yang menjalani. Salah besar kalau hanya mendukung satu pihak, tapi selalu menyalahkan pihak lain. Menyudutkannya. Terlebih mendukung sesuatu tanpa memastikan kebenaran informasinya.

Ya begtiulah mungkin yang bisa kusampaikan soal ini. Tentang kemungkinan pencerahan, pemulihan keluarga selepas menikah kembali, rujuk, atau direcoki adik ipar, serta kelengkapan dinamika hubungan keluarga. Harmonis atau tidak, yang terpenting anak tidak terluka, tidak ada dendam atau masalah menumpuk yang tidak ingin diselesaikan.

*****

Saat itu keluargaku berkumpul, berbicara banyak hal. Hingga saya pulang karena merasa tidak nyaman. Sebelum pulang saya dirumah Uwak Mar… terlebih dahulu.

Perasaan kehilangan Nenek sebelumnya, sama sekali tidak membuatku menangis, tetapi terasa sekali kehilangan orang yang berharga. Beliau berjasa besar bagi keluargaku, saat Almarhum Ayah, bekerja sebagai tukang mebel profesional, sementara Ibuku kehabisan uang warisan demi menghidupi kami berempat, saat itulah peran Almarhumah Nenek membiayai, meminjamkan uangnya untuk hidup kami berempat tadi. Uang itu dipinjam, saat mengantungkan diri pada menjual barang antik tak kunjung membantu ekonomi keluargaku, hingga saya berdua dengan Abang lulus kuliah. Adapula pinjaman dari keluarga Ayah, dari Adik Ayah, awalnya memang Ayahku menutupi bahwa kondisi ekonomi keluarga kami tak perlu baik-baik saja, jadi tidak perlu diekspos kondisi ekonomi kami yang murat-marit ke Adiknya Ayah, hingga tiba-tiba adiknya begitu terkaget-kaget bertahun-tahun kemudian saat mengetahui yang sebenarnya, serta mulai mengulurkan tangan menambah-nambah uang semsesteran kuliahku waktu itu. Ya seperti itulah hidupku, berawal dari bantuan-bantuan keluarga besarku. Pekerjaan Ayah pun susah untuk mencari uang sebenarnya, hidup seperti itulah aku saat itu. Penuh juga dengan hutang terhadap orang-orang yang ku kenal.

Awalnya saya bermimpi, “Sep, hidup mah harus realistis, ngerti?” Dalam mimpi yang berkabut serta kejadian yang ada dalam mimpi yang penuh keluarga serta orang-orang yang saya kenal. Diantara mereka saya merasakan diri yang masih kurang, hampir semua keluarga, sepupuku sudah bisa bekerja, sudah mandiri, mempunyai anak, ada juga yang menganggur, ada juga 1 yang masih kuliah. Dari 13 cucu Nenek.

Ada mimpi lain seperti, “Kapan nikah?” terus ada juga “Udah kerja?” kejadian yang biasa bagi orang Indonesia. Semua ditanyakan, semua diutarakan, aku rasa, rasanya saya seperti orang yang kurang kerjaan, tidak berpenghasilan, tidak memiliki teman, tidak punya masa depan. Tapi jauh hari saya sudah berdamai dengan masa lalu, sudah mencoba berpindah pijakan ‘tuk ke depan. Ku hanya ingin menjadi seseorang dengan hidup yang lebih baik lagi. Ku ingin mandiri. Punya uang untuk kebuthan hidupku.

Lalu perasaan kesedihan ini, terasa tidak bisa dirasakan lagi. Tidak terasa sama sekali, bahkan sudah biasa-biasa saja. Tak terpikirkan bahwa sebelum Nenek meninggalkan kami, dia sudah banyak memberi pelajaran, baik agama, sosial, komunikasi, bahasa, dia orang yang baik. Yang tau agama sebenernya, memanusiakan manusia, suka melucu, melawak dengan gayanya sendiri yang mirip-mirip aku aplikasikan kepada teman-temanku di sekolah dulu, hingga kawan-kawan di tongkrongan tertawa dengan jokes dariku. Orang yang telah meinggalku ini, adalah seorang yang selalu mengingatkanku shalat, menawarkan makanan, hingga hal-hal lain yang sebetulnya aku sangat kangen sekali dengan Nenekku. Dialah orang yang baik.

Seperti itulah, mimpiku tentang Nenek dalam tidur.

Setelah Nenek tiada, Uwak Mister meninggal juga, Tante Mar… merasa rumah menjadi sepi. Tetapi sebagai Dosen tetap di Universitas Negeri dia tetap menjalankan kesibukannya. Beberapakali saya bersama ibu bermala

Sebelum itu, saya banyak mengobrol di hari kedua. Saat sodaraku berbicara soal penipuan, hingga aku bercerita mengenai penyakitku, ditertawai, direndahkan.

Awalnya Abang Sagat bertanya: Apa gak jadi sakit lagi kamu, kalo ditanyain ini? Segera ku jawab, “Ya enggak atuh.” Jawaban saya yang begitu saja keluar dari mulut yang waktu itu tidak sedang dilanda, psikosis. Sudah dipastikan tidak berdampak.

“Sok, gini weh. Milih.” Kata Abang Sagat di samping Abang Dewa. Aku saat itu melihat mukanya. “Mau Service base, bisa makan… Atau Product base, mati.” Tanyanya, ke padaku.

“Product base.” Jawabku. Sekali lagi, “Mau service base, bisa makan… Atau… Product base, mati.” Sepersekian detik, nyaris sama, seperti jawaban diawal, aku menjawab, “Product base.” Pilihan, sudah dua kali, dilakukan, pertanyaan masih tetap sama: “Mau service base, bisa makan… Atau… Product base… Mati.” Langsung ku jawab dengan sama, setelah ditanyakan: “Product base.” “Kenapa?” Abang Sagat bertanya padaku. “Ya emang enaknya product base, bang.” Jawabku tetap keukeuh.

Pertanyaan, ke empat: “Mau… Service base… Bisa makan… Atau… Product base… Tapi… Mati.” Dari pertanyaan yang sama, dengan selalu menjawab yang sama, akhirnya aku berfikir. Ya kalo masih begitu-begitu saja. Ya tidak akan berkembang ujung dari pertanyaan ini. “Service base.” Jawabanku berubah, saat pertanyaan ini.

“Kenapa?” Tanya Abang Sagat, “Ya, soalnya udah nanya 3x, masih weh itu. Ya udah gak boleh jawab itu. Udah weh Service base.” Mukanya sedikit berubah, bukan ekspersi yang tetap sama seperti 3 pertanyaan awal. Ada sedikit yang tidak bisa ku jelaskan.

“Ya, bukan gitu.” Abang Sagat memberi sanggahan.

Abang Sagat: “Kamu, teh mau idup gini2 ajah? Gitu?”

Asep: “Ya enggak atuh Bang.”

A Sagat: “Ya udah mulai buat kerja yang laen, yang pasti2 aja.”

Asep: “…”

A Sagat: “Ai, si font teh gimana sih?”

Asep: “Jadi kerjaannya teh buat produk, aset digital. Buat font yang bisa diketik di komputer. Jadi tau kan? Arial? Times New? Nah Asep, teh, buat yang gitu2.”

Abang sagat memperhatikan, sambil fokus melihatku, sementara Abang Dewa juga melihat kami berkomunikasi saja. Tanpa bertanya.

A Sagat: “Dapet duitnya gimana?”

Asep: “Ya dijual, lisensinya. Jadi gini: entar buat, terus dijual di website.”

A Sagat: “Berapa?”

Asep: “$ 15.”

A Sagat: “Udah dapet berapa dolar kamu selama ini?”

Asep: “Belum. Buatnya juga baru 1. Selama 2 tahun teh.”

A Sagat: “Coba kembangin, buat kaos, tulisan2 kamu teh terus jual.”

Asep: “Wah itu mah product base, cuman harus buat PO, harus ke vendor, terus bulak-balik vendor, sama packing.”

A Sagat: “Iya, gak apa2 atuh. Ya daripada gak ada uang pisan.”

Sebelumnya saya bercerita, saya jadi teringat dahulu sempat ada proyek buat kaos, dalam pikiranku, tanpa menceritakannya kepada mereka: dengan tulisan-tulisanku di twitter untuk dicetak menjadi fashion jalanan. Tidak tau juga bagaimana proses lisensi penggunaan tulisan-tulisan itu, yang pasti teman-temanku meminta juga untuk membuat tulisan langsung selain yang dari twitter, untuk dicetak di mesin printer DTG, demi kebutuhan kaos tersebut.

Hasilnya, aku tidak tau bagaimana. Tapi aku juga tidak tau juga hasilnya seperti apa. Karena tidak ada kejelasan, tweet yang mana yang dipakai untuk menjadi kaos. Serta penjualannya.

Asep: “Iya, sih.”

A Sagat: “Abang juga kemaren buat kaos, tulisan, banyak yang make.”

Asep: “Dijual bang? Berapa?”

A Sagat: “Gak dijual. Dibagiin aja.”

Asep: Dalam hatiku: “Ye kalo kaga dijual mah, ya iya banyak yang make. Tinggal dibuat yang banyak weh. Pasti dipake jugalah kalo gratis mah. Tapi tetep, tergantung buatnya berapa losin? Terus yang make siapa aja?” Begitulah yang ada dalam otakku.

Asep: “Tulisan? Tulisannya apa gitu?”

A Sagat: Beberapa saat berfikir, terlihat sedang berfikir. Membutuhkan waktu beberapa detik, jeda saat menjawab pertanyaannku. Dari waktu ini, aku sempat berpikir, apa mungkin dia sedang berbohong, tujuannya untuk menyemangatiku, sama seperti kejadian dulu waktu berbicara dengan supir angkutan soal percintaan, pekerjaan, hingga menjadi seorang yang pd, berpenghasilan sebagai tukang tahu dengan motor, yang padahal dahulu seorang karyawan bank, yang memilih menjauhi riba. A. Sagat menjawab “PULANG KAMPUNG KARENA SK. BUKAN KARENA KORONA.”

Asep: Dalam hatiku, “Duh naon deui iyeu… Apa iya sih, orang mau pake baju tulisan gak penting gitu? Terus apa tulisan itu penting banget dipake pas lagi korona, atau mungkin baju gratis itu emang pas aja dipake, lagian nambah2 baju yang adalah. Itung2 ganti baju juga. Masa bajunya itu2 aja” Lalu aku bertanya: “Kirain teh dijual.”

A Sagat: “Enggak.”

Asep: “Jualan kaos teh males, mesti PO.”

A. Sagat: “Ya gak usah PO. Langsung weh jual.”

Asep: “Ya modalnya darimana Bang? … Lagian juga kalo langsung kalo gak buat teaser, 1, 2, atau buat nanya2 siapa aja yang mau ikut PO, ya gak jalan juga atuh.”

Dia diam sambil, berpendirian teguh. Setelah itu memberikan pertanyaan lanjutan, sambil memberi instruksi.

A Sagat: “Ya, buat weh.”

Memaksaku, untuk membuat sesuatu yang sudah kupahami. Idenya bagus. Tapi memaksakan kehendak memang bukanlah hal yang baik, untuk mendikte, tapi bila maksudnya lain, hanya untuk membuka pikiran, mungkin? Bisa dibilang lebih baik daripada tanpa ada masukan dari orang lain.

A Sagat: “Terus kenapa juga sih gak pada mau kerja di Bank? Kamu sama Si Abang juga?”

Asep: Bukannya gak mau, gue jelas dah tau riba, terus bekerja di Bank itu capek. Belum lagi beli seragam, atau pakaian kantor yang mahal-mahal itu. Belum lagi tidak nyaman ada didalam Bank. Terlebih menjadi pekerja kantoran, yang baru ku alami, setelah bekerja di Toko Gambar Tempel. Begadang-begadang mungkin ada, tidak sebanyak aku bekerja di Toko Stiker tersebut. Bekerja di Bank bukanlah sebuah pilihan, tetapi keputusan yang tidak ingin ku pilih.

Aku terdiam, tanpa berbicara soal Bank dihadapan Abang-Abangku yang bekerja di tempat tersebut.

A Dewa: “Ai Asep percaya Tuhan?”

Saya terkejut ketika Abang Dewa bertanya seperti ini, nampak seperti tidak percaya kepadaku, atau mungkin sedang menguji. Tapi untuk apapula pertanyaan seperti ini, untungnya apa juga untuknya? Adakah manfaat dari tau kesadaran akan Pemilik Segala-Nya?

Langsung ku jawab.

Asep: “Ya percaya atuh Bang.” Singkat saja, daripada berpanjang-panjang, mungkin lebih dimengerti, bisa menjawab juga dengan cepat pula. “Ya kalo gak percaya mah, saya gak akan puasa, gak akan shalat, zakat juga. Sedekah juga kali Bang.”

Pertanyaan selanjutnya.

A Dewa: “Ai pas solat Asep ngedoa apa?”

Lumayan kepo, sambil tetep aku jawab. Mungkin aku selalu menjawab sesuatu, tanpa berfikir panjang, tanpa rasa tau penting tidak penting, pantas tidak pantas, atau diataranya, diantaranya lagi.

Asep: “Ya-”

Belum sempat ku jawab tuntas, A. Sagat membericandaan, mendekati meneterawakan, merendahkan.

A. Sagat: “Ya dia minta biar Fontnya, jadi duit, … Gitu2? Kan?”

Sambil disaat bersamaan ku menjawab A. Dewa.

Asep: “Ya biar font jadi duit, bisa idup dari font, berkembang.”

Perasaan direndahakan, ditertawakan, dari pekerjaan yang kupilih, dengan penghasilan yang tidak ada sama sekali dari sana. Bahkan cenderung perasaan ini semakin terasa, ditertawai kenyataan, bukan ditertawakan orang, ‘kenyataannyalah’ yang ‘menetertawakanku’, bukan A. Sagat, bukan juga A. Dewa. Bukan mereka berdua, tapi akulah yang memilih pekerjaan yang memberikan penilaian untuk ditertawakan, saat semua yang mengajakku mengobrol kali ini adalah para karyawan Bank Negri. Salah dua orang ini memiliki penghasilan dari pekerjaan sehari-harinya, memiliki posisi di kantornya, merasa pendirianku adalah hal yang perlu mereka serang, berlawanan dengan pemmikiran mereka bahwa aku akan mati bila terus bekerja seperti ini.

A. Sagat: Sambil seolah-oleh membuka baju, di memberikan candaan kepadaku, bahwa aku tidak tersinggung akan sikap ‘lawakannya’, “Derrr engke gering deui maneh?… Moal kan?”

Asep: Aku menjawab dengan tenang, tersinggung memanglah bukan tempatnya buat orang yang sedang berdiskusi, atau tempat membuahkan pemikiran baru. Membuka kemungkinan baru dari ruang baru yang sedang dibangun. Membangun kesadaran, menciptakan sebuah arti dari sudut pandang kami, yang berbeda, atau konsep-konsep yang tidaklah selalu pantas, atau tidak pantas, aku cukup terbuka saja dengan segala hal yang ada dalam setiap komunikasi dengannya, dia, mereka, kita. “Ya enggak atu bang, …”

Sambil melanjutkan pemberitahuan tersebut. “Kata psikiater, tinggal beresin kerjaan satu2, pasti beres.” Meyakinkan diri, sambil menyakinkan mereka bahwa usahaku tidaklah sia-sia, pasti menghasilkan sesuatu.

A. Sagat: “Geus2, enggeus si Asep mah misleuk. Geus bener eta bener. Ngadoa weh alus. Alus eta.”

Disini, dia mendukungku, tetapi logika mendukung malah memberikan persepsi lain, malah sebaliknya, seperti tidak mendukungku sukses dari karir yang sedang ku pilih. Dengan kenyataannya: bahwa dengan berdoa, bekerja ala kadarnya, bahkan cenderung aku kurang keras akan diriku bekerja, terbukti selama 2 tahun baru 1 font. Sementara orang lain bisa lebih dari itu. Bahkan bisa 2 digit, aku 1 digit saja tidak, tidak bertambah-tambah.

Sebelumnya…

A. Sagat: “Asep suka ama cewe?”

Asep: Saat itu aku langsung terpikirkan Yui Hatano, wajah cantiknya, bentuk tirus mukanya, bibir tipisnya, mata sipitnya, make up flawless-nya, rambut yang dicat coklat gelap. Tapi tak lama aku sadar, itu hanya fetish, bukan wanita yang benar-benar ku berbicara dengannya.

Aku langsung terpikirkan Si Tomboy. Tanpa terbayang wajahnya, tanpa terbayang kemolekan fisik, tanpa terlintas wajahnya.

Kusebutlah sebuah nama, …

A. Dewa: “Yang mana? Siapa?”

Asep: “Sama2 suka Homicide. Itu grup Hip Hop gitu.”

A. Dewa: “Ini!” Sambil menunjukan avatar facebook pada smartphone di genggamannya.

Asep: “Bukan.”

Aku mulai membuka instagram, mencari akunnya. Lalu menunjukan pada A. Dewa.

A. Dewa: “Oh ini… Oh suka maen gitar, suka musik.”

Dia stalking akun tersebut, scroll postingan IG. Memahami diri Si Tomboy.

Sebenernya, hubunganku dengan Si Tomboy bukan cinta, temanpun rasanya kurang tepat, hanya pernah bertemu pada saat rilis vinyl Homicide, Album Barisan Nisan, di tahun 2016. Sempat kaget juga kalau dia adalah seorang wanita, dengan tampilan fisik bagaikan seorang lelaki, tentunya dengan gaya berpakaian celana jeans, kaos, berambut pendek.

Saat berbicara dengan dia pun, aku kebingunngan untuk menentukan gender. Jadi aku pastikan dengan bertanya, saat bertanya, ternyata wanita. Aku tertawa, selanjutnya meminta maaf, menduganya seorang pria.

Aku selalu mudah jatuh cinta dengan wanita, bila wanita tersebut bisa bermain alat musik, atau mungkin bisa bernyanyi dengan baik. Ya minimal punya kemampuan yang aku sukai. Musik, Film, Buku, atau Desain Grafis, Type Design, apa saja yang bagiku dia memiliki nilai lebih, bukan soal fisik semata.

A. Sagat: “Geus ulah ditanya Dewa, si Asep mah hayang ngafont.”

Alur berubah. Saat ini akhirnya obrolan meluas.

A. Sagat: “Sok kamu bisa apa?”

Asep: “Ya desain font, jualan pre-loved.”

A. Dewa: “Entar teh kita mau buat bisnis keluarga, entar Asep yang ngerjain sama Abang. Kita pengen keluarga teh punya bisnis yang bisa berkembang bareng.”

Nah kan, ketauan tujuan akhirnya. Dari pola, ngalor ngidul, ngobrol-ngobrol, serta menjelaskan kemampuanku. Akhirnya tujuan mereka itu ingin mengatur hidupku, ya mungkin membeliku dengan pekerjaan keluarga, memberikan penghasilan yang layak? Tidak tau juga ya. Yang pasti ujungnya mereka percaya kepada aku, Abangku, sodara kandungku.

Obrolan terhenti. Kadang kala mereka A. Sagat dengan adiknya, A. Dewa suka berhenti berbicara untuk sesekali menggunakan smartphonenya. Jadi obrolan, kadang-kadang terhenti, tertunda, kadang hening sesaat.

*****

Begitulah menjadi jika menjadi orang yang sakit, lengkap dengan penghasilan yang tidak pasti. Belum memiliki pemasukan tetap dari pekerjaan, belum bisa mandiri. Tidak memiliki pasangan, belum berjodoh, tapi sudah bilang suka terhadap wanita. Usahaku sebagai type designer tidak memberiku earning yang layak.

Wanita yang kusukai, mungkin saja sudah memiliki pria yang lebih baik atau lebih pantas dariku yang seorang pekerja kreatif. Mungkin saja Si Tomboy, sudah memiliki cowo, juga mungkin saja aku sama sekali bukan pria yang disukainya, malah dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku. Juga dia belum tentu mengagapku teman, hanya sekedar kenalan yang dipertemukan pada saat itu dari temannya. Mungkin begitu tepatnya.

Bekerja pada orang lain, bekerjasama dengan keluarga dalam satu wadah, bekerja dengan bisnis tertentu memang bisa saja menjadi opsi jika ada waktu, dilain waktu didepan, ku memilih berhenti bekerja merancang huruf, tidak melakukan aktifitas menjual produk pre-loved.

Bekerja dengan keluarga, berpenghasilan, menikah, meninggalkan font, pre-loved, menjadi seorang yang akan meninggal seperti Nenek, Uwak Mister, menjadi kesepian seperti Uwak Mar, atau bagaimana kedepannya? Aku sendiri tidak tau.

Berkat kejadian itu, hampir tiap hari aku berfikir soal nasib, karir, serta keuanganku. Aku memasang foto wallpaper sepupuku di handphoneku. Supaya ingat selalu aku “Tidak akan pernah sukses, akan mati dengan font tidak akan pernah hidup dari karirku sebagai font kreator.” Sejak saat itulah aku bekerja lebih giat. Namun pada akhirnya, atau kedepan-depannya masih tetap saja bermalas-malasan mengerjakan font, pekerjaan sepatu pun belum ku kerjakan lagi sudah 3 minggu, mengupload buku juga tidak dilakukan dengan baik, saat datang 200 produk preloved. Font tidak dikerjakan, Perloved malas-malasan, Desain Grafis untuk Footwear tidak dilanjut. Mau jadi apa aku ini?

Terkadang memang nikmat menikmati hidup dengan bersantai, tidak bekerja di kantor atau di Toko seperti pengalamanku. Maksudnya bekerja mandiri seperti sekarang butuh komitmen yang besar, untuk orang yang naek-turun semangatnya serta ketekunannya, nampaknya masalah ini ada dalam diriku sendiri.

Mau seperti Bibi Nona, Uwak Mister, Nenek, Ayah, atau jadi siapa saja aku bisa. Tapi jangan sampai seperti ‘tidak punya masa depan, tidak bisa hidup dari karir’. Aku hanya ingin menjadi type designer, penjual preloved, desainer grafis buat produk footwear. Aku seorang freelancer yang juga pekerja mandiri, self employee.

Yang aku butuhkan sekarang rasa tanggung jawab demi masa depanku. Demi hidup yang berpenghasilan, dapat menghidupi hidupku sebagai seorang dewasa. Dapat berkarir di rumah dengan penghasilan yang layak. Pekerjaan yang ada dikerjakan dengan semangat juga dengan itu aku bisa mendapatkan uang.

Saat ini Ibu sudah bosan dengan kalimat: Terakhir, sekali-kali, berhenti. Terhadap kebiasaanku merokok. Saat bekerja juga dia acapkali bosan menyemangatiku yang kadang tidak semangat bekerja mencari uang dengan mengunggah buku-buku bekas, vcd bekas. Font, Footwear ditunda demi uang yang akan kuterima dari mencoba mengupload barang ke marketplace.

Kalau dipikirkan, kenapa ya aku malas? Memilih menulis yang tidak jelas seperti ini? Memilih mementingkan yang tidak penting seperti menulis seperti ini dibandingkan mencoba untuk berjualan, membuat font, membuat desain grafis untuk footwear? Kenapa dengan diriku yang selalu menunda-nunda pekerjaan? Kenapa dengan komitmenku bekerja yang terkadang ada terkadang menghilang begitu saja? Mau bekerja apalagi diriku ini jika tidak mengerjakan font, preloved, footwear? Mau dapat penghasilan darimana jika diriku tidak bekerja? Mau hidup sebagai apalagi aku saat ini jika tidak berpenghasilan? Bisa saja Ibuku meninggal dengan sakit disebabkan anaknya menjadi sumber penyakitnya saat hidup? Memberikan beban pikiran: jomblo, bekerja malas-malasan, menunda-nunda pekerjaan, lelet, tidak mandiri?

Kuharap hari ini di umur 33 tahun, aku menjadi seorang profersional yang bekerja mandiri yang sudah berpengalaman. Bisa menghasilkan uang juga menghidupi diriku sebagai orang dewasa. Bisa menikah. Bisa punya rumah untuk tinggal bersama Ibuku.

Aku ingin bekerja. Berpendapatkan cukup. Aku ingin bisa membahagiakan hidupku, terlebih membahagikan Ibu. Maafkanku Asep, telah membuat hidup menjadi buruk dengan kesalahan-kesalahanku. Mengabadikan keburukan pada tulisan-tulisan. Aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin menjadi diriku dalam keadaan yang lebih baik. Berjalan baik-baik saja meski aku sadar selalu ada halangan, selalu saja ada kesalahan, kegagal ke kegagalan yang kulakukan. Perombakan strategi dalam mewujudkan kemerdekaan diri sebagai seorang pekerja yang bisa menghidupi diri, Ibu.

Aku ingin menjadi type desinger, penjual preloved, desainer grafis produk footwear.

Aku hanyalah manusia biasa-biasa saja yang perlu berusaha lebih dari ini. Untuk mendapatkan yang kuinginkan.

Aku perlu sadar diri, serta paham memaksakan diri bekerja lebih baik lagi.

Pertimbangan soal hidupque

“To live is to choose. But to choose well, you must know who you are and what you stand for, where you want to go and why you want to get there.”

Kofi Annan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh? Gimana hari ini kabarnya? Sehat? Baik? … Gue berharap lo baik2 aja, dengan segala apa yang lo rasain. Hari ini gue dah olahraga bareng nyokap, jalan ke Cimenyan. Ya gak joging sih, lebih ke jalan doang. Kita berdua ngelepas semua yang ada dikepala, tapi lebih kepada Ibu gue yang lebih ngelepasin stressnya idup ama gue dalam olahraga yang sekedar jalan kaki doang ini.

Sepanjang jalan, ya emang gak cerita soal itu aja. Tapi adalah ngobrol2 gitu, tapi fokus utama dia buat ngejelasin kalo dia, iya, nyokap gue ini tertekan idup ama gue. “Anaknya yang kesatu tukang minjem duit, anak yang kedua tukang minta duit.” Gue lumayan bingung mau ngejawab atau nimpalinnya gimana? Ya udah gue cuman diem, tanpa bisa berfikir. “Udah dikuliahin, sekarang milih font, terus fontnya gak beres2.” Ibu gue bilang gitu. “Minjem sana-sini buat sekolah: “Kalo gak ada duit mah gak usah kuliah!”, kata salah satu Kakak Ibu teh, tapi da masa depan yang baek mah, ya butuh sekolah. Dikuliahin weh. Biar punya masa depan.” Kurang lebih gitulah Mother gue bilangnya. Lagi2 lagi gue cuman bisa diem. Perkatanyaan teh fakta, mau ngomong apaan lagi gue? Kalo yang dibilangin teh bener? …

Gue beli rokok di warung, pake duit ibu. 2 batang samsoe, sampe dirumah gue ngerokok. Terus gue biarin, bukan2, terus gue matiin di setengah batang, belom abis, gue makan dulu. Beres dari itu gue lanjut ngerokok lagi, ngabisin yang tadi. Jadi pas 1 batang. Gak ngapain2 sih, cuman sosmed, nonton YouTube, gue sadar betul video ini ngabisin kuota, gue sempet belajar bahasa inggris di aplikasi duolinggo. Sekedar 5 menitan.

Gue ngerokok lagi. Lanjut tidur. Bangun, gue nonton YouTube lagi. Terus gue minta rokok lagi. Eh gue dimarahin. Tapi gue minta terus, akhirnya dikasih, tapi gak diridoin. Ya udah uang yang gue terima gue tetep beliin sebatang rokok samsoe. Gue ngerokok sambil nulis ini.

  1. Hidup adalah memilih

Gue selalu tau. Alahmdulillahnya gue tau ya. Maksudnya gue tau ngerokok gak punya duit tinggal minta ke nyokap, selalu hampir dikasih, tapi gak selamanya gitu. Kadang dia keras banget nolak. Akhirnya dia nangis, atau gak marah terus gue gak dapet apa2 selaen, fakta duit dia gak mau dipake buat beli nikotin ketengan yang kaya gue mau. Terus pendapatan gue, maksudnya pendapatan kami, Ibu gue juga cuman dari keluarga. Kalau boleh dirincikan seperti ini nih: Bu Dokter, 150rb, Uwak Jakarta 300rb, uang beras Uwak Mar 250rb, jualan obat bpjs, 100rb, (Ini juga kadang cuman 30rb sebulan, kadang juga sebulan juga gak dapet2) udah, sisanya paling duit jualan rajutan yang gak tentu, kemaren2 dapet 500rb. Kadang laku kadang enggak, jualan rajutan teh. Tapi kadang Abang juga suka ngasih duit ke Ibu, kadang juga minjem sih. Ya seseringnya minjem duit. Ibu juga dah ngurangin belanja yang gak penting, emang orangnya hemat, tapi kalo pagi kadang2, gak selalu sih, suka beli bubur ayam atau nasi kuning, atau gak kupat tahu buat sarapan.

Itu juga udah gak dibeli2 lagi.

Pengen buat nasi goreng aja, kaya hari ini, buat ngehemat duit. Jadi makan nasgor buatan nyokap gue. Selalu gue makan bareng ama dia.

Pilihannya selalu kalo gak hemat duit, ya kudu dapet duit. Ya duit selalu jadi masalah. Emmm, kata2nya kurang enak, gue punya masalah finansial. Gak enak juga kata2nya. Gue butuh duit aja deh. Okeh2, gue butuh duit buat hidup, biar idup gue gak tergantung dari sodara, keluarga gue, gue butuh mandiri. Ini selalu gue pikirin, tapi gak lama. Kadang suka gak kepikiran lagi, terus ngerokok minta duit lagi ke mother.

Hemat yang gue pengen, kalo gak berakhir beli quota inet, rokok, pasti beli buku, jarang banget gue belanja keseharian dari uang gue, kalo gak buku atau barang preloved gue laku terjual. Ya sempet sih beli quota, deodoran, sabun mandi, tapi kebanyakan gue dibeliin nyokap. Disubsidi sama beliau. Jadi gue selalu kadang beli2 yang konsumtif dibanding beli buat produktif teh. Jadi duit kudunya mah ya? Dipake modal sih.

Oh iya, nyokap juga nekenin kalo gue teh harus inget kerjaan: font, preloved, footwear. Sekarang fokus nge-upload buku2 dulu, terus beresin font, jadiin duit, pokoknya kerja weh nyari duit gitu. Sementara gue gak ngelakuin itu hampir sekitar 3 hari. Gue istirahat dulu. Kalo gue bilang istirahat, pasti 1-2 hari pasti disuruh kerja lagi. Kalo gue bilang jujur gitu, entar kasian lagi, dia kebayangnya gue ngaggur, gak ngelakuin apa2. Padahal gue? … Ya emang nyosmed, sama kadang nonton soal ekonomi, bisnis, agama, atau gak type design. Tapi tapi design juga dah jarang gue liat sih. Seringnya gue nganime.

Okeh gitu.

2. tetapi… Memilih dengan baik.

Pilihannya sekarang gue mau gini2 aja? Atau fokus ngelakuin yang bermanfaat, menghasilkan uang. Demi masa depan, bukan demi masa sekarang gue yang butuh duit.

Gue mau banget kerja, gue butuh duit, makanya gue perlu kerja.

Ya dah gak perlu ngeluh, atau insecure atau gimana2 pas liat orang2 berpenghasilan di sosmed dari kerjaan mereka. Macem2, dari ilustrator, comic artist, sampe internet marketer, hebat2. Semua bisa dapet duit dari internet, internet sendiri bukan dipake pasif atau konsumtif kaya gue, nikmatin hiburan, nganime, ngesosmed, tapi ngelebarin sayap buat dagang, atau usaha biar cuan. Gue udah sih jualan di IG, FB, tapi sepi, kalo pun ada yang beli paling dari TokPed doang, itu juga paling jualan obat BPJS gue aje yang sekarang juga dosisnye diturunin. Jadi penghasilannya juga turun dari jualan Obat. Biasanya 3 strip, jadi 1,5 strip, dari 35k x 3, 105rb, jadi 35k, sampe 70k doang. Kadang harga juga fluktuatif naek turun, gimana yang pada jualanya aja. Jadi bisa 30k, 33k, 35k, 40k, 45k, macem2 tergantung pasar lagi jual berapa.

Gak bisa diadelin dari jualan. Duit 100-300rb gak bisa buat idup sebulan. Gue juga belom mandiri dari duit segitu mah, gak bisa berdikari.

3. SIapa diri gue, apa yang diperjuangin…

Kalo mengenal gue di blog ini, dengan tulisan2 gue. Gue sih mesti berjuang pisan sih buat kerja, gue kudu bisa ngehasilin dari apa yang dah gue pilih. Bisnis font, bisnis preloved, bisnis footwear. Semuanya tinggal dilakuin aje.

Masalahnya gue kadang suka gak konsisten, suka gak komitmen, suka nunda2, suka males. Hal yang wajar sih sebenernya, tapi gak bertanggung jawab pisan, gak keliatan kaya orang dewasa. Lebih kaya anak muda yang masih ngegantungin idupnya di tangan Orang Tua. Tapi ya emang gitu kenyatannyaannya. Mesti dirobah, pasti bisa robah, ayo robah dong. Semangat buat Aing!

Hal terburuk dari pekerjaan gue adalah, gue terlalu santai sama gak mau ngambil sesuatu dengan maksimal. Maksudnye? Lebih milih tiduran atau santai2 dibanding begadang2 kaya dulu kuliah, atau mentingin kerjaan, dibanding nonton anime, atau hiburan kaya scrolling sosmed, atau buat hal baru kaya bermusik atau buat tulisan yang okeh, gue malah ngabisin waktu buat nulis ngasal kaya gini, yang jelas2 gue sendiri udah mulai kebaca, sama bosen juga cerita idup yang gini2 aja. Gue pengen naek kelas, gue pengen jadi lebih bertanggung jawab sama idup gue pribadi.

Alhamdulillahnya, Al-Qur’an yang sering gue baca ngebuat gue dapetin tanda2, dapetin petuah, petunjuk dari Allah SWT, dapetin yang pengen gue pengen. Jadi orang yang bermanfaat dapetin segala hal dengan kebaikan.

Gue pengen dapet duit dari font, preloved, footwear. Ayo semangat ah, kita cari duit, biar Ibu gak beban ngurus gue, gue juga kudu ngebantu die. Bisa, insyallah, yakin jadi duit.

4. kemana gue pergi…

Ya gue juga sadar gue gak kemana2 gitu. Gue masih dirumah aja. Pergi buat olah raga kali ini bikin gue sadar, gue masih diposisi yang sama dengan 9-10 tahun yang lalu, pekerja, calon pekerja, kalopun gue dah kerja, gue kerja mesti semanget, mesti jadi duit, mesti bisa berpenghasilan, mesti dapetin sesuatu buat beli sesuatu yang laen. Bisa aja, kan, gue bisa kerja kok, cuman kalo dah males, emang kadang mesti dilawan juga biar rajin, atau dapetin rasa tanggung jawab, buat komitmen milih kerjaan dibanding hal2 yang laen. Gue kudu percaya, percaya diri, percaya sama doa2 gue, percaya ama Allah, percaya sama Ibu, percaya sama kerjaan yang gue pilih ini bakal, buat gue pergi ke tempat yang lebih baik dari sekarang. Suatu tempat, tempat yang lebih baik dari hari ini, tempat yang gue cari. Rumah yang bisa gue tempatin, atau hidup dari duit sendiri, atau bisa jadi gue bekerja dengan penghasilan yang layak dari yang gue kerjain.

5. kenapa gue harus disana…

Gak lebih gak kurang, gue pengen mandiri. Gue pengen bisa idup tenang, meski ya gue sadar juga, gak ada yang gitu2 aja. Maksudnya teh? Ya gak gitu2 doang kali idup teh, pasti ada naek, turun, atau turun, naeknya, ya wajarlah, ya? Wajar gak, sih?

Sekarang mari kita gawe, dapetin duit, daripada nulis curhat gak bermutu kaya gini. “Gak usah diomongin gak penting.”

Freetalk, ngobrol santuy tanpa donasi, cerita gue sebagai bloger bukan vtuber

Kayanya gue dah jarang juga nonton vtuber, di 2022 ini. Waktu pertama kali di 2020, vtuber itu hal yang baru buat gue. Iya gue cukup tau ada virtual YouTuber kaya Hatsune Miku. Eh, itu bukan vtuber sih, tapi vocaloid. Nah gue rasa vtuber itu vocaloid, terus kaya vituber kaya Kizuna AI teh sama, cuman kurang taunya gue buat pengetahuan gue gak nambah.

Sampe di tahun 2020 gue subs Rania Chiwawa. Gue seneng banget dengerin suaranya, persona dia tuh cewe banget. Meski emang gak dewasa2 atau mbak2 kantoran atau gimana2 gitu. Lebih kaya anak SMA atau mungkin anak yang baru kuliah gitu. Itulah yang gue rasain dari nontonin dia awal2. Di 2020 ya.

Dari awalnya sering nonton, sampe akhirnya gue gak peduli karena gue sibuk. Sakit juga. Sampe gue mau ngehemat kuota inet. Nonton live streaming yang 2jam itu teh, nyedot quota pisan.

Suara, ketawa. Udah ya tadi. Gue bahasa soal kesukaan gue lagi ama Ranran ini. Ranran suka nyanyi, suaranya justru keren, bahkan gak kaya kekanak-kanak gitu. Malah dewasa, enaklah. Tapi girly. Pokoknya keren, cewe banget.

Sampe di 2021 gue lupain vtuber. Gue fokus ngapain ye? Nulis, gawe, atau ngebokep gitu? Atau apa ya? Maksud gue, gue sampe ngerjain yang laen yang biasa gue kerjain. Jadi akhirnya gue berenti Nonton Ranran Ch. ArkNET ni. Ya gitulah, seperti yang dah gue bilang diawal.

Di 2022, orang rame2 ngomongin Kobo Kanaeru. Ranran, vtuber yang gue tau dari FB, sosial media yang sering gue pake ngasih vtuber baru. Kobo? Siapa dah? Karekternya kaya apa? Terus apaan dah itu, … Maksudnya konsepnya gimana sih? Apa yang gue dapetin dari nonton Kobo? …

Setelah gue follow dari awalnya 300rb sub. Sampe sekarang 1,39jt sub. Suka banget awal2. Nontonin konten2nya, penjelasan, pengenalan, ampe karya2nya. Maksudnya konten2 buatannya. Oh vtuber teh kaya gini. Oh ok2. Akhirnya gue lupain Kobo, Ranran.

Di 31 Agustus 2022, hari Rabu, jam 21.33an lah, gue nonton… Oh iya Ranran mau graduate. Wow, dah 2 tahun gak kerasa, dari 3rb sub, sampe 36rb subscriber Ranran. Ternyata beda sama Kobo yang dalem 3 bulan dah 1jt Sub, Ranran dah 2 tahun cuman nambah 33rb doang. Beda banget kan? Tapi skip soal sub dah. Yang utama dalam dunia vtuber ya selama seru, suka, ama ngehibur, atau menikmati sih, jumlah sub ya gak ngaruh. Asal doyan weh.

Nah tadi Ranran nangis, pas dikasih lagu dari fan: Rantang. Nama fansclubnya Ranran. Rantang ini distel, atau lagu itu diputerin gitu, BGM dimatiin, jadi full lagu dari fans doang. Ada pidato singkat juga dari rantang soal Ranran, pokoknya sesuatu yang bikin keberadaan vtuber ini ada. Gue juga ngerasaiin itu, meski gak relate banget buat gue, soalnya ampir 1 tahun atau 2 tahun lebih gue gak nonton dia lagi, gue juga masih kadang2, nontonin video2 pendeknya soal keimutan dia. Sebagai vtuber ya? Ya. Gitu dah… Nah si Ranran nangis gitu. Gue cukup ngerasain kehilangan, atau rasa berenti dari sesuatu yang dah biasa didapetin. Ngerti gak?

Maksudnya gini. Okeh gue punya Almarhum Babeh. Dah sepanjang usia gue, dia ada. Sampe pas gue skripsi, doi meninggal. Gue sedih. Ya biasalah seorang anak kehilangan ayah kandungnya. Dah pasti sedih. Nangis. Okelah wajar. Nah itu kalo soal orang kesayangan. Kalo soal kerjaan. Gue pernah kerja di toko. Selama itu gue belajar jadi desainer grafis multi job, belajar banyak hal dunia sepedah motor, desain, komunikasi, bisnis, dan lain seterusnya. Hingga ada masalah terus gue milih beresin revisi skripsi gue yang harus gue dapetin. Jadi gue milih dapetin ijazah, dengan keluar lebih dulu dari kerjaan gue. Gue mau kerja lagi di tempat lain, dengan ijazah gue entar. Sedih, seneng, kesel, ama hal campur aduk gue rasain.

Kayanya gitu deh yang gue dapetin pas Ranran graduate. Gue ngerasa kaya kehilangan Ayah, kerjaan, ama aktivitas. Em. Tunggu2, maksud gue gue teh kaya kehilangan, bukan gue sih, Ranran mungkin kehilangan hal yang mungkin gue rasain dulu. Mungkin perasaannya sama: kehilangan ayah, pengen kerja di tempat lain, keluar kerja dulu, beresin kerjaan yang sekarang, dapetin sedih dari live stream terakhirnya ini.

Nah hubungan ama gue apa Ranran? Kobo? Alm. Babeh? Kerjaan? Paling gue ngerasain banget, dah 2 tahun. Gue masih gini2 aja. Asli gue gak mau banget ngebahas ginian. Soalnya bakalan gitu2 aja, cuman manjang2in masalah yang gue dah tau banget permasalahnya dimana, gue cuman butuh fokus ke solusi: ngerjain tugas gue, … Bukan fokus ke masalah, curhat, minta perhatian, atau caper, atau butuh bimbingan. Gue dah dewasa, gue juga dah berpengalaman gimana setiap masalah yang gue hadapin adalah dimana gue butuh ngelawan diri gue sendiri. Maksudnya?

Maksudnya gini. Gue butuh ngelatih diri gue. Ngerubah, atau ya minimal bertahan dengan hal2 yang baik dari gue sendiri. Maksudnya ya tetep berbuat baik, pertahankan, kalo ada masalah, seleseiin. Terus memperbaiki diri, soalnya gue juga pengen terus berkembang. Dah 2 tahun. Eh 3 deh. 2020, itu 1, 2021, itu 2, 2022, itu 3. 3 tahun ya? Bukan 2? Hehehehe. Iya berarti sama Ranran dah 3 tahun.

Nah masa dari 3 tahun, perubahaan gue cuman gue ada Laptop, gue punya hp pinjeman baru, gue punya pentab, gue punya scanner&printer, gue punya 10 buku font import, gue punya 13-15 draft font, gue punya draft tertulis atau pangram sekitar 200an. Gue juga punya buku2, kaset pita, CD, VCD, sempet punya baju band. Bars of Death, yang dah kejual, CD Bars of Death juga dah kejual. Sempet punya buku Demi Masa, itu dapet gratis, gue jual ol, dapet duit lagi. Terus gue malah ngerokok lagi, sampe sekarang. Terus apalagi. Oh iya gue keterima di MyFonts, setelah dari 2013 nyobain masuk, di 2019 ternyata gue masuk, di 2020 gue baru sadar gue keterima pas check spam email gue. Terus gue sempet jualan Preloved lagi di 2021. Gue dapetin duit, beli2 barang2, kaya buku penelitian DKV, di 2021, di 2022 beli buku Mudah menyusun Skripsi, Thesis, Desertasi, sama buku: Metodologi dan riset desain komunikasi visual.

Gue juga nulis banyak post di blog ini. Gue juga ngereview laptop gue. Gue juga sempet nyoba bikin lagu. Cuman beres 1 lagu. Itu juga beatnya masih jelek, belom enak pula. Belom sempurna. Belom beres, belom rapih. Gue sempet nulis penelitian S2 gue, yang akhirnya ngasih sadar gue bahwa gue gak fokus: terbukti dengan anime, manga, light novel yang gue buat gak gue kerjain. Maksudnya gak ada perkembangan lagi dari proyek personal ini. Terus apalagi ye? Covid datang, gue sama sekali gak ngerasa apa2, selain gue jadi gak solat jumat selama 2 tahun. Terus gue kumat di 2020 akhir – awal 2021, selama 5-6 bulan.

Dah gitu doang selama 3 tahun.

Sedih banget kalo gue sadarin. Tapi di Al-Qur’an gak boleh bersedih, gak boleh sedih. Jadi gue dah kuat sama kesedihan. Gue sadar kualitas diri gue dah sampe mana, kualitas gue teh segini. Gap gue sama ekspektasi, nilai diri, nah diantara ekspektasi sama nilai diri ada gap ya. Nah ini yang mesti gue beresin.

Gue butuh Bisnis: font, preloved, footwear berjalan lancar, dipermudah, dipantaskan, beres, jadi duit. Kedepannya gue gak mau ngeluh2 kaya gini, gue mau fokusin ke solusi, cari cara yang bisa gue coba, kalo gagal, gue ganti strategi, biar tujuannya tetep sama: beresin masalah.

Gue produk dari institusi pendidikan swasta. Gue kadang mesti bangga ama percaya diri. Gue butuh disiplin juga. Komitmen juga sih. Terus butuh jadwal rutin. Butuh deadline. Butuh fokus ke kerjaan, tetep bahagia. Solat, ngaji, sedekah, kerja, jualan, kerjain font, kerjain footwear juga.

Ya gitu aja gaes, mungkin kedepannya gue bakalan berenti2 dulu nulis2, tapi dengan gue berenti nulis. Maksudnya berenti sebentar, buat lebih banyak kerja sih, nulis mah bakalan nulis2 juga sih. Tetep. Nulis. Tetep nulis.

Sosmed juga mau gue berenti juga. Fokus ngeupload produk preloved. Biar cepet jadi duit. Terus gue bisa selesei dari masalah keuangan kaya gini.

Terus gue mau baca2 lagi zine yang dah gue print. Zine 2014 gue yang mana itu belom beres, ada juga curhat, jurnal, dairy gue yang pengen gue pahamin lagi pemikiran gue selama ini.

Ya gitulah, gue pengen duit, bisa mandiri. Paham potensi diri gue, bisa kerja dengan baik. Bisa punya duit. Dah beres.

早くやれよ Hayaku yare yo: Tenggat Waktu

GAK PENTING DEADLINE, YANG PENTING PROGRESS. *CURHAT NIRFAEDAH YANG BISA DIJADIKAN BAHAN PERTIMBANGAN SOAL PRODUKTIVITAS.

“At times, it is better to “just do it” than to “do it right”. One reason new year resolutions don’t work is because we expect too much from ourselves. Rush, meet your deadlines, you can always continue from where you stopped next year.”

― Asuni LadyZeal

Yah, ngomong emang gampang, segampang ngaca, liat ke diri pribadi, sebagai personal liat kedalam persona diri sendiri, tau, bahkan sadar bahwa ‘prioritas kerja’ masih belom bisa ‘optimal’, mau ‘maksimalin’ juga kayanya gak mungkin, cukup optimal aja dulu deh. Soalnya gak mungkin juga kerja 16 jam sehari, diseling kegiatan kaya beli rokok ke warung, beli belanjaan buat masak makanan, atau olahraga bentaran buat jaga kesehatan dan lain seterusnya. Gak mungkin fulltime sehari dipake gawe mah, pasti butuh rebahan.

Ngikutin waktu kerja kaya 8 jam sehari juga. Kadang kuatnye, cuman 1-3 jam sehari. Bener2 tidak profesional sodaraku. Tapi gak apa2, kadang bisa lebih bisa kurang. Tapi ya nikmatin kerjaan weh. Disamping ngehibur diri dengan berbagai media juga kadang melelahkan. Abis waktu, malah buang duit juga. Mending cetak uang, lipat gandakan kesempatan. Maksudnya teh gawe yang bener, biar cepet dapet duit.

Capek dah mikirin produktifitas, management waktu, ngatur2 diri sendiri: sebenernya gak lebih dari ‘mengenal lebih dekat dengan diri sendiri’, sadar diri gitu! Ya misalkan suka nunda2 kerjaan, ya mulai kerjain lebih awal, jangan dientar2. Kalo misalkan dibesok2in, ada alamat bakalan jadi di tahun2 depan. ~~~Dah pengalaman~~~So gaes, mulai dari sekarang, lakuin, selesaikan sekarang, beresin.

Deadline teh sebenernya bagus, bagus pisan sih, buat maksain diri tepat waktu atau bisa menuhin ekspektasi. Maksudnya ada jadwal sama mood yang ditingkatin dari keterpaksaan, milih pekerjaan buat diselesein segera, tepat waktu. Tapi sebagai orang yang abai sama waktu, dengan segala kekurangan diri yang emang dah dari sononye ~ngaret atau ~berlama-lama sama sesuatu, yang kadang itu juga gak signifikan buat progress dari kerjaan bertambah. Deadline teh jadi kerasa, maksain, … Tapi kok outputnya malah butut. —Ngerti gak? Jadi dah pake deadline, tapi giliran diliat lagi, atau mau di upload atau dicek ulang, kok kaya jelek gitu? Ada kurang di sana-sini, akhirnya balik lagi deh, ke kemampuan buat bikin visual atau karya lebih baik itu emang gak perlu deadline, terlebih buat kerjaan gue yang ngedesain font, orang 2 tahun mungkin bisa belasan font, atau lebih, atau mungkin ratusan? Gak tau juga lah ya, mungkin aja sih kalo ngetim, tapi timnye gede, super gede mah. Mungkin2 ajalah. Apa yang gak mungkin sih di hari ini? …

Nah balik lagi, deadline di gue gak bakalan kepake, soalnya skill gue masih burik, buat skedar ngebuat font atau visual, asa kurang weh gitu. Masih belajar juga workflow, teknis juga kurang, apalagi teori, kadang gak nempel di otak, kadang baca, terus lupa. Sampe, mungkin iya sih gue terlalu prefeksionis atau mungkin berlebihan sih sama kerjaan sendiri. Jadi nambah beban aja sih. Tapi mungkin gue terlalu santai juga, mungkin weh gitu ngerjainnye, gak sadar, sadar2 dah mau 2 tahun gue gak upload font lagi. (Jangan dicontoh gaes, gue buruk pisan soal produktifitas teh).

Nah bandingin ama produktifitas gue yang dalam 2 tahun terakhir. Gak nambah2 font lagi. Tapi biarinlah, PAKKKOPP deadline, tetep fokus produksi ajalah, biarin lama juga. Yang penting berkembang, ada yang dikerjain, toh kerjaan banyak atau dikit juga, duitnye segitu2 aja. Syukur kerja banyak duitnya banyak. Tapi ya udah lah kita skip aja, soal deadline, produktifitas, ama kedirian ini.

Okeh, Sebagai orang yang sibuk (Baca: sok sibuk!) sudah sepantasnya apa yang dikerjain teh bermanfaat. Sebagai freelance graphic designer, seller preloved, type designer, kerja terus yang penting sibuk. Entah kapan beres. Ya sudahlah, tetap jadi pribadi yang jujur, meski sadar bodoh atau masa bodoh itu gak bagus juga kalo kebanyakan. Entar lupa diri ama masalah deadline, produktivitas, ama kegiatan laennya. Jadi ya begitulah brother.

Gak ada yang sempurna, persis draft font dibawah ini. Jelek ya? Hahahaha… Biarin, yang penting gawe ajalah, daripada nganggur.

Mari kita ngefont! Markifont!

Membaca text-text di layar secara berkala, menulisnya dengan mengetik 10 jari didepan laptop, di bagikan di blog personal wordpress ini

We write to taste life twice, in the moment and in retrospection. We write, like Proust, to render all of it eternal, and to persuade ourselves that it is eternal. We write to be able to transcend our life, to reach beyond it. We write to teach ourselves to speak with others, to record the journey into the labyrinth.

― Anaïs Nin

Sesungguhnya output tulisan-tulisanku tidak lebih baik dari hasil akhir tulisan-tulisanku sebelumnya. Dari postingan-postingan sebelumnya masih saja buruk, juga begitu-begitu saja. Apa yang akan diharapkan dari tulisan personal? Apa yang perlu ditampilkan? Apa yang diceritakan? Apa kepentinganku berbagi cerita? Curhat? Atau ada kepentingan lain selain itu?

Jawabanku cukup satu: menghidupkan hidupku dalam sebuah text. Dalam sebuah… Apa ya? Mungkin dalam tulisan-tulisan personal yang tidak penting sekaligus penting bagiku untuk berbagi. Dalam tulisan tersebut aku memberikan data-data, mendeskripsikan diriku sebagai diriku menurut versi diriku saat itu. Menjelaskan siapa aku, bagaimana aku berfikir, bagaimana aku ada. Keberadaanku dalam keseharianku dalam sebuah waktu pada masa tersebut. Ketika waktu dihentikan sesaat, ditulis ulang dengan segala apa yang kurasakan.

Akan menjadi penting, jika kepentinganku adalah membuat citra diri yang menjual. Menjual kemampuanku kepada pengikutku di wordpress, menulis kemampuanku yang bisa menjadikan pundi-pundi. Menghasilkan pekerjaan yang bisa membiayai hidupku, juga memberi waktu produktifku untuk mendapatkan perannya sendiri. Menghasilkan uang juga menyenangkan orang tuaku. Memberinya sebanyak mungkin uang, atau mencukupi keperluan hidup kami bertiga. Ibu, Kakak juga diriku sendiri. Bagiku uang adalah masalah yang selalu aku dapatkan selama ini. Aku terlalu bodoh mencarinya, terlalu mudah menyerah saat mengerjakan suatu proyek demi mendapatkan suatu penghasilan.

Dalam perjalanan blog personal ini, banyak ide yang berkembang. Sudah berkali-kali aku menceritakannya. Membuat Novel Tipis, Manga, Anime, Lirik musik Rap, membuat Typeface, melanjutkan Toko Pre-Loved dan lain sebagainya. Yang mungkin semua orang sudah tau, kalo hal tersebut baru saja Proses. Inputnya sudah banyak, bahkan postingan di blog saja sudah ada 209, 2 postingan terkahir aku tunda, dijadikan draf yang entah kapan juga naskah itu akan selesai. Alasannya sudah pasti kalau bukan tidak baik secara kepenulisan, juga kurang puas juga menulisnya hingga tak selesai-selesai. Bahkan terkatung-katung diselesaikan ditengah proyek-proyek yang sudah ku sebutkan barusan.

Proses dalam kreatif, atau proses kreatif maksudku sering tidak jelas arahnya tanpa aturan yang konsisten dari Manager Proyekku: Ibu Kandungku. Ibuku sudah bosan menunggu uang yang kuhasilkan dari beberapa hal yang sering ku kerjakan. Font yang tidak kunjung selesai, Jualan Pre-Loved yang masih saja malas kuunggah ke marketplace. Beserta kegiatanku saat menyelesaikan desain-desain kebutuhan branding footwear dengan temanku.

Pekerjaan itu digantikan dengan rebahan maksimal, dengan kegiatan kontra produktif berserta mata rantai kemalasan: berlama-lama didalam sosial media, akun-akun sosmedku banyak yang ku buka, sekaligus menikmati konten-konten yang ada pada beranda, menemani diriku dalam kebersamaan dengan orang-orang lain di sosmed. Menjadi warga internet di dunia garis-hidup/online.

Saat itu, bukan… Saat ini saya sudah tidak merasakan kesepian. Bukan lagi saat ini saya punya teman, atau ada hubungan dengan kebersamaan. Lebih dari itu saya punya kesibukan yang menemani hari-hariku. Mengerjakan sesuatu: mendesain proyek-proyek; membaca berbagai buku; mulai kembali menunaikan ibadah rutin harian; mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyebut namanya berkali-kali dalam hati, meminta, memohon,, berlindung pada-Nya; banyak juga kegiatan lainnya. Saya menyibukan diri dengan segala hal yang biasa saya lakukan, hingga tidak sadar bahwa saya masih sendirian, masih tidak memiliki wanita, masih tidak berpenghasilan layak, masih bekerja seenaknya dengan pendapatan yang sebegitu-gitu saja. Saya harus bekerja lebih baik lagi, demi berpenghasilan lebih layak. Saya, bukan, maksudku Ibuku sudah bosan menjadi orang miskin. Sudah 9 tahun aku lulus kuliah sebagai Desainer Komunikasi Visual, ijazah telah kudapatkan. Pernah bekerja selama 7 bulan, tetapi sekarang Ibu sangat menginginkanku lebih mandiri. Berpenghasilan. Bisa hidup dari pekerjaanku, bukan dibantu terus oleh Ibu secara finansial.

Untuk saat ini, menulis tulisan seperti ini sama saja mengulang-ngulang kembali tulisan-tulisan yang sudah saya tulis sebelumnya. Nyaris tidak ada bedanya dengan tulisan-tulisan tersebut. Satu atau dua sama sekali tidak ada perbedaan yang mencolok. Dengan gaya penulisan yang mungkin sedikit berbeda, saya sedikit merasakan ada sebuah perbedaan ketika menyampaikan tulisan dengan bahasa baku yang terasa serius, bisa dipercaya atau terasa layak baca. Ketika saya menulis free talk dengan sekali tulis tanpa editing terasa seperti sedang ada dalam podcast atau ngobrol biasa. Terlebih menggunakan bahasa keseharian, yang tidak baku seperti ini. Ya nampaknya saya sadar: bahasa adalah suatu perasaan tertentu yang ada dalam rasa itu sendiri. Maksudnya ada rasa dalam suatu bahasa tertentu, dengan gaya bahasa atau gaya tulisan, bisa memberikan rasa, perasaan tertentu yang hal ini baru saya rasakan sekarang. Lebih kepada sadar kepenulisan saya sudah ada beberapa perbedaan rasa, yang baru-baru saja terasakan sekarang. Bukan berarti dulu tidak terasa, maksudku lebih ada perkembangan dari rasa yang dulu, saat menulis dengan mencoba berbagai gaya dengan cara-cara menulis sesuka hati.

Sekarang buku penelitain skripsi, tesis, desertasi berhenti kubaca. Ada kepentingan lain dalam hal lain. Kuharus memeriksa 200 buku yang baru saja ku dapatkan dari Tante Bogor. Tentu saja tak ku baca semua, selain waktu juga aku akan menjualnya juga di marektplace lokal. Menjual buku berbahasa Indonesia ini. Menyenangkan Ibuku, yang bagi seorang yang melahirkanku ini buku yang ku jual bisa menambah pemasukannya, bisa memperkuat ekonomi keluarga. Ketika 10% dari 200 buku, tunggu maksudku barang, ada 20 VCD juga didalam barang jualanku, ya ada 200 produk pre-loved yang hendak kujual, jika 10%-nya, berarti 20 barang, bisa hingga Rp. 400.000 yang kudapatkan. Pukul rata barang itu Rp. 20.000. Bisa lebih atau kurang, kuambil saja rata-ratanya.

Ya begitulah hidup, membaca, menulis, membagikan.

Dengan ketiga hal tersebut, aku merasa bahwa saya sendiri adalah sebuah media yang bisa menjelaskan diriku ini siapa, kemana aku akan pergi, dimana aku sedang berada sekarang. Tujuanku menulis tak lebih hanya menjelaskan diriku sedang apa, kadang aku menulis yang akan kulakukan, kadang juga aku menulis yang pernah kulakukan. Banyak hal yang ditulis, tidak cukup menarik memang, dengan gaya kepenulisan yang perlu ditingkatkan. Kadang menulis ulang tulisan orang lain, dari strukturnya, diambil logika yang sama, atau esensinya, dengan mengembangkannya melalui contoh lain dari diriku sendiri. Tulisan baru pun terlahir dari proses seperti ini. Bisa berakhir jadi sebuah tulisan baru yang di upload di blog personal ini. Ada yang berakhir jadi draft tulisan di komputer yang tidak diperbeharui.

Saya menikmati proses menulis, menjelaskan diriku, saya juga sangat senang tulisan personal orang lain yang saya baca. Saya bisa menikmati ia menceritakan kejadian yang tertulis. Saya senang dengan kejadian ke kejadian berlangsung. Kadang saya sendiri bingung juga kenapa saya tidak bertanya banyak hal padanya di kolom komentar? Memintanya menjelaskan lebih dari yang ia tulis. Atau kenapa juga saya tidak bertanya lagi dan lagi padanya? Mungkin saya terlampau tidak bisa bertanya, atau merumuskan pertanyaan pada suatu kesempatan. Mungkin juga pertanyaan tidak penting yang saya tanyakan nantinya, membuat saya enggan untuk bertanya. Jadi lebih memilih diam, daripada takut salah, atau mungkin mengganggu.

アートは人生そのものです Āto wa jinsei sonomonodesu: Seorang yang berkarya dengan kemampuannya

Art is anything you can get away with.

– Andy Warhol

Sejak kecil saya suka mengambar. Dari awalnya meniru: mulai dari karakter2 anime, komik amerika, hingga mengambar motor-motor yang juga dari meniru teman di Sekolah Dasar. Teman SD ku ini sering menggambar Moto GP. Dia kini menjadi arsitek, masih juga mengunggah foto-foto diorama, miniatur, figur Moto GP. Entah motor apa yang pasti, saya tidak tau selain motor ber CC-besar digunakan untuk balapan di sirkuit-sirkuit internasional.

Saat itu menggambar adalah hobi yang menyenangkan, aku sangat menyukai menggambar, ketika senggang aku menggambar. Saat SD Pekerjaan Rumahku jarang aku kerjakan di rumah aku lebih memilih datang lebih pagi, untuk mengerjakan PR disekolah, maksudnya meng-copy jawaban dari teman. Aku hampir selalu menyontek PR kawanku yang lebih pintar di kelas. Jadi untuk apa juga aku belajar mata pelajaran waktu SD, kalau waktu itu untuk membaca buku saja aku malas, belum lagi waktu bocil tersebut aku sangat gemar akan bermain Play Station.

Selain mata ku yang minus, juga waktu itu PSX sudah ada dirumah, saat Abang Sagat membawanya untuk disimpan di Rumah Nenek. Saat itu aku masih bertempat tinggal bersama Nenek, Gaek, serta Almarhum Ayah, Ibu juga Abang, yang juga Kakak Kandung ku.

Bermain Grand Turismo 2, dengan melanjutkan gim dari Abang Sagat, kadang bermain dengan sepupuku, seorang yang kini menjadi Dokter Gigi di Bogor, juga bersama Abangku yang saat itu masih SMP. Kami bermain saling bergantian, jika pada suatu hari kami ada dirumah, sama, kami melanjutkan materi gim permainan dari Abang Sagat, uangnya sudah ratusan juta dolar US dengan berbagai macam mobil super yang ada digarasinya. Benar gim yang membuatku bermimpi memiliki kendaraan beroda empat dengan kecepatan yang luar biasa bagai kecepatan cahaya dalam kilatan petir. Beberapakali, saya bermain sendirian, oh iya Abang Sagat sangat jarang pulang ke rumah Nenek. Jadi konsol gim ini aku mainkan sepulang sekolah. Kadang sepupuku yang kini menjadi seorang Ibu juga bekerja sebagai Dokter Gigi saat itu pulang setelah magrib, Abangku yang bekerja sebagai driver sekarang, pada waktu itu pulangnya juga saat malam di hari tersebut. Abang Sagat sekarang bekerja di Bank Negri sebagai kepala wilayah di sebrang pulau.

Pada saat itu, bermain sendirian sangat menyenangkan. Begitu seterusnya hingga PSX pinjaman ini, tidak ada di rumah Almarhum Nenek, berlanjut aku memiliki PS One saat mendapatkan sejumlah uang dari hasil ibadah sunnah mensunat kelamin pada seorang lelaki muslim. Aku bermain PS. Kadang teman-teman SMP ku datang berkunjung, bermain bersamaku. Atau kawan-kawan SMA Abangku datang bergrombol. Pemuda-pemuda yang lebih tua dariku 3 tahun. Seseringnya bermain adu kesebelasan dalam suatu klub bola melawan football club lainnya.

Mungkin saat SMP inilah, saya lebih banyak menonton bokep, bermain PS One, berkumpul di warnet gim online. Waktu menggambar saya sangat sedikit dibandingkan dulu, teralihkan oleh gim, dunia virtual menghilangkan kebiasaan produktif di waktu luang. Saat itu demikian, saya meninggalkan dunia berkesenian ketika pensil 2b menari diatas kertas kosong pada buku gambar. Menghasilkan ilustrasi pin up, sudah tidak ku kerjakan lagi. Bisa dikatakan aku sudah lupa dengan kebiasaan lamaku saat SD di masa SMP ini.

Banyak gim yang kukoleksi, gim balapan, berkelahi, sangat sedikit sekali gim petualangan, rpg, atau gim yang membuatku lebih berfikir untuk menyelesaikan permainan, aku lebih menyenangi bermain adu jotos dengan lawan, mengadu kecepatan jariku ‘tuk mengeluarkan jurus-jurus bela diri melawan komputer sebagai latih tanding di hari tersebut. Atau, balapan dengan mobil berkecepatan 981 Tenaga Kuda, dengan mobil-mobil lain yang berada dibawahnya. Atau memukul lawan lagi dengan stick baseball dengan memegang kendali sepeda roda dua dalam balapan motor liar, mencoba untuk menjatuhkan polisi yang mengejar dibalakang kami, atau disamping motor gede yang sedang saya kemudikan. Melumpuhkannya agar tidak terus menerus dikejar-kejar polisi sehingga saya lebih fokus untuk berada dipaling depan saat garis finish tiba.

Gim-gim tersebut sangat menyenangkan, sementara gim RPG atau petualangan sangat aku jauhi, selain aku terlalu buruk dalam berfikir strategis, bagaimana menyelesaikan perintah, puzzle, juga sangat tidak bersemangat memahami teks bahasa inggris dalam perjalannya berpetualangan di isekai. Gim sepak bola juga tidak begitu kusukai. Juga, … Sepak bola juga bukan tontonan yang kusukai saat berada di depan televisi. Selain itu, mungkin memang lebih senang mengedit status pemain bola, dimulai dengan gaya rambut, warna rambut, asesoris seperti kacamata, berserta skill serba status 19. Ketika bermain strategi melawan komputer selalu gagal. Susah sekali melawannya, sering kalah 0-1, 0-2, hingga 0-4, tidak bisa mencetak gol. Sulit sekali membobol gawang lawan.

Jika waktu itu saya punya kemampuan, juga teknologi informasi sudah mendukung untuk itu: bisa saja saya akan rajin menggambar, menonton YouTube, belajar hal dasar, sesuatu yang fundamental, mencoba mulai memahami 5 W + 1 H, tau akan pesan, juga kesan, bisa membuat garis yang tegas atau yang sesuai kebutuhan. Mungkin saya bisa masuk Institusi Pendidikan Negri di Bandung. Tapi ya seperti yang sudah saya ceritakan dahulu. Saya Gagal. Meskipun pada percobaan kedua sayapun sudah mengetahui cara menggambar dari mengikuti les privat menggambar, tetap saja saya tidak bisa memenuhi audisi, atau tembus masuk Institut Pendidikan tersebut. Selanjutnya saya berkuliah di jurusan DKV, Desain Komunikasi Visual, di Perguruan Tinggi Swasta. Lulus.

Seni yang saya tau, adalah seni terapan yang saya pelajari. Desain. Pekerja Seni yang komersil, seseorang yang berfikir untuk menyelesaikan masalah secara visual. Seorang Sarjana yang berlabel kreatif, mahasiswa yang punya teori dan pengalaman praktik yang baik selama 5 tahun lamanya. Tetapi membutuhkan 3 tahun untuk menyelesaikan revisi skripsi. Sangat tidak solutif, juga tidak kreatif pada realitanya. Kuliah 5 tahun, revisi skripsi 3 tahun, 8 tahun belajar, 5 tahun bayar kuliah, 3 tahun tanpa bayar kuliah, karena sudah diwisuda, dinyatakan lulus kuliah, tetapi masih memiliki hutang tugas akhir berupa penyelesaian karya tulis ilmiah ‘tuk mendapatkan ijazah. Tetapi… Ya, itulah memang saya, dahulu. Saya harus bersyukur telah melakukan, melewati segala hal yang sudah saya alami. Saya seorang yang biasa-biasa saja, tidak kurang tidak lebih. Orang yang mencoba, melakukan, maka saya akan mendapatkannya.

Bekerja mencari uang dari desain grafis, menjual visual, mencari solusi adalah tujuan yang digunakan klien-klien saya. Saat saya awalnya bersekolah, berseragama merah-putih, saya selalu kedapatan permintaan tolong, setengah memaksa untuk menggambar. Tapi saya selalu meminta uang, awalnya untuk mengurangi permintaan teman-teman yang tinggi. Terlalu banyak menggambar, sungguh melelahkan juga, meskipun saya sangat menyukainya.

Efeknya, saya dikatai Padang, saat menggunakan seragam biru-putih, yang dimaksud adalah konotasi negatif yang artinya merujuk kepada orang yang suka uang. Kasarnya: Suku Minang itu Mata Duitan. Tetapi biarlah, saya juga tidak mau banyak menggambar untuk orang lain, terlebih disuruh-suruh itu tidak mengenakan, saya tidak menyukai arahan. Kadang kala arahan dari teman yang meminta gambar juga tidak jelas, ketika selesai malah dibilang jelek, maksudnya tidak sesuai keinginan dia. Tetapi, ya memang begitu, ada percobaan yang dilakukan, ya ada hasil yang didapatkan. Sebenarnya memang sayanya saja yang kurang ahli dalam menggambar ilustrasi pin up.

Berbeda ketika nanti saya belajar les private menggambar saat lulus SMA. Saya selalu mendengar, mencoba memahami, menyimak setiap guru les yang mengajarkan cara atau pandangan lain yang biasanya saya keukeuh. Belajar bagaimana menjadi seorang mahasiswa nantinya. Pada saat les setelah lulus SMA ini, perkembangan saya menggambar menuju puncaknya, dimulai dari hal teknis dasar, juga pemaham komposisi, juga strategi saat menyelesaikan karya di kertas A2. Juga belajar kegiatan2 lain seperti quiz atau hal lain yang berhubungan dengan menggambar.

Selain itu, saat SMP, kembali ke SMP lagi: Menggambar hal mesum juga kadang saya lakukan. Saat itu sempat beberapakali menonton hentai, sambil onani mengeluarkan peju, coli begitu nikmati sambil menonton bokep. Selalu ada rasa dosa sesudah melakukannya, lalu meninggalkan shalat. Bahkan terkadang merasa minder, saya berubah jadi anak yang kurang pecaya diri, tidak bisa berbicara didepan wanita, saya pemalu akan berbicara didepan lawan jenis, padahal saya mencintai wanita. Pada akhirnya saya memiliki pengalaman pertama berpacaran dengan teman sekelas waktu SMP, dengan mulai membiasakan berbicara dengan lawan jenis, cinta monyet pun menjadi sebuah cerita yang saya alami pada waktu tersebut.

Saat bekerja sebagai freelancer illustration untuk sebuah permintaan klien, saya mengerjakan gambar sketsa, ilustrasi untuk anniversary seorang kawan. Hasilnya dibayar lima ribu rupiah, kasihan, gambarku tidak mirip dengan pacarnya. Waktu itu sudah memasuki kuliah pada tahun pertama di kampus.

Saat seorang temanku, seorang mahasiswa yang keluar kampus, sebab merasa bosan dengan desain, yang sama saja dengan saat bekerja dahulu baginya, dia memilih berusaha kaos. Mendirikan clothingline, memintaku membuatkan desain kaos, aku buatkan 12 desain kaos dalam 1 artikel, hingga 3 kali artikel berhasil terjual, dibeli olehnya. Oh iya 12 artikel pertama dibuat untuk kebutuah pekerjaanya, sementara artikel terakhir untuk unit bisnis tees-nya. Membuat logo, membuat ambigram, membuat presentasi, membantu tugas akhir teman sekelasku, hingga akhirnya lulus. Banyak pengalaman juga ya aku ternyata, meski tidak sering atau terlalu banyak juga. Alhamdulillah aku bersyukur pernah lulus kuliah, punya ijazah, punya pengalaman kerja, dulu juga sempat kerja praktek di Radio Swasta, membuat roll banner, hingga akhirnya aku mengenal zine, membaca blog, suka menulis di sosmed, membuat blog personal juga, akhirnya karya tulisku ku unggah.

Sempat berkenalan dengan menjual lisensi penggunaan komersil sebuah font. Mengfokuskan diri di tipografi, melupakan diri seorang ilustrator amatir yang mengerjakan beberapa projek ilustrasi kaos. Mulai melamar ke marketplace, menyodorkan font yang ku kerjakan, dari 2 marketplace, semuanya ditolak, membuat email baru hingga gagal lagi. Selalu gagal. Revisi skripsi yang ku kerjakan ku tunda, proyek musik yang kubuat juga tertunda juga, aku lebih fokus mengerjakan proyek font, melupakan tugasku mencari uang selepas wisuda. Tahun pertama, gagal, tahun kedua saya menjual seluruh barangku untuk menebus pinjaman uang untuk membeli hard disk eksternal untuk menjaga file yang kumiliki. Bagiku file-file di komputerku lebih penting dari sweater, kaset pita, cakram padat, walkman, mini compo, gitar akustik, buku, dan lain seterusnya. Semua ku jual demi membayar cicilan ke koperasi di komplek ku.

Hingga akhirnya aku bekerja, menjadi desainer grafis di toko yang menjual tak hanya spart part, produk motor, tetapi mendesain decal, sticker, serta kebutuhan grafis bagi sebuah perusahaan. Terkadang aku membawakan teh yang diperlukan pengunjung atas suruhan atasan, kadang kala aku mengepel lantai, menyapu, merapihkan toko. Aku diproyeksikan menjadi seorang kepala toko. Serta banyak hal yang ku pelajari dalam hidup ketika bekerja.

Sesungguhnya pekerjaan seni adalah membuat karya yang sesuai permintaan, kreatif menciptakan visual, pandai menggunakan aplikasi komputer, juga tau, paham akan bidang yang sedang di geluti diluar teknis merancang, ialah memahami konsep-konsep lain diluar desain grafis. Bisa bekerjasama dalam sebuah tim. Berkomunikasi yang baik. Membantu orang lain, berempati terhadap setiap karyanya. Manusiakan manusia. Memudahkan manusia, sebenarnya adalah tujuan Desainer Komunikasi Visual.

Bukan hanya paham teori, praktek saja, pengalaman atau mau belajar hal lebih dalam lebih dipertimbangkan, berpribadi bertumbuh, mau berkembang menjadi lebih baik lagi. Tau aturan, paham lisensi, hak cipta, bisa inovatif merancang sesuatu. Pekerja kreatif adalah seorang yang punya kemampuan penyelesaian masalah secara visual.

Saya A(sep)CA(sh)B(all) seorang yang tidak masuk kriteria kreatif, bukan orang yang solutif, bekerja serabutan, tidak punya pemasukan tetap dari pekerjaan lepas sebagai desainer huruf, desainer grafis, desainer komunikasi visual, seorang yang juga mencari keuntungan dari menjual produk pre-loved di marketplace. Seseorang yang bukan dirimu. Bukan siapa-siapa juga. Saya hanyalah seorang yang biasa-biasa saja. Saya ACAB!

Terlahir kembali, memulai dari awal

12 Agustus 2022, Jumat, 11.15.

Life goes on, and we have to keep coming up with fresh ideas.

-Max Cavalera

Semakin dewasa semakin abai gue tentang kehidupan gue. Mulai dari diri gue yang banyak masukan informasi, dari mulai kehidupan orang laen yang gue liat, dari kutipan, dari sosial media, dari kitab suci, dari obrolan2 orang, atau dari buku. Darimana semua informasi didapetin dari sesuatu yang dinamakan kehidupan. Bagaimana hidup dijalani atau bagaimana hidup dilakukan dalam setiap harinya.

Satu hal yang kumulai sadari, kesadaran, atau meningkatkan kesadaran yang pantas gue pastiin sih. Ya soal agama aja ya, gue rasa gue dah fix islam, apa itu yang soleh atau yang tertib sama tuntunannya. Gue rasa iya, tapi kadang rasa malas, bosan atau gue rasa gue terlalu overthinking soal itu, malah ngebuat gue ngehabisin banyak waktu sampe tahap, input, menuju proses. Outputnya malah gitu2 aja.

Solat mulai gue jalanin rutin 5x sehari, mulai jarang baca Al-Qur’an, lebih memilih baca buku, sama mulai ngurangin sosmed, sama milih mulai nonton vcd lawas, mulai banyak tidur lagi, sama banyak makan.

Permasalahan? Atau rumusan permasalahannya. Gue mulai sadar diri sekaligus mulai meningkatkan kesadaran. Soal gimana gue ini teh? Mau gini2 aja? Atau gue mau jadi lebih baik lagi dengan ngeoptimalkan potensi gue, kelebihan, peluang gue? Atau gue masih setiap idup gitu2 aja dengan segala hal yang ‘gue dah sadar’ kalo itu teh kayanya emang gak bagus? Jadi apa yang mesti gue pikirin, lakuin buat hal tersebut?

Jam segini, 11:22, dihari jum’at, gue dah ada di suatu Mesjid. Solat sunnah mesjid, ngejalanin Solat sunnah Dhuha, berdzikir, sampe ketiduran.

Sekarang tadi gue malah, bermaksiat: PMO, terus mandi wajib. Gue ngambil duit sedekah Ibu sebesar 2rb buat gue beliin rokok kretek, Dji Sam Soe. Gue mulai menulis lagi. Nulis tulisan ini yang sedang lo baca.

Kadang gue mikir? Hemmm, gue teh pengagguran gitu? Atau gue teh islam yang kurang taat? Atau gue apa ya? Kaya redefinisi personal gue ini siapa? Gue apa gitu?

Ya gue seperti ini?

Okeh2, kita kembali ke soal kesadaran. Kesadaran gue bakalan tinggi, semaksimal mungkin kalo gue dah cemas, curiga, bahkan halusinasi, penyakit jiwa yang gue alamin kalo gue kumat. Tapi gue sekarang lagi stabil, bahkan penuh kesadaran buat nulis ini. Sedangkan kewajiban shalat jumat gue ganti dengan solat Dzuhur. Mungkin. Mungkin aja gue solat, tapi gue dah milih buat solat sih sekarang2, soalnya gue rasa gue semakin sadar dengan tujuan gue. Dengan segala halang yang gue dapetin.

Gue pengen Surga Bro.

Gue pengen jadi penghuni Surga Firdaus. Gue pengen jadi orang soleh, gue pengen jadi orang bener, orang yang baek, gue pengen jadi Islam yang taat. Gue pengen jadi sesuatu hal yang baik, sesuatu yang gue percayaain gue lakuin, gue terima segala apa aja yang ada dalam hidup gue. Maksudnya gue pengen jadi sesuatu dengan segala kekurangan, kelebihan gue. Meski ancaman masuk neraka atau jadi sesat dateng, atau gimana ya gue pengen jadi pengikut nabi muhammad yang masuk ke Surga Firdaus.

Satu hal yang pasti itu, tujuan utama gue buat di Akhirat.

Buat di dunia? Ya gue bakalan tetep jadi font designer, Jualan Pre-Loved. Jadi pengusaha, pekerja mandiri, jadi gitu ajalah. Udah gak perlu mikirin apa2 lagi. Jalanin weh.

Soal kesadaran lain. Ngerokok gak sehat, gue sesek nafas pas jalan dari Padasuka ke Rumah gue di daerah Jati Handap Atas. Gue berasa gak bisa nerima kondisi paru2 gue yang dah gak kaya sebelum gue ngerokok gini. Kebanyakan ngerokok, permasalahannya gak cuman itu. Gue juga bermasalah finansial, sama emang berencana mau berenti total ngerokok. Gue pengen sehat, punya paru2 sehat, sama gak sesek lagi kalo jalan lama gitu. Gue pengen seger aja gitu, gak pengap. Atau kehabisan nafas kaya kemaren.

Soal Pernikahan atau nyari jodoh, gue rasa gak perlu dipikirin lebih jauh. Target gue lagi punya pasangan, dia cewe yang gue suka. Tapi gue rasa dia gak bakalan nerima kalo penghasilan ama masalah finasial gue ini belum stabil. Cewe mana sih yang mau cowonya kemana2 nolak, gara gak punya duit, dengan alasan sorry gue lagi sibuk, ada kerjaan, padahal kerjaannya belum ngehasilin duit, atau mungkin gue ngerjain sesuatu dengan sangat-sangat-sangat lelet yang juga itu gak efektif juga buat berpenghasilan. Dengan kata lain gue bokek, tapi sok sibuk.

Ya untuk masalah bokep-coli-crot, abokep zine, gue juga belom nulis lagi, gue lagi sibuk motoin buku2 yang dikasih Tante gue, belasan VCD juga lagi gue cek, apakah skip2, atau lancar, kalo lanjay, ya gue jual, kalo kaga juga gue kasih keterangan kalo itu ada skip di menit, detik ke berapa.

Gue dah punya Ijazah S1 DKV, gelar gue S.Ds di ujung nama gue. Gue punya pengalaman juga soal kerjain tugas kuliah, gue juga sempet kerja 7 bulan di toko, gue juga dah masuk MyFonts, gue punya Online Shop, gue jualan di IG, FB, gue punya temen online, gue punya kesibukan laen kaya buat desain grafis buat brand Footwear temen gue yang lagi dibangun buat produksi ma dijual di lokal. Gue cukup sibuk bukan? Gue juga cukup kompeten untuk menghasilkan uang dari latarbelakang pendidikan atau kemampuan dasar gue sebagai desainer komunikasi visual. Mau apalagi? Ya kerja aja udah, nyari duit.

Okeh. Okeh… Okay!

Kesadaran gue yang laen, gue juga gak memposisikan gue sebagai orang dengan skizofrenia yang butuh kasian, atau terima jatah kasian. Tapi jujurly, ya gue rasa gue punya banyak hal yang harus disyukuri untuk hidup.

Pertama, gue seorang yang enjoy ama idup gue, gue punya kemampuan buat nikmatin berbagai hal dengan kekurangan tidak fokus, ama lelet, gue juga punya hobi belajar ama ngembangin diri yang cukup buat jadi orang yang punya nilai lebih dari sekedar pekerja visual, gue juga pengen jadi penulis, gue juga berdagang, gue juga buat produk, gue juga sempet kemaren2 buat lagu baru lagi, gue juga nikmatin hidup pisan.

Tapi… Tapi gue teh ngerasa itu semua gak bakalan pernah cukup. Gak bakalan selesei2 kalo gue gak bisa dapet duit. Kalo minta2 rokok ke nyokap, atau dikasih uang jajan buat pergi ke Grha Atma buat kontrol sebulan sekali itu bisa dibilang jajan gue yang cuman 25rb bisa gue manfaatin buat gue tabung, buat beli buku: The Revolution of Everyday. Buku yang pengen gue baca buat hari2 kedepan.

Terus apalagi ye? Gue pengen, euhhh, pengen ini, … Apa…. Pengen hal2 baik yang gue lakuin itu terbukti bikin gue idup jauh lebih baik, dengan mengurangi, atau memilih hal yang lebih penting yang lebih bermanfaat, lebih baik daripada gue tidur2an gak inget waktu, males2an, atau nulis2 gak jelas kaya gini, atau sesuatu hal yang jauh dari cari duit dibandingkan sibuk gak tau apaan yang dikerjain ini teh bakalan berpotensi mendatangkan uang. Gak eazy money, tapi nyaman ama enak aja gitu dilakuin. Nulis memang menenangkan, sekaligus menghabiskan waktu, pikiran, tenaga gue sih.

Nulis kaya bikin sesuatu yang enak tapi, sebenernya gak ada manfaat banyak, kaya buat cari duit.

“Solat Jum’at kurang dari 10 menit lagi, bagi warga yang ingin Solat Jum’at. Sekali lagi, waktu kurang dari 10 menit lagi.” Suara dari pengeras suara kedengaran di kuping gue waktu gue nulis ini.

Perasaan gue, gue milih tetep buat gak solat jumat, sama tetep milih solat dzuhur.

Soal idup hari ini

“If you’re going through hell, keep going.”

-Winston Churchill

Akhirnya aing bisa produktif lagi. Bisa buat font sambil dengerin podcast, interview, ngaji filsafat, jadi ilmu yang bermanfaat dapet, kerjaan juga dikerjain, bener2 paten dah. Nah informasi yang gue dapetin teh, ya dari pengalaman2 orang yang ngobrol2 itu tadi sih, soal penulisan, tatacara penulisan, fenomenologi, atau apalah gitu, kaya radio yang dolo gue dengerin sepulang sekolah dulu, biarin gue tau kontennya gak kaya gini juga sih. Biasanya radio mah soal musik, atau horror, itu aja sih konten2 radio yang gue suka, gue ngejauhin soal berita, ama kadang2 sih dengerin juga soal pengetahuan umum yang sebenernya sekedar informasi2 yang gak penting2 amat, setalitigauang ama iklan2 berkedok tema acara, titipan sponsor. Ya konten2 teh ada sisi komersialnya juga sih di siaran radio mah. Wajar. Pengetahuan umum, atau umum2 gitu bukan berarti penting sebenernya mah, kadang emang lupa juga, kadang malah jadi tau, itu, oh ini teh ini. Oh lagi musim ini, dan lain seterusnya. Cuman buat sekedar tau doang, itu, gak penting juga sih ya? B aja. Entar juga lupa.

Wah kalo gue bilang mah ya, sebenernya banyak hal menarik yang dibahas dari YouTube itu teh, proses menulis satu buku novel teh gak sebentar loh, 9 bulan, 5 hari kerja, 9-5, nine to five, yang mana nulis teh butuh effort, asli, gue jadi makin tertantang buat nulis yang gue pengen tulis. Pengen bisa nulis. Tapi da tetep gak gampang juga sih sekedar tau tanpa praktek mah, dah 1 dekadelah, gue nulis. Hasilnya apa? Ya… Jelek. Jelek pisan hasilnya teh, banyak hal yang gak gue peduliin disisi penulisan teh, kaya buat parafrase, asal comot, tanpa nyebutin teori darimana, pendapat siapah gituh, konteks juga kadang kemana2, cerita ngelebar, gak tau ujungnya, mindblowing teuing kusut weh eta mah, lain plot twist oge deui, emang sturkturna weh, abstrak, bahkan kadang gak fokus sih rata2 tulisan gue teh, sama emang gak penting2 amat dah, eh kalo dibaca2 lagi, malah bener2 jadi sesuatu yang gak pentinglah, aslina, justru jadi yang gue peduliin sekarang ni mah, gimana bisa nulis novel, awalnya emang light novel, tapi abokep zine 1-13, yang volume *12-nya salah ketik lagi, jadi gak ada, bisa dibilang cuman 12 edisi sebenernya. Ya kalo dipikirin sih, mulai dari … Hmm soal kedirian gue ama belajar jadi diri sendiri juga ya, yang mana itu teh, pada akhirnya yeh, balik2 lagi jadi orang laen kalo kata gue mah. Gue berubah jadi pribadi yang gak gue sangka aja. Jadi kaya orang2 weh gitu.

Ya nih, kan kalo dulu gue benci musik pop, benci hal2 yang pop. Sok idealis, sok indie, pokoknya yang gak ‘pasaran’ gue kejar, gue nikmatin, kadang gue produksi lagi jadi sesuatu. Ada yang jadi tulisan, ada yang jadi musik, ada yang jadi kehendak gue buat berkuasa, berdaya cipta. Gue bisa buat tulisan yang jelek tadi, karakternya emang goreng weh kitu, gue juga bisa buat musik yang jelek pula, pokoknya yang jelek2 gue bisa buat weh. Emang geus alam bawah sadarna nyieun nu goreng2. Ini kualitasnya, ya menurut gue pribadi teh buruk weh, kitu, perlu diperbaiki sih, gue dah sadar jeleknya teh dimana. Gitu. Nah waktu dolo teh, gue rasa ya, mainstream itu jelek… Dulu teh gituh. Padahal di mainstream teh bisa belajar banyak hal soal ‘kebanyakan’, atau diterima ‘khalayak’. Bisa juga belajar proses produksinya atau ‘produksi massal’, gimana weh caranya karya teh diterima publik, dengan penjualan baik. Syukur bisa buat trend ma jadi pionir. Itu gue dulu, yang gue inget, gue gitu orangnya teh. Soalnya ya suka weh dengerin musik, suka weh baca zine2.

Pokoknya beda itu keren, mesti beda, pokoknya harus keren, harus personal, gak boleh ada sudut pandang orang laen yang ganggu, apa ya? Harus nyeritain diri sendiri, atau kudu beropini, biarin 1-2, atau gak penting sekaligus. Ujungnya malah keliatan sok tau, gak tau artsy atau gimana ya gue, edgy atau gimana ya gitu lah gue. Cenderung kampring, kasumpay, try to hard yang, tetep weh gitu, yang gak mau berenti mencoba buat sesuatu itu tercipta. Ya bagusnya gue gak berenti nulis, gak berenti baca, meski akhirnya gitu. Ya tulisannya butut, struktur juga gak tau dah, kaya yang gak ada arahan yang jelas mau dibawa kemana, kadang kala itu teh yang ngebuat gue pengen ngerapihin Abokep zine jadi lebih baik lagi. Di Abokep sendiri gue nulis ya pengen SARA, Hoax, atau konten eksplisit, vulgar, pokoknya ya buat yang tulisan yang dilarang, atau bikin sesuatu yang bener2 gak boleh jadi sesuatu yang bisa gue kerjain di 2014 dolo. 2019 itu versi yang di upload disini sebenernya, ada juga sih versi yang gue delete, lebih tepatnya, kedelete, untungnya gue sempet upload dulu, yang lamanya. Yang barunya versi lebih panjang dikit, dah hilang, dihapus di reycle bin pas gue halusinasi ama delusi. Soalnya gak tau gimana ya, ada mentahannya da, yang mana gue sendiri kena skizo itu 2016 ya, jadi ada sekitar 2 tahun gue ngerjain tulisan itu, baik dari nyari referensi berupa berita lokal, atau soal cara menulis novel. Sebagian ilmunya gue pake buat nulis blog, sebagian lagi, gak ada yang bener kepake. Ya kadang lupa juga.

Mungkin dari kurang tidur, banyak mikir, ngeposisiin diri ke masa lalu, ama buat tulisan2 gue jadi ngerasa masih terjadi. Bukan yang dah berlalu biasanya dilupakan, tapi gue ngebuat itu bener2 deket seakan itu terjadi kemarin, atau hari ini. Dari sana mungkin gue depresi, atau ngerasa diri gue buruk, meskipun gue buruk, bukan berarti gue pantas untuk cukup sampe disitu sih. Ya mesti rebirth, redesign, revolution. Tagline kegedean yang sering gue buat buat karya vector gue selama rentang 2011-2014. Gue ngerasa gue perlu memperbaiki diri, gue ngerasa down, da gue selalu mikirin masalah, nyari solusi, permasalahnya personal, yang mana perlu penyelesaian secara personal juga. Ya gimana ngejalanin idup, ngerubah idup jadi lebih baik weh gitu. Pengen jadi orang bener, waktu itu mungkin gue nulis soal No Fap itu bikin gue jadi down deh. Beneran, semua waktu gue pake buat tulisan itu. Pas gue baca sekarang, ya gitu. So so, bahkan, jelek malahan, bisa dibilang gitu. Tapi dari tulisan itu gue malah depresi, atau down, padahal hasilnya kalo dibaca sekarang ya butut weh. Eh iya soal depresi, gue dah cerita di post2 sebelumnya.

Sekarang gue dah sedikit ngerti penerapan copywriting di sosial media, mulai dari belajar jualan, mahamin pentingnya informasi yang disampein, mulai dari foto, copy-nya sendiri, ama produk2 yang bisa dijual disosial media, tukang loak weh gitu. Sesederhana dalem buat postingan jualan tuh: ngisi ini, nama produk, kondisi produk, minus produknya apa, plusnya apa, ama harga terakhir, terus suruh inbox/comment. Gampang kan? … Gitu doang mesti ada referensinyalah, asli, kaya gitu. Mesti direferensiin juga sih, da kalo gak ada, ya gak enak juga. Seengaknya gak mikir mesti gimana, cukup liat yang biasa orang2 lakuin.

Tapi gak ngerti2 atau expert sih, da jualan atau nulis yang menjual teh susah2 gampang juga, tergantung waktu ama kondisi orang laen juga, yang aman kalo lagi butuh atau pengen atau lagi ada duit, gak ada duit, ya entarnya bakalan jadi beda juga sama hasil penjualan yang mana itu teh dari hasil orang tau produk kita ama apa yang didapetin dari produk, maksudnya tau dari sosmed, liat produk jualannya. Dari sana sih banyak hal yang menarik sih, gue pengen banget nulis lirik rap dengan teknik storytelling soal Forum Jual Beli-Tuker-Gratis di sosmed, pengalaman nganggur, ama jadi seller dadakan. Tapi ya gue mesti nulis2 dulu, buat draftnya, ama pahamin bar itu gimana, terus struktur musik rap gimana, ama apalah gitu, soal modal produksi, yang mana itu teh gak sekedar bikin sound bank, atau song bank gue terus gue isi pake rima2 gue. Tapi da aing teh, pengen pisan euy, ngerap, berbagi cerita kitu.

Eh, gue malah gak ngelakuin ide2 itu tadi, maksudnya tulisan gue pada akhirnya teh malah jadi gitu2 aja, kumahanya? … Ya maksudnya teh, tulisan gue teh karakternya remeh temeh, tapi pada saat gue bandingin ama penulis novel, gue masih nulis dengan cara yang gak menarik, atau bikin orang betah baca2 tulisan gue. Buktinya gak ada yang nyangkut. Gue juga sadar gak semua tulisan gue itu enak dibaca juga, juga emang gak rame2 amatlah, ah, gak rame weh, kalo tulisan gue itu vlog YouTube, mungkin yang nonton cuman puluhan, itu juga paling 20an, tapi gak tau sih. Gue juga bingung euy soal tulis2 kaya gini, gue teh tujuannya nulis teh kan awalnya buat ngeluarin tulisan2 gue di kompie ye? Terus pada akhirnya tulisan2 itu ilang2an, ada yang hard disk eksternal gue dead, ada yang kehapus gara2 gue skizofrenia, takut dikejar isilop, atau raksasa global, ada juga yang kehapus gara2 hp gue modar, ada yang gue hapus sendiri gara2 gue rasa gak penting, ma terus berulang weh gitu. Kaya apa sih, tulisan yang monoton, idup yang monoton, ama gak ada hal yang dapet gue bagiin ke orang gitu. Kaya beneran biasa2 weh gitu. Gak penting, gak usah diomongin, sama kaya slogan blog ini.

Ya gue tau tulisan harian, kaya diary gitu teh, karakter gue nulis selama ini, yang bener2 perlu dikembangin lagi. Perlu diulik lebih jauh, bukan sekedar nulis2 aja tanpa ada juntrungannya, mau dibawa kemana ama apa gitu, gue buat apa kek tulisan gue, kembangin gitu. Gue mau kok belajar nulis yang lebih baik daripada tulisan2 gue sebelomnya. Tapi da, kalo gue dah nyaman, dah biasa nulis model2 yang sering gue buat sekarang2. Gue rasa ya gak berkembang2 juga sih, kalo gue tetep mempertahanin itu. Makanya gue teh pengen belajar nulis lagi. Biar tulisan gue menarik, bisa nyampein pesen, tujuannya cuman sekedar berbagi cerita aja sih. Sama belajar nulis lebih jauh lagi, gak sekedar diary, tapi proses pembelajaran juga. Tetep sih, berbagi cerita. Ya maksudnya mah biar gue nulis lebih baik dari sebelomnya.

Nulis katanya gak jauh dari membaca, jadi, perlu bacaan yang dibutuhin sesuai konten yang gue buat.

Copywriting di sosmed yang gue tau, ya gitu, paling kelebihan, kekurangan, peluang, ancaman, CTA, terus deadline, sama mungkin diskon 50%, sama pake katakunci buat pake diskon tadi, terus apalagi ye copywriting teh. Lebih ke menjual produk/jasa dengan kata2lah. Dah gitu doang. Sementara tulisan2 gue gak ada tuh menjual produk, gue gak ngasih info soal link atau bahkan hard selling. Malah long story, hidden selling, yang mana, gue gak ngasih CTA buat segera beli barang gue. Gue gak ada tujuan itu, cuman berbagi cerita yang mana gak ada rasa2 apa ya, kaya pantes gak pantes, atau apalah gitu.

Ibarat kata gue pelukis nih: Gue lebih kaya ngelukis diri sendiri, dalam kanvas, terus pindah ke kanvas baru, ngelukis lagi, kadang sedikit2 gue liat lukisan2 orang, kadang juga gue malah fokus ngelukis yang baru lagi. Kadang gue kehabisan cet, terus gue narik koas dengan sisa cat yang abis. Gue akalain pake aer, yang ada cat malah tipis, setipis warna2 cat aer. Terus gue pajang di galeri gue, gue liat2in juga kadang, kadang gue gak peduli berapa lukisan yang dah gue buat, ehhhh tau2 dah ratusan lukisan, yang mana kalo diliat2 teh. Eh ini mah kurang atuh, ini perlu direvisi lagi, perlu dilukis lagi, tambah ini, tambah itu. Kadang, gue simpen di workshop, kadang gue gak kerja juga disana teh, di workshop tadi. Gue lebih milih masuk galeri2 orang laen, kalo tertarik ama karya orang2 itu teh gue suka berharap gue bisa ngebuat karya yang sama atau mungkin lebih bagus, ya mirip2 dikit gak apa2. Yang gue tau, cuman buat, posting, liat2, gitu2 aja sih pada pola kerjanya teh.

Nah sekarang gue mau buat lukisan lama, jadi lukisan baru, dengan gaya yang baru, yang sebenernya gaya lama itu udah beres. Bukan buat ditinggalin gitu aja ya. Maksudnya gayanya dah ketemu gitu, cuman belum dipoles weh, mesti dirampungkan juga. Jadi gue perlu usaha baru buat bikin lukisan itu dengan gaya yang sama. Tapi dengan ornamen2 atau sedikit tambahan disana-sini. Nge-balance si karyanye sendiri gitu, maksudna teh. Nya kitu welah.

Gue tau banget diri gue sekarang. Setelah gue tau kalo lukisan2 gue teh adalah bagian dari idup gue yang gue dedikasiin buat mengenal diri gue sebagai manusia seutuhnya. Seorang yang mencoba memahami diri sendiri lebih dalam, coba mengambil ruang personal dalem hidup, ‘tuk dibagikan ke pembaca. Yang sebenernya eta teh dah sosmed pisan. Ya gak sebagai artist, celeb, atau desainer, gue cuman buat karya yang bisa ngewakilin gue aja.

Gitu kali kalo gue bisa ngejelasin tulisan2 gue selama ini.

Oh iya buat tambahan gue dolo kan buat zine, sekarang zine teh orang2 buat zine, zinenye ya akun sosmednya, kalo suka nulis ama buat2 konten, ya bakalan tau lebih banyak apa yang dipunyain dari zinenye sendiri. GItu. Jadi salah juga kalo suruh orang bikin zine, bikin mah bikin weh, mau itu medianya gak zine juga ya gak apa2 weh.

Balik lagi ke YouTube, sorry ye kalo gue ngomong belepotan, acak2an atau gak jelas, hahaha ai emang kitu jalmana euy, oh iya, ama tulisan2 tadi ya, yang gak gitu2 aja sih yang gue tengkep sekarang mah… ~Tapi akhirnya2 malah ngebosenin2 juga sih dengerin konten yang bermanfaat teh~ Kalo dah bosen ya gitu gaes.

Gue balik dengerin lagu lagi, sok nyanyiin lirik seenaknya weh, bebas, sambil nikmatin proses kretif buat glyph yang gue rancang, pake pentab wacom yang paling ekonomis dikelas bawah. Alat yang ngebantu gue buat nerjemahin ide abstrak gue, buat jadi type specimen, pangram, atau eksplorasi bentuk, garis, soal menggambar huruf. Soal menggambar huruf gini, gue teh beneran dah noob euy. Gue rasa gue dah buang waktu selama 9 tahun, orang2 dah jauh kemana dari fon teh. Gue masih belum beranjak dari rilis fon ke-2. Font gue belom rampung2 gaes.

Wah banyak bener dah yang perlu direvisi teh ni font teh, iya gue tau, gue salah, gue dah buat wip lagi dari font family yang gue buat, beneran dah, gue salah pisan dah buat kerjaan diatas kerjaan lain, dari kerjaan yang lain2 lagi, ke kerjaan yang baru2 lagi, yang gue buat. Gue dah ninggalin pula font family handwritten yang kemaren2 teh. Yang 20 fon itu tea ning? Inget? … Gue juga gak tau, kalo bakalan nulis kaya gini lagi euy, kok gue skill kiyeu2 wae nya? Asa lila kitu berkembang teh. Terus ya gue bosen lagi buat ngelanjutin fon teh. Gitu2 deh prakteknya kerja mandiri teh. Dah pasti gitu polanya. Dah sering gue tulis juga, jadi gue jadi apal sorangan euy.

Polanya gini gaes: asik, bosen, cari hal baru, bosen lagi, balik lagi. Gitu2 weh terus! Pantesan WIP gue banyak, soalnya kerjaan gak diberes2in. Padahal psikiater gue pernah bilang: kerjaan beresin, baru kerjain yang selanjutnya (jadi gaes, kudu beres dolo, baru ngerjain yang laen, bukan yang laen kerjain, yang ini ditunda, yang laen kerjain lagi, ditunda juga, terus buat yang baru lagi, terus buat lagi yang baru). Ya gak bakalan beres2 sih, malah nambah2 kerjaan, kerja 2x, eh enggak kerja 5x malahan, gak efektif, efesiensi bosen gue juga gitu, kalo gak pindah kerjaan, bingung juga gak ngerjain fon teh? Rek naon aing mun teu ngafon? Geus weh nyieun nu anyar. Gitu2 weh tuluy.

Okeh, pola wip ke wip2, wip3, wip4, wip5, gue dah kebaca, jadi ya kudu dibenahin dolo dah diri gue teh. Jujur udah, ngaku salah udah, saatnya belajar buat bener, efektif. Efesiensinya ya biar gak buang waktu, uang, tenaga, … Jadi energi gue positif ngehasilin fon gitu. Biar produktif, biar bisa dapet duit dari kerjaan gue.

Terus sekarang gue kepikiran: Mau ngeharepin apalagi sih dari ‘Idup’? Mau nyari pa lagi? Mau ngapain lagi? Terus hal2 yang dulu gue lakuin, gue lakuin lagi. Kaya mulai nulis2, malah balik lagi kaya mau ngegarap Abokep, ama yang laen2 yang mau gue tulis ulang, banyak hal yang bisa gue garap sih, tapi ya gue kalo gak salah pernah nulis, ‘dah gak ada waktu lagi, mending nyari duit, atau buat perbaikan, dah umur 33 boss, ada beberapa tagihan mesti dibayar bosque!’ Tuntutan hidup, buat nyari duit, atau kudu berpenghasilan, biar bisa bertahan idup, mandiri.

Ya harapan gue soal idup, ya pengen lebih baik aja sih, dah itu, soal efektif efisien atau apaan, ya emang teori tok, kadang implementasinya ya gitu gaes, … Ada weh halangan mah, … Tapi gue tau, gak mau nyalahin keadaan, atau ya, disituasi tertentu, ya yang pasti mah, gue sadar diri weh, udah mah ku’uleun, kesepian, self employee, terus usaha jualan pre-loved, mau ngandelin naon deui atuh? Ya gue pengen duit cukup weh, tapi gue juga sadar diri sih. Kalo gini2 terus ya gitu2 weh tuluy, weuh nu robah.

Ah gue gak mau ngomong negatif ah, positif atuh! Posi! Enggak2, gue gak sendirian, gue juga gak kurang gaul kok, gue gaulnya di online weh gitu, iya gue sepi, butuh ngobrol, makanya gue nanya2 lewat sosmed, atau chat temen gue, pengen nyoba pake chatbot juga sih… Bener gue kerja mandiri, kerja sendiri buat dapetin duit dari pekerjaan gue sebagai pekerja sendirian, atau orang yang kerjanya sendiri tapi bisa ngehasilin duit gitulah gaes. Soal pre-loved gue belom jualan lagi euy, belom nambah2 stok barang, apa gue jual aja gitu buku2 fon, pentab, laptop, terus gue gawe di kantor? Tapi atuh, aing jadi pekerja di orang deui, gue kapan mandirinya kalo kerja diorang terus, gue pengen strugling, ngegenjot ‘spedah bisnis’ gue. Gue pengen spedah gue teh jalan, lancarlah, gitu doang kok. Ngaboseh weh tuluy, rek nanjak atau kumaha2, pokokna kudu maju, lamun teu didorong, biar tetep sampe tujuan.

Oh iya nih terimakasih buat temen gue yang ngasih referensi, katanya ada YouTube Soleh Solihun yang ngeinterview Dee, gila keren banget itu teh, asli, banyak metode yang bisa dipake buat nulis, mau nulis kreatiflah, nulis novel terutama ya, itu kepake pisan euy, emang eta bener oge euy, ‘cerita yang konsisten’, cerita yang bener2 ‘tersturktur’, ama apa yang mau ‘ditampilin’ ke pembaca mesti ‘gimana komunikasinya’, atau apa aja yang boleh, atau enggak ditulis, buat komunikasi ke pembaca tuh kudu kumaha sih? Tah eta kepake, ya dari kumpulan2 interview, sesi promosi buku, ya gitu2 weh.

Asli, lebih rame dibanding ngebokeplah, ya nikmat banget euy nontonnya, gue barengin ama ngefon, jadi suara fokus dengerin sesi wawancara, telinga aktif, nah mata sama tangan fokus ke sesi workshop fon yang gue kerjain sekarang. Mata fokus.

Jadi gaes, bukan idup yang sucks ya, atau ngebosenin gitu, itu mah guenye weh yang ngebosenin ngejalananinnye, ya idup kan balik lagi ke orangnya ya, idup orang yang enak ya orangnya ngerasa enak, atau dapetin kerjaan yang enak, ya enak2 sih gawenya, tapi da tetep, lama2 juga bakalan enek2 sendiri, asli. Makanya kudu liburan, kudu istirahat. Eh bukan, gue malah kurang tidur, sekarang baru tidur 4 jam, kemaren tidur jam 3 subuh, jam 7 bangun, makan, gawe, jam 11 mandi, jum’atan, terus nyobain Adobe Illustrator CC 2022, makein lagi Adobe Audition CC 2022, terus anehnya gue gak bisa buka Adobe Photoshop CC 2022, gak ngerti dah, padahal katanya gak usah dicrack, dah otomatis, portable pula. Enak. Eh malah error. Teuing ah.

Sekarang gue tau, yang jadi masalah idup gue selama ini teh, kudu lebih produktif, optimalkan produktifitas, banyak hal yang laen juga sih, sebenerna mah, lo dah tau dah kalo sering baca tulisan gue disini. Lagian kalo konflik, paling pencapaian gue aja sih yang belom banyak, nah itu aja sih yang jadi konflik batin teh, ama mungkin usaha gue weh yang kurang, atau apalah itu soal kerja keras, kerja cerdas, investasi, atau ningkatin kompetensi atau belajar hal baru, atau apalah itu pengembangan diri, ningkatin kualitas diri. Jadi naek kelas.

Nah balik lagi ya gaes: soal idup ~enak, idup ~enek, relatif, gak jauh dari soal gimana ngejalaninnye, nah urang sadar pisan iyeu, urang loba pisan buang waktu, gak jemput bola, atau terlalu fokus, ama ya gak belajar hal baru, atau mungkin stuck, terus puputeran weh kitu, diditu2 keneh, kitu tah, ah geus urang bahas oge sih iyeu, intina, core-na mah, urang kurang maen jauh. Lah banyakan ngerjain2 yang gak mutulah, buat kitu yang bermutu, buat ningkatin kualitas, …

Produktif.

Naon deui nya? …

Merasa bersyukur oge nulis2, atau ngobrol2 ama kawan di wa teh, aya nu di ig, fb oge, atau gimana gitu persaanna teh. Ternyata ya emang perlu juga kali2 ngobrol mah, ya gak curhat2 juga, yang panjang2, cukup pertanyaan standard, gak usah mendalem2 amatlah, tapi dijawab sesingkat mungkin juga dah dapet feedback yang cukup sih.

Dulu gue sebisa mungkin nyari jawaban dari diri sendiri. Ngejawab pertanyaan2 personal gue, dari keberadaan Tuhan, siapa diri gue, siapa gue sebenarnya, apa2 gue tanyain. Sampe akhirnya baca2 buku soal: bunuh diri yang katanya, teh, itu orang2 yang pinter, sebenerna mah, orang yang sebenernya orang teh orangna teh, cerdas. Gak tau detailnya gimana, yang pasti dia ngasih tau kalo bunuh diri, mau ngapain? Padahal lo teh cerdas kok. Darisanalah, gue mulai ngerasa diri gue teh, orang yang tercerrahkan, orang yang berjasa banyak buat dunia. Orang yang penting, orang yang bisa segalanya. Ya tau sendiri gue masa itu, masih muda, belasan taun. Entah naif, atau gue terlampau delusif, ngerasa diri penting. Sempet ngebuat gue benci diri gue, kalo gue buat salah. Tapi waktu itu teh gue cepet banget adaptasi, cepet buat berenti ngelakuin yang gue rasa salah. Gue benci gue pas ngelakuin salah, gue ngerasa berdosa, gue ngerasa sedih, kecewa.

Bokep, coli, crot, gak solat, atau males2an. Pokoknya gue useless, tapi ngerasa diri teh tercerahkan, gara2 cuman baca 1-2 buku. Yang mana buku itu juga gak ngerti sebenernya. Gak paham betul. Buku Efek-efek moderenitas, buku semua manusia itu pembohong. Buku yang gue sendiri dah lupa judulnya apa, cuman ya isi yang itu tadi gue bilang, efek2 moderenitas, buku semua orang itu pembohong.

*****

Dulu kan gue sempet kepikiran buat ngembangin Abokep ke animanga. Soal animasi temen di fb banyak yang illustrator, komikus, ama animator, ada juga scriptwritter, pokoknya kalo bisa buat visual novel dengan ngetim bareng2 mereka, ya bisa sih, memungkinkan untuk itu, asal guenya weh bisa ngatur kerjasama, waktu, tempat, timeline, deadline, bisa aja gue nantinya bakalan nulis skrip buat mereka, ama bikin tulisan yang layak dijadiin bahan visual buat animasinye. Tapi da gue teh belom selesein ngebuat Abokep euy.

Ya gimana atuh ya, orang belom, jadi belom bisa garap juga. Terus mau gimana juga sih kudu jadi eta abokep, non komersil, da selamanya ini teh gratis. Pokokna ngeunah weh Abokep Zine mah.

Sadar, sadar, … Sadar diri aing teh, aing kan bukan siapa2, gue teh, gawe, perlu ngedesain, nyari duit. Hiburan, dihibur, ngehibur, liburan. Ya kitulah. Kalo boleh ngasih prioritas dalam hidup, iya gue bakalan milih font, jualan pre-loved. Gue tau kok, pre-loved ngehasilin duit, gue juga punya kesempatan buat dapetin duit dari penjualan lisensi fon. Gue juga tau diri, gue sendirian, gue gak bisa ngalahin studio yang punya tim, yang anggotanya puluhan. Kan gue sendiri, kan gue juga masih belajar, gue juga masih bisa santei2, gue juga masih bisa tidur, biarin sekarang2 gue coba usahin, ngurang2in tidur, gue belom psikosis lagi, ya kalo bisa janganlah. Gue pengen sehat terus, biar bisa nyari duit, bisa ngehasilin karya, bisa dapet duit dari jerih payah gue sendiri.

Ada temen fb gue yang layouter, desainer template power point, ya stock layout2 gitu. Dia jarang banget buat status, dia juga gak mau bikin tutorial, sampe akhirnya dia buat tutorial, lo tau gak tutorial dia itu apa. Ngebuat apa yang dibuat, apa yang dia alamin, proses produksinye aje gitu. Terus bikin studi kasus dengan ngebuat akun baru di marketplace, buat ngebuktiin karya desain yang baru dia buat itu, dengan itu dia teh bisa ngehasilin duit, dibuktiin dengan penjualan, dibuktiin dengan screeshot, dibuktiin dengan earning PayPal. Dia buat e-course buat layout microsoft power point buat dijual stocknya, terus dapetin duitnye dari lisensi pemakaian (.ppt) itu.

Dimulai dari cara referensi, atau buat kebutuhan apa, ama cara nemuin stock foto, buat background presentasi itu. Dia juga tau skill dia ini dibutuhin, terus emang layoutnya bagus. Gue tau bagus, soalnya gue pernah punya buku Layout dan penerapannya karya Surianto Rustan, sedikit2 gue pahamlah, apa itu layout bagus, apa itu swiss style, apa white space, apa itu font pairing, apa itu emphasis, apa itu teori warna, gimana2nya gue ngerti. Pahamlah gue. Sedikit sih, gak seluruhnya gue ngerti juga sebenernya mah. Cuman ya gue sekedar tau aja, oh ternyata semua teh kalo dikemas, ama banyak yang tau, banyak yang request bisa diduitin tuh. Bisa dikaryakeunlah basa jadulna mah. Basa Emak2, eh Nini2 eta mah.

Jadi gue juga bisa ya, buat e-course, medianya video, e-book, sama buat website e-commerce buat daftar akses penuh e-course tadi.

Asa gampang batur mah neangan duit teh? Asa bisaan weh gitu, promona, sama sosial media teh dipake buat ngejaring follower, temen, ama link2 buat kemungkinan2 nyari duit ama satu hobi. Gitu doang sosmed teh. Bisa dipake positif buat branding, personal branding, atau corporate branding, atau bisa dipake yang positif2lah. Gitu weh.

Naha ai aing, kiyeu2 wae? Hahahahaha. … Ya gak apa2 gaes, ini mah cerita2 aja sih. Siapa tau lo butuh info seputar desain grafis dari gue. Butuh kemampuan bisnis yang bisa dikerjain dari modal inet, microsoft power point, tapi butuh teori ma praktek juga, kalo dah pro ya bakalan gampang mau dibawa kemana itu si presentasinya teh.

*****

Beda orang beda harga, tergantung brand atau nilai si orangnya sendiri, ya gak mungkin nike yang make buat kebutuhan komersil dia, dijualan sama dengan harga yang dikeluarin dari brand yang gak tau apaan gitu. No Brand. Ya gak mungkinlah, nilai nike ya lebih tinggi, jadi dicharge lebih gede.

Untuk UMR di US itu $ 2.000, sekitar 26jt rupiah buat sebulan kalo di Indo mah. Gede buat di Indo, biasa aja buat kebutuhan idup di Amerika Serikat.

Pricing, sehari butuh uang berapa? *Cost Harian gue?… Punya tanggungan apa enggak? Cicilan? Hutang? Ada adik yang harus dibiayain? Orang tua? Dll?… Ini idup generasi sandwitch.

  1. Makan sehari 3x, 30.000.
  2. Cicilan Motor, 30.000.
  3. Internet, sehari 5.000.
  4. Listrik, 10.000.
  5. Bako, Papir, 5.000.
  6. Kopi sachetan: Creamy Latte, 1.500.

Pricing, *Rp. 81.500.

Harga

Proyek selesei berapa lama, tergantung proyek illustrasi.

LIVING COST: *Pricing start.

Melihat potensial dari illustrator sendiri, brand2 besar, sudah memiliki style sendiri. Gue punya nilai tawar yang lebih, sudah punya follower yang banyak, harga pastinya, menjualnya berapa. Strugle*-nye gue, …

Fokus ama yang diupload, jadi niche 1, misal, vector stock, font, udah maen2 disitu dulu weh. Kedepannya mau dikembangin ke sektor lain, ya udah, bisa2 aja, pengembangan bisnis jatohnya. Ya butuh tim buat usaha itu, butuh orang2 lagi. Bukan kerja sendirian. Entar kalo diniche ini, ya kalo sendirian, balik lagi ke kerja mandiri ye, upload weh soal: WIP, Draft, Font: Glyph Exploration, Book Review, atau apa deh yang berhubungan ama type, typeface, font, MyFonts, atau marketplace, gitu.

Kasih opini, atau rujukan dari pendapat para pakar di type design industry, kasih-kasih edukasilah ya. Soal font yang baik itu gimana, cara ngebuatnye, gimana secara teknis, atau teori yang berhubungan dengan pembaca, penempatan, atau mungkin tipografi yang berhubungan dengan medianya sendiri. Maksudnya ya, misal poster, ditempatin di gang, terus disana gak ada lampu, gang itu teh padet, banyak orang lalulalang, tapi kalo malem gelap. Ya efektifnya cukup kalo ada sinar matahari, yang mana itu teh gak ada dimalam hari yang gelap mah. Jadi bakalan sia2 kalo informasinya cuman buat siang hari aja. Ya kalo isi dari poster itu ngejelasin, tentang awas bahaya begal motor digank ini, dimalam hari. Atau awas ada apa gitu. Ya kan informasinya butuh buat malam hari, lah ini malam harinya malah ilang informasinya. Gimana kalo orang gak tau datengnya tiap malem lewat jalan itu, sedangkan paginya dia sama sekali gak liat poster itu. Ya udah, kebegal aja malemnya, motor ilang weh. Nah maksud gue teh gitu. Pentingkan ngerti kebutuhan itu teh. Nah itulah kurang-lebih yang mau gue maksud buat posternya.

Jadi ya gitu, seputar follower weh gitu, entar kalo tiap hari upload karya, ya capek sih, tapi kalo jarang upload juga, bisa dapetin follower juga sih. Jadi ya tergantung, enaknya gimana. Upload aja gitu, ngaruh upload, postingan teh, ngaruh juga reels teh, jadi upload teh, sambung2 weh, jadi 1 ide, dikembangin jadi beberapa postingan, jadi isi kotennya 1, jadi banyak konten2 pelengkapnya gitu.

Ini lebih ke maping, … nulisin semua, memetakan semua, ngebuat apa yang bakalan ada, ama mungkin kebutuhan2, keinginan2, ama skill apa yang bisa gue buat, ama si audiencenye gimana, sama apa aja sih yang dibutuhin2 teh, available gak? Bisa kitu dibuatna, atau konsepnya bagus, tapi pas visualnya teh hese, gak mampu juga skill gue yang pas2an teh buatnya teh. Ya masalah lagi, butuh waktu belajar lagi? Gak ada waktu? Ya udah gak usah dibuat. Ya gitu welah. Sare, sosmedan, dahar, minum obat, solat, teu kudu mikir soal posting2. Ibadah weh.

Kalo gue mikir gitu mah, idup gue bakalan ngebosenin lagi. Terus umur gue abis disosmed, yang mana gak ngehasilin duit ma ngebuang2 waktu adalah akarpermasalahan idup gue selama ini. Waktu terbuang percuma cuman buat sosmedan, yang mana itu teh bisa dipake bukan sekedar nambah2 temen, atau ngumpulin orang sehobi, atau bercengkrama. Buat status sok intelektual, sebagai orang yang pernah baca buku. Atau nulis lawakan kaya badut Ancol, atau nulis2 hal yang gak penting amat. Sementara orang laen sendiri nulis ya buat jualan, nulis ya buat kepentingan yang bayar, atau nulis soal review2, atau nulis soal berita orang hilang, anjing hilang, kucing hilang, atau soal apa aja gitu yang bermanfaat. Eh idup gue, yang malah, hilang, sekedar pusing ama informasi yang banjir ngelebihin kapasitas otak gue buat nampung bendungan sumber informasi. Otak sengklek, jadi pusing, males sosmedan.

Tapi ya kalo baik-buruk, manfaat-sampah, ya relatif, ‘bijaklah dalam bersosial media’. Tv ngasih tau gue soal itu. Kudu bijaksana, kudu ngerti posisi juga. Ya gitu. Yang mana kalo gak bijak ya gue bakalan abis waktu weh, informasi banyak, data banyak, otak pusing weh kebanyakan sosmedan. Kalo mau bijak, gampang kok, cukup 1 menit aja cek notif, sekedar liat branda Fb, atau liat story IG, @hatachan524; @grimlocrecords udah weh, idup gak susah kok. Dibuat simple weh yang dilakuin harian mah, mau ngejar kesempurnaan mah gak bakalan selesei, persis upgrade os windows 10 gue. Ampir tiap bulan upgrade, update, eh malah error gak mau login. Tetep weh ada kurangnya mau disempurnain, padahal ada fitur auto off di login, ya kalo login-nya kaga keluar mah gak bisa masuk juga sih. Jadi fitur2 tambahan yang gak penting2 amat, malah bikin fitur yang laen jadi kacau. Ya gue bukan programmer, gue gak paham coding, logika gue juga buruk, sementara gue punya delusi kadang2, ya sukur2 sembuh dah gue berdelusi, maklum ODS. Nah gitu gaes bijaksana, pake seperlunya, positif2 weh.

Sering upload jualan kaset, nah entar orang juga nyari kaset yang dicari. gitu. Itu aja sih yang diperluiin.

Cara cek hastag instagram, bisa ke inflact.com. Disini bisa insert “#” apa yang mau dilengkapin. Maksudnya dari hastag awal tadi entar ada hastag pelengkap yang bisa didapetin biar gampang dicari orang, atau orang pada liat di eksplor IG.

Bermanfaat buat SEO di IG.

Punya ciri khas atau style, … Ini yang dimaksud dengan punya kelebihan atau gaya tersendiri dalam visual yang diposting. Identitas pribadi gitu. Dari si karyanye sendiri ye.

*****

Ubersuggest, neilpatel.com.

Masukan kata kunci vintage design

scroll design.

Katakunci2 yang bisa digunakan di inet,
bisa tau market,

Kebanyakan kata kunci yang dicari oleh orang
secara umum,

Ketakuan di search *volume.

Ketauan pencariannya sama orang nyari.

Untuk mengetahui portofolio apa yang saya buat.
Oh berarti pas di search di google image,
*vintage designer illustration

Untuk mengetahui pasar yang disasar.

*kata kunci bisa disesuai, sama yang mau dicari

Dipelajari warna, layout,

Kemudian produksi ilustrasi
sesuai keahlian gue sendiri.

Google Trends…

50 keatas, lebih bagus 70 keatas
grafiknya, vintage design illustartion

Udah ribuan ya gaskeun, aja
buat desainnya dibuatlagi.

Masukan katakunci dari
ubbersugest.com*
yang sama di
googletrands

google trends buat nyari
market potensial gak,
… Apa waktu/moment2 tertentu

Gak ada market turun, stabil,
naek-turunnya dikit.

Bulak balik google chrome
buat apa aja,

share link*
rajin portofolio
door to door clothingan ditembusin
1 per 1.


e-sport

presentasi club e-sport, dan lain2.


Pentingnya circle, biar ngobrol
soal illustrasi baik jualan,
atau arah kedepan

Bisa juga, kearah yang mana
jualan atau arah industri
ke depan, …

Jadi gitu, gue ikut kelas online buat desain ilustrasi buat kaos, lumayan nambah wawasan soal dunia online, bisa dapetin duit di fiverr, sosmed, banyak juga ngebuka pengetahuan laen kaya optimasi ig, buat jualan ya, optimasi bio ig, buat jualan juga, sama gimana ngebidik market. Yang mana ini teh dah biasa gue lakuin, cuman mungkin toolsnya nambah lagi. Mayan akhirnya dapet tools SEO euy.

Hal pertama dalam hidup gue adalah gimana ngebuat moodboard, riset kecil2an, atau buat produk, yang mana dalem fase awal buat karya gitu, yang asik ya risetnya, kadang risetnya dilewat terus buat produknya, ada yang udah jadi produk gak gue pasarin.

Kalo dah dipasarin seenggaknya font ada yang liatlah. Ada kemungkinan beli atau minimal liat weh gitu.

Gue sendiri baru ngepromosiin font gue di fb, t, gue belom sempet promosiin di ig, entar gue buat dolo, soalnya apa ya gue juga lagi buat mixtape buat album gue. Iya gue nyetak 1 doang buat keset pita, buat konsumsisaya, itu biar gue inget gue mesti rilis musik lagi, dah 6 tahun fakum, buat musik paling 2 lagu, yang itu juga gue rasa kurang disana-sini, sempet juga download tutorial Adobe Audition CC 2022, soal bassline. Butuh euy gue soalnya gak ada bassnya tiap lagu teh, asa kurang weh kitu.

Nya aing mulai teu fokus kanu timeline deui. Manajer proyek gue malah mau ngebeliin scanner, printer, gue juga mau pindah ke microstock, masih vector2an juga, belom difokusin kaya fon. Ya kali aja di stock cuan.

The Matrix, Fight Club, Evil Dead, film yang sulit dipahami

Theorizing is of course essential to make progress in understanding, but theorizing in the absence of knowing available relevant facts is not very productive.

-Patricia Chuchland

Gue suka nonton, pernah nyobain pake bahasa inggris yang jadi subtitle filmnya, yang terjadi adalah, gue malah terdistorsi artikata filmnya. Malah gue kaya melenceng dari pijakan si filmnya itu sendiri. Keluar konteks malah buat konteks baru yang suka2 gue, sepahamnya aja.

Gak salah sih gini, da emang pengertian gue kan terbatas soal bahasa inggris teh, english emang masalah gue dari dulu, bukan berarti gue gak mau belajar, cuman gue selalu lambat belajar, gak mau buru2, atau terlalu lama berubah, gak sempet fokus belajar bahasa english ini.

Film The Matrix, film yang beradegan soal orang yang masuk dunia digital. Dah gitu weh premisnya. Bahasa inggris gue buruk pisan buat ngartiin film yang sempet trend waktu gue SD, makasain nonton waktu gue kuliah, dengan pemahaman bahasa inggris yang kurang, malah gue ujungnya fokus ke efek CGI-nye aje. Nikmatin visual effect, esensi dari konteks yang dikasih dari setiap dialog, adegan, aksi, malah gak masuk, soalnya text, subs, yang sebenernya ngoci pemaknaan itu malah gue hapus, jadi sebuah text baru yang sedikit sekali gue pahami. Maksudnya, ya itu tadi, gue jadi gak ngerti, jadi cerita yang beda ama pemahaman gue yang sedikit sok tau, sok ngira2, ngasal weh.

Beda lagi ama cerita pas nonton Fight Club dengan pake Bahasa Indonesia dulu, ya, ini lagi2 soal gue nonton waktu gue kuliah dulu, ini bercerita soal orang yang berhalusinasi, eh malah ngebunuh orang, terus dia teh sebenernya dikejar, atau, dia ngejar sih, atau gimana gitu, dia teh ngejar dirinya sendiri? Atau apa dia teh yang diajarkan ma dirinya sendiri sih?

Hemmm, gue dah lupa gimana ceritanya Fight Club.

Evil Dead, film soal setan yang masuk ke orang2. Film jurig weh kitu. Serem tapi gue suka, film ini bener ngehibur soal darah yang banyak disorot sepanjang film, terus emang nakutin. Oh iya gue nonton yang versi originalnya, versi remake juga gue nonton sih, sama2 bagusnya sih buat gue mah. Cuman perbedaan editing ama visual mungkin lebih menarik yang baru, tapi yang lama juga seru, soal teknis yang berbeda, ama pembuatan filmnya, ya gak apa2, gue gak bisa milih juga. 2duanya emang keren.

Udah gitu doang. Iya gitu doang kok penjelasan gue. Sampe sini aja. Pengertian gue teh terbatas euy, gue juga sebenernya pengen ngobrol banyak hal, tapi gue sendiri juga sadar diri, gue teh gak mau bikin orang males ngobrol ma gue, gara2 gue nanya, atau cerita berulang, yang mane itu teh gitu2 aja juga. Bosen juga kali ya? Bukan, bukan, … Ehm, maksud gue teh, gue teh gak mau buat bikin lo bosen, atau, apaan ya, tapi Abang gue aja bilang. Lo dikasih teh gak ngerti2, kadang iya2 aja, terus gak dilakuin. Kadang lupa.

Jadi konklusinya, gue pengen ngerti, tapi gue selalu aja gak ngerti, kadang gue coba jelasin. Eh malah orang gak mau tau, da yang udah jelas mah, orang gak perlu dijelasin lagi.

Gue gak mau ngagap diri gue aneh, atau gimana2 ya. Cuman gue pengen tau kalo gue teh sebenernya teh maksain ngerti, maksain tau, atau kadang udah tau, tapi lupa, atau gue nye weh yang kurang bisa ngerem obrolan, atau nahan ego buat gak jawab, ya mikir dulu gitu, baru jawab, jangan reaksioner, tahan dulu, mikir dulu, baru jawab. Itu sih. Jadi jangan terburu2 juga, pelan2 weh, mikir dulu lah, gue dolo satsetsatset malah kecepetan, terus malah kurang paham, gak jelas gitu jadinya.

Ya maksud gue, terimakasih banget nih, udah bersama gue selama 1 dekade ini dalem tulisan, atau sampe bisa temenan di sosmed, tapi gue udah ngeremove sosmed di hape, paling gue online di laptop aja, gue mau ngurangin kadar candu gue ama informasi di sosial media. Gue pengen berenti sejenak, gue pengen baca2 buku metodelogi, riset, tatacara, soal daya pikir tentang meneliti. Gue pengen paham buku2 yang gue beli ini. Asli rame cuy, ya buat sekedar tau, atau ngerti sistematika, sama strukturnya doang. Berguna buat pengembangan Abokep, ama Autobiografi gue.

Gue rasa beneran dah, kadang informasi teh perlu dibatasi juga ternyata, makin penuh, makin banyak, gak disaring, gak ditahan, malah penuh dengan waktu2 yang gak penting didepan layar, hp, laptop, tv, atau buku2, atau zine, atau apalah gitu soal media.

Gue paham betul diri gue siapa, gue cuman bekas mahasiswa DKV, yang bahasa indonesianya ngulang 2x, skripsi gue cuman karya becandaan, soalnya penelitiannya fiktif, banyak kebohongan yang gak valid juga, gue seorang yang pengen belajar sih sekarang kalo bisa dikategoriin mah. Gue pengen bisa banyak hal, terutama pengen bisa nulis kaya orang yang gue sering baca, gue pengen bisa nulis kaya lo euy, asli. Tapi… Tapi kan kita beda nilai ya, beda presepsi, kecerdasan gue juga beda ama lo, pemahaman, latar belakang, pengalaman apalagi, pokoknya gue newbie dah, jadi gue mutusin buat banyak belajar lagi soal tulisan, penelitian, ama mungkin gue mau fokusin light novel gue, dengan lebih banyak ngumpulin uang buat beli novel2 yang lo saranin, secara tersirat ya. Gue pengen beli, tapi duit gue belom ada, gue masih butuh kepastian dari klien2 gue, gue butuh beresin logo buat Abang gue di Jambi, mau beresin branding, logo corporate UMKM temen gue di Garut, mau nanya2 soal kepastian juga sama temen sosmed gue soal karya personal gue yang mau dia beli, artwork monster.

Kalo itu semua jadi, pasti gue beli buku soal The Revolution of Everyday Life deh, insyallah, gue bakalan belajar dari Situsionis International, dengan lebih mudah paham SI kayanya, biarin gue gak begitu yakin terjemahannya bagus, atau sesuai dengan pemaknaan aslinya, gak tau dah. Pokoknya harus punya target belajar banyak buku, dari lo. Gue pengen belajar, … Kenapa ya? Ya pengen tau aja, pengen ngerti, pengen paham. Gue pengen bisa tau ini teh gimana sih? Apaan sih, ma yang laen2nya.

Makasih pisan bro euy, dah mau terus nulis buat diri lo sendiri. Lo teh inspirasi gue buat nulis sih.

*****

Ibu teh pengen bebas finasial. Ibu dah gak mau mikirin uang. Ibu pengen kamu teh punya uang. Jadi ibu gak mikirin uang.

兄と話すとき Ani to hanasu toki

“Those who love you will understand your feelings even if you didn’t use the right words to express them. Those who don’t love you will misunderstand you even if you used the right words.”

― Shunya

Kakakku adalah seorang yang bisa dibilang sumber saya bersikap selama ini. Memang tak selamanya demikian, ada idola lain yang ingin aku tiru sikapnya, tindakannya, ataupun gaya bicara, atau mungkin cara berkomunikasinya.

Banyak hal yang ingin saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan orang lain. Saat ini saya menjadi mengerti, dihari ini, awalnya bermula saat setelah beliau makan malam, dengan menambahkan piringnya dengan nasi. Selepas makan dengan nikmat, Kakak lelakiku menambahkan nasi kembali, serta mengambil lauk pauk lagi, lagi-lagi sama seperti saat makan diawal pertama tadi. Di porsi yang kedua makannya lebih sedikit, nasi juga sudah habis di Magicom di porsi piringnya yang ke-2 ini.

Saat pertama datang saya bercerita bahwa saya sedang mengerjakan proyek desain grafis: logo, branding, corporate identity, beserta kebutuhan desain sepatu, seperti membuat gaya lain dari dasar desain sneaker vans old skool yang dibutuhkan klien. Sebenarnya orang yang sama-sama bekerja dalam proyek ini adalah temanku sendiri, seorang yang dulu sempat bersama-sama menempuh jurusan DKV. Tetapi baru 1 semester, menuju semester ke-2, dia sudah memutuskan ‘tuk keluar, bosan dengan tugas-tugas. Dahulu dia merasakan hal yang sama ketika sedang bekerja di suatu clothingline di daerah Alun-Alun Kota Bandung, sama seperti itu. Dia bosan kerja lalu memilih kuliah, ternyata kuliah juga sama-sama membosankan, sama-sama saja baginya. Tidak menarik.

Saat ini aku cerita pendek saja sebenarnya, “Bang, Asep teh tinggal ngirimin desain sepatu.” Dia hanya menjawab, “Oh.” Singkat. Lalu obrolan melebar, bukan saya yang mengobrol tapi lebih kepada Ibu dengan Abang saling bercerita banyak topiknya seputar: motor bekas yang dijual ulang, soal penipuan yang dialami Kakakku, soal keluarga besar, hingga soal penyakit yang kuderita selama beberapa tahun terakhir. “Ya, Abang bukan mau bilang kamu gimana ya. Tapi coba cari temen, obatnya cuman itu kok, cari temen.” Saya mengagguk tanda setuju dengannya. Entah pembicaraan apalagi yang kami bertiga obrolankan di ruangan TV ini, Televisi dibiarkan menyala, sinetron kesukaan Ibuku sedang berlangsung. Ibu masih menonton sambil sesekali ikut berbincang-bincang dengan kami. Ruangan ini merangkap ruang tengah juga. Obrolan terus mengalir sahut menyahut, dari Ibu, Abang, Saya sendiri. Tv LED 24′ ini menjadi tidak berfungsi sebagai media hiburan, kami bahkan tidak menontonnya untuk menghibur kami, namun dibiarkan hidup, tanpa ada yang menonton, kami fokus kepada cerita yang sedang berlangsung dari sudut pandang kami masing-masing.

“Ya bukannya cerita kamu yang salah. Tapi kamu salah ngobrol sama orang.” Dia bilang dengan beberapa cerita menemani penjelasannya soal pendapatnya. “Pernah gak, Teh Yuli yang seorang Dokter Gigi, ngobrolin kesehatan gigi, atau proses pembedahan gigi. Gimana sulitnya atau susahnya jadi dokter gigi, dengan teori ama pengalamannya?” Kurang lebih Kakak kandungku berpendapat demikian. “Ya enggaklah.” Aku menjawab. “Ya makannya, orang juga kalo dirasa enggak penting, ya gak usah ngobrolin. Bukannya sombong, tapi pasti orang itu teh tau ama mau lagi ngebahas obrolannya. Oh ini gak mungkin, kan, ngobrolin gigi ke bukan dokter gigi. Ke sesama dokter gigi lagi atuh.” Seketika saya merasa, “Eh, bener ogenya, gak rame ya gak usah diobrolin. Orang juga ngerasa gak penting atau gak ngerasa butuh diobrolin.” Jawabanku cepat menyambar opininya soal komunikasi kedua belah pihak.

Obrolan berlanjut soal penyakitku, soal kesalahanku berkomunikasi. Soal pekerjaan freelance-ku, sampai beberapa hal tentang bagaimana berkomunikasi lainnya. Pendapat orang yang berbeda 3 tahun diatasku ini, aku rasa masih relevan dengan komunikasiku dengan Ibuku yang berbeda 29 tahun denganku. “Tiap hari Bang, Si Asep cerita Ucok Homicide, Soal hip hop, soal orang kulit hitam. Musik weh yang dibilang ke Ibu teh, da Ibu gak ngerti, gak mau tau juga.” Gue terkekeh, melebarkan senyum, merasa bahagia. Kurasakan itu hal yang lucu, pantas saja aku tersenyum lebar. “Oh jadi Si Asep mah: ngejelasin font, ngejelasin bisnis sepatu?!” Ibu yang mendengar jawaban anak tertuanya ini. “Iya gera, sok gitu. Mani detil tea, gak ngerti tapi maksain buat ngasih pengertian ke orang teh. Ke Ibu gitu.” Saat itu, aku masih saja tersenyum. Hingga menjadi tertawa ngakak saat mendengar Ibuku bercerita pengalamannya hidup berdua denganku selama ini. Soal ceritanya itu sungguh benar adanya. Saya terlalu banyak bicara.

Sekarang saya tau apa yang pantas dilakukan. Ya itu kurang-kurangkanlah berbicara, cari topik yang menarik kepada lawan bicara. Topik yang menarik untuk dibahas. Ketika topik tidak menarik, ya sudah, hentikan respon, biasanya aku selalu merespon sebaik mungkin setiap pembicaran dengan lawan bicaraku. Bukan persoalan ramah atau menarik. Aku senang saja merespon lawan bicaraku.

Jadi cukup diam. Dengarkan. Lalu berbicara singkat saja. Orang tak butuh penjelasan pada topik yang dirasa tidak penting.

Diam, saya tutup mulutku. Dengarkan orang lain berbicara. Tandanya saya tidak mau berpanjang lebar dengan topik perbincangan yang tidak pantas diperpanjang lagi.

Saatnya mulai menutup mulut.