Coli

Sekarang ini udah jarang juga gue nulis di komputer. Jarang nulis juga buat memo pake kertas selembar hvs.
Dah mah jarang pake Microsoft word, kompi paling juga kepake buat font doang, sisanya paling ngetik di hp, bb. Ya gitu2 weh.
Istilahnya mah buat Sketsa kasarlah belum jadi tulisan utuh. Kerangka kerjanya gitulah.
Kadang buat gambar2 di hvs terus dikasih 2 pilihan bisa iya / bisa tidak. Kadang ke tunda sama buat tulisan yang laen. Terus pas beres malah jadi banyak, jadi banyak juga ngaplotnya. Kadang kerasa tulisannya ada yang kurang pas mesti di tambahin atau dikurangin. Tapi malah tetep dipaksain ngaplot. Biarin ajalah.
Sekarang2 ini sih ada rencana mau buat Abokep zine lagi sih. Masih bercerita seputaran seks harian. Asalnya mah gak mau di terusin juga. Lah orang dah gue delete juga tulisannya waktu sebelom masuk rsj kemaren2, 1000 halaman isinya mah soal seks, coli2 gitu2 aja sih, yang udah sering ditulis juga. Cuman bedanya itu masih referensi sama kutipan2 pemikiran orang yang belum jadi satu cerita utuh.
Sebenernya tulisan di Abokep zine mau nyelesaikan soal masalah coli yang dah edik. Ini perasaan gue waktu jadi jomblo belasan taun ampe sekarang. Duh lama banget ya.
Masalahnya mah dah ketemu kalo ternyata hidup gue gak bisa jauh2 dari seks, solusinya ya kenikmatan ngocok, yang kalo gak diatur, bakalan ngebuat gue jadi candu. Males2an sama bener2 gak semangat, lah gue coli keseringan malah lupa gawe, lupa kewajiban, maunya teh coli aja mulu. Enak sih tapi pengen di berentiin, gak mungkin juga. Malah sakit selangkangan gue, perih, padahal dah 2 bulan lebih gak coli. Enak sih idup semangat cuman ya itu tadi, dah kebiasain dikeluarin paksa, jadi si spermanya gak bisa keluar sendiri mesti di coliin biar keluar.
Paling sih coli 4-3 kali lah sebulan teh. Tetep jomblo biarin yang penting ada kerjaan harian juga. Ngerjain font sama nulis aktivitas harian. Kurangin cokil banyakin ngefont yeh. Okey!

Iklan

Bakso

“Ai akang budakna tos saberaha.”

—Abi mah teu acan nikah.
Matanya melihat tajam padaku seperti tidak percaya.
“Ah maenya?”

—bener.
Kami berbicara basa-basi, dibelakang grobaknya. Bakso ku potong dengan sendok,  mengunyahnya secara perlahan.
“Anak abi mah aya ngan hiji, digarut sareng pamajikan.”

—Ai istri didamel?
“Heunte.” 
Diam sebentar. Kebetulan ada yang membeli baksonya. Obrolan ditunda sebentar. Keringatnya bercucuran, mukanya terlihat kelelahan, sesekali menseka mukanya dengan anduk kecil di bahunya.
Kita masih berbincang-bincang membicarakan keluarga. Anak, istri ,pekerjaannya berbicara santai sambil menikmati bakso di sore ini.
“Abi mah sok nabung, engke mun lebaran uih. Jang mere thr oge.”

— Alus atuhnya. Bari mudik nya.
Selalu menyenangkan mendengarkan seorang bapak yang menafkahi keluarganya. Seorang yang bertanggung jawab. Memiliki anak dan istri itu ya harus rela kelelahan bekerja berbeda denganku yang sendiri. Tidak bekerja tetap, tidak menikah, dan tentunya tidak punya anak. Sedang malas melamar kerja.

Depresi bagian ii

Mungkin aku hanya ingin dekat ibuku. Aku sayang padanya dengan segala hormat. Tetapi beberapa hari ini aku sulit tidur. Selalu saja ada suara dalam otakku. Terdengar terus menerus. Badanku selalu brigidig seketika, tandanya ketakutan ketika suara-suara itu terdengar langsung menyambar tiba-tiba. Suara yang mengarahkanku untuk segera menjawabnya secara intra personal, yang tentu saja tidak selalu tentang orang lain saja, melainkan tentang kedirian yang saling berhubungan satu sama lain.

*****

Suara itu bergabung dengan tv. Suara itu datang. Aku langsung menghapus zine. Menghilangkan luka lama yang seharusnya ditulis tanpa perlu kawatir akan apa pun menghalanginya. Sesuatu hal tentang kedirian yang bisa saja menyebabkan Ibuku menghilang dibunuh oleh kenyataan yang tertulis pada zine tersebut. Sampai juga pada menghapus file tulisan, lagu, gambar. Abokep. Zine yang dihapus dengan penuh ketakutan bila diingat ada tulisan yang menyedihkan disana tertulis bukan dari awal tadi kubilang. Sungguh menakutkan. Beberapa bahkan mengingatkanku pada tulisan awal pertama-tama saat pertama menulis zine tersebut. Betapa menakutkannya kenyataan itu.
Isi yang ditulis dari kisah yang sudah dilupakan pada semasa muda belia. Jauh, jauh hari sebelumnya tidak menulis sesuatu. Ini cerita lama, tentang masa lalu yang tak pantas dikenang, tapi selalu seperti minta ditulis ulang. Tulisan retrospektif.

*****

Mulai berhenti merokok. Sudah bukan berdasarkan tidak ada uang. Tapi memang benar tidak mau dipaksakan menjadi ahli hisap. Mulutku sudah merasa pahit. Malahan beberapa hari ini menangis sendiri, melamun, menangis lagi. Yang ku ingat seperti ini. Aku mendengar semua orang bicara tapi pikiranku melanjutkan suara-suara itu menjadi sepertinya berhubungan denganku.

Suara-suara. Sidiran bahkan hinaan terdengar seketika orang-orang membicarakanku. Semua tenang aku pribadi dan bagaimana mengganggunya aku sebagai seorang yang menyendiri. Merasa tertekan dengan lingkungan baik kerja, rumah bahkan ketika tidur.

*****

Mengerjakan pekerjaan yang seharian penuh di toko. Salah satu mendapatkan, salah dua tidak mendapatkan. Terasa terganggu oleh suara-suara. Tidak masuk kerja karena sibuk sendiri. Cukup sulit juga menjelaskan pengalaman ini, skip, blank, banyak suara-suara yang terdengar.

Kejadian merasa tertekan ini sungguh sangat menggangu melebihi pengalaman hampir mati saat serangan jantungku waktu SMA dulu. Hingga sampai saja 1000 halaman hilangnya abokep terjadi. Tulisan ini dihapus. Dipaksa terhapus mungkin lebih tepatnya. Ya takut digerebeg polisi soal tulisan seksual. Dipenjara, memalukan nama keluarga besar sekaligus membuat sedih ibu, ternyata anaknya terlalu keras kepala dan membuatnya malu. Seorang pecinta diri sendiri dan mau hidup sendiri tanpa cinta. Penikmat onani dan menyedihkan.

Menunggu

Dari beberapa blog yang diikuti, juga dibaca ya rata-rata tulisan menurut sudut pandang orang pertama. Menceritakan keseharian penulis. Salah satunya tinjauan buku menurut selera personal. Selain itu, ada perview lainnya, seperti kaset, cd, dvd. Tak sebatas itu, kunjung ke sebuah kota, masakan hingga minuman pun seperti tak mau ketinggalan untuk dibahas juga.
Tulisanku tidak seperti itu, aku juga ingin menulis sepertinya jika ada kesempatan yang sama dengan bahasan yang sama pula. Merasa terinspirasi menulis.
*****
Sebagai seorang desainer, terpelajar, serta lulusan universitas swasta, sudah sepantasnya bisa bekerja di perancangan kaos indie. Banyak ilmu yang bisa digunakan dari hasil belajar 5 tahun di kampus untuk diterapkan di pekerjaan nanti. Aku merasa percaya diri tentang ini. Tapi, anehnya, baru ada 1 saja yang memanggil test untuk pekerjaan ini. Perbanding satu panggilan kerja, 3 clothingline yang dilamar belum memanggil. Lumayanlah dari 4 ada yang manggil satu.
Entah harus beberapa lama mengirim lamaran ke tempat kerja. Ditambah tidak ada satu tulisan membutuhkan karyawan, sama saja dengan menunggu mereka membutuhkannya, baru memanggil lamaran kerjaku.
Kadang ada kesempatan, tidak ada kebutuhan, sedang menunggu kepastian panggilan pekerjaan sama sperti menunggu kepestian menulis blog yang dibilang di awal tadi. Menunggu dan menunggu. Menulis dan menulis.

Segera

Kadang ada pula yang harus disegerakan. Kadang-kadang ada banyak waktu yang dibuang percuma kaya molor kelamaan. Padahal bisa tidur 8 jam. Ini malah 12 jam. Terus masih ditambah tidur siang. Kerja cuman 4-5 jam buat weight font.
Ya beginilah adanya, nyari duit dari huruf. Cita-cita jadi desainer huruf. Konsekuensi 6 hari seminggu diisi kerja dirumah. 1 hari libur dirumah. Males keluar rumah selaen jum’atan.
Pengennya sih waktunya kebalik. Jadi 10 jam buat font, 4-5 jam tidur gak tidur siang. Cuman ya gak tau ya, suka beda aja hasilnya teh.
Gak ngotot, kurang maksimal, kebanyakan mikir ini harusnya gini. Itu harusnya digituin. Malah gak maksimal loh. Beneran deh. Inisiatif solat subuh aja enggak. Tidur weh ngeunah.
Sudah waktunya, saat ini juga. Segera kerja sendirian. Idup ngejomblo. Cocok jadi wanmensow.

Hujan di sore hari

20 September 2016.
Mengambil nafas perlahan, menenangkan diri lalu mulai menikmati keadaan yang telah terjadi. Hujan deras yang turun tak menghentikan langkah kaki, dalam sebuah pencarian yang khidmat, dengan ketenangan seperti ini bisa saja akan berada di Bandung, atau mungkin juga bertempat di Jakarta.
Ditepi jalan yang ditempuh ini, satu persatu terotoar sedang diperbaiki, dengan keadaan, ada yang becek, ada yang tidak, melangkahkan kaki pada jalan lain, untuk terus berjalan. Walaupun cuaca sedang tidak bersahabat, banyak halangan, termasuk tempat yang akan dituju saat ini, hujan sedang turun deras. Sejumlah uang pun dikeluarkan sama seperti turunnya air hujan, sampai perjalanan ini terus berlangsung demi serangkaian test yang harus diselesaikan hingga tuntas.
*****
“Teh saya mau melamar kerja, ada lowongan gak, buat desain grafis.”
Hari yang panjang hingga sampai ditempat ini. Sore ini hujan telah reda. Keadaan yang menenangkan.
“Oh sebentar ya Aa, nanti disimpen disini aja.” Ia memastikan, surat lamaran disimpan di tempatnya bekerja.
Seketika aku baru teringat, ada yang terlupa, “Ada pulpen teh?” Meminta waktunya sebentar untuk menuliskan keterangan pada amplop coklat yang ku bawa, memastikan lamaran terisi identitasku.
Tangannya memberikan pena kutulis namaku serta lowongan bagian desain grafis. Tugas yang penuh tanggung jawab nantinya.
Ketika menulis didepan meja kasir ini, terdengar pembicaraan dengan seseorang di ruangan belakang meja kasir tersebut, tapi entah apa tepatnya, tak ingat.
Keadaan toko ini kebetulan sedang sepi, jadi setiap ucapan, bahkan bunyi-bunyi apapun itu, akan terdengar jelas, sementara yang kulakukan saat ini hanyalah meneruskan tugasku, melamar kerja, menghiraukan obrolannya dengan seseorang tadi.
Terdengar, “Kurang maksimal.”, ucapnya pada kawannya.
Bersyukur terima kasih aku mendengarnya, memotifasiku ‘tuk melakukan pekerjaan dengan baik. Hingga dapat bekerja lagi. Meski aku tak yakin katanya itu ditunjukan padaku. Mungkin saja aku terlalu memasukan perkataannya ke dalam hati. Rasa-rasanya seperti itu. Merasakannya, obrolannya itu, seperti memiliki hubungan langsung dengan ku.

Mainan kecil untuk anak kecil

Sebelum mengenal jual-beli. Jauh-jauh hari temanku menawariku cara lain untuk bertransaksi. Bagaimana cara mendapatkan barang dengan mudah.
Selepas pulang sekolah kami berdua melihat-lihat barang-barang yang terbungkus dalam kotak. Berbagai macam mainan ada pada konter ini. Waktu itu siang hari belum banyak orang disini sepi pengunjung di mall, terlihat belum banyak pengunjung berdatangan.
Banyak mainan tokoh-tokoh pahlawan super didalam deretan rak. Dilihat-lihat dari ujung kiri konter hingga ujung kanan konter. Didalam box yang tertutup rapih melihat mainan tadi dengan membulak-balikannya. Melihat secara mendetil. Memegangnya secara hati-hati, begitulah cara melihat benda yang menarik menjaganya baik-baik. Dengan bandrol harga puluhan ribu rupiah yang kami lihat. Kagum dengan benda tersebut. Ingin rasanya memilikinya.
Mengambil.
Melihat kanan kiri.
Aman.
Membuka resleting tas dengan perlahan-lahan.
Memasukan mainan ke dalam tasku sebaik mungkin, tanpa suara.
Dan mendapatkannya.
*****
Sebelumnya mencuri mainan, pernah juga mengambil uang dilakukan untuk sekedar membelikan mainan di depan rumah. Waktu itu setiap hari minggu ada seorang pedagang mainan di sebrang rumah. Pedagang menjual berbagai mainan, komik, hingga makanan. Arumanis. 
Kakekku mencari uang untuk berbelanja. Ternyata mendapatkan gulungan kertasnya yang tanpa isi. Beliau terbiasa menyimpan uang bukan di dompet melainkan pada kain yang digulung. Kakek terus saja mencari, hingga merasakan kehilangan uangnya yang dengan susah payah disembunyikannya pada lemari pakaiannya ternyata diambil cucunya yang seenaknya mengambil tanpa peduli pada sang pemilik. Seorang kakek yang mendapatkan uang dari anak-anaknya.
Uang seperti sulap. Dicari lalu simsalabib berubah jadi mainan. Mencuri uang, membelikannya mainan sebuah transaksi anak kecil. Keberanian yang bisa mendapatkan satu dua barang dengan berusaha main sulap.