家賃の魂 Yachin No Tamashí

“I have schizophrenia. I am not schizophrenia. I am not my mental illness. My illness is a part of me.”

– Jonathan Harnisch

Waktu keluar RSJ saya rasa tenang, tidak seperti pertama kali tau hebatnya otak berhalusinasi disambung delusi seputar kejadian-kejadian saya waktu itu. Dari revisi skripsi yang akhirnya rampung pada saat halu-delu lagi edan2nya. Sampai persoalan jodoh yang belum bertemu, kehilangan arah sama tetap pengen bekerja ‘tuk berpenghasilan.

Waktu itu kamar saya terasa berbeda. Bisikan-bisikan saat psikosis sudah tak ada lagi. Pikiran seperti kosong dari sebelum penuh, tumpah ruah bagai ember yang terus diisi, tapi tidak mematikan keran airnya. Arus informasi seputar kaset pita, buku, juga berita populer terus ada didalam fikiran. Tidak saya rasakan kini dalam tenang kamarku. Barang-barang yang dahulu berserakan, bungkus-bungkus: kardus, kertas, plastik sudah dirapihkan. Seperti itu juga perasaanku saat itu.

Ibu menawarkanku Bakso Malang Jawa yang kebetulan melintas didepan rumah. Aku dibelikan semangkuk bakso, lalu Ibu membayarnya ke pada Mas penjualnya. Saat itu saya tidak bisa berfikir selain, ada yang hilang serta ada yang lain. Perasaan seperti bercampur layaknya bakso yang terisi 3 biji, mie kuning, sayur, serta sambal. Aku memakannya sampai habis. Perasaanku masih campur aduk saat itu, serupa rasa pedas, gurih, manisnya makananku disore hari yang mulai mendung.

Saat ini yang ku ingat, temannya kakakku mengantarkan kami dari Kolonel Matsuri, kami berempat telah selesai membayarkan administrasi rawat inap aku di sana selam 20 hari. Setauku sekitar belasan juta, tanpa BPJS, waktu tersebut aku dibantu oleh keluarga besarku, baik dari keluarga Almarhum Ayahku maupun keluarga Ibuku. Syukur Alhamdulillah aku bisa keluar dari hidup yang dimulai dari pengajaran kawan-kawan PKL perawat, dokter, juru masak, keamanan, serta semua pihak dalam Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Saat itu aku langsung menggambar, menulis serta menonton tv. Aku juga mulai melamar pekerjaan. Begitulah pengalamanku selepas keluar dari RSJ, tidak seperti pengentahuan orang jikalau pasien disana dirawat seumur hidup atau seperti dipenjara. Tidak seburuk itu, hanya darisanalah hidup kembali menjadi diriku yang sesungguhnya.

Kembali kebelakang sebentar untuk menjadikan masa itu sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Saya tidak ingin kembali sakit maupun merepotkan orang lain. Minum obat yang rajin, bekerja yang baik. Aamiin.

Semoga kalian juga masih ingat pertama kali ke rumah dan ingin menjalani hidup yang lebih baik sebagai ODS, Orang Dengan Skizofernia.

Iklan

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: