Tetesan keringat setelah joging

Saya sering naek turun bukit. Kebetulan rumahku berada di daerah perbukitan. Jadi sudah menjadi sebuah kebiasaan, bila mana berjalan jauh pun tidak masalah dengan trek naik turun. Ditambah belum lancar naek motor selama ini. Malas juga belajar motor. Ya sudahlah kemana-mana jalan kaki saja tidak ada masalah itu.
Kalau badan sudah pegal-pegal rasanya tidak enak badan, sudah harus dipanasin pake jalan kaki. Joginglah ya biar enak badannya. Kadang bisa naek keatas. Naek terus di atas rute yang menanjak. Meyakinkan diri bisa berjalan hingga ujung bukit. Disana banyak bertemu dengan beberapa anjing penjaga bukit dari rumah, cafe, juga kebun.

*****

— Pak ngiring calik?

“Mangga.”

Jawab bapak ini, seorang yang berada di puncak bukit. Badanku kelelahan berjalan pada saat hampir berada dipuncak. Sudah teramat lelah sekarang aku berniat beristirahat sebentar di rumahnya.
Kami berbicara banyak hal mulai dari harga rumah, listrik, air, pendidikan. Banyak yang aku obrolkan dengannya walau pun ini pertama kali aku bertemu dengannya. Bapak yang murah senyum juga senang bercerita. Kami terus berbicara dengan intens.
Beliau seperti menjaga jarak denganku. Kemungkinan terganggu bau badanku langsung mengangu hidungnya, keringatku bercucuran akibat memaksakan diri menaiki 5 jalan mendaki pada trek menanjak tadi. Meski jalannya diaspal rapih tetap saja sulit dijalani untuk menuju puncak. Melelahkan.

*****

“Baheula mah aya satpam S1. Pedah ngalamar gawena tos kolot. Seu’eur leha-leha jadi weh gawena kitu.” Matanya meyakinkanku dengan selalu melihatku terus.
Ketika itu tanggal awal bulan 2015 kalau tidak salah. Beberapa hari sesudah tahun baru. Aku sudah memutuskan bahwa tahun ini akan menyelesaikan revisi skripsiku. 2 tahun kurang. Entah tahun 2014, tepatnya aku lupa.

*****

“Hese ayeuna mah cai teh. Aya jalma nu seu’eur cicisna ngadamel hotel.” Wajahnya seperti menceritakan kekurangan air dengan mimik sedih.
“Kurang cai? Kudu nyieun sumur meureun nya pak?” Jawabku padanya.
“Enteu tiasa, dideu mah cai mah gampang sep. Tos aya sumur. Ngan nya eta kedah menta kanu boga hotel.” Menjawabnya dengan cepat pertanyaan.
“Semenjak aya hotel. Eh sanes cafe eta, cai teh kedah menta.” Pembagian air tidak merata di sini. Terlebih jatahnya sudah oleh cafe.
Obrolan yang lain. Tanah subur puncak bukit ini sudah tidak pantas ditanami tanaman. Beberapa kali gagal panen karena pupuk kimia yang merusak tanaman.

*****

Jadi satpam dengan ijazah S1. Sayang sekali kalau dipikirkan. Sekolah mahal-mahal kerjanya seperti hanya membutuhkan ijazah SMA.
Hari ini aku sedang membuat huruf selama beberapa bulan terakhir. Hampir satu semester. Ijazahku belum kutukar dengan mebenahi skripsi yang tinggal analisis ini. Aku terlalu memfokuskan diri didesain huruf. Aku sperti tidak memiliki niatan memiliki ijazah lalu mencari pekerjaan selain fulltime membuat font.
Oh iya. Ini tahun 2014. Aku ingat kembali. Saat itu kerjaku juga dirumah terus online mencari font-font keren untuk referensi. Modem masih ada waktu itu. Sebelum coba-coba berjualam, beli, tukar online.
Kakiku melangkah, nafasku memacu detak jantung lebih cepat. Perlahan-lahan menusuri kebun-kebun warga. Menuruni bukit. Semakin pelan menuju rumah. Nafas terasa segar, badan bugar.
Jangan pernah lupa memakai deodoran. Niatkan segala sesuatu hingga beres selesai. Jadilah mengerjakan sesuatu untuk hidup lebih hidup.

Diterbitkan oleh asepcashball

Mantan nett, calon pengusaha, seorang pecinta wanita yang doyan baca, nulis ma nyoba2 buat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: